Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Showing posts with label flash fiction. Show all posts

Monday, December 11, 2023

Terakhir...

To            : jerom_julius@gmail.com
From        : aeka.aleasha@gmail.com
Subject    : Apa kabar?

Dear Jerom,

Sudah 5 tahun kita tidak pernah bertemu. Ada banyak sekali yang berubah di sini, termasuk kerutan di sudut mataku yang bertambah. Ternyata aku cepat sekali menua ya, sedangkan kamu akan tetap awet muda dan tampan.

Kamu tau, salju pertama telah turun hari ini. Dan setiap tahun, di setiap salju pertama, aku selalu mengingatmu. Tentang bagaimana pertama kali kita bertemu, tentang hari-hari bersama yang kita lalui dengan banyak sekali candaan (yang sebenarnya tidak lucu tapi mampu membuat kita terbahak), tentang hari-hari di mana kita hanya bisa ngobrol via video call, tentang kamu yang suka ngomel kalau aku terlalu banyak makan gorengan sampai-sampai radang tenggorokan dan tentang rencana pernikahan kita di saat malam natal. 

Rasanya baru kemarin kita melaluinya.  Rasanya baru kemarin aku menyesap coklat mint buatanmu. Rasanya baru kemarin aku kekenyangan karna mencoba berbagai roti yang kamu buat, iya kamu suka sekali menjadikanku kelinci percobaan sebelum roti-roti itu dijual di toko rotimu. Ah, aku jadi rindu roti dengan banyak selai kacang dengan taburan pistachio di atas nya. Tidak ada roti yang sama seperti yang kamu buat.

Oya, tanganku kadang masih suka ngilu kalau cuaca terlalu dingin. Tapi, tenang saja, aku rutin ke dokter kok. Kata dokter hal itu masih tergolong wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. 

Aku juga sekarang sudah punya penghangat ruangan lho (setelah yang lama rusak dan aku tidak mau membeli yang baru). Suatu kemajuan bukan?

Hmm, Jerom...
Mungkin ini kali terakhir aku mengirimkan email kepadamu.
Aku tidak bisa lagi menuliskannya.
Karna aku tau, kamu mau aku bahagia kan?
Kamu mau aku tidak terus menerus menangisimu?

5 tahun bukanlah waktu yang singkat, tanpamu, 5 tahun belakangan ini berjalan sangat lambat. 

Tapi, saat ini aku sudah bisa menjalani hari-hariku dengan baik.

Dan aku mau ngasih kamu pengumuman, kalau minggu lalu Kaito melamarku. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Aku janji padamu untuk menjalani hari dengan bahagia sebanyak-banyaknya dan bersedih secukupnya. Aku tidak akan telat makan lagi. Tenang saja. 

Selamat tinggal Jerom. Terima kasih untuk 2 tahun yang kita lalui bersama. Aku tau kamu sudah mendapatkan kedamaian di sisi Tuhan. 


love,
Aeka


***
Hi, 
ini Ay.

Di tahun 2016, saya pernah menuliskan kisah pertemuan Aeka dengan Jerom. Kemudian, setelah membaca ulang, tangan saya tergerak untuk menuliskan kisah mereka kembali. Dan jadilah tulisan 'Terakhir' ini.

Buat kamu yang pernah merasakan ditinggal orang yang begitu kamu cintai, percayalah di atas sana dia mendoakanmu agar hidup bahagia tanpanya. :)

Love,
Ay


Monday, November 11, 2019

Sanggup kah?


“Si Becca enak ya,” ucap aku, iri.

“Karna ortunya kaya?” Tanya Kania.

“Salah satunya,” aku menghembuskan napas berat kemudian melanjutnya, “ gue pengen hidup normal, Ka. Kayak kebanyakan orang. Kayak Becca. Kayak lo.”

Kania menatap aku dan aku menghindarinya dengan buru-buru menyambar teh yang ada di samping bangku panjang tempat aku dan Kania duduk. Aku menyesapnya sedikit. Dan seketika aroma bunga yang kusuka memenuhi hidungku. Rasa bunga krisan..

“Ri…”

“Gue cape, Ka.. cape banget. Gue suka nanya sama Tuhan, kenapa gue dikasih begitu banyak kado yang bertahun-tahun gak selesai gue buka satu per satu. Dan tiap tahunnya kado-kado itu bertambah.”

