Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Tuesday, January 21, 2020

Genap 12 tahun


Buat saya, waktu 12 tahun bukan lah waktu yang sebentar, pun juga bukan waktu yang teramat lama. 12 tahun jatuh bangun, terperosok, tergores dan terluka. Meskipun kembali pulih,  torehannya tetap membekas dan tak bisa hilang...

Saya belajar, hidup tidak mudah untuk sebagian orang.

12 tahun yang lalu.. saat saya baru jadi anak kuliahan, saya akui, bahwa saya masih egois, minder dan menyalahkan keadaan. Kenapa begini, kenapa begitu, kenapa harus saya…

Sampai satu titik, saya melepaskan rasa minder dan belajar memeluk keadaan. Saya bilang pada diri saya kalau ini waktunya saya belajar menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab.  Setiap hari, saya selalu mengulang kata-kata ini: semangat, The! Semangat! Lo bisa! Tak perlu khawatir. Tuhan sayang sama lo.

Saya bukan orang yang mudah cerita tentang apa-apa yang saya alami dan rasakan. Sering kali saya takut. Jika saya cerita, nanti mereka tidak akan sama lagi memandang saya, nanti mereka mengasihani saya, nanti mereka melihat saya penuh dengan empati. Tidak. Saya tidak menginginkan itu.

Terkadang, saya hanya ingin bebas bercerita dan mengeluarkan segala uneg-uneg yang bersarang di pikiran dan hati saya. Saya hanya tidak siap menerima belas kasihan orang lain..

12 tahun bukan lah waktu yang sebentar. Di 12 tahun ini saya benar-benar ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat.

Walau sebenarnya saya cengeng. Banget..

Kalau diingat-ingat, jika saya ingin sekali menangis yang banyak, saya akan mencari film / drama yang sedih. Jadi, ketika orang-orang bertanya, saya punya alasan kenapa saya menangis sampai bikin mata bengkak. :p

12 tahun tidak setiap harinya buruk..

Ada hari-hari di mana saya sangat bersyukur dan berbahagia. Ini lah yang menguatkan saya. jika saya sedih, saya akan mengingat-ingat yang baik. Menangis sebentar, kemudian kembali tersenyum.

Saya selalu bilang pada diri saya untuk tidak terus-menerus menangis dalam kubangan. Saya gak boleh berlama-lama terperosok ke dalam masalah-masalah saya. Karna hal itu gak menyelesaikan masalah.

Saya mau bilang terima kasih untuk diri saya yang selama 12 tahun terakhir ini sudah kuat menjalani hari demi hari. Saya percaya, di hari-hari yang akan datang, saya bisa melaluinya. Karna saya gak sendiri, Tuhan saya gak pernah ninggalin saya. :)


Love,
Ay

Monday, November 11, 2019

Sanggup kah?


“Si Becca enak ya,” ucap aku, iri.

“Karna ortunya kaya?” Tanya Kania.

“Salah satunya,” aku menghembuskan napas berat kemudian melanjutnya, “ gue pengen hidup normal, Ka. Kayak kebanyakan orang. Kayak Becca. Kayak lo.”

Kania menatap aku dan aku menghindarinya dengan buru-buru menyambar teh yang ada di samping bangku panjang tempat aku dan Kania duduk. Aku menyesapnya sedikit. Dan seketika aroma bunga yang kusuka memenuhi hidungku. Rasa bunga krisan..

“Ri…”

“Gue cape, Ka.. cape banget. Gue suka nanya sama Tuhan, kenapa gue dikasih begitu banyak kado yang bertahun-tahun gak selesai gue buka satu per satu. Dan tiap tahunnya kado-kado itu bertambah.”

Kado. Istilah yang kami pakai untuk mengganti kata ‘masalah’. Awalnya ini candaan kami, dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih pipis di celana. Dulu sekali, saat aku masih sangat optimis, aku selalu bilang pada Kania bahwa orang-orang yang punya banyak masalah adalah orang yang spesial.

Gak banyak orang yang mampu menerima masalah yang begitu banyaknya. Dan bertahun-tahun aku menguatkan diri dan selalu bilang pada diri sendiri, “Ori, lo orang yang spesial. Lo bisa, lo mampu, lo punya Tuhan yang lebih besar dari masalah lo.”

Gak salah. Tuhan tetap besar, hanya saja aku yang tak cukup kuat.

“Ortu lo kenapa lagi, Ri?” Tanya Kania. Dia tau sekali kalau kado aku gak jauh-jauh dari keluarga.

“Mau buka bisnis baru dan rencana ajuin pinjaman ke bank. Dan pengajuan pinjaman itu atas nama gue. God!” Aku mengacak-acak rambut frustasi.

“Kalo cicilan rumah masih berapa tahun lagi, Ri?” Tanya Kania.

“4 tahun.”

Aku kembali menyesap teh krisan yang sudah dingin.

