Showing posts with label kamu. Show all posts
Showing posts with label kamu. Show all posts

Tuesday, January 31, 2017

February :)

Foto dari sini
 
Hai, Hallo, apa kabar?
 
Blog ini sempat saya anggurin dan bahkan tidak ada fiksi mini yang seharusnya diposting setiap hari Jumat. Fiksi mini yang terakhir itu sudah saya buat dari jauh-jauh hari dan sudah terjadwal. Setelah itu, saya belum sempat lagi menulis.
 
Bulan Januari kemarin benar-benar bulan yang sibuk, dari awal tahun, pekerjaan sudah banyak menanti saya. Di tambah saya sempat sakit pada akhir tahun dan berlanjut sampai awal tahun. Yah.. begitu lah..
 
Dan tau-tau sudah masuk bulan Februari. Pekerjaan saya tetap banyak. Di kantor pun terasa dingin banget sampai saya harus pakai sweater, efek karna hampir tiap hari hujan juga sih ya.
 
Hm.. Sejujurnya saya gak tau sih mau menulis apa di sini, otak saya lagi macet. Jadi, saya hanya mau menyapa kamu dan kamu yang tidak sengaja membaca tulisan ini.
 
Oiya, ini udah bulan Februari lho, bulan yang katanya penuh cinta, sudah menemukan cinta yang baik kah? :p
 
Ps: Semoga di bulan ini dan dibulan-bulan selanjutnya tetap bisa selalu bersyukur ya.^^
 
Love,
Ay.

Friday, November 25, 2016

Kamu

Foto dari sini
 

Aku sering meminta banyak kepada Tuhan. Meminta ini dan itu. Kemudian, Dia merangkumkannya ke dalam seorang pria. Kamu.
Terima kasih telah membuatku percaya bahwa tidak apa-apa untuk meletakkan segala keresahan pada seseorang. Tidak apa-apa mempercayakan hati yang sudah banyak tambalannya ini pada seseorang. Dan tidak apa-apa membagi hari-hari yang tidak selalu berjalan dengan mulus, kepada seseorang.
Terima kasih telah datang dan (semoga) terus menetap. :)


Love,
Ay.



Thursday, September 1, 2016

September :)

 
Rasanya baru kemarin saya mentertawakan status teman di path ketika dia say goodbye di bulan Januari, sekarang malah sudah masuk September. Membuat saya kembali mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan selama 8 bulan ini. Lo udah berbahagia sebanyak-banyaknya belom? Hampir. Saya sih maunya bahagia terus ya, tapi lagi-lagi hidup gak mungkin berjalan begitu mulus, akan ada kerikil-kerikil yang membuat kakimu tergores. Tidak apa-apa, anggaplah itu sebagai pengingat untuk kita selalu bersyukur dalam kondisi apa pun.
 
Sekitar 3 bulan yang lalu, saya sempat galau dan panik. Malu kalau saya harus ceritakan di sini. Tapi, lagi-lagi rencana Tuhan memang ajaib ya, Dia hilangkan segala galau dan kepanikan saya tepat pada waktuNya. Dan saya bersyukur, semoga kali ini memang benar jawaban dari Tuhan. :)
 
September adalah bulan kedua yang saya suka setelah Desember. Kalau di luar, September itu bulan yang menggantikan Summer ke Autumn. Iya, saya suka musim gugur, melihat daun-daun yang berubah merah kecoklatan. Bahkan saya punya keinginan untuk pergi ke suatu negara di bulan September, menikmati dedaunan yang gugur sambil merapatkan jaket dan menyeruput peppermint tea yang masih mengebul. Mudah-mudah keinginan saya ini tercapai, entah taun depan atau beberapa tahun lagi.^^
 
Dan di akhir September nanti, usia saya pun bertambah. Sempat sih mikir, 'ya ampun, tua banget deh gueee!', Tapi, mau bagaimana pun, mau saya merengek-rengek pun, tidak akan membuat hari berjalan lebih lambat. Ya, kan? :p
 
Oya, di bulan lalu saya sempat ikutan lomba menulis cerpen lagi, saya gak berharap menang sih tapi seandainya menang berarti saya mendapatkan kado yang manis. Karna pengumumannya jatuh mendekati akhir bulan September. Semoga aja ya, semoga. :D
 
Hm, saya juga tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan, asli deh taun ini saya benar-benar sibuk. Saya pun sedang ada project bersama adik dan mami saya dan kami sedang sibuk mempersiapkan berbagai hal untuk di bazaar yang akan diadakan tanggal 10 September nanti. Tinggal 9 hari lagi! Rasanya takut persiapannya kurang maksimal deh. Mudah-mudahan acaranya berjalan lancar dan orang-orang yang mampir di booth kami menyukai produk kami. :)
 
Terakhir, di bulan ini saya mau belajar lebih bersyukur dan tentunya lebih berbahagia biar bisa menularkan kebahagiaan ke orang-orang yang saya sayang. :')
 
Love,
Ay. 
 


Friday, October 24, 2014

Tentang Laki-laki di Masa Lalu


 
Hari ini saya mengingatnya,
Laki-laki itu…..
Dengan tindikan di telinga dan lidahnya.
Dengan headphone yang seringkali mengeluarkan suara jedag-jedug khas lagu di klab malam.
Dengan kamera D-SLR yang menggantung dilehernya.
Dengan sebatang rokok yang terselip di ujung bibirnya.
Dengan sepatu kets, celana chino dan kaos longgar.
Dengan perhatian yang seringkali membuat salah tingkah.
Dengan ledekan-ledekan yang menyebalkan tapi bikin kangen.
Dan dengan tawa lebar di setiap lelucon.
Laki-laki itu, bagaimana kabarnya sekarang?
Apakah masih seperti yang saya bayangkan?