Kado. Istilah yang kami pakai untuk mengganti kata ‘masalah’. Awalnya ini candaan kami, dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih pipis di celana. Dulu sekali, saat aku masih sangat optimis, aku selalu bilang pada Kania bahwa orang-orang yang punya banyak masalah adalah orang yang spesial.

Gak banyak orang yang mampu menerima masalah yang begitu banyaknya. Dan bertahun-tahun aku menguatkan diri dan selalu bilang pada diri sendiri, “Ori, lo orang yang spesial. Lo bisa, lo mampu, lo punya Tuhan yang lebih besar dari masalah lo.”

Gak salah. Tuhan tetap besar, hanya saja aku yang tak cukup kuat.

“Ortu lo kenapa lagi, Ri?” Tanya Kania. Dia tau sekali kalau kado aku gak jauh-jauh dari keluarga.

“Mau buka bisnis baru dan rencana ajuin pinjaman ke bank. Dan pengajuan pinjaman itu atas nama gue. God!” Aku mengacak-acak rambut frustasi.

“Kalo cicilan rumah masih berapa tahun lagi, Ri?” Tanya Kania.

“4 tahun.”

Aku kembali menyesap teh krisan yang sudah dingin.

“Lo tau kan Ka, gue udah gak bisa percaya lagi dengan janji-janji mereka. ‘Kalo papa sukses kamu gak usah bayar cicilan rumah, Listrik, air, biaya sekolah adik-adik kamu. Nanti papa yang bayar semua.’. Gue udah denger itu berkali-kali dan berkali-kali pula hasilnya nihil dan malah menambah tanggungan gue setiap bulannya.”

Kania diam dan menunggu aku melanjutkan bicara. Dia tau aku mau memuntahkan semua uneg-uneg yang mengganjal.

“Gue gak setuju sama pinjaman itu. Dan nyokap gue memperkeruh suasana dengan bilang gue tega sebagai anak, papanya mau usaha tapi dijegal sama anak, gue gak mikirin mereka. Apa iya gue sejahat itu?”

“Lo baik, Ri. Dan selamanya akan tetap baik.”

“Gue cape selalu jadi atm berjalan mereka seakan gue gak boleh menata hidup dan masa depan gue. Ka, kalo gue jahat, gue udah ninggalin mereka dengan semua hutang-hutang itu. Gue bisa hidup lebih dari cukup dari penghasilan gue. Tapi, gue memilih untuk mengambil tanggung jawab. Gue gak banyak ngeluh, gue gak cerita ke orang-orang tentang tanggungan gue dan gue bersyukur bisa bayar semuanya.”

Kania memeluk aku, menepuk pundak aku.

“Gue gak bisa kalo ditambah dengan bayar cicilan kredit pinjaman itu. Usaha bokap sendiri gak jelas sistemnya seperti apa, gue tanya konsep dan anggarannya gak tau. Gue bisa bayangin pinjaman itu akan habis begitu aja tanpa kejelasan. Dan yang akan bayar cicilan ke bank untuk 10 tahun ke depan siapa? Gue.”

“Gue cape hidup penuh hutang..”

“Kalo gue bilang, gue mau bantuin lo secara keuangan, gue tau lo bakal nolak mentah-mentah. Tapi, sekali ini please gue mau banget bantu lo. Jangan berfikir tentang hutang budi ya Ri. Kita udah sama-sama dari kecil, lo sering ngajarin gue waktu sekolah. Kalo gak ada lo, gue mungkin gak lulus.”

“Gak, Ka. Lagipula gue udah bilang ke mereka gue gak mau tandatangan pengajuan itu. Mereka marah, gue pun marah. Gue males pulang ke rumah.”

“Lo tau kan, pintu rumah gue selalu terbuka buat lo. Malem ini nginep di rumah gue aja gimana?” Kania menawarkan.

Aku mengangguk setuju.

Di saat-saat penuh tekanan seperti ini, aku masih bisa bersyukur karna punya sahabat yang selalu ada buat aku.

“Lo udah cerita ke Nando?”

“Belum. Gue kasian Ka sama dia, pacaran sama cewek yang punya kado segunung. Kalo suatu hari dia ketemu cewek yang baik…”

“Lo jangan ngaco!” Potong Kania. “Dia nerima lo dengan semua kado lo sejak 5 tahun lalu.”