“Lo tau kan Ka, gue udah gak bisa percaya lagi dengan janji-janji mereka. ‘Kalo papa sukses kamu gak usah bayar cicilan rumah, Listrik, air, biaya sekolah adik-adik kamu. Nanti papa yang bayar semua.’. Gue udah denger itu berkali-kali dan berkali-kali pula hasilnya nihil dan malah menambah tanggungan gue setiap bulannya.”

Kania diam dan menunggu aku melanjutkan bicara. Dia tau aku mau memuntahkan semua uneg-uneg yang mengganjal.

“Gue gak setuju sama pinjaman itu. Dan nyokap gue memperkeruh suasana dengan bilang gue tega sebagai anak, papanya mau usaha tapi dijegal sama anak, gue gak mikirin mereka. Apa iya gue sejahat itu?”

“Lo baik, Ri. Dan selamanya akan tetap baik.”

“Gue cape selalu jadi atm berjalan mereka seakan gue gak boleh menata hidup dan masa depan gue. Ka, kalo gue jahat, gue udah ninggalin mereka dengan semua hutang-hutang itu. Gue bisa hidup lebih dari cukup dari penghasilan gue. Tapi, gue memilih untuk mengambil tanggung jawab. Gue gak banyak ngeluh, gue gak cerita ke orang-orang tentang tanggungan gue dan gue bersyukur bisa bayar semuanya.”

Kania memeluk aku, menepuk pundak aku.

“Gue gak bisa kalo ditambah dengan bayar cicilan kredit pinjaman itu. Usaha bokap sendiri gak jelas sistemnya seperti apa, gue tanya konsep dan anggarannya gak tau. Gue bisa bayangin pinjaman itu akan habis begitu aja tanpa kejelasan. Dan yang akan bayar cicilan ke bank untuk 10 tahun ke depan siapa? Gue.”

“Gue cape hidup penuh hutang..”

“Kalo gue bilang, gue mau bantuin lo secara keuangan, gue tau lo bakal nolak mentah-mentah. Tapi, sekali ini please gue mau banget bantu lo. Jangan berfikir tentang hutang budi ya Ri. Kita udah sama-sama dari kecil, lo sering ngajarin gue waktu sekolah. Kalo gak ada lo, gue mungkin gak lulus.”

“Gak, Ka. Lagipula gue udah bilang ke mereka gue gak mau tandatangan pengajuan itu. Mereka marah, gue pun marah. Gue males pulang ke rumah.”

“Lo tau kan, pintu rumah gue selalu terbuka buat lo. Malem ini nginep di rumah gue aja gimana?” Kania menawarkan.

Aku mengangguk setuju.

Di saat-saat penuh tekanan seperti ini, aku masih bisa bersyukur karna punya sahabat yang selalu ada buat aku.

“Lo udah cerita ke Nando?”

“Belum. Gue kasian Ka sama dia, pacaran sama cewek yang punya kado segunung. Kalo suatu hari dia ketemu cewek yang baik…”

“Lo jangan ngaco!” Potong Kania. “Dia nerima lo dengan semua kado lo sejak 5 tahun lalu.”

“Justru itu Ka, rasanya egois kalo gue masih pertahanin hubungan ini dengan kondisi keluarga gue yang semakin parah. Gue sampe takut buat nikah. Gue takut gak bisa membantu karna sebagian besar gaji gue untuk keluarga..”

“Ri, lo lagi kacau, jangan mikirin yang macem-macem lagi. Udah mau gelap nih, balik ke rumah gue, yuk.”

Kami menghabiskan teh, merapatkan sweater dan keluar dari kedai langganan kami. Aku berjalan mengikuti Kania dari belakang dengan pikiran yang masih gamang.

Sekali lagi aku mengucapkannya dalam hati, Tuhan, sanggupkah aku?

***

Hai, 
ini Ay.

Makasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung dan membaca kisah-kisah di blog ini. Blog Vealde memang visitornya tidak sebanyak Blog Summer3angle, tetapi setiap saya cek dan melihat ada visitor yang datang ke sini, sudah membuat hati saya hangat.

Iya, saya masih hutang cerita nikahan kemarin.Menuliskannya pun belum sempat.. Di saat ada waktu, malah melintas cerita lain yang buru-buru saya ketik dan bagikan di sini. 

Entah satu atau dua bulan lagi, saya akan susun cerita nikahan yang penuh haru dan syukur (plus ada aja kejadian dodolnya, gak ngerti lagi deh :p).

PS: tinggal satu stengah bulan lagi sebelum pergantian tahun, sudah kah kamu bahagia? :)

Love,
Ay 





Sunday, June 18, 2017

Menikah (?)

Tak terhitung banyaknya orang-orang yang mempertanyakan kapan saya menikah. Ada yang memang mengkhawatirkan umur saya, ada juga yang memang hanya kepo.

Dulu sekali saya punya impian untuk menikah di umur 28 tahun, usia yang menurut saya sudah matang dan mampu untuk menghadapi berbagai situasi baik mau pun buruk dengan lebih tenang. Nyatanya, beberapa bulan lagi saya akan menginjak 28 tahun dan belum menikah. :p Tapi, entah mengapa saya tidak lagi mengkhawatirkan umur saya itu, tidak lagi menginginkan menikah di umur 28.

