Wednesday, May 25, 2016

Seseorang yang Baik


Jadilah seseorang yang baik. Saya selalu mengucapkannya pada diri saya. Entah mengapa, menjadi baik terasa lebih mudah saya lakukan ketimbang berbuat jahat. Berbuat tidak baik itu lebih melelahkan lho.
Dalah hidup saya, ada orang-orang baik yang datang dan pergi. Yang walau sesusah payah apapun saya berusaha, tetap tidak dapat membalas semua kebaikan mereka. Makasi Tuhan telah mengirimkan mereka. Terima kasih untuk pernah mampir di hari-hari saya. ^^
Tapi, tidak semua orang itu baik, Ay!
Iya, saya tau kok.
Banyak orang-orang palsu!
Iya, saya bisa membedakannya.
Kalau kamu dijahati, apa masih akan tetap baik?
Hmm.. ya. Saya tidak ingin berubah menjadi seperti mereka.
Bagaimana dengan orang-orang yang menyakitimu?
Ah, ya. Saya pernah terluka tak terhitung banyaknya. Tak banyak yang dapat saya lakukan, saya bukanlah orang yang dapat membalas ketidakbaikan itu. Saya lebih memilih melupakannya, menyingkirkan kesakitan itu sejauh mungkin. Karna hidup saya terlalu berharga hanya untuk meratapi luka-luka saya. Saya tidak ingin hidup seperti itu.
 Jadilah seseorang yang baik. Saya tak pernah bosan mengucapkannya. Seberapa pun tekanan disekitarmu, seberapa pun banyak orang-orang palsu, kamu tetaplah menjadi orang yang baik.
Oh ya, ada satu kalimat Fa (seorang penulis favorite saya) yang saya tulis dan tempelkan di meja kantor:

Karena pasti ada,
entah di persimpangan mana,
seseorang yang bersedia mengingatmu selamanya di hatinya. :)

Tidak ada ruginya menjadi orang yang baik, setidaknya kamu akan memiliki tempat di sudut hati orang lain. ^^

Love,
Ay.

Saturday, May 14, 2016

Jeda

Ada jeda disetiap tarikan napas yang panjang .
Dan di sana terdapat celah untuk beristirahat sejenak.

Beberapa waktu ini saya teramat disibukkan dengan banyak hal. Setiap hari selalu tidak merasa cukup, selalu perlu tambahan jam untuk mengerjakan berbagai hal.

“Thea, kita akan kerjasama dengan grupnya KL, besok meeting di kantor mereka.”

Direktur saya memberi tau disela-sela waktu kerja. Meetingnya sendiri pun hanya sebentar, lebih lama perjalanan dari kantor saya ke kantor mereka. Kamu tau, Jakarta selalu macet setiap saat. Hanya satu minggu untuk saya mengumpulkan bahan yang harus diserahkan kepada mereka. Saya kalang kabut.

“Thea, outing kantor kita jadinya kapan?”

Saya pun sedang disibukkan dengan mengurus acara kantor, mencari dan memesan tempat, membuat desain kaos yang akan dipakai seluruh staff, membuat spanduk, memilih dan menyusun games kelompok dan lain-lain. Cape sih tapi saya senang melakukannya. ^^

“Thea, ada waktu? Saya mau call untuk bahas perkembangan website.”

Kantor saya pun sedang menuju ke arah online. Kita mau membuat online store sebagai pelengkap perusahaan. Jadi customer memiliki pilihan untuk membeli secara offline dan online. Untuk pembuatan websitenya sendiri pun kita pakai web developer dari Singapura. Hampir setiap hari saya berkomunikasi dengannya, pe-er saya pun semakin banyak~

“Besok meeting produk TB jam 9 pagi.”

Saya mendapati email dari Sales Manager dan hampir melupakan meeting itu karna sedang terfokus untuk mengumpulkan bahan yang diminta oleh grup KL. Meeting itu berlangsung 2 jam, dengan meninggalkan tumpukan pe-er baru untuk saya. Tetapi, untungnya Sales Manager saya paham kalau saya sedang teramat sibuk, jadi dia gak akan ‘mengejar’ saya dalam waktu dekat ini. *menarik napas lega*

Tetapi kemudian, keesokan harinya..