“Justru itu Ka, rasanya egois kalo gue masih pertahanin hubungan ini dengan kondisi keluarga gue yang semakin parah. Gue sampe takut buat nikah. Gue takut gak bisa membantu karna sebagian besar gaji gue untuk keluarga..”

“Ri, lo lagi kacau, jangan mikirin yang macem-macem lagi. Udah mau gelap nih, balik ke rumah gue, yuk.”

Kami menghabiskan teh, merapatkan sweater dan keluar dari kedai langganan kami. Aku berjalan mengikuti Kania dari belakang dengan pikiran yang masih gamang.

Sekali lagi aku mengucapkannya dalam hati, Tuhan, sanggupkah aku?

***

Hai, 
ini Ay.

Makasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung dan membaca kisah-kisah di blog ini. Blog Vealde memang visitornya tidak sebanyak Blog Summer3angle, tetapi setiap saya cek dan melihat ada visitor yang datang ke sini, sudah membuat hati saya hangat.

Iya, saya masih hutang cerita nikahan kemarin.Menuliskannya pun belum sempat.. Di saat ada waktu, malah melintas cerita lain yang buru-buru saya ketik dan bagikan di sini. 

Entah satu atau dua bulan lagi, saya akan susun cerita nikahan yang penuh haru dan syukur (plus ada aja kejadian dodolnya, gak ngerti lagi deh :p).

PS: tinggal satu stengah bulan lagi sebelum pergantian tahun, sudah kah kamu bahagia? :)

Love,
Ay 





Tuesday, July 23, 2019

Memberi Ruang Untukmu


Image result for home pinterest
image from pinterest

“Sayang, you okay?” Aku bertanya dan tidak ada jawaban darimu.

“Baiklah, aku gak ganggu kamu dulu. Call me if you want to talk.” Aku pun memberinya pelukan, menatap wajah lelahnya sejenak kemudian mengambil tas.

Ada perasaan bersalah meninggalkan wanita yang telah mengisi hari-hari selama 10 tahun terakhir ini.  Tapi, aku tau saat ini kamu perlu waktu sendiri. Aku belajar untuk tidak memaksakan dan banyak bertanya, seperti yang dulu aku lakukan, yang selalu berakhir dengan pertengkaran yang hebat.

10 tahun bukan waktu yang sebentar untuk kita saling memahami. Aku yang mudah marah dan kamu yang punya kesabaran ekstra menghadapiku. Katakanlah aku beruntung memilikimu disisiku. Dan aku berterimakasih untuk itu.

Selama 10 tahun ini, aku tau, ada masa-masa kamu perlu ruang untuk dirimu sendiri. Hari ini salah satunya…

“I’m arrive at office. You know, I love you. I still love you.“

Aku mengirimkan pesan singkat yang entah kapan akan dibaca…

***

Belakangan ada hal-hal lama yang ingin sekali saya lakukan, salah satunya menulis fiksi mini ini. Dan untuk pertama kalinya saya menulis dari sudut pandang laki-laki. Agak aneh tapi menyenangkan. :D

Love,
Ay.


Friday, January 6, 2017

If I Never Met You...


Foto dari sini
 

Kamu pernah datang, menetap sebentar, kemudian pergi dengan membawa sebagian hatiku.

Di hari-hari yang lalu kita banyak menghabiskan waktu bersama, entah hanya untuk sekedar tertawa-tawa dengan lelucon yang sebenarnya tidak lucu, atau pun saling berbagi kelelahan di hari itu.

Tau apa yang paling aku suka? Ketika kamu menceritakan apa-apa yang kamu rasakan hanya kepadaku. Aku selalu suka ketika kamu membagi kelelahanmu padaku, aku merasa bahwa aku memiliki tempat yang spesial dihatimu. Dan aku tak pernah lelah mendengarkan setiap keluh kesahmu. Disetiap kata yang kamu ceritanya mengingatkan aku untuk tetap kuat.

“La, kita putus.” Suaramu terdengar dingin.

Aku hanya mampu terdiam, mungkin aku salah mendengar.

“La, kamu dengar aku kan?” Katanya di seberang telpon.

“I.. iya..” ucapku.

“Aku cuma mau bilang, kalo kita selesai sampai di sini.”

“Tapi… kenapa?”

“Kamu gak pernah bisa jadi pacar yang aku mau,” katamu acuh dan tidak sadar bahwa perkataanmu amat menyakitkan hatiku.

