Monday, September 22, 2014

Waktu Bersama Han

Hai Ven, Hello Han!^^ apa kabar? Hari ini saya ingin bernostalgia dengan beberapa kenangan yang kita lewati dulu. Mudah-mudahan kalian masih mengingatnya, seperti saya yang masih ingat setiap detail kebersamaan kita :’) Dimulai dengan Han dulu ya~
Bersama Han
Han, ingatkah pertemuan pertama kita? 10 tahun yang lalu! Betapa tahun berlari begitu cepat yaa.
2004 – Masa Orientasi sekolah
Pertama kalinya kita bertemu, kita satu kelompok di MOS selama 2 hari. Saat itu entah kenapa, kita yang tidak saling kenal bisa tertawa begitu lepas. Menertawakan bawaan-bawaan yang harus dibawa. Masih ingatkah dengan celana dalam plastik, you see one thousand, 2 tang kaleng, silver abang none, ketan hitam 2004 biji? Hahahha.. saya selalu tertawa jika mengingatnya.
Dan ingatkah ketika kita berdua dihukum karna hanya membawa sedikit ketan hitam? Berdua dipojokkan lapangan basket harus menghitung sekilo biji ketan hitam! Waktu itu kita malah tertawa-tawa sambil menghitung asal-asalan.
2 tahun kita sekelas
Ternyata takdir mempertemukan kita kembali. Setelah MOS, kita pun belajar di kelas yang sama ^^ waktu kelas 1, di pelajaran Bahasa Inggris, kita pernah melakukan drama berdua di depan kelas. Saya yang tidak bisa bahasa Inggris, banyak mendapat pertolongan dari kamu. Terima kasih^^
Hampir setiap pelajaran, kita sekelompok. Kamu si pintar dan saya si dodol, walaupun begitu, kita selalu kompak^^
Dan lagi-lagi, di kelas 2 kita pun sekelas.  Hal yang menyenangkan. Ingatkah saat itu saya selalu bercerita tentang seseorang kepada kamu? Seseorang yang begitu saya sukai, (bisa dibilang laki-laki itu adalah cinta pertama saya) sampai-sampai saya tidak dapat melihat kebaikan laki-laki lain.
Waktu itu, Ven pernah bilang ke saya, kalau kamu sebenernya kurang suka saya selalu cerita tentang laki-laki itu. Hei, kenapa kamu tidak bilang ke saya? Maaf ya, waktu itu kamu harus mendengarkan cerita-cerita saya setiap hari, cerita saya dengan laki-laki itu. Maafkan saya yang tidak peka.
Oya, waktu kelas 2 kamu banyak berubah! Kamu jadi males sekolah. Ya ampunn.. ingat tidak ketika kamu dipanggil wali kelas? Diberi peringatan kalau kamu sering bolos, kamu akan dikeluarkan dari sekolah? Ingatkah berapa kali saya mengomeli kamu untuk tidak males ke sekolah?
Meskipun begitu, kamu yang sering kali bolos, selalu mendapatkan nilai-nilai tinggi. Saya yang jarang bolos saja sering remedial, sedangkan kamu hampir tidak pernah mengulang ulangan! Han, saya iri! Hahahah..