Life happens. Banyak hal yang terjadi dan membuat saya lebih banyak berpikir, mempertimbangkan banyak hal dan menyakinkan diri saya.
Karna seumur hidup itu terlalu lama… kalimat yang pernah saya baca beberapa minggu yang lalu. Dan pasangan saya pun pernah membahas itu. Seumur hidup itu terlalu lama jika dihabiskan dengan orang yang salah.
Oleh karenanya saya tidak ingin terburu-buru pun juga pasangan saya. Kita perlu mengenal benar-benar pasangan kita, bisa tidak menerima tidak hanya sisi baiknya, tetapi juga sisi terburuknya sekali pun. Dan saya belajar itu. Latihannya (menerima semua sifat pasangan) itu gak bisa bolong-bolong, harus dilatih tiap hari lho.  Dan pasti ada aja yang susah sekali untuk diterima.
Saya pun tidak ingin dan tidak punya hak untuk merubah pasangan saya.
“Sama kamu, aku udah berubah banyak,” Sun.
“Tapi, aku gak pernah nyuruh kamu berubah lho.”
“Iya sih, tapi sifat kamu yang bikin aku berubah.”
Saya ketawa mendengar perkataannya, ditambah lagi dia bilang begini, “dari semua cewek yang pernah aku pacarin, cuma kamu yang paling pembangkang.” HAHAHAH.. asli, saya langsung ngakak waktu dia bilang begitu.
Pembangkangnya saya seperti apa? Di lain waktu akan saya ceritakan. :p
Kalau mendengar cerita-ceritanya, saya tau dia sudah banyak berubah, tentunya ke arah yang lebih baik. Dan saya amat mensyukuri itu. Kita pernah berdiskusi dan saya pernah bilang (di awal pacaran) kalau saya ingin pacaran yang baik, yang sehat, yang bisa lebih mendekatkan diri sama Tuhan dan tentunya bisa saling support bukannya menjatuhnya.
Karna seumur hidup itu terlalu lama…
Saya ini punya banyak impian, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jauh sebelum saya bertemu dengannya, saya menuliskan apa-apa saja yang ingin saya lakukan ketika menikah nanti.
Jangka waktu pacaran itu gak sebanding dengan menikah yang seumur hidup. Dan sebenarnya impian-impian kecil saya itu bisa aja dilakukan ketika masih pacaran, tapi sebesar apa pun saya menginginkannya, tapi saya menahan diri saya. karna kalau semuanya udah dilakukan ketika pacaran, apa lagi yang tersisa ketika menikah nanti?
Saya tidak ingin seumur hidup saya dilalui dengan kejenuhan dan kewajiban yang tak ada habisnya. Karna ada banyak hal-hal kecil yang ingin saya lakukan nantinya bersama suami dan juga anak. Hal-hal yang tentunya membuat hari-hari yang menjenuhkan itu tergantikan.
Makasi Sunjaya untuk ketersediaannya tetap disamping saya, seberapa pun membosankannya saya. karna saya pun akan melakukan hal yang sama :)
Ps: makasi ya udah sabar sama sifat pembangkang saya :p
Love,
Ay.

Tuesday, November 1, 2016

November

Foto dari sini
 
Beberapa minggu belakangan ini banyak hal yang saya pikirkan. Tentang saya dan masa depan saya. Ada kekhawatiran-kekhawatiran yang sulit saya ungkapkan dan saya memilih mengabaikannya sejenak. Karna ada hal-hal lain yang perlu saya pikirkan dan kerjakan. Singkatnya, di Bulan Oktober kemarin saya banyak berpikir.
 
Saya bersyukur karna punya Tuhan yang sayang sama saya. Saya tau segala kekhawatiran yang saya abaikan itu nantinya akan terjawab tepat pada waktuNya. Yang bisa saya lakukan adalah tetap berusaha menjadi orang yang baik. :')
 
Di bulan ini pun saya akan sangat disibukkan oleh kerjaan kantor dan persiapan rapat kerja tahunan. Wah, saya selalu pusing deh setiap kali mau rapat kerja. Tapi, mau gak mau harus tetap dijalankan , kan?
 
Bulan November bukan bulan favorit saya sih, tetapi bulan ini mengingatkan saya kalau sebentar lagi akan memasuki Desember. Pohon cemara. Kado. Santa Claus. Natal. Dan saya selalu suka bulan Desember walaupun ada kejadian baik dan buruk, tidak mengurangi rasa suka saya.^^
 
Saya tidak banyak berharap di bulan ini, tetapi saya tetap mau belajar untuk terus menjadi orang yang semakin baik, patuh dan tunduk dengan perintahNya dan tetap percaya kalau Tuhan saya tidak pernah meninggalkan saya di situasi apa pun. :')
 
Selamat datang November, jangan galak-galak sama saya ya. :p
 
Love,
Ay


Sunday, October 2, 2016

Oktober :)

Foto dari sini

Rasa-rasanya bosan ya kalau saya mengeluhkan tentang betapa cepatnya waktu berlalu. Hehe~