“Maksud kamu? Bisa kamu jelaskan?” Aku mencoba untuk tetap tenang. Pasti ada yang tidak beres, pikirku.

“Aku tanya sama kamu, berapa kali kamu nolak permintaan aku? Kamu gak pernah mau untuk tinggal bareng aku. Aku jadi ragu, selama ini kamu gak benar-benar sayang sama aku. Kamu cuma kasihan sama aku. Iya, kan?”

“Kita belum menikah dan aku gak mungkin tinggal sama kamu. Aku selalu bilang itu alasannya kan? Aku benar-benar sayang sama aku, tapi kamu meragukannya, hanya karna aku selalu menolak ajakan tinggal bersamamu,” aku menghela napas dan melanjutkannya, “maaf aku gak bisa jadi pacar yang kamu inginkan, makasih kita pernah saling sayang, dulu.”

Aku mematikan handphone. Hatiku terasa sakit.

Tau rasanya ketika jarimu tergores kertas? Awalnya tidak terasa, tetapi kemudian kamu akan merasakan perih dan gatal diwaktu yang bersamaan. Dan jika kamu tidak tahan, kamu akan menggaruknya dan membuat goresan itu semakin terbuka dan menjadi lebih perih. Rasa gatal dan perihnya akan semakin menjadi dan setelahnya akan meninggalkan bekas luka. Begitu lah rasanya.

Seharusnya dari awal, aku sadar bahwa cintanya bukanlah cinta yang baik untukku…
 
Love,
Ay.

Friday, December 30, 2016

Dear You

Foto dari sini


Hai, cowok pemarah. Apa kabar?
Beberapa hari yang lalu kita sempat bertemu. Kamu menghampiriku dengan muka kusut dan terlihat luar biasa bete. Kamu datang kepadaku dengan rentetan umpatan.
Aku tau kamu marah karna hari itu kamu tidak memenangkan proyek yang telah menyita waktumu selama sebulan terakhir ini. Kamu teramat kecewa. Dan aku tak tau bagaimana cara untuk menghiburmu.
“Gak usah dibahas lagi, oke?” Katamu ketika aku mengajukan beberapa pertanyaan tentang proyek itu.
Aku mengangguk.
Kita sama-sama terdiam.
Dan tiba-tiba kamu memelukku. Pelukan yang membuat dadaku ikut sesak, pelukan yang menggambarkan kelelahanmu. Aku hanya mampu membalas pelukan itu.
Iya, aku tau, aku memang payah dalam menghibur orang. Tapi, kenapa kamu selalu datang kepadaku setiap kamu ingin menumpahkan kekesalanmu?
Iya, aku tau, aku tidak boleh seperti ini.
Aku hanya mau bilang, kamu tidak dapat terus-terusan datang kepadaku. Kemarin itu terakhir kalinya aku menerima ajakanmu untuk bertemu. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman, begitu juga kamu kan?
Iya, aku tau, aku egois. Aku tidak ingin terluka.
Dan tak ingin melukai perasaan pacarmu.
Baik-baiklah padanya. Dan mungkin kamu bisa belajar untuk membagi kelelahanmu padanya, perempuan yang telah kamu pilih itu.
Ps: mungkin suatu hari ketika aku sudah memiliki pasangan, kita bisa double date? :p
Love,
Ay.

Friday, December 9, 2016

Hi!



Foto dari sini

To           : aeka.aleasha@gmail.com
From       : jerom_julius@gmail.com
Subject   : Hi!

Dear Aeka,

Saya Jerom and we don’t know each other, tapi kalau kamu menyadari ada laki-laki yang mengantri persis di belakangmu waktu di toko buku, it’s me. Saya mau bilang kalau member card kamu ada di saya, petugas kasir saat itu tidak sengaja memasukkannya ke dalam kantong belanjaan saya. maaf baru memberikan kabar. Can we meet? Saya ingin mengembalikannya padamu.

To            : jerom_julius@gmail.com
From        : aeka.aleasha@gmail.com
Subject    : Re:Hi!

Hallo Jerom,

Makasi sudah mengabari aku. Aku sempat panik lho karna tidak menemukan kartu itu. Kita bertemu di toko buku yang kemarin aja gimana? Kamis jam 7 malam. Let me know ya kamu bisa apa enggak. : )
 

To           : aeka.aleasha@gmail.com
From       : jerom_julius@gmail.com
Subject    : Re: Re: Hi!