Saya dan Ven, agak menjaga jarak ketika kamu punya pacar. Kami gak mau buat pacarmu salah paham. Tapinya, malah kamu yang selalu mendekati kami. Lebih sering bersama kami dibanding pacarmu itu. Dan yah, akhirnya kamu putus. Apa sih yang kamu pikirkan saat itu? Pacarmu begitu baik dan tidak banyak menuntut.
Di kelas 3, giliran Ven yang sekelas denganmu, dan  saya terpisah. Dari saat itu, hubungan kita bertiga renggang. Kamu pasti tau apa penyebabnya. Kita bertiga tak lagi sedekat dulu, meskipun kamu masih selalu membantu saya ketika saya butuh pertolongan.
 Ingat tidak ketika saya panik (lagi-lagi) karna pelajaran bahasa inggris? Saya panik karna harus speech di depan kelas pakai bahasa inggris. Dan kamu dengan baik hatinya membantu saya. Saya memberikan catatan berbahasa Indonesia, dan kamu menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris. Entah apa jadinya kalau tidak ada kamu, mungkin saya akan failed di pelajaran itu. Makasi ya, Han!^^
Banyak sekali yang berubah ketika kelulusan. Kita jadi amat jarang bertemu, kita sibuk dengan kehidupan masing-masing. Saya tak tau kabar kamu, pun juga kamu. Setelah kelulusan sekolah, sampai saat ini, berapa kali kita bertemu? Saya rasa kurang dari 10 kali.
2011, ketika saya sedang disibukkan dengan Tugas Akhir (saat itu saya lagi stress mencari tema apa yang ingin diangkat), kamu tiba-tiba chat saya. Kamu bilang kangen dan ingin bertemu. Dasar aneh! Setelah menghilang sekian lama, tau-tau chat saya seperti itu.
 Dan kita bertemu. Lagi-lagi dengan baik hatinya kamu menemani saya ke suatu café tempat saya  observasi untuk pembuatan tugas akhir. Kamu menemani saya bertemu dengan pemilik café. Waktu itu kita berdua aja, tapi ramenya kayak berlima. Berisik banget dan banyak tawa tumpah selama di café. Oya, kebiasaan kamu dari jaman SMA pun kumat, iya apalagi kalau bukan pup! Hih. Dari café, kamu tiba-tiba belok ke pom bensin.
“ Ay, sebentar ya tunggu di mobil. Perut gue mules nih.”
“ Ih lo ya, kebiasaan banget deh. Yaudah sana.”
Tak lama kamu kembali ke mobil dengan cengir lebar. Lega banget yah abis keluarin isi perut? Ahahahah.
Desember 2012, kembali kita bertemu. Hanya sebentar memang. Karna kamu hanya mampir di booth saya ketika pergantian jam kuliah. Yep, saat itu saya buka stand di kampus kamu. Makasi sudah menyempatkan mampir selama 2 hari.
Terakhir, kita bertemu di pernikahan Ven. Kamu menjemput saya dan kita bersama-sama datang ke pernikahan sahabat kita. Gak nyangka ya Han, Ven menikah secepat itu!
Ps : semoga aplikasi S2 kamu diterima. Dan nantinya, ketika kita sudah berada di benua dengan 14 jam perbedaan waktu, mudah-mudahan kita masih tetap bisa saling menyapa. Sukses untukmu^^
Peluk erat dari Ay