Oh ya, tanggal 29 September kemarin saya berulang tahun yang ke 27. Saya bersyukur masih dikelilingi orang-orang yang sayang sama saya, yang mengingat hari ulang tahun dan mengucapkannya ke saya. Bahkan saya banyak menerima ucapan via whatsapp, line, bbm dan social media serta telpon dari orang-orang yang tidak dekat dengan saya.
Entah sejak kapan saya tidak banyak menaruh harapan kepada seseorang. Saya tidak ingin menggantungkan kebahagiaan dan harapan saya pada orang lain, karna kalau orang itu pergi, kebahagiaan dan harapan saya pun akan hilang. Oleh karenanya saya hanya menaruh harapan besar pada Tuhan.
Yang saya lakukan adalah membahagiakan diri saya kemudian saya membaginya ke orang yang saya sayang. Dan Tuhan saya itu baik lho. Ketika saya dirasa siap untuk membagi bahagia saya pada seseorang, dia mempertemukan saya dengan orang itu. :)
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, saya bisa kembali makan malam bersama orang-orang yang saya sayang -  hanya untuk merayakan hari ulang tahun saya. menyenangkan ya~ ^^
Ulang tahun kali ini saya merasa lebih diberkati.
Saya jadi mengingat salah satu impian ketika saya berusia 17 tahun. Dulu, 10 tahun yang lalu, ketika ada orang yang menanyakan: “lu mau nikah di umur berapa?”. Saya selalu bilang kalau saya ingin dilamar di umur 27 dan menikah diumur 28 dan bahkan saya sudah memiliki konsep menikah yang seperti apa dan tidak pernah berubah sampai saat ini. Waktu itu saya banyak dapat protes dari setiap orang yang mendengar jawaban saya.  Kata mereka, terlalu tua menikah diumur 28. Ya, mungkin saat itu mereka berpikir kalau umur 28 itu sudah kayak tante-tante. Maklum, pikiran anak SMA. :p
Tapi, ketika saya menginjak umur 27, saya kok merasa masih muda ya. Hahahaha.. Masih ingin melakukan banyak hal, masih ingin ke sana dan ke sini. Dan ketika usia kian bertambah, saya menyadari bahwa menikah bukan seperti perlombaan lari, yang paling cepat adalah pemenangnya. Oleh karenanya saya tak lagi ngoyo dan memaksakan impian itu terwujud. Karna Tuhan saya pasti punya rencana yang baik untuk saya. :)   
Oh! Memasuki bulan September tuh saya banyak banget mendapatkan undangan nikah. Tetapi tidak semuanya saya datangi sih, hanya yang memang akrab saja. Lagi pula, kalau pergi ke acara nikah gitu, saya paling pusing sama urusan baju. Hahahah.. maklum lah cewek, pasti ribet deh. Apalagi kalau datang ke nikahan yang jaraknya berdekatan, pasti gak akan pakai dress yang sama kan. :p
Tinggal 3 bulan lagi nih sebelum tahun berganti. Saya jadi semakin memikirkan apa-apa saja yang ingin saya lakukan dalam 3 bulan ini. Ada aja sih beberapa perencanaan, entah bisa terlaksa apa gak. Dan kemungkinan Natal tahun ini saya akan habiskan di Surabaya, ke kampung halaman papi saya. untuk tahun baru sih belum tau mau ngapain. Agak bete juga sih karna natal dan tahun baru jatuh di sabtu-minggu. Jadi gak kerasa liburnya deh. Hehe.
So, Hello October~ semoga bulan ini pun dipenuhi hal-hal baik. ^^
 
Love,
Ay.

Monday, September 5, 2016

Sekedar Cerita

Saya lagi baper berat nih. Alesan bapernya sih lucu, gara-gara satu lagu yang awalnya saya gak tau artinya tetapi saya putar berpuluh-puluh kali. Iya, puluhan kali. Bahkan saya share di salah satu social media saya.
 
Jadi, setiap hari saya menyempatkan membuka youtube dan menonton beberapa menit tingkat lucu si kembar 3 Daehan, Minguk, Manse. Saya ngefans banget sama mereka dan saya belum bosen mengulang tontonan yang sama berkali-kali setiap harinya. Saya menganggap ketiga anak itu hiburan untuk saya setelah seharian yang melelahkan.
 