Ps: jika suatu saat kamu menemukan tulisan ini, mari kita bertemu! : )

Monday, September 22, 2014

Waktu Bersama Han

Hai Ven, Hello Han!^^ apa kabar? Hari ini saya ingin bernostalgia dengan beberapa kenangan yang kita lewati dulu. Mudah-mudahan kalian masih mengingatnya, seperti saya yang masih ingat setiap detail kebersamaan kita :’) Dimulai dengan Han dulu ya~
Bersama Han
Han, ingatkah pertemuan pertama kita? 10 tahun yang lalu! Betapa tahun berlari begitu cepat yaa.
2004 – Masa Orientasi sekolah
Pertama kalinya kita bertemu, kita satu kelompok di MOS selama 2 hari. Saat itu entah kenapa, kita yang tidak saling kenal bisa tertawa begitu lepas. Menertawakan bawaan-bawaan yang harus dibawa. Masih ingatkah dengan celana dalam plastik, you see one thousand, 2 tang kaleng, silver abang none, ketan hitam 2004 biji? Hahahha.. saya selalu tertawa jika mengingatnya.
Dan ingatkah ketika kita berdua dihukum karna hanya membawa sedikit ketan hitam? Berdua dipojokkan lapangan basket harus menghitung sekilo biji ketan hitam! Waktu itu kita malah tertawa-tawa sambil menghitung asal-asalan.
2 tahun kita sekelas
Ternyata takdir mempertemukan kita kembali. Setelah MOS, kita pun belajar di kelas yang sama ^^ waktu kelas 1, di pelajaran Bahasa Inggris, kita pernah melakukan drama berdua di depan kelas. Saya yang tidak bisa bahasa Inggris, banyak mendapat pertolongan dari kamu. Terima kasih^^
Hampir setiap pelajaran, kita sekelompok. Kamu si pintar dan saya si dodol, walaupun begitu, kita selalu kompak^^
Dan lagi-lagi, di kelas 2 kita pun sekelas.  Hal yang menyenangkan. Ingatkah saat itu saya selalu bercerita tentang seseorang kepada kamu? Seseorang yang begitu saya sukai, (bisa dibilang laki-laki itu adalah cinta pertama saya) sampai-sampai saya tidak dapat melihat kebaikan laki-laki lain.
Waktu itu, Ven pernah bilang ke saya, kalau kamu sebenernya kurang suka saya selalu cerita tentang laki-laki itu. Hei, kenapa kamu tidak bilang ke saya? Maaf ya, waktu itu kamu harus mendengarkan cerita-cerita saya setiap hari, cerita saya dengan laki-laki itu. Maafkan saya yang tidak peka.
Oya, waktu kelas 2 kamu banyak berubah! Kamu jadi males sekolah. Ya ampunn.. ingat tidak ketika kamu dipanggil wali kelas? Diberi peringatan kalau kamu sering bolos, kamu akan dikeluarkan dari sekolah? Ingatkah berapa kali saya mengomeli kamu untuk tidak males ke sekolah?
Meskipun begitu, kamu yang sering kali bolos, selalu mendapatkan nilai-nilai tinggi. Saya yang jarang bolos saja sering remedial, sedangkan kamu hampir tidak pernah mengulang ulangan! Han, saya iri! Hahahah..
Saya dan Ven, agak menjaga jarak ketika kamu punya pacar. Kami gak mau buat pacarmu salah paham. Tapinya, malah kamu yang selalu mendekati kami. Lebih sering bersama kami dibanding pacarmu itu. Dan yah, akhirnya kamu putus. Apa sih yang kamu pikirkan saat itu? Pacarmu begitu baik dan tidak banyak menuntut.
Di kelas 3, giliran Ven yang sekelas denganmu, dan  saya terpisah. Dari saat itu, hubungan kita bertiga renggang. Kamu pasti tau apa penyebabnya. Kita bertiga tak lagi sedekat dulu, meskipun kamu masih selalu membantu saya ketika saya butuh pertolongan.
 Ingat tidak ketika saya panik (lagi-lagi) karna pelajaran bahasa inggris? Saya panik karna harus speech di depan kelas pakai bahasa inggris. Dan kamu dengan baik hatinya membantu saya. Saya memberikan catatan berbahasa Indonesia, dan kamu menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris. Entah apa jadinya kalau tidak ada kamu, mungkin saya akan failed di pelajaran itu. Makasi ya, Han!^^
Banyak sekali yang berubah ketika kelulusan. Kita jadi amat jarang bertemu, kita sibuk dengan kehidupan masing-masing. Saya tak tau kabar kamu, pun juga kamu. Setelah kelulusan sekolah, sampai saat ini, berapa kali kita bertemu? Saya rasa kurang dari 10 kali.
2011, ketika saya sedang disibukkan dengan Tugas Akhir (saat itu saya lagi stress mencari tema apa yang ingin diangkat), kamu tiba-tiba chat saya. Kamu bilang kangen dan ingin bertemu. Dasar aneh! Setelah menghilang sekian lama, tau-tau chat saya seperti itu.
 Dan kita bertemu. Lagi-lagi dengan baik hatinya kamu menemani saya ke suatu café tempat saya  observasi untuk pembuatan tugas akhir. Kamu menemani saya bertemu dengan pemilik café. Waktu itu kita berdua aja, tapi ramenya kayak berlima. Berisik banget dan banyak tawa tumpah selama di café. Oya, kebiasaan kamu dari jaman SMA pun kumat, iya apalagi kalau bukan pup! Hih. Dari café, kamu tiba-tiba belok ke pom bensin.
“ Ay, sebentar ya tunggu di mobil. Perut gue mules nih.”
“ Ih lo ya, kebiasaan banget deh. Yaudah sana.”
Tak lama kamu kembali ke mobil dengan cengir lebar. Lega banget yah abis keluarin isi perut? Ahahahah.
Desember 2012, kembali kita bertemu. Hanya sebentar memang. Karna kamu hanya mampir di booth saya ketika pergantian jam kuliah. Yep, saat itu saya buka stand di kampus kamu. Makasi sudah menyempatkan mampir selama 2 hari.
Terakhir, kita bertemu di pernikahan Ven. Kamu menjemput saya dan kita bersama-sama datang ke pernikahan sahabat kita. Gak nyangka ya Han, Ven menikah secepat itu!
Ps : semoga aplikasi S2 kamu diterima. Dan nantinya, ketika kita sudah berada di benua dengan 14 jam perbedaan waktu, mudah-mudahan kita masih tetap bisa saling menyapa. Sukses untukmu^^
Peluk erat dari Ay