Wednesday, September 3, 2014

You fall in love with people’s minds. — Anaïs Nin
Anais Nin adalah seorang pengarang yang lahir di Perancis tahun 1903. Sejak umur 11 tahun, Anais Nin dikenal dengan kumpulan cerita dari buku hariannya.
Saya amat menyetujui pernyataan Anais Nin, kami sepaham dalam hal ini. Semakin usia bertambah, entah mengapa saya tidak lagi banyak menilai orang dari rupanya. Ada banyak hal yang mengajarkan saya bahwa tampak luar dapat menipu dan saya beberapa kali mengalaminya. Bertemu dengan banyak orang palsu, yang tampak luar bertolak belakang dengan yang sebenarnya.
Ketika masa putih abu-abu, saya selalu suka dengan orang-orang yang memiliki tampang yang enak untuk dilihat (yah walaupun menurut orang lain tampang orang itu biasa saja, tapi buat saya orang itu tampan). Hal yang wajar bukan? Walaupun saya tak banyak memilih dalam hal berteman, tapi saya amat selektif dalam hal laki-laki yang ingin mendekati saya. Saya terlalu menilai tinggi diri saya padahal saya banyak memiliki kekurangan.
Rupa yang tampan namun memiliki sikap yang buruk hanya akan membuat rupa itu tak ada nilainya, saya mulai memahami itu. Dan entah sejak kapan, saya lebih menilai orang dari kepribadiannya, dari pola pikirnya. Dan saya terkagum dengan beberapa orang yang memiliki pola pikir yang amat luar biasa namun dengan fisik yang kurang. Hei, betapa karakter yang baik dapat menutup keburukan rupa yang dipunya. :)
Saya pernah jatuh cinta dengan laki-laki yang biasa saja, tapi bagi saya dia memiliki karakter yang baik dan pola pikir yang membuat saya mengangguk menyetujui (saat itu). Dia tipikal laki-laki yang amat sayang dengan mamanya pun juga dengan adik-adiknya. Dia tak malu untuk membantu mamanya memasak di dapur dan memilih nyuekin sms dari saya hanya untuk menemani adik terkecilnya belajar. Bagaimana saya tidak jatuh cinta dengan laki-laki itu?
 Dan ada banyak alasan lainnya untuk tetap menyukainya walau sekarang laki-laki itu sudah bukan bagian dari kehidupan saya. Saya tak punya dan tak ingin mencari-cari kelemahannya untuk alasan saya membencinya.
Cinta yang baik memang seharusnya seperti itu~ :)
 
Ay.

Sunday, August 31, 2014

Living with Memories..

Beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Lee Seung Cheul, seorang penyanyi ballad asal Korea. Ketika mendengar lagu itu, entah mengapa saya merasa kesedihan yang dalam. Karna penasaran, saya pun mencari liriknya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
 
 
Will you be okay with just living with memories?
I asked you what a memory is.
It was hard to listen to your answer without tears.
 
Di hari-hari yang lalu kita banyak berbagi kisah, tawa dan keluh. Yang satu menguatkan yang lainnya. Kalau diingat-ingat, saya lebih banyak protes padamu, ya? Memaksa kamu melakukan ini dan itu. Tapi, saya bawel kan demi kebaikan kamu juga. Ah, alasan saja kamu, Ay. Kalau sekarang, ada yang melebihi bawel saya pada kamu gak? :p
 
Di hari-hari yang lalu itu, saya tak pernah berfikir sedikit pun kalau suatu hari kita akan berpisah dan tak pernah bertegur sapa lagi. Satu hari di mana kamu pergi meninggalkan saya...
 
You said a memory is something that wont ever come back,
that you can never have again.
 
 
Pada awalnya saya tak mampu menerimanya. Saya amat marah dan kecewa. Saya berfikir kamu tega sekali meninggalkan saya. Tau kah kamu kalau saat itu saya merasa takut dan mengharapkan kamu tak melepaskan genggaman itu? Tau kah kamu kalau saya paling takut kalau ditinggalkan sendirian? Entahlah...
 
Butuh waktu cukup lama untuk saya menerima itu semua, untuk memaafkan kamu pun juga memaafkan diri saya yang terlalu menyalahkanmu saat itu. Dan akhirnya saya sadar bahwa kita tak dapat hidup dalam kenangan, bahwa hidup harus terus berjalan dan menemukan kebaikan di setiap langkah di hari-hari yang akan datang. Saya akhirnya paham, dan menyetujui kalau hari-hari yang lalu itu tidak akan kembali dan saya pun tidak ingin lagi mengulangnya.
 
Kini saya dapat memeluk kenangan itu tanpa merasakan sakit lagi, dan saya tau kamu pun sudah mendahului saya, sudah dapat memeluknya tanpa beban lagi.  Terima kasih untuk setiap detik yang pernah kita laluin, untuk penerimaan kamu atas banyaknya kekurangan saya, untuk keegoisanmu yang membuat saya memahami kamu melebihi orang lain dan untuk segaris senyum yang pernah kamu sisipkan di sela-sela pembicaraan kita. Saya memaafkanmu. Maafkan saya juga ya. :)
 
Ps: Jika suatu hari kita dipertemukan kembali, saya tak akan ragu untuk tersenyum dan menyapamu.^^
 
Ay.