Dear Aeka,

Okay, see you on Thursday. :)

 
“Hi.”
“Jerom?”
“Yes.”
“Aku Aeka,” ucapku sambil menyodorkan tangan.
“Jerom,” balasnya singkat dengan senyum yang membuat hatiku menghangat.
“Makasi ya, maaf juga udah repotin kamu.”
“Kamu tidak merepotkan sama sekali, saya happy bisa bertemu kamu.”
“Jerom, may I ask you something?”
“Ya?”
“Where  are you from? Bahasa kamu kaku,” kataku memberanikan diri.
“Ah, yeah. Sorry, saya masih harus belajar bahasa. Dari kecil saya tinggal di Austria.”
“I see…” kataku paham.

Ada jeda setelahnya sampai Jerom memulai percakapan lagi..

“Aeka, kamu ada waktu? Mau dinner dengan saya? saya masih ingin berbincang denganmu.”

Seakan ada banyak kupu-kupu terbang di dalam perut, aku hanya mampu mengangguk dan tersenyum.

Malam itu kami habiskan dengan berbincang-bincang tentang buku dan film favorit. Sesekali aku menertawakan bahasanya yang kaku dan berantakan dan dia pun ikut menertawakan dirinya sendiri.

Dan sepotong red velvet cake menjadi penutup manis malam itu.

 
“Aeka, can we meet again?”

 

Love,
Ay.

Friday, December 2, 2016

Dia yang Telah Menggantikanmu


Foto dari sini

Satu-satunya hal yang aku sesali adalah aku tidak bisa lagi menjadi tempat untuk berbagi kelelahanmu. Maaf. 

“Kamu kenapa melamun?”

“Hm? Oh..”

“Nah,  kan. Lamunin apa sih?”

“Ng.. itu..”

“Gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita, tapi sekarang kita tidur yuk. Sudah lewat tengah malam.”

Dia membenarkan selimut yang aku pakai.
 
“Selamat tidur sayang,” ucapnya setelah mengecup dahiku. Dia kembali menarik selimutnya sampai di atas dada.

Aku meliriknya yang telah memejamkan mata.

“I love you,” bisikku kecil.

Aku pun memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Masih ada waktu 6 jam sebelum kereta berhenti di kota tujuan kami.
 
Love,
Ay.

Friday, November 25, 2016

Kamu

Foto dari sini
 

Aku sering meminta banyak kepada Tuhan. Meminta ini dan itu. Kemudian, Dia merangkumkannya ke dalam seorang pria. Kamu.
Terima kasih telah membuatku percaya bahwa tidak apa-apa untuk meletakkan segala keresahan pada seseorang. Tidak apa-apa mempercayakan hati yang sudah banyak tambalannya ini pada seseorang. Dan tidak apa-apa membagi hari-hari yang tidak selalu berjalan dengan mulus, kepada seseorang.
Terima kasih telah datang dan (semoga) terus menetap. :)


Love,
Ay.



Friday, November 18, 2016

Gula Kapas


Foto dari sini
 
Hari ini aku kembali ke sini. Sendiri. Tempat ini tak banyak berubah. Anak-anak berseragam putih merah berhamburan keluar dari kelas ketika bel istirahat berbunyi. Aku tersenyum melihat wajah-wajah polos mereka. Dan tanpa sadar, aku mengamati apa-apa yang anak-anak itu lakukan. Semuanya berlarian ke pedagang yang menjajakan makanan khas anak sekolah. Anak laki-laki tambun asik mendorong temannya yang lebih kecil agar bisa duluan membeli. Adegan saling dorong pun terjadi. Keduanya tidak terlihat marah, malah tertawa-tawa.

Anak-anak perempuan banyak mengerubuti pedangan yang berjualan kue cubit. "Abang, kuenya setengah mateng ya!" Pesan seorang anak perempuan berambut keriting dengan suara nyaring.

Ada juga yang asik dengan seplastik es teh manis. Minuman yang cocok dicuaca yang panas ini.

Aku berjalan, menghampiri seorang pedagang yang hanya dihampiri 3 pembeli, 4 dengan aku. Jualannya tidak seramai pedagang lainnya. Aku pun menunggu sampai ketiga anak itu selesai membeli.