Wednesday, September 3, 2014

You fall in love with people’s minds. — Anaïs Nin
Anais Nin adalah seorang pengarang yang lahir di Perancis tahun 1903. Sejak umur 11 tahun, Anais Nin dikenal dengan kumpulan cerita dari buku hariannya.
Saya amat menyetujui pernyataan Anais Nin, kami sepaham dalam hal ini. Semakin usia bertambah, entah mengapa saya tidak lagi banyak menilai orang dari rupanya. Ada banyak hal yang mengajarkan saya bahwa tampak luar dapat menipu dan saya beberapa kali mengalaminya. Bertemu dengan banyak orang palsu, yang tampak luar bertolak belakang dengan yang sebenarnya.
Ketika masa putih abu-abu, saya selalu suka dengan orang-orang yang memiliki tampang yang enak untuk dilihat (yah walaupun menurut orang lain tampang orang itu biasa saja, tapi buat saya orang itu tampan). Hal yang wajar bukan? Walaupun saya tak banyak memilih dalam hal berteman, tapi saya amat selektif dalam hal laki-laki yang ingin mendekati saya. Saya terlalu menilai tinggi diri saya padahal saya banyak memiliki kekurangan.
Rupa yang tampan namun memiliki sikap yang buruk hanya akan membuat rupa itu tak ada nilainya, saya mulai memahami itu. Dan entah sejak kapan, saya lebih menilai orang dari kepribadiannya, dari pola pikirnya. Dan saya terkagum dengan beberapa orang yang memiliki pola pikir yang amat luar biasa namun dengan fisik yang kurang. Hei, betapa karakter yang baik dapat menutup keburukan rupa yang dipunya. :)
Saya pernah jatuh cinta dengan laki-laki yang biasa saja, tapi bagi saya dia memiliki karakter yang baik dan pola pikir yang membuat saya mengangguk menyetujui (saat itu). Dia tipikal laki-laki yang amat sayang dengan mamanya pun juga dengan adik-adiknya. Dia tak malu untuk membantu mamanya memasak di dapur dan memilih nyuekin sms dari saya hanya untuk menemani adik terkecilnya belajar. Bagaimana saya tidak jatuh cinta dengan laki-laki itu?
 Dan ada banyak alasan lainnya untuk tetap menyukainya walau sekarang laki-laki itu sudah bukan bagian dari kehidupan saya. Saya tak punya dan tak ingin mencari-cari kelemahannya untuk alasan saya membencinya.
Cinta yang baik memang seharusnya seperti itu~ :)
 
Ay.

Sunday, August 31, 2014

Living with Memories..

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Lee Seung Cheul, seorang penyanyi ballad asal Korea. Ketika mendengar lagu itu, entah mengapa saya merasa kesedihan yang dalam. Karna penasaran, saya pun mencari liriknya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
 
 
Will you be okay with just living with memories?
I asked you what a memory is.
It was hard to listen to your answer without tears.
 
Di hari-hari yang lalu kita banyak berbagi kisah, tawa dan keluh. Yang satu menguatkan yang lainnya. Kalau diingat-ingat, saya lebih banyak protes padamu, ya? Memaksa kamu melakukan ini dan itu. Tapi, saya bawel kan demi kebaikan kamu juga. Ah, alasan saja kamu, Ay. Kalau sekarang, ada yang melebihi bawel saya pada kamu gak? :p
 
Di hari-hari yang lalu itu, saya tak pernah berfikir sedikit pun kalau suatu hari kita akan berpisah dan tak pernah bertegur sapa lagi. Satu hari di mana kamu pergi meninggalkan saya...
 
You said a memory is something that wont ever come back,
that you can never have again.
 
 
Pada awalnya saya tak mampu menerimanya. Saya amat marah dan kecewa. Saya berfikir kamu tega sekali meninggalkan saya. Tau kah kamu kalau saat itu saya merasa takut dan mengharapkan kamu tak melepaskan genggaman itu? Tau kah kamu kalau saya paling takut kalau ditinggalkan sendirian? Entahlah...
 