Wednesday, August 27, 2014

Kisah 3 Sahabat

“ Ay, saya mau berterus terang padamu. Saya suka pada dia, entah sejak kapan saya tidak tau. Tapi yang jelas, rasa ini semakin lama semakin membesar. Apa yang harus saya lakukan? Kamu bisa bantu saya? “

Kata-kata itu terucap dari mulut Ven, sahabat saya. Dia menyukai Han, sahabat saya yang laki-laki. Dan yang dia tak tau, saya pun menyukai laki-laki yang sama…
2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Ketiga orang sahabat yang diam-diam saling menyukai. Banyak orang bilang kalau tidak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Kami bertiga pernah menertawakan pernyataan itu, dulu. Ya, kami membuktikan kalau kami dapat bersahabat, murni, tanpa perasaan yang lebih, hanya rasa sayang dan peduli saja.  
Ke mana-mana kami selalu bertiga, kami berbagi hidup, berbagi tangis dan tawa, dan tanpa kami sadari, kami pun berbagi hati…
Kami adalah pribadi yang berbeda-beda. Saya tipikal anak yang lincah, ceria, manja namun tertutup dalam banyak hal. Ven tipe cewek yang sensitive, serius (namun sesekali dia pun dapat mencairkan suasana), dan amat terbuka, pun juga mengenai urusan hati. Sedangkan Han adalah  tipe  cowok yang humoris dan suka membuat lelucon, pendengar yang baik, dan pintar menenangkan orang lain.
Jauh sebelum Ven mengungkapkan perasaannya, dia pernah bilang seperti ini, “ Ay, kamu sadar gak kalau Han itu lebih perhatian kepada kamu? Saya rasa dia suka sama kamu.. hahahah..” dia meledek saya.
Saya sendiri saat itu tak menyadarinya. Saya merasa kalau sahabat berbuat baik dan perhatian kepada sahabatnya itu hal yang wajar. Namun, saya tak sadar kalau perhatian dari Han kepada saya melebihi perhatian seorang sahabat.
Saya pun mengacuhkannya, saya tidak mau ada perasaan lebih yang merusakan persahabatan kami bertiga. Tetapi, yang namanya hati memang susah ditebak. Saya bisa saja acuh dan tidak menanggapi segala perhatian dan kebaikannya, namun hati saya merespon itu. Perlahan-lahan saya menyukai dia, sahabat saya sendiri.
Suatu kali, kami bertiga pergi ke taman bermain. Saat itu, Han sering kali menggandeng tangan dan menepuk kepala saya. Saya merasa nyaman. Kami menghabiskan berjam-jam yang menyenangkan. Kami bertiga bahagia. Dan saat itu saya berjanji dalam hati untuk menetralkan perasaan saya, pun juga Han.
Ketika kami berdua sudah mulai bisa menetralkan perasaan, masalah lain terjadi. Ven mengungkapkan kalau dia suka dengan Han. Saya terkejut dan tak tau harus berkata apa. Dia meminta saya untuk membantunya pendekatan ke Han. Saya ingin menangis.
Ven  benar-benar menunjukkan ketertarikannya pada Han. Dia mulai melakukan pendekatan-pendekatan dan perhatian-perhatian yang membuat saya merasa risih dan tak nyaman berada diantara mereka berdua.
Dan pada puncaknya, dia mengungkapkan isi hatinya kepada Han. Di saat itu saya takut, kalau mereka menjadi pasangan, bagaimana dengan saya?
Han menolak dengan halus. Ven sakit hati, dia tak bisa menerima penolakan itu. Han pun menjadi dingin dan acuh pada Ven.
Bagaimana dengan saya?
Saya marah. Saya kesal kepada mereka. Tiap kali saya mendekati Han, Ven akan melirik dengan kecemburuan yang tak tertutupi. Berbulan-bulan lamanya, hubungan kami bertiga menjadi kaku. Kami yang biasa tertawa bersama, kini hanya terdiam. Tak banyak yang kami bicarakan. Dan sampai kelulusan sekolah, persahabatan kami tak lagi lekat seperti dulu. Keadaan berubah, kami berubah, semuanya tak sama lagi…
 