Dan seminggu yang lalu, dibagian home youtube saya muncul cuplikan dari acara I Can See Your Voice, salah satu program variety show Korea. Acaranya sih ada para juri dan guest star dengan beberapa orang peserta. Nah para peserta ini harus bisa meyakinkan untuk dipilih. Dari sekian peserta itu ada yang suaranya bener-bener bagus, ada juga yang kacau sampai bikin ketawa-ketawa. Ada beberapa sesi tetapi peserta gak boleh nyanyi, pokoknya si guest star harus bisa kira-kira dan mengeliminasi peserta yang menurutnya memiliki suara yang jelek. Peserta yang tereliminasi itu dikasih kesempatan buat nyanyi, biar ketauan suaranya beneran jelek apa ternyata bagus.  
Intinya setiap sesi ada 2 orang yang terleminasi dan nanti yang tinggal 1 orang itu tentunya menang dong ya. kalau 1 orang yang dipilih itu suaranya bagus, dia akan dibuatkan album dan duet dengan guest star, tapi kalau ternyata suaranya jelek, dia akan dihadiahi sejumlah uang karna berhasil mengelabuhi para juri dan guest star. Konsep yang menarik.
Balik lagi ke video yang muncul di home saya, karna penasaran, saya buka lah. Durasinya kurang dari 4 menit tapi membuat saya terbius. Seorang peserta yang tereliminasi menyanyikan satu lagu yang saya belum pernah dengar sebelumnya. Peserta ini adalah mahasiswa kedokteran di salah satu kampus di Korea, para juri awalnya meremehkan dia, bilang kalau dia gak punya skill, suaranya pasti jelek. Tetapi mereka semua langsung kaget dan nyesel ketika mendengar suara peserta ini.
Entah saya yang lebay atau gimana, tapi menurut saya dia menyanyikannya dengan sepenuh hati, bikin saya dan para penonton di studio gak bisa berkata-kata. Saya amat suka dengan suaranya. Dan saya gak puas hanya mendengarnya sekali, saya sampai putar berkali-kali dan besoknya pun demikian. Sudah tak terhitung banyaknya pengulangan selama seminggu ini. Tetapi hari ini yang paling banyak saya putar, dari pagi sampai siang saya putar lagu ini.
Saya pun akhirnya mencari tau penyanyi asli dan liriknya. Park Hyo Shin adalah penyanyi dari lagu yang berjudul Think I Can’t Do For You. Dan lagunya mengenai perpisahan. Ah, pantas saja dari nadanya udah sedih banget.
Hal yang bisa kita lakukan bersama adalah berpisah..
Mungkin karna saya terlalu baper, satu kalimat di atas membuat saya galau. Tentang suatu kerelaan untuk melepaskan. Saya jadi ingat hari-hari yang lalu, banyak hal yang saya lepaskan dan harus rela saya tinggalkan. Tidak, saya tidak ingin menyesali apa-apa yang telah saya rela lepaskan. Saya hanya sekedar mengingat saja.
Ah, padahal saya tidak dalam keadaan yang patah hati lho, bahkan sebaliknya. Apa jadinya ya kalau saya mendengarkan lagu ini dalam keadaan hati yang kacau, mungkin akan mewek kali. Hahaha.. iya, saya emang cengeng.
Hm, saya juga gak tau apa inti dari tulisan ini. :p Cuma pengen cerita aja kalau saya lagi baper sama satu lagu itu.
Tapi, hidup saya sedang baik-baik saja kok, saya sedang menikmati kebaikan Tuhan dalam hidup saya. Terlebih ada matahari yang belakangan ini mengisi hari-hari saya. :D
Love,
Ay.

Thursday, September 1, 2016

September :)

 
Rasanya baru kemarin saya mentertawakan status teman di path ketika dia say goodbye di bulan Januari, sekarang malah sudah masuk September. Membuat saya kembali mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan selama 8 bulan ini. Lo udah berbahagia sebanyak-banyaknya belom? Hampir. Saya sih maunya bahagia terus ya, tapi lagi-lagi hidup gak mungkin berjalan begitu mulus, akan ada kerikil-kerikil yang membuat kakimu tergores. Tidak apa-apa, anggaplah itu sebagai pengingat untuk kita selalu bersyukur dalam kondisi apa pun.
 
Sekitar 3 bulan yang lalu, saya sempat galau dan panik. Malu kalau saya harus ceritakan di sini. Tapi, lagi-lagi rencana Tuhan memang ajaib ya, Dia hilangkan segala galau dan kepanikan saya tepat pada waktuNya. Dan saya bersyukur, semoga kali ini memang benar jawaban dari Tuhan. :)
 
September adalah bulan kedua yang saya suka setelah Desember. Kalau di luar, September itu bulan yang menggantikan Summer ke Autumn. Iya, saya suka musim gugur, melihat daun-daun yang berubah merah kecoklatan. Bahkan saya punya keinginan untuk pergi ke suatu negara di bulan September, menikmati dedaunan yang gugur sambil merapatkan jaket dan menyeruput peppermint tea yang masih mengebul. Mudah-mudah keinginan saya ini tercapai, entah taun depan atau beberapa tahun lagi.^^
 
Dan di akhir September nanti, usia saya pun bertambah. Sempat sih mikir, 'ya ampun, tua banget deh gueee!', Tapi, mau bagaimana pun, mau saya merengek-rengek pun, tidak akan membuat hari berjalan lebih lambat. Ya, kan? :p
 
Oya, di bulan lalu saya sempat ikutan lomba menulis cerpen lagi, saya gak berharap menang sih tapi seandainya menang berarti saya mendapatkan kado yang manis. Karna pengumumannya jatuh mendekati akhir bulan September. Semoga aja ya, semoga. :D
 
Hm, saya juga tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan, asli deh taun ini saya benar-benar sibuk. Saya pun sedang ada project bersama adik dan mami saya dan kami sedang sibuk mempersiapkan berbagai hal untuk di bazaar yang akan diadakan tanggal 10 September nanti. Tinggal 9 hari lagi! Rasanya takut persiapannya kurang maksimal deh. Mudah-mudahan acaranya berjalan lancar dan orang-orang yang mampir di booth kami menyukai produk kami. :)
 
Terakhir, di bulan ini saya mau belajar lebih bersyukur dan tentunya lebih berbahagia biar bisa menularkan kebahagiaan ke orang-orang yang saya sayang. :')
 
Love,
Ay. 
 