"Halo, Thea. Kita ikut seminar di Balikpapan akhir bulan nanti. Tolong persiapkan semua keperluannya."

Sales Manager saya menelpon. Hanya 2 minggu untuk saya menyiapkannya. Ya, ampun. Saya ragu bisa menyiapkan semuanya dengan baik...

Dan lain-lain… dan lain-lain…

Belum lagi saya harus berpikir dan mencari cara untuk menaikkan penjualan usaha pribadi saya. Pekerjaan kantor dan usaha pribadi saat ini mengambil banyak waktu saya. Ditambah lagi dengan urusan….. hati.

“Thea, sorry nih ganggu malem-malem.”

“Malem Pak, gak ganggu kok. Ada apa?”

“Mau nanya, kamu masih single? Haha. Nanyanya aneh ya.”

“Bahahahahaa. Emang kenapa pak?”

“Saya mau ngenalin kamu sama temennya istri saya.”

Si bapak ini bekerja di kantor principal salah satu brand yang kantor saya jual. Karna jarak umur saya dan dia tidak begitu jauh, kita pun jadi akrab dan bisa saling ledek. Saya sempat tertawa membaca chat darinya. Kok bisa kepikiran ngenalin cowok ke saya sih. :p

“Thea, aku mau ngenalin cowok.”

“Hah?”

“Orangnya baik, udah mapan, family man.”

DANG! Ternyata saya tau orang yang ingin dia kenalin.

“Duh, minder ah.”

“kenapa harus minder? Pokoknya aku mau kenalin ke kamu. Susah nih kamunya kalo diajak pergi selalu sibuk, dia juga sibuk sih.”

“Hahahaha.. iya kak aku lagi sibuk banget. Lagian ya Kak, jangan deh. Si M tuh lagi naksir berat sama Ko Y, gak deh.”

“Nanti sih bisa kita atur aja. Jodoh gak ke mana. Hahahaha.”

Salah satu senior di Gereja begitu semangat mau nyomblangin saya.

Dan beberapa teman lainnya yang ingin ngenalin cowok ke saya.

Pada baik banget sih sama saya..? sampe repot-repot ngenalin dan nyomblangin. Tapi, saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang sama saya. Makasi ya semuanya. ^^

Yang lucu adalah bapak-bapak di kantor saya. Mereka sering interogasi saya, sedang dekat sama siapa, sedang jalan dengan siapa, sampe minta ditunjukin foto. Mereka banyak memberi nasehat yang membuat saya tertawa.

“Si ono masih contact lu gak?”

“Masih Pak, tapi gak saya respon.”

“Udah, jangan. Katro dia mah. Sekarang lu sama siapa? Saya kasih tau, ati-ati sama cowok.”

“Bahahahahaha”

“Malah ketawa kalo dibilangin. Serius ini.  Kamu harus tau dan pelajarin dulu, liat anaknya beneran baik apa gak. Kalo dia udah mulai macem-macem, ngajak ke hotel jangan mau. Brengsek itu. Diliat dulu Thea keluarganya seperti apa, hubungan sama keluarganya gimana.”

“Bahahahaah.. apaan sih Pak. Ini kayak ngajarin anak SMP pacaran deh. Saya tau kok yang mana yang baik buat saya.”

“Sekarang lagi deket sama siapa? Coba saya liat fotonya.”

Hahahahahaah. Aduh, saya berasa anak sekolah yang lagi dinasehatin untuk urusan cinta pertama. Saya tau, mereka seperti itu karna mereka perduli. Mungkin juga mereka menganggap saya seperti anak mereka yang tidak ingin sampai saya kenapa-napa atau jalan dengan laki-laki yang tidak baik.

Tetapi… saya butuh jeda untuk semua itu. Saya butuh jeda untuk melupakan sejenak pekerjaan dan urusan hati. Saya masih yakin kok, Tuhan saya akan memberikan yang terbaik buat saya.

Rasanya saya butuh piknik!

(Menulis ini dengan membayangkan putihnya pasir dan birunya laut tetapi tetap tidak suka dengan sengatan matahari)

Love,
Ay.