Butuh waktu cukup lama untuk saya menerima itu semua, untuk memaafkan kamu pun juga memaafkan diri saya yang terlalu menyalahkanmu saat itu. Dan akhirnya saya sadar bahwa kita tak dapat hidup dalam kenangan, bahwa hidup harus terus berjalan dan menemukan kebaikan di setiap langkah di hari-hari yang akan datang. Saya akhirnya paham, dan menyetujui kalau hari-hari yang lalu itu tidak akan kembali dan saya pun tidak ingin lagi mengulangnya.
 
Kini saya dapat memeluk kenangan itu tanpa merasakan sakit lagi, dan saya tau kamu pun sudah mendahului saya, sudah dapat memeluknya tanpa beban lagi.  Terima kasih untuk setiap detik yang pernah kita laluin, untuk penerimaan kamu atas banyaknya kekurangan saya, untuk keegoisanmu yang membuat saya memahami kamu melebihi orang lain dan untuk segaris senyum yang pernah kamu sisipkan di sela-sela pembicaraan kita. Saya memaafkanmu. Maafkan saya juga ya. :)
 
Ps: Jika suatu hari kita dipertemukan kembali, saya tak akan ragu untuk tersenyum dan menyapamu.^^
 
Ay.


Wednesday, August 27, 2014

Kisah 3 Sahabat

“ Ay, saya mau berterus terang padamu. Saya suka pada dia, entah sejak kapan saya tidak tau. Tapi yang jelas, rasa ini semakin lama semakin membesar. Apa yang harus saya lakukan? Kamu bisa bantu saya? “

Kata-kata itu terucap dari mulut Ven, sahabat saya. Dia menyukai Han, sahabat saya yang laki-laki. Dan yang dia tak tau, saya pun menyukai laki-laki yang sama…
2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Ketiga orang sahabat yang diam-diam saling menyukai. Banyak orang bilang kalau tidak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Kami bertiga pernah menertawakan pernyataan itu, dulu. Ya, kami membuktikan kalau kami dapat bersahabat, murni, tanpa perasaan yang lebih, hanya rasa sayang dan peduli saja.  
Ke mana-mana kami selalu bertiga, kami berbagi hidup, berbagi tangis dan tawa, dan tanpa kami sadari, kami pun berbagi hati…
Kami adalah pribadi yang berbeda-beda. Saya tipikal anak yang lincah, ceria, manja namun tertutup dalam banyak hal. Ven tipe cewek yang sensitive, serius (namun sesekali dia pun dapat mencairkan suasana), dan amat terbuka, pun juga mengenai urusan hati. Sedangkan Han adalah  tipe  cowok yang humoris dan suka membuat lelucon, pendengar yang baik, dan pintar menenangkan orang lain.
Jauh sebelum Ven mengungkapkan perasaannya, dia pernah bilang seperti ini, “ Ay, kamu sadar gak kalau Han itu lebih perhatian kepada kamu? Saya rasa dia suka sama kamu.. hahahah..” dia meledek saya.
Saya sendiri saat itu tak menyadarinya. Saya merasa kalau sahabat berbuat baik dan perhatian kepada sahabatnya itu hal yang wajar. Namun, saya tak sadar kalau perhatian dari Han kepada saya melebihi perhatian seorang sahabat.
Saya pun mengacuhkannya, saya tidak mau ada perasaan lebih yang merusakan persahabatan kami bertiga. Tetapi, yang namanya hati memang susah ditebak. Saya bisa saja acuh dan tidak menanggapi segala perhatian dan kebaikannya, namun hati saya merespon itu. Perlahan-lahan saya menyukai dia, sahabat saya sendiri.
Suatu kali, kami bertiga pergi ke taman bermain. Saat itu, Han sering kali menggandeng tangan dan menepuk kepala saya. Saya merasa nyaman. Kami menghabiskan berjam-jam yang menyenangkan. Kami bertiga bahagia. Dan saat itu saya berjanji dalam hati untuk menetralkan perasaan saya, pun juga Han.
Ketika kami berdua sudah mulai bisa menetralkan perasaan, masalah lain terjadi. Ven mengungkapkan kalau dia suka dengan Han. Saya terkejut dan tak tau harus berkata apa. Dia meminta saya untuk membantunya pendekatan ke Han. Saya ingin menangis.
Ven  benar-benar menunjukkan ketertarikannya pada Han. Dia mulai melakukan pendekatan-pendekatan dan perhatian-perhatian yang membuat saya merasa risih dan tak nyaman berada diantara mereka berdua.
Dan pada puncaknya, dia mengungkapkan isi hatinya kepada Han. Di saat itu saya takut, kalau mereka menjadi pasangan, bagaimana dengan saya?
Han menolak dengan halus. Ven sakit hati, dia tak bisa menerima penolakan itu. Han pun menjadi dingin dan acuh pada Ven.
Bagaimana dengan saya?
Saya marah. Saya kesal kepada mereka. Tiap kali saya mendekati Han, Ven akan melirik dengan kecemburuan yang tak tertutupi. Berbulan-bulan lamanya, hubungan kami bertiga menjadi kaku. Kami yang biasa tertawa bersama, kini hanya terdiam. Tak banyak yang kami bicarakan. Dan sampai kelulusan sekolah, persahabatan kami tak lagi lekat seperti dulu. Keadaan berubah, kami berubah, semuanya tak sama lagi…
 