Ps :
Buat Ven dan Han, kalau suatu saat menemukan tulisan ini dan berpikir “ kok beda dengan yang kita alami ya, Ay? “ Hihihihi. Memang iya, untuk membuatnya saya menambahkan sedikit bumbu di beberapa bagian.^^
Buat Ven, saya masih belum puas untuk mengucapkan selamat untuk pernikahanmu! Satu dari sekian kabar menggembirakan untuk saya.^^
Buat Han, makasi ya udah menemani saya di pernikahan Ven. Semangat untuk tugas akhirnya. Kamu pasti bisa melaluinya.^^
***
Ps lagi : ketika tadi iseng buka-buka draft, ternyata menemukan tulisan ini. waktu itu niatnya di post beberapa hari setelah pernikahan Ven. Ah, kenapa saya bisa lupa ya waktu itu~
 
Tersenyum lebar,
AY

Sunday, August 24, 2014

Yang Boleh dan Tidak Boleh

Saya tidak pernah terpikirkan untuk menuliskan ini. Tapi karna banyak hal, saya pun terpaksa menuliskannya.  Di sini saya mau menegaskan garis batas antara saya dan kalian. Angkuh kah saya? Baiknya saya ceritakan awal mulanya ya^^
 
Saya punya 2 blog, si Summer dan Vealde. Dari blog, saya mengenal banyak orang dengan berbagai karakter. Saya selalu senang tiap kali melihat ada orang yang meninggalkan jejak di kotak komentar. Rasanya ada orang di luar sana yang menyukai tulisan saya. Ada beberapa silent reader yang akhirnya mengirimkan komentar dan membuat saya terharu. Hei, saya menghargai kalian. Makasi ya^^
Bercerita melalui blog, kenal banyak orang dan bahkan menjadi teman dari beberapa blogger, hal yang tak pernah saya bayangkan. Namun ada hal-hal yang sedikit banyak mengganggu saya. Ini tentang orang-orang yang ‘merasa’ mengenal saya hanya baca dari blog. Sebenarnya saya tidak mempermasalahkannya, tapi lama-lama saya merasa risih lho. T__T
Belakangan ini saya cukup banyak menerima email dari orang-orang yang saya tidak kenal. Beberapa dari mereka menceritakan tentang diri mereka dan menanyakan ini dan itu kepada saya, semacam konsultasi. Saya pun membalas email mereka dengan senang hati dan merasa ‘wah, mereka mempercayakannya kepada saya.’ Namun ada email-email yang diawal saya balas dengan baik namun berakhir dengan tidak baik.
Ada orang yang ‘merasa’ amat mengenal saya hanya dari blog dan menjadi ‘sok’ menasehati saya. Suka kah saya? Jelas, tidak. Saya tegaskan kepada kamu dan kamu bahwa yang saya ceritakan di kedua blog ini hanya sepersekian dari hidup saya. Jadi tolong jangan sok tau!  Kalau saya tanya balik sama kamu, suka kah ketika ada orang yang merasa mengenalmu padahal orang itu tidak tau banyak tentangmu? Coba dipikirkan.
Ada orang yang sampai ‘maksa’ untuk minta contact saya. Setelah dipertimbangkan dan berpikir ‘orang ini asik juga’, saya pun memberikan pin bb saya. Di hari saya memberi pin bb, di hari itu pula saya menyesalinya. Orang ini amat mengganggu, selalu nge – PING!!!’ ketika saya lama membalasnya. Hei, saya punya kesibukan lain dan tidak hanya punya waktu untuk membalas chat kamu. Maaf terpaksa saya delete kamu dari contact saya.
Ada orang yang mengirimkan email ke saya, tapi setelah saya balas beberapa kali, orang ini jadi ‘kurang ajar’ dan pembicaraannya mengarah ke hal-hal yang tidak baik. Saya memutuskan untuk tidak membalasnya lagi, meskipun orang itu masih terus mengirimkan email kepada saya sampai beberapa hari yang lalu.
Ada orang yang tau-tau contact saya dan menjadi ‘sok akrab’ kepada saya. Saya mengabaikan ke-sok akrab-annya itu, di awal. Tapi lagi-lagi saya merasa tidak nyaman. Di tambah dia menceritakan hal yang kalau diperhatikan kok jadi sama dengan yang saya ceritakan di blog, dia menjadi menyama-nyamakan apa yang dia alami dengan kisah saya. Hmm.. saya tidak suka lho~
Jadi, sudah tau ya mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan? Saya akan tetap senang menerima komentar dan email dari kamu dan kamu semua. Namun tetap hargai privacy saya ya.^^
 