Monday, April 4, 2016

Pindah

Tulisan ini kelanjutan dari postingan 'Pergi'. Entah kenapa saya ingin melanjutkannya kembali. Belakangan ini saya mendengar banyak kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk pindah kantor. Beberapa diantara mereka cukup dekat dengan saya. Kita banyak berbagi cerita. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Dari saling meledek sampai menggalau bareng.

Di bulan lalu, saya mendengar 4 orang teman saya yang memutuskan berpindah tempat. Oh, ditambah satu lagi teman dari pihak principal yang pindah. 5 orang. Bukanlah jumlah yang sedikit. Ketika nanti sudah tidak di dalam satu perusahaan lagi, meskipun ada ucapan: keep in touch ya! tetaplah tidak akan sama. 

Dan ketika saya mendengar kabar itu, hati saya seakan kosong. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang nantinya tidak sama lagi. Entah mengapa, saya jadi merasa takut ditinggalkan. Padahal saya sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, setiap kali ada orang yang pergi, rasanya masih selalu sulit untuk dimaklumi, untuk diikhlaskan. 

Iya, saya tau, selalu ada 'indah' disetiap 'pindah', keputusan mereka adalah sepenuhnya hak mereka dan saya tidak punya hak untuk mencampurinya. Saya hanya mampu untuk mendoakan agar hidup mereka akan semakin baik dan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. 

Walau sulit, tetapi saya bilang sekali lagi pada diri saya bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya. Terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi bagian dari hidup saya. :')

Ps: Jadi, kamu kapan pindah Ay?

Tuesday, December 15, 2015

Desember. Perjalanan. Bagasi


Banyak hal yang saya sukai. Saya suka memandang langit berawan. Saya suka rintik hujan. Saya suka menggambar. Saya suka menulis. Saya suka bercerita tentang hari-hari saya kepada orang-orang yang saya percaya. Saya suka dengan pendar bintang dan kerlipan kunang-kunang. Saya suka anak-anak. Saya suka mendengarkan keluh-kesah teman-teman saya. Saya suka bepergian ke tempat-tempat baru dan saya suka bulan Desember. Entah sudah berapa banyak yang tau kalau saya amat menyukai bulan ini.
Setiap bulan Desember tiba, hati saya dipenuhi kehangatan. Ada perasaan nyaman dan damai di dalamnya. Entah dari mana datangnya, saya tidak tau. Walau di 31 hari di bulan itu ada hal-hal buruk yang terjadi, tapi tidak menghilangkan rasa hangat di hati saya. Di bulan Desember, saya seperti diberikan kekuatan lebih untuk menjalani hari-hari saya.
Bulan Desember di tahun ini pun sudah lewat setengahnya. Ah, kenapa begitu cepat? Seriously, saya tidak ingin cepat-cepat berakhir. Karna menunggunya lagi butuh 11 bulan. Waktu yang tidak sebentar.
Hal baik dan buruk pun terjadi di bulan ini. Menyerahkan saya? Tidak. Menangiskah saya? Sedikit.
Sayang, catat ini: menangislah secukupnya dan berbahagialah sebanyak-banyaknya.
Di bulan ini pun saya banyak mengikuti kegiatan. Saya ingin terus menata diri saya, memperbaikinya di berbagai sisi, tidak untuk menjadikan diri saya sempurna tetapi menjadi ‘saya yang lebih baik dari sebelumnya’.  
Minggu lalu saya ikut acara gereja, saat itu temanya ‘Forgiving’. Dari sekian menit pembicara membawakan topik itu, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Everyday, everybody will hurt you. Everyday, you must forgive someone.
Before you forgave someone, try to forgave yourself first.  
Kira-kira begitulah yang pembicara itu ucapkan (dan maafkan kalau kalimat yang saya tulis salah, you know, kemampuan bahasa inggris saya minim. Correct me if I’m wrong ya. Hehe)
Kalimat itu membekas di hati saya dan tanpa sadar saya mengangguk-anggukan kepala saat mendengarnya. Memaafkan diri sendiri, kedengarannya begitu mudah. Tapi, faktanya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibanding memaafkan diri sendiri. Saya masih perlu belajar memaafkan diri saya, menyayanginya dan memberikan apresiasi ketika saya melakukan hal yang baik. Saya masih perlu belajar untuk menghargai diri saya. Dan tentunya belajar menghapus rasa-rasa tidak mengenakkan yang bersarang di dalam hati.
Dan di bulan ini pun saya menemukan 1 postingan yang mengena di hati. Saya gak berpikir sebelumnya kalau di blog ini akan kedatangan bintang tamu. Saya tidak pernah berpikir untuk merepost cerita orang lain di blog saya. Tapi, kali ini pengecualian. Saya menyukai tulisan ini.

Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Bergerak dari sebuah titik ke titik lain di masa depan. Pergi ke satu tempat untuk menetap atau hanya sekadar untuk singgah. Bertemu dengan seseorang atau akhirnya memutuskan berpisah.
Seperti halnya sebuah perjalanan, masing-masing dari kita membawa bagasi yang berbeda. Mungkin hanya sebuah kotak kecil yang ringan untuk dibawa, atau koper besar berwarna cokelat muda yang menguras tenaga untuk membawanya.
Setiap orang membawa bagasinya masing-masing. Untuk seseorang, bagasi itu mungkin cukup dibawa dengan sebelah tangan. Dan untuk sebagian yang lain, harus dipanggul dengan menggunakan kokohnya tulang belakang.
Bagasi itu bentuknya bermacam-macam, bisa berupa beban ekonomi yang berkepanjangan, rumitnya kondisi keluarga yang memberatkan, hingga luka atau trauma emosional yang tak kunjung hilang.
Dan layaknya manusia normal, mungkin kadang kita suka membandingkan. Berkata pada diri sendiri : “Seadainya saja saya berada di posisinya. Seandainya saja saya lah orang yang membawa bagasinya.”
Tapi sayang kondisinya tidak seperti itu kawan.
Bring your own luggage. It’s your life. Never compare it with others.
Jangan pernah meminta orang lain untuk membawa bagasimu. Karena ketika kau mulai membandingkan, saat itulah kau kehilangan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang sepertinya rela menerima kondisimu, rela membawa bagasimu, namun akhirnya dia sadar, dia tidak butuh beban tambahan.
Dan memutuskan untuk pergi, memilih bersama orang dengan bagasi yang lebih kecil. Agar bebannya terasa lebih ringan.
Jangan kau tangisi kawan. Dia bukan untukmu.
Tetap bersabarlah kawan, ketika kau tergopoh-gopoh berusaha untuk membawa sendiri bagasimu, berusaha menggenggam erat semua koper bawaanmu, atau memanggul semua beban di pundakmu.
Nanti akan ada seseorang yang rela menjulurkan tangannya untuk membantumu. Tersenyum berdiri di sebelah mu.
Membantu membawa barang bawaanmu. Mencengkeram pegangan koper itu bersamamu.
Mungkin karena dia pernah membawa bagasi yang sama. Sebuah koper besar berwarna cokelat muda. Atau memang dia yang rela, untuk membawa bagasimu bersama-sama.
Karena suatu saat, “bagasi mu” akan berubah menjadi “bagasi kita”.
Ditulis oleh Tirta – Pemilik blog romeogadungan.com

Apakah kamu merasakan seperti yang saya rasakan ketika membaca tulisan di atas? Ada kah rasa hangat menjalar di hatimu?
Tulisan Tirta memembuat saya terdiam sejenak dan memikirkan koper-koper yang selama ini saya bawa. Bagi banyak orang yang mengenal saya hanya di luarnya saja, mungkin saya terlihat ke mana-mana hanya membawa tas tenteng kecil. Nyatanya, tiap harinya saya membawa banyak koper yang seringkali membuat saya teramat lelah dan tertidur di hampir setiap perjalanan saya pulang ke rumah.
Saya tidak ingin orang lain repot dengan bagasi saya yang penuh dengan koper besar dan kecil. Jika berjalan bersama saya ikut membuatmu lelah, berhenti dan pergilah. Saya tidak ingin menahanmu. Itulah yang kemarin-kemarin saya lakukan. Tidak ingin membuat orang lain susah karena saya.

Dari kalimat-kalimat Tirta, saya tersadar bahwa saya boleh mempercayakan koper-koper saya kepada seseorang yang bersedia ikut menjinjingnya bersama. Saling menyemangati untuk terus berjalan seberapa pun melelahkannya perjalanan itu.

Saya pun percaya meski seseorang itu belum datang, saya tidaklah sendiri. Karna Tuhan saya sudah terlebih dahulu membawa sebagian besar isi bagasi saya. Dia mempercayakan saya koper-koper lain agar saya menjadi orang yang tidak lemah. Dan agar saya dapat belajar untuk mempercayakan koper-koper itu untuk dibawa bersama dengan seseorang.

Ps: Ditulis dalam keadaan langit mendung, mata mengantuk tetapi dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Love,
Ay

Sunday, June 7, 2015

Hi,
Ternyata bulan lalu saya tidak meninggalkan tulisan apapun di sini. Mungkin kalian sudah bosan mendengarnya, tapi (lagi-lagi) waktu berjalan begitu cepat. Dan tau-tau kita sudah berada di pertengahan tahun.
 
Sudah melakukan apa aja di tahun ini?
Sudahkah kamu bahagia?
 
Sebenarnya saya juga bingung mau menuliskan apa di sini, karna saya sedang tidak baik-baik saja, tapi saya tidak ingin banyak mengeluh di sini.
 
