Showing posts with label curahan. Show all posts
Showing posts with label curahan. Show all posts

Friday, April 1, 2016

Jatuh Cinta

Beberapa hari yang lalu saya membeli komik Hi, Miiko edisi terbaru. Saya salah satu fansnya Miiko dan Tappei, dua tokoh utama, anak SD yang diam-diam saling menyukai. Di dalamnya ada satu cerita tentang Valentine, ketika Miiko (si tokoh anak perempuan) sedang galau ingin memberikan apa kepada Tappei. Miiko ini menganggap Tappei teman yang spesial, dia gak sadar kalau sebenarnya  dia suka dengan Tappei. Begitu pun sebaliknya, Tappei yang cuek dan suka iseng ke Miiko sebenarnya orang yang paling memperhatikan Miiko.

Balik ke cerita, sehari sebelum Valentine Miiko sibuk membuat coklat untuk dibagikan kepada teman-teman sekelasnya. Tetapi Miiko ingin memberikan tambahan hadiah kepada Tappei. Singkat cerita, dia pergi ke toko pernak-pernik dan melihat beberapa gadis SMP yang sibuk memilih sapu tangan cantik untuk diberikan ke laki-laki yang mereka sukai. Miiko pun ikut-ikutan membeli sapu tangan.

Besoknya dia kasih coklat dan sapu tangan kepada Tappei. Oh ya, gak hanya Miiko yang menyukai tappei, tapi ada satu teman sekelasnya juga yang suka dengan Tappei, anak itu pun memberikan sapu tangan! Dan ternyata keesokan harinya lagi, Tappei malah pakai sapu tangan yang anak itu berikan. Miiko jadi bete, dia sedih melihat Tappei gak memakai pemberian.

Ono Eriko, pengarang Hai, Miiko memang sering memberikan akhir cerita yang tidak disangka. Kenapa Tappei gak memakai sapu tangan pemberian Miiko? Saya berpikir awalnya Tappei sayang untuk menggunakannya dan dia simpan sapu tangan pemberian Miiko agar tidak kotor dan rusak. Ternyata tebakan saya salah total.

Miiko ini emang ceroboh, jadi yang dia beli itu bukan sapu tangan melainkan……. Celana dalam! Hahahahahahahaha.. aduh, dodol banget. Ternyata rak celana dalam dan sapu tangan ditempatkan bersebelahan dan dilipat dengan bentuk yang sama. Jadilah bukannya beli sapu tangan, Miiko malah beli celana dalam. Diakhir cerita, Tappei berbicara dalam hatinya: dasar Miiko, ini aku pakai kok tapi gimana bisa nunjukkinnya.

Cerita yang manis dan selalu bisa bikin saya senyum-senyum sendiri. Gara-gara cerita itu, saya jadi berpikir: kapan terakhir lo ngerasa jatuh cinta?

Saya tidak ingat. Iya, saya tidak mengingat dengan baik kapan saya jatuh cinta. Saya tidak ingat kapan saya menjadi gugup, salah tingkah dan banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perut. Kapan ya? Saya lupa lho.

Ada begitu banyak hal yang terjadi, ada hal-hal lain yang membuat saya lupa rasanya jatuh cinta. Bahkan di tahun lalu, ketika ada seseorang yang ingin mengajak saya serius, komit dan merencanakan masa depan bersama pun tidak dapat menggerakkan hati saya. Saya tidak dapat jatuh cinta padanya. Seberapa pun dia berusaha meyakinkan saya dan seberapa pun saya berusaha untuk menerima semua kebaikannya, tetap tidak dapat membuat saya jatuh hati padanya. Maaf.

Saya tidak mudah meletakkan dan mempercayakan hati saya kepada orang lain. Dan mungkin juga, ketika diumur yang sekarang, jatuh cinta versinya bukan lagi tentang salah tingkah, gugup dan deg-degan. Kalau dulu saya pernah bilang begini: gue butuh cowok yang bisa kasih tegangan tinggi biar bisa menggetarkan hati gue. Tetapi sekarang saya tidak membutuhkannya lagi. Ada hal-hal yang lebih principal ketimbang rasa yang hanya sementara itu.

“Karena jatuh cinta itu temporary, gak bertahan lama. Nanti itu akan berganti menjadi komitmen. Lo gak bisa berharap jatuh cinta selamanya. Cinta itu punya tanggal kadaluarsanya.” – Tirta

Ehm, tapi saya mau lho merasakan lagi rasa yang punya masa expirednya itu. :p


Ay. 

Monday, December 21, 2015

Kabar Tentang Teman Lama

Kemarin malam, tiba-tiba ada seseorang yang ngechat saya via whatsapp. Orang itu hanya menulis 2 kata: woi jelek.

Saya mengerutkan kening ketika membacanya dan mikir, “ih, siapa sih nih? Salah chat kali ya.” Dan dengan malas saya membalas chatnya, “ini siapa?”

Dia        : Rico. Siapa lagi. Wkwkwkwk… Gak inget sama gw :(
Saya      : Rico siapa? Fotonya gak muncul.
Dia        : Rico temennya Sipit
Saya      : oh.. hahahahah
Dia        : Sombong nih, masa sama temen nongki gak inget.
Saya      : Ye, lagian tau2 chat manggil jelek, gak ada fotonya dan nomornya gue gak tau.
Dia        : hahahahah.. maklum gak ganteng.
Saya      : gue udah lupa kapan terakhir nongki bareng. Semacem puluhan taun yang lalu.
Dia        : tua amat kayaknya gw. Da hampir setaun.
Saya      : lebih. Gue aja gak ketemu Sipit 2.5 tahun.
Dia        : Iya.. wkwkwkwk.. kan lo ke korea.. gimana kabar?

Begitulah chat saya dan Rico di awal. Entah dapat info dari mana kalau saya ke Korea, padahal saya belum pernah ke Korea. Soon! Mudah-mudahan.

Rico ini teman saya dari jaman putih abu-abu. Dia segeng dengan Pemao aka Alay (kisah mereka banyak saya ceritakan di blog Summer3angle).  Saya sama sekali tidak akrab dengan Rico ketika SMA, tidak pernah bertegur sapa. Dia tipe-tipe cowok yang saya hindarin. Tukang rusuh, anak genk. Tapi seperti Alay, saya pun menjadi akrab dengan Rico. Ya walaupun kedekatan saya dengan Rico tidak sedekat saya dengan Alay. Tapi, kami menjadi teman main.

Seperti Alay yang saya anggap troublemaker, tapi ternyata dia baik banget dan kita jadi teman baik sejak kelas 3 SMA. Rico pun demikian.

Saya, Rico, Sipit dan Podeng menjadi akrab sejak pertengahan kuliah. Rico dan Sipit sering diajak Alay untuk nongkrong bareng dan akhirnya kita semua akrab. Sedangkan Podeng, saya akrab dengannya sejak sama-sama jadi panitia Reuni SD pada tahun 2009.

Karna satu dan banyak hal pertemanan kami renggang, terutama saya dan Sipit. Dan kita akhirnya disibukkan dengan urusan masing-masing. Tanpa terasa tahun berganti begitu cepat. Terakhir saya bertemu Alay sepertinya akhir tahun lalu, dengan Podeng awal tahun ini, dengan Rico? Sepertinya pertengahan tahun lalu, itu pun gak sengaja bertemu karna kita sama-sama berada di kedai susu favorit saya. Rico dengan teman-temannya, saya dengan teman-teman saya.

Saling bertanya kabar dan mengetahui keadaan masing-masing membuat saya banyak berpikir. Betapa banyak kejadian terlewatkan. Kita janjian untuk ngumpul lagi di bulan januari, di café milik si Alay. Iya, sekarang Alay udah punya café. Hebat ya. ^^

Chat kita terus berlanjut dan sampailah pada suatu kalimat yang saya gak pernah pikirkan, “udah jarang nongki. Kan adik gw lagi di kemoterapi. Jadi sekarang lagi fokus sama adik gw dulu.”

Adiknya Rico baru masuk SMA, cewek, kena kanker getah bening dan udah dikemo selama setahun. Saya sampai gak tau harus membalasnya seperti apa. Saya tau dia gak ingin dikasiani. Dan saya kebanyakan membalasnya dengan kata ‘Oh..’

Saya sedih. Dan saya gak tau harus berbuat apa. Mungkin dia butuh teman untuk mendengarkan keluh-kesahnya. Mungkin dia butuh teman yang bisa membuatnya terhibur. Rico anak pertama, tanggung jawabnya terhadap keluarga begitu besar. Saya paham itu, karna saya pun demikian.

Dan sejujurnya dalam 2 hari ini saya mendapatkan curhat dari orang yang kena kanker lebih dari satu orang. Pertama, seseorang yang divonis kena kanker tulang belakang (saya gak bisa sebutin namanya di sini) saya kalut mendengarnya, saya hanya bisa menguatkan dan menyemangatinya melalui kata-kata dan doa. Kedua, adiknya Rico yang kena kanker getah bening.

Bulan desember, bulan yang saya sukai, tetapi ada hal-hal tidak baik yang saya dengar.
Jangan pernah berpikir masalahmu paling berat, hidupmu sengsara dan nelangsa karna ada begitu banyak orang di luar sana yang punya masalah yang lebih berat. Tetap lah berjuang, tetap lah percaya akan rancangan Tuhan.

Masalah saya pun banyak. Berat? Iya. Tetapi saya diberi penguatan dan menjadi tempat mendengarkan permasalahan orang lain adalah salah satunya.

Ps: saya dan kalian punya permasalahan masing-masing. Mengeluhlah secukupnya, bersyukurlah sebanyak-banyaknya.

Love,
Ay.

Monday, September 22, 2014

Waktu Bersama Han

Hai Ven, Hello Han!^^ apa kabar? Hari ini saya ingin bernostalgia dengan beberapa kenangan yang kita lewati dulu. Mudah-mudahan kalian masih mengingatnya, seperti saya yang masih ingat setiap detail kebersamaan kita :’) Dimulai dengan Han dulu ya~
Bersama Han
Han, ingatkah pertemuan pertama kita? 10 tahun yang lalu! Betapa tahun berlari begitu cepat yaa.
2004 – Masa Orientasi sekolah
Pertama kalinya kita bertemu, kita satu kelompok di MOS selama 2 hari. Saat itu entah kenapa, kita yang tidak saling kenal bisa tertawa begitu lepas. Menertawakan bawaan-bawaan yang harus dibawa. Masih ingatkah dengan celana dalam plastik, you see one thousand, 2 tang kaleng, silver abang none, ketan hitam 2004 biji? Hahahha.. saya selalu tertawa jika mengingatnya.
Dan ingatkah ketika kita berdua dihukum karna hanya membawa sedikit ketan hitam? Berdua dipojokkan lapangan basket harus menghitung sekilo biji ketan hitam! Waktu itu kita malah tertawa-tawa sambil menghitung asal-asalan.
2 tahun kita sekelas
Ternyata takdir mempertemukan kita kembali. Setelah MOS, kita pun belajar di kelas yang sama ^^ waktu kelas 1, di pelajaran Bahasa Inggris, kita pernah melakukan drama berdua di depan kelas. Saya yang tidak bisa bahasa Inggris, banyak mendapat pertolongan dari kamu. Terima kasih^^
Hampir setiap pelajaran, kita sekelompok. Kamu si pintar dan saya si dodol, walaupun begitu, kita selalu kompak^^
Dan lagi-lagi, di kelas 2 kita pun sekelas.  Hal yang menyenangkan. Ingatkah saat itu saya selalu bercerita tentang seseorang kepada kamu? Seseorang yang begitu saya sukai, (bisa dibilang laki-laki itu adalah cinta pertama saya) sampai-sampai saya tidak dapat melihat kebaikan laki-laki lain.
Waktu itu, Ven pernah bilang ke saya, kalau kamu sebenernya kurang suka saya selalu cerita tentang laki-laki itu. Hei, kenapa kamu tidak bilang ke saya? Maaf ya, waktu itu kamu harus mendengarkan cerita-cerita saya setiap hari, cerita saya dengan laki-laki itu. Maafkan saya yang tidak peka.
Oya, waktu kelas 2 kamu banyak berubah! Kamu jadi males sekolah. Ya ampunn.. ingat tidak ketika kamu dipanggil wali kelas? Diberi peringatan kalau kamu sering bolos, kamu akan dikeluarkan dari sekolah? Ingatkah berapa kali saya mengomeli kamu untuk tidak males ke sekolah?
Meskipun begitu, kamu yang sering kali bolos, selalu mendapatkan nilai-nilai tinggi. Saya yang