Peluk hangat dari
AY

Thursday, July 17, 2014

Surat untuk Pak Prabowo


Yth. Bapak Prabowo,

Beberapa hari lalu, saya membaca banyak surat terbuka dari anak bangsa yang ditunjukkan untuk Bapak.  Dan entah mengapa, hati saya tergugah untuk menulis surat ini.
Pak Prabowo yang baik, tentunya Bapak banyak menyimak pemberitaan dari media yang begitu hangatnya belakangan ini. Ya, mengenai pilpres yang jatuh tanggal 9 Juli lalu. Beberapa media menyampaikan kemenangan Bapak, sedangkan media lain menyampaikan kemenangan Pak Jokowi – JK.
Saya hanya mengenal Bapak dari pemberitaan di media dan obrolan-obrolan kecil dengan beberapa teman. Saya tak tahu kedalaman hati Bapak dan bagaimana Bapak yang sebenarnya. Oleh karenanya saya tak ingin menghakimi.
Pak Prabowo, mari kita berbincang lebih santai, dengan teh hangat yang kita seruput perlahan-lahan.^^
Pak, saya dan sebagian masyarakat Indonesia menginginkan masa depan yang lebih baik, nyaman, aman dan damai. Bukankah itu pula harapan Bapak? Saya yakini itu.
Taukah bahwa saya mengagumi Bapak? Disetiap debat capres yang kemarin dulu disiarkan di televisi dan disetiap wawancara Bapak (baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja saya tonton), ada banyak hal luar biasa yang Bapak miliki.
Saya kagum dengan ketegasan Bapak, dengan semangat yang terpancar dari sepasang mata Bapak dan dengan kegigihan Bapak. Saya hanya orang sekian yang mengagumi bagian dari diri Bapak yang saya lihat melalui media.
Pak Prabowo, 1 hal yang ingin saya sampaikan; bahwa mengagumi seseorang bukan berarti harus memilih orang itu.  Begitupun dengan saya.
Bapak adalah salah satu yang terbaik pilihan masyarakat. Namun saya (dan masyarakat) berhak untuk memilih yang terbaik diantara yang terbaik itu. Saya percaya Bapak memahaminya.
Pak Prabowo, menjadi presiden bukanlah satu-satunya pilihan yang Bapak punya untuk memajukan bangsa. Banyak hal baik lainnya yang dapat Bapak lakukan. Tunjukan kebaikan-kebaikan yang Bapak miliki. Saya percaya, Bapak tulus mencintai Bangsa dan Negara ini.
Dan karna itu Pak, mari kita duduk tenang tanpa mengusik kanan-kiri. Duduk diam menanti keputusan tanggal 22 Juli nanti.

Ps: Pak Prabowo, mau saya tuangkan teh lagi? ^^

Salam hangat,
AY

Monday, June 30, 2014

I'll Be There For You..


“When I see your sad tears, what I must do is unclear. I assure you my shoulder will be always there for you..” – Orion

“ Lin,” panggil Orion.
“ Hai, Ri.” balas Lin dengan senyum yang dipaksakan.
“ Hari ini kan hari selasa, kenapa kamu datang ke sini? “
“ Kamu juga kenapa ada di sini?”
“ Entahlah. Rasanya ada sesuatu yang menarikku ke sini. Radarku kuat ya, ternyata kamu ada di sini juga. “ Orion mencoba mencairkan suasana.
Sepasang ayunan di taman kecil. Tempat pertama Lin dan Orion bertemu. Kini menjadi tempat yang setiap sabtunya selalu mereka kunjungi demi mencari ketenangan dan pendar Polaris di langit malam.

“ Aku lelah… “ jawab Lin, kemudian mengayuhkan ayunannya. Pelan.
Ada jeda panjang. Orion tau, Lin tidak mau diganggu saat ini. Dia hanya memerlukan seseorang duduk diam di sampingnya.
Lin yang menatap langit dengan pandangan kosong dan Orion yang tidak dapat melepas matanya dari wajah muram disampingnya.
Lin semakin mendongakkan kepalanya, memaksa air mata yang sudah menggenang agar tidak terjatuh. Namun gaya gravitasi tak bisa dikalahkan.
“Lin…”
“Jangan dekati aku, Ri. Aku malu.” Lin tidak ingin Orion melihatnya menangis.
“ Aku tidak akan melihatmu menangis, Lin. Menangislah sampai kamu merasa lega.” Orion berdiri memunggungi Lin.

Tanpa dapat ditahan lagi, Lin menjatuhkan banyak air mata. Lin memeluk Orion dan melepaskan rasa sakitnya kepada punggung yang kokoh itu.

Tangis Lin kemudian berubah menjadi isakan kecil dan akhirnya berhenti, namun Lin masih memeluk punggung Orion, masih ingin bersembunyi di sana.
“ Makasih…Ri” ucap Lin, lirih.
“ Untuk apa? Aku tak melakukan apapun untukmu”
“ Banyak Ri, makasi untuk diammu menemaniku dan untuk punggung ini..”
Orion berbalik, menatap mata sembab Lin, “ Percayakah kamu padaku? Beban yang kamu tanggung terlalu berat, Lin. Berbagilah, aku disini untukmu.”
“Bisakah aku percaya padamu?” Lin balik bertanya dan dibalas dengan anggukan mantap oleh Orion.
Catlin yang selalu menyembunyikan isi hatinya, menyembunyikan permasalahan-permasalahan hidupnya, sedikit demi sedikit mulai mengungkapkannya. Benar kata Orion, dia sudah terlalu lama berjuang sendiri, terlalu banyak beban yang dia tanggung sendirian. Dia memerlukan orang lain untuk berbagi dan Orion adalah orang yang tepat.
“Maaf ya Orion, aku cengeng banget. Gak seharusnya nangis,” ucap Lin setelah berbagi banyak hal dengan Orion.
“Gak ada yang salah dengan menangis, Lin. Makasi kamu percaya padaku.  Jangan ada lagi yang ditutup-tutupin ya, Lin. Sekarang, tidak hanya di hari sabtu saja, tapi kita bisa bertemu kapanpun. Dan mudah-mudahan aku bisa selalu menepati setiap janji bertemu kita di hari-hari yang akan datang.”
Lin mengangguk. Hatinya lega.
“Hei, bintang polarisnya muncul!” seru Orion sambil menunjuk langit.

Polaris. Si Bintang Harapan. Kini aku punya 2 Polaris, yang dilangit dan di hadapanku. – Catlin
I’ll spend every second of my life, to try and make you happy all the time. Just know that I’ll be there for you – Orion

*Terinspirasi dari lagu I’ll be there for you – Han Byul.

Kisah Catlin dan Orion lainnya : Bintang PalingTerang