"Saya mau satu ya."

Aku menyodorkan selembar uang lima ribu dan pedagang itu menyodorkan pesananku.

Rasa manis langsung memenuhi mulutku ketika gula-gula kapas itu masuk ke dalam mulut. Rasanya masih sama seperti dulu. Yang berbeda hanya kali ini aku menikmatinya sendirian dan tidak berbagi denganmu.

Aku tidak mengharapkan kamu kembali. Tidak. Dan kamu tau itu. Aku hanya sekedar mengingat masa-masa ketika dulu kita pernah tertawa-tawa melihat kelakuan lucu anak-anak sekolah dan menikmati manisnya gula kapas yang rasanya selalu sama tetapi kita tak pernah bosan membelinya setiap kita mampir ke sekolah ini. Selalu... Tak pernah bosan...



Love,
Ay.

Friday, November 11, 2016

If Only...


Foto dari sini
 

Beberapa waktu yang lalu, aku melewati gang rumahmu ketika aku ingin pergi ke suatu tempat. Sekilas aku melihat rumahmu, dengan pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi, yang dibuat agar tidak ada satu orang pun dapat mengintip ke dalam rumah.
Sudah berapa lama ya kita tak bertemu dan bertegur sapa? 2 tahun? 3 tahun? Mungkin lebih. Aku tak pernah tau seperti apa kamu yang sekarang. Apakah sudah mendapatkan pekerjaan yang baik. Apakah sudah menemukan orang yang dapat mengisi hari-harimu. Apakah sudah merencanakan masa depan dengan pantas. Atau kamu masih seperti dulu yang aku kenal? Entah. Aku tidak tau.
Di hari-hari yang lalu, kita pernah menghabiskan banyak waktu bersama. Selalu menyempatkan untuk bertemu setiap akhir pekan. Tau apa yang aku suka darimu? Kamu selalu menepati janji dan tidak pernah terlambat untuk menjemputku. Dan aku berterimakasih untuk itu. Oh, dan aku suka parfum yang kamu pakai. Selalu membuatku nyaman ketika wangi itu terhirup dan masuk ke dalam hidung bersama dengan oksigen lainnya.
Ada kalanya, ketika kamu sedang kacau, kamu akan banyak merokok. Seakan lupa bahwa aku amat tidak suka dengan bau rokok – dan biasanya kamu tidak merokok di depanku. Tetapi, aku memakluminya. Aku bisa mentolerir itu. Kenapa? Karna aku tidak ingin bertengkar hanya karna asap rokok yang membuatku terbatuk. Aku hanya terlalu menyayangimu.
Aku tak dapat menghitung berapa banyak pertemuan kita, sudah terlalu banyak. Aku pun tak dapat menghitung seberapa banyak kita tertawa dengan lelucon-lelucon garing yang sebenarnya tidak lucu. Dan aku juga tak dapat menghitung berapa banyak wanita yang chat kamu sampai kamu perlu bantuanku untuk membalas semua chat itu.
Dan kita pernah bilang, that’s what friend are for. Saling membantu, bahkan sampai keurusan laki-laki maupun wanita yang mendekati kita.
Sampai suatu kejadian yang membuat kita saling menghilang dari kehidupan masing-masing. Dan kita lupa dengan hari-hari yang lalu. Ego kita mengalahkan rasa sayang. Kita tak mampu untuk hanya sekedar bertegur sapa.
Seandainya waktu bisa diulang...
Apakah kita bisa kembali seperti dulu?
 
Love,
Ay.

Friday, November 4, 2016

Boleh?

foto dari sini
 
"Kamu kenapa?"

"Lagi gak mood. Hehe..” ucapku sedatar mungkin.
 
"Karna apa?"
 
"Hm… Gak deh, gak usah dibahas."
 
"Yakin?"
 
"Iya."          
 
"Baiklah kalo begitu," katamu sambil tersenyum, kemudian kembali fokus menyetir.
 
Aku terdiam, pikiranku sibuk dengan apa-apa yang sudah kami obrolkan sebelumnya.
 
"Sayang, aku tau kamu lagi gak baik-baik aja. Kasih tau ke aku kenapa kamu bete. Bukan karna aku kan?" Tanyamu yang tak tahan dengan keheningan yang tercipta.
 
"Kalo aku bete karna kamu gimana?"
 