Intinya suasana hati saya sedang buruk, pun juga pikiran saya. Sejujurnya saya sedang gelisah. :'(
 
Hmm.. gimana kalau saya menceritakan tentang project cerbung saya aja?
 
Kalau kalian baca, sudah dari awal tahun saya bilang kalau saya sedang membuat cerbung (yang bahasa kerennya short story :p). Waktu itu saya bilang, saya akan share di bulan Maret, tapi sampai sekarang belum juga saya share. Iya, saya kurang disiplin makanya terlambat begitu lama.
 
Oya, ada yang tau aplikasi Wattpad? Itu, lho aplikasi yang isinya ribuan cerita dari berbagai negara dan kita bisa baca secara gratis! Menarik bukan? Akhirnya saya pun tergerak untuk membuat akun di Wattpad dan berfikir untuk nantinya share cerita di sana. Saya memutuskan untuk tidak menuliskannya di sini, tetapi akan saya tuliskan di Wattpad.
 
Jadi, kapan Ay? Kapan??
Saya janji akan share paling lambat akhir bulan ini. Iya, gak akan molor lagi kok. Kalau nanti udah saya publish di Wattpad, saya akan info di sini. Ah, saya bakal seneng banget kalau banyak di antara kalian yang baca dan menyukainya. ditunggu ya! :) 
 
Ay.

Friday, October 24, 2014

Tentang Laki-laki di Masa Lalu


 
Hari ini saya mengingatnya,
Laki-laki itu…..
Dengan tindikan di telinga dan lidahnya.
Dengan headphone yang seringkali mengeluarkan suara jedag-jedug khas lagu di klab malam.
Dengan kamera D-SLR yang menggantung dilehernya.
Dengan sebatang rokok yang terselip di ujung bibirnya.
Dengan sepatu kets, celana chino dan kaos longgar.
Dengan perhatian yang seringkali membuat salah tingkah.
Dengan ledekan-ledekan yang menyebalkan tapi bikin kangen.
Dan dengan tawa lebar di setiap lelucon.
Laki-laki itu, bagaimana kabarnya sekarang?
Apakah masih seperti yang saya bayangkan?

Ps: jika suatu saat kamu menemukan tulisan ini, mari kita bertemu! : )

Monday, September 30, 2013

Garis Finish^^



 
Pada akhirnya, kita akan bertemu di garis finish. Saling mengaitkan kelingking dan berjanji akan terus bersama (30 Maret 2012)

Saya  tunggu kamu di garis finish itu, atau kamu yang duluan berada di sana?
Tidak apa-apa, karna toh pada akhirnya kita akan bertemu^^

Thursday, August 29, 2013

Teruntuk Kamu


 
Kamu apa kabar?

Aku harap kamu di sana baik-baik saja.
Aku pun disini cukup baik. Belakangan, pekerjaan sedang banyak sekali sampai-sampai waktu tidur pun tak cukup. Kemarin sempat terkena flu juga, tapi mama buru-buru memberikan aku obat dan flu itu pun hilang.

Tak banyak yang berubah di sini, aku tetap harus bangun subuh dan mengejar bus paling pagi untuk berangkat kerja. Setiap sabtu aku masih suka mampir ke rumah tetangga yang memiliki anak-anak yang lucu. Mereka merindukanmu lho. Dan hari minggunya aku pergi ke gereja. Di tiap doaku di sana, aku minta kepada Tuhan untuk menjaga kamu untukku.

Bagaimana pekerjaan kamu?
Kamu selalu terlihat letih setiap kali pulang kerja. Aku mengkhawatirkanmu. Aku bertanya-tanya dalam hati, ”adakah yang menyiapkan segelas coklat panas setiap pagi untukmu? “. Seandainya aku ada di sana, akan aku siapkan semuanya untukmu. Bukankah mengawali pagi yang baik akan membuat seharian menyenangkan? : )
Apa kamu sudah rajin membereskan kamar?
Iya, kamarmu selalu berantakan. Tumpukan buku-buku tergeletak di lantai, baju-baju kemarin masih tergantung di belakang pintu, gelas-gelas kopi memenuhi meja. Kamu bayar pembantu sana, biar kamarmu sedikit lebih rapi.
Sudahkah kamu beradaptasi dengan sekelilingmu?
Aku tau kamu orang yang pandai bergaul. Mudah-mudahan pun di sana kamu dikelilingi oleh teman yang baik. Karna aku selalu suka saat kamu tertawa. Kamu yang senang ya disana, jangan banyak yang dipikirkan.
Ah ya, bibit bunga yang dulu kamu berikan kepadaku sekarang sudah tumbuh dengan sehat dan mulai terlihat bunga-bunga yang masih menguncup. Setiap pagi aku selalu menyiramnya dan sesekali mengobrol dengannya. Aku menitipkan rinduku kepadanya. Dan ketika kamu pulang nanti, akan aku tunjukan betapa cantiknya bunga pemberianmu.
Kamu cepat pulang ya.
Aku di sini merindukanmu..