Ps :
Buat Ven dan Han, kalau suatu saat menemukan tulisan ini dan berpikir “ kok beda dengan yang kita alami ya, Ay? “ Hihihihi. Memang iya, untuk membuatnya saya menambahkan sedikit bumbu di beberapa bagian.^^
Buat Ven, saya masih belum puas untuk mengucapkan selamat untuk pernikahanmu! Satu dari sekian kabar menggembirakan untuk saya.^^
Buat Han, makasi ya udah menemani saya di pernikahan Ven. Semangat untuk tugas akhirnya. Kamu pasti bisa melaluinya.^^
***
Ps lagi : ketika tadi iseng buka-buka draft, ternyata menemukan tulisan ini. waktu itu niatnya di post beberapa hari setelah pernikahan Ven. Ah, kenapa saya bisa lupa ya waktu itu~
 
Tersenyum lebar,
AY

Saturday, April 5, 2014

Hari Sabtu




Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang begitu aku tunggu-tunggu.
Ay, ayo kita jalan-jalan, ” ajak kamu.

“ kita mau ke mana? “
“ ikut saja denganku. “
Aku pun menggangguk.         

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang membuat aku berseri-seri.
“ kamu cantik.“ kamu mengomentari pakaian yang aku kenakan. Kaus polos kebesaran berwarna putih dengan rok kuning di atas lutut.
“ Kamu sedang menggodaku? “
“ Menurutmu? “  kamu tersenyum kemudian menggandeng tanganku.

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang membuat aku banyak berjalan.
“Kamu sudah capek? “ tanyamu ketika kita sudah banyak melangkah.
“ Kamu capek? “ Aku balik bertanya.
Kamu menepuk kepalaku dengan gemas. Kamu tau kalau aku sering kali bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan darimu terlebih dahulu.

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang tepat untuk aku bermanja-manja dengan kamu.
“ Aku lapar. Aku mau makan ice cream. “ pintaku.
“ Lapar tuh makannya nasi, bukannya ice cream. “ Kamu protes.
“ tapi aku maunya ice cream. Rasa vanilla. Ya? Ya? “ Aku memeluk lenganmu dengan tatapan manja yang selalu bisa membuatmu luluh.
“ Baiklah. “ Kamu mengalah.

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang tidak ingin aku habiskan cepat-cepat.
“ Ay, kalau suatu saat aku tidak bisa mengajakmu pergi ke tempat bagus dan hanya bisa mengajakmu jalan kaki seperti ini, kamu akan meninggalkanku? “ pertanyaan mengejutkan yang keluar dari mulutmu.
“ Kenapa bertanya seperti itu? Kamu tau, jalan kaki seperti ini, melewati jalan dengan dikelilingi pohon rindang, dan tentunya dengan kamu yang selalu menggandeng tangan aku, itu sudah lebih dari cukup.“ Aku berkata jujur.
“ Dan aku tak ingin hari ini berputar cepat. Aku ingin menikmati setiap langkah kaki kita,“ lanjutku.

Kamu menggenggam tanganku lebih erat dan kita melanjutkan perjalanan kita.
Hari ini adalah hari sabtu.
Tau kah kalau hari ini aku begitu bahagia?
Aku harap setiap hari adalah hari sabtu.
Agar aku dapat terus bertemu kamu.
Agar kamu tetap menggenggam tanganku dan tak pernah bosan menggenggamnya.
Agar kita bisa melangkah sama-sama. Berdampingan.
Bisa kah? :)


(Menulis ini ketika duduk-duduk santai di Imperial Cakery – Book and Beyond  UPH, ditemani dengan segelas ice tea dan bread toast)

Wednesday, February 5, 2014

At the end of the day, u need someone that u can come home to, right? (Wendy Kosasih, 28 Mei 2012)
Kalimat yang pernah dikicaukan oleh teman saya di sosial medianya hampir 2 tahun yang lalu. Saya menyimpannya menjadi salah satu favorit tweet dari sekian banyak yang saya favoritkan.
 Akan menyenangkan kalau kita mempunyai seseorang yang selalu ada apapun kondisi kita. Atau sekedar seseorang yang mampu menemani di setiap sore yang melelahkan. Saling berbagi hal menyenangkan, maupun hal yang tidak mengenakkan.
Suatu kali saya pernah bertemu seseorang seperti itu. Kita berbagi banyak hal, saya cukup nyaman dengan orang itu. Nyaman. Bukankah hal pertama dalam memulai hubungan adalah dengan kenyamanan? Nyatanya tidak sesederhana itu. Kenyamanan itu perlahan-lahan pudar. Kita sudah tak nyaman untuk berbagi hal kecil sekalipun. Saya ingin melupakannya, pun juga orang itu. Saya dan dia saling menghilangkan diri  dalam hidup masing-masing.
Saya hanya berharap menemukan (atau ditemukan) orang baru di hari-hari ke depan saya. Bertemu dengan seseorang yang dapat berbagi apa pun. Kamu kah orang itu?

Thursday, January 2, 2014

Rumah^^

 
Pernahkan kamu berpikir tentang rumah mungil yang didalamnya selalu penuh tawa? Iya, tawa kita di sana :)
Ketika pagi hari, aku akan membangunkanmu dengan kecupan lembut di kening. Dan ketika kamu terbangun, aku sudah menyiapkan sepotong roti panggang dengan selai nanas kesukaanmu serta segelas coklat panas.
Selagi kamu mandi, aku pun menyiapkan baju kerjamu dan kuletakkan di tepi ranjang. Kamu tak pernah protes dengan pilihan baju yang aku siapkan setiap paginya. Dengan senyum penuh semangat, kamu pun berangkat ke kantor.
“ Ay, aku berangkat. Nanti aku akan pulang cepat, jadi siapkan makanan kesukaanku ya, “ pinta kamu.
Kamu pun akan mengecup kelopak mataku dan aku akan membubuhkan tanda salib di keningmu.
Aku tersenyum. “ iya, kamu hati-hati ya.”
Kegiatan sederhana yang setiap pagi selalu kita lakukan, dan entah mengapa kita tak pernah bosan melakukannya. Dan obrolan-obrolan singkat sebelum kamu berangkat kerja adalah salah satu hal yang menyenangkan.
Ketika kamu tengah sibuk dengan tumpukan berkas di meja, aku pun tak kalah sibuk membersihkan rumah mungil kita. Rumah tempat di mana kamu akan selalu pulang.  
Setiap sore, aku setia menunggumu di depan rumah. Melihat kedatanganmu dari kejauhan. Hei, betapa aku merindukanmu seharian ini!  Kemudian kamu memelukku singkat dan kita sama-sama masuk ke dalam rumah.
Aku suka melihat kamu makan dengan lahap. Kadang kamu akan melirikku apabila masakanku terlalu asin, tetapi tetap saja kau habiskan. Kamu selalu menghargai apa pun yang aku masak.
setiap malam, di tempat tidur, kita akan saling bercerita kegiatan yang kita lakukan selama sehari ini. Aku akan bercerita tentang film yang aku tonton di tv, tentang anak-anak tetangga yang tadi siang mampir ke rumah, membuat suasana rumah menjadi ramai dan tentang gosip-gosip dari ibu-ibu tetangga.
Kemudian kamu pun akan bercerita tentang pekerjaanmu hari ini, tentang serangkaian meeting yang harus kamu lalui, tentang teman dekatmu di kantor yang sebentar lagi akan menikah, tentang makan siangmu yg terlalu pedas dan membuatmu harus berkali-kali ke toilet, dan tentang proyek yang berhasil kamu dapatkan. Sebuah berita yang menggembirakan.
Setelah kehabisan cerita, kita akan terlelap. Mengistirahatkan badan yang seharian telah digunakan.
Kita tidak seterusnya akur, adakalanya kita pun berselisih paham. Keributan-keributan kecil yang membuat moodku rusak dan kamu berangkat ke kantor dengan muka yang ditekuk. Namun, kita tak tahan apabila bertengkar dan saling diam-diaman terlalu lama. Salah satu dari kita pasti akan menelpon dan mengucap maaf. Kita pun akan kembali bercanda.
“ Ay, aku tidak pernah menyesal memilihmu sebagai teman hidupku. Terima kasih untuk sepotong roti panggang dan segelas coklat panas setiap paginya. Terima kasih kamu selalu ada di sisiku. Kamu, dengan segudang mimpi dan harapan. Kamu, pembawa tawa dalam hidupku. Kamu, alasan aku selalu ingin cepat pulang ke rumah. “


Friday, December 6, 2013

Seandainya...

Suatu hari, entah kapan, ketika kita tak sengaja berpapasan di suatu jalan, apakah kau akan menyapaku?
 
Saya begitu gengsi, pun juga kamu. Kita sama-sama rindu, tetapi terlalu egois untuk menunjukkannya. Yang ada hanya penyesalan diakhir.
Mari kita berandai-andai…
Seandainya kita sama-sama membuang jauh rasa gengsi itu, tentunya kita akan saling menyapa ketika bertemu di suatu hari nanti. Menertawakan kebodohan dan sikap kekanak-kanakan kita. Kita akan saling bercerita tentang hari-hari lalu, di mana kita dalam masa ‘bermusuhan’.
Saya bercerita tentang pekerjaan kantor, tempat-tempat yang saya kunjungi tanpamu dan banyak hal lainnya. Kamu pun cerita tentang semuanya, tentang kamu yang merasa sepi karna tak ada tawa dan kebodohan saya di hari-hari yang lalu itu.
Kita akan berbaikan, seperti dulu. Dan tentunya menyesali hari kemarin yang terbuang karna ego kita masing-masing.
Seandainya saja.. ya seandainya saja.
Bisakah kita membuang gengsi itu?
Bisa kah?

Thursday, October 10, 2013

Bintang Paling Terang

 
Bila malam tiba, pandanglah langit utara. Cari bintang yang paling terang. Ada rindu yang kutitipkan di sana. - Orion
 
 
Di suatu malam kita bertemu. Pertemuan pertama yang tak pernah kita duga sebelumnya. Dua orang yang sama-sama sedang mengalami patah hati. Aku yang baru saja putus dan kamu yang cintanya ditolak.
 
Dua orang yang sama-sama terluka. Dua orang yang tidak saling kenal namun dipertemukan di sepasang ayunan di taman bermain.
 
" Lin," ucapku memperkenalkan diri.
 
" Rion." Katamu sambil menjabat tanganku.
 
Kemudian kita sama-sama terdiam. sibuk dengan pikiran masing-masing.
 
" Lin, pernah dengar tentang bintang Vega? " Kamu memulai pembicaraan.
 
" Hmm.. bintang yang nantinya akan menggantikan posisi Polaris bukan? " Aku menjawab, ragu.
 
" Iya! Vega itu protobintang. 12 ribu tahun dari sekarang dia yang akan menggantikan posisi Polaris. Vega akan menjadi bintang paling terang di langit utara. " Kamu melengkapinya.
 
Bintang paling terang. Sepasang ayunan. dan separuh bulan di langit. Membuat obrolan dua orang yang tidak saling mengenal menjadi cukup menyenangkan.
 
" Ah, sayang sekali langit mendung. Kita jadi gak bisa lihat Polaris. "
 
Kamu menatap langit dan entah mengapa aku pun ikut menatap langit, mencari-cari bintang paling terang di antara gumpalan awan kelabu.
 
Malam semakin larut dan obrolan panjang dengan sedikit tawa mampu memecah keheningan. Hei, apa ini yang dinamakan takdir?
 
*****
 
Dua orang yang awalnya asing, kini mulai mengenai satu sama lain. Sepasang ayunan selalu menjadi tempat kita bertemu di setiap minggunya. Aku seperti menemukan seorang teman lama dalam dirimu. Seorang teman yang mampu mengisi hari-hariku dengan perasaan yang nyaman.
 
Malam itu aku yang sampai terlebih dahulu di taman bermain. Cukup lama aku menunggumu. Hm, tidak biasanya kamu setelat ini.
 
Ri, kamu di mana? Aku mengirimkan pesan singkat dan terus menatap layar ponsel, menunggu pesan balasan darimu.
 
Lin.. Maaf aku gak bisa menemuimu malam ini. Ada suatu hal yang harus segera kuselesaikan. Nanti aku akan cerita padamu.
 
Aku menghela nafas dan mulai membalas pesanmu. Namun, pesan kedua datang.
 
Langit sedang cerah.Pandanglah langit utara. Cari bintang yang paling terang itu. Ada rindu yang kutitipkan di sana.
 
Aku tersenyum membaca pesanmu, kemudian aku pun menatap langit. Aku tersenyum semakin lebar.
 
Sudahkan kau menemukan bintang terang itu? - Orion
 
 
 
 


Monday, September 30, 2013

Garis Finish^^



 
Pada akhirnya, kita akan bertemu di garis finish. Saling mengaitkan kelingking dan berjanji akan terus bersama (30 Maret 2012)

Saya  tunggu kamu di garis finish itu, atau kamu yang duluan berada di sana?
Tidak apa-apa, karna toh pada akhirnya kita akan bertemu^^

Monday, September 23, 2013

Pernahkah Kau...?

 
Hati juga butuh istirahat – Benny Jurdi

Pernahkah kau merasakan, di hari-hari yang terlewati kamu merasakan kejenuhan yang teramat sangat? Sampai-sampai kamu lelah dan tidak ingin melanjutkannya lagi? Bukan, ini bukan mengenai keputusasaan atau keinginan untuk bunuh diri. Ini mengenai hal yang sulit sekali diungkapkan melalui perkataan. Namun, hati mu tahu.
Pernahkah kau merasakan, kadang kala hidup tak adil kepadamu. Kamu yang selalu berjuang namun menghasilkan jauh dari upaya yang selama ini kau lakukan? Kamu mengeluh. Kamu marah pada semua yang ada, kamu marah kepada hatimu yang sering kali kau maki sebagai sesuatu yang lemah.
Pernahkah kau merasakan, bahwa suatu kali kamu pernah bahagia, pernah tersenyum lebar? Tapi, tau kah kalau hatimu berusaha untuk membuatmu melakukan itu. Ya, tersenyum lebar salah satunya.
‘Ah, kamu terlalu berlebihan. Yang mengendalikan semua ini kan otak!’ Dalihmu, menyangkal semua yang telah dilakukan hatimu.
Otak tanpa hati, apakah akan berfungsi sempurna? Kamu pikirkan sendiri jawabannya. Tanyakan hatimu apabila kau tak tau jawabannya.
Pernahkah kau memikirkan bahwa hatimu sudah terlalu kau bebani dengan segudang pikiran-pikiran (yang baik maupun buruk) setiap harinya? Hati mu lelah. Tau kah kamu?
Dan pada akhirnya, pernahkah kau berdamai dengan hatimu? Mulailah dari sekarang.
 
 
Ps : tulisan kali ini terinspirasi dari kalimat sederhana ‘Hati juga butuh istirahat’ – Benny Jurdi. Kamu bisa menemukan kalimat-kalimat tajam pun lembut dari tweet yang BenJur share. ^^

Monday, September 16, 2013

Pasanganmu

 

“Suatu saat, semua orang akan menemukan pasangannya. Begitupun denganmu. “

Sebenarnya ketika saya menuliskan ini, saya berada di dalam kesibukkan pekerjaan kantor. Kemudian saya jenuh dan iseng-iseng menuliskan ini. Jadi, kalau isinya agak-agak melantur mohon dimaklumi. Menulis adalah salah satu cara saya untuk melepaskan kepenatan juga membunuh waktu.
Hmm, Kamu punya sahabat?
Saya punya dan hanya satu orang. Dari dulu tak pernah bertambah dan mungkin hanya satu untuk seterusnya. Saya memang punya banyak teman dan beberapa teman baik tetapi hanya memiliki 1 sahabat. Kurang kah? Tidak, saya bersyukur memilikinya. Karna hanya perlu 1 orang sahabat yang benar-benar mengerti kamu luar dalam, tidak perlu lebih dari itu.
 
Saya mau mengumumkan kalau sahabat saya ini tahun depan akan menikah. Sebuah kejutan yang menyenangkan bukan? Saya kaget ketika dia memberitahukan kabar itu. Saya senang akhirnya dia menemukan tempat untuk berlabuh.
Gimana sih rasanya akan menikah? Kamu gak deg-degan? ” Aku bertanya padanya.
 
Deg-degan lah, Ay. Banyak yang harus dipersiapkan. “ dia menjawab dengan suara lelah namun dengan mata berbinar.
" lalu, kapan kamu akan kursus pernikahan?
Minggu depan, selama 3 hari. Aku sudah membuat janji dengan salah satu Romo di gereja, “ jawabnya malu-malu.
Wow! Ya ampun, cepet banget udah mau kursus. “ saya sampai tak sanggup berkata-kata lagi.
Lalu, bagaimana denganmu, Ay?
 
Sejujurnya sampai saat ini, saya belum memikirkan itu. Menikah, tinggal di rumah mungil dengan suami dan anak yang manis tentunya membahagiakan. Tetapi, saya masih belum tau kapan saya dapat membina hubungan yang nantinya akan menjadi tempat akhir saya melabuhkan hati. Mungkin karna saat ini saya belum menemukan seseorang yang tepat, seseorang yang dapat membuat saya memikirkan tentang sebuah pernikahan.
 
Sering kali saya mendengar omongan seperti ini, ‘ jangan cari pasangan karna kamu kesepian, tetapi cari pasangan ketika hatimu sudah siap’.  Mungkin karna hati saya yang terlalu keras dan belum siap makanya tidak ada seorang pun yang mampu membuat hati saya luluh.
 
Sekeras itu kah hatimu, Ay?
 
Entahlah. Saya sendiri bingung.
 
Kalau di tanya apa saya tidak khawatir dengan umur yang sudah di bilang dewasa ini tetapi masih suka sendiri. Saya khawatir, jelas. Tetapi, saya punya cara tersendiri untuk melupakan kesendirian saya. Untuk apa terus menerus meratapi hidup yang sudah berat ini? Saya selalu ingin menjalankannya dengan cara saya, dengan hal-hal menyenangkan, dan mencoba untuk selalu melakukan hal yang saya sukai.
 
Mungkin saat ini, saya masih egois dan belum mau membagi hidup saya dengan orang lain, belum ingin menitipkan hati saya ke satu orang. Tetapi, saya mau kok untuk membagi hati saya. Saya masih mencari orang yang dapat saya percaya untuk menjaga hati saya ini.
 
Apakah kamu juga mengalami apa yang saya rasakan? Kekhawatiran untuk menjalin hubungan serius dan akhirnya menikah? Atau takut tidak dapat menemukan tempat berlabuh?
 
Tidak perlu khawatir. Karna suatu saat, semua orang akan menemukan pasangannya. Begitupun denganmu. :)

Thursday, August 29, 2013

Teruntuk Kamu


 
Kamu apa kabar?

Aku harap kamu di sana baik-baik saja.
Aku pun disini cukup baik. Belakangan, pekerjaan sedang banyak sekali sampai-sampai waktu tidur pun tak cukup. Kemarin sempat terkena flu juga, tapi mama buru-buru memberikan aku obat dan flu itu pun hilang.

Tak banyak yang berubah di sini, aku tetap harus bangun subuh dan mengejar bus paling pagi untuk berangkat kerja. Setiap sabtu aku masih suka mampir ke rumah tetangga yang memiliki anak-anak yang lucu. Mereka merindukanmu lho. Dan hari minggunya aku pergi ke gereja. Di tiap doaku di sana, aku minta kepada Tuhan untuk menjaga kamu untukku.

Bagaimana pekerjaan kamu?
Kamu selalu terlihat letih setiap kali pulang kerja. Aku mengkhawatirkanmu. Aku bertanya-tanya dalam hati, ”adakah yang menyiapkan segelas coklat panas setiap pagi untukmu? “. Seandainya aku ada di sana, akan aku siapkan semuanya untukmu. Bukankah mengawali pagi yang baik akan membuat seharian menyenangkan? : )
Apa kamu sudah rajin membereskan kamar?
Iya, kamarmu selalu berantakan. Tumpukan buku-buku tergeletak di lantai, baju-baju kemarin masih tergantung di belakang pintu, gelas-gelas kopi memenuhi meja. Kamu bayar pembantu sana, biar kamarmu sedikit lebih rapi.
Sudahkah kamu beradaptasi dengan sekelilingmu?
Aku tau kamu orang yang pandai bergaul. Mudah-mudahan pun di sana kamu dikelilingi oleh teman yang baik. Karna aku selalu suka saat kamu tertawa. Kamu yang senang ya disana, jangan banyak yang dipikirkan.
Ah ya, bibit bunga yang dulu kamu berikan kepadaku sekarang sudah tumbuh dengan sehat dan mulai terlihat bunga-bunga yang masih menguncup. Setiap pagi aku selalu menyiramnya dan sesekali mengobrol dengannya. Aku menitipkan rinduku kepadanya. Dan ketika kamu pulang nanti, akan aku tunjukan betapa cantiknya bunga pemberianmu.
Kamu cepat pulang ya.
Aku di sini merindukanmu..