"Aku ada salah ngomong? Bagian yang mana?"
 
Aku menimbang-nimbang sebelum menjawab, "boleh aku minta satu hal sama kamu?"
 
"Apa?"
 
"Boleh gak untuk gak bahas mantan kamu di depan aku?"
 
"Hahahahahaha," kamu tertawa lebar sambil mengacak-acak rambutku, "yang, kamu cemburu ya?"
 
Aku menggeleng dan tidak ikut tertawa.
 
"Aku gak pernah cemburu sama mantan-mantan kamu, karna itu udah lewat. Kamu pernah ngitung gak seberapa sering kamu bahas Yuna di depan aku? Aku gak pernah ngitungin, tapi hampir disetiap kita bertemu, kamu pasti menyelipkan kisah kamu sama dia - sebanyak itu. Dan kamu selalu terlihat excited setiap kali bercerita tentang dia. Aku gak cemburu. Aku hanya berpikir, mungkin kamu lebih cocok bersama perempuan seperti dia, yang menggebu-gebu dan menuruti apa-apa yang kamu inginkan. Aku jauh dari kriteria itu. Tapi, kamu tau aku serius dengan hubungan kita, boleh gak aku minta tolong untuk gak bahas mantan kamu lagi?"

Dan seandainya kamu terus seperti ini, mungkin aku perlu mempertimbangkan kembali hubungan ini. Aku gak bisa menjadi seperti Yuna, maaf. Lanjutku dalam hati.

 
Love,
Ay.


Friday, October 28, 2016

Seperti Itu...

 
Foto dari sini
 
Bagaimana aku dimatamu?
 
Suatu kali kamu pernah menanyakan hal itu padaku.
 
Kunang-kunang. Kamu pernah melihatnya?
 
Yang selalu bisa menghiasi kegelapan dengan kerlip kekuningan.
Yang selalu membuat hatiku dialiri perasaan hangat yang menyenangkan setiap kali melihat kerlipannya.
Yang selalu bisa menjadi penerang agar dapat melihat jalan setapak dan tidak tersesat.
 
Seperti itulah...
Kamu dimataku. :)
 
Ay.


Friday, October 21, 2016

Kamu Hanya Terlalu Takut

Foto dari sini
“La, sampai kapan kamu mau sendiri?”

“Entah lah, aku gak tau.”

“Sebegitu susahnya membuka hati untuk laki-laki?”

“Ada banyak hal, Mel. Banyak hal yang gak bisa aku ungkapin. Hal-hal yang membuat aku takut untuk mempercayakan hati aku ke orang lain.”

“Dan banyak yang kamu tutupin juga dari aku. Coba terbuka, La. Jangan disimpan sendirian.”

“Aku gak bisa..”

“Kamu bukannya gak bisa, kamu hanya terlalu takut orang-orang pergi ketika tau tentang dirimu kan?”

“Kamu… Kenapa kamu bisa tau?”

“Kita sudah sahabatan lama, La. Aku hanya menebak-nebak karna kamu gak pernah menceritakan apa-apanya secara jelas.”

“Maaf ya, Mel. Benar, aku terlalu takut. Aku takut orang lain ikut terluka karna aku. Aku terlalu takut untuk dipandang penuh simpati oleh orang lain.”

“Berdamailah dengan masa lalumu, La. Kamu gak bisa terus-terusan hidup dengan luka yang terus berdarah. Kamu bisa melakukannya, kamu hanya terlalu takut untuk memulainya kembali.”

Love,
Ay.

Friday, October 14, 2016

Dandelion

 
Foto dari sini
 
 
Aku menyukai bunga Dandelion. Bunga dari rumput liar yang seringkali diabaikan oleh orang lain, yang tumbuh di semak belukar dan bahkan di tanah yang tandus.
 
Tau kah kau, setiap aku menemukan Dandelion, aku akan memetiknya sebatang dan meniupkannya. Aku suka ketika melihat bibit-bibit bunga itu terbang terbawa angin, entah ke mana.
 
Seperti itu lah, aku akan melakukannya saat ingin melepaskan sesuatu yang begitu menyesakkan. Melepaskan kesesakkan itu agar terbang menjauh. Juga ketika aku ingin merelakan hal-hal yang telah terjadi. Dan kau adalah salah satu hal yang ingin aku relakan untuk pergi...

Love,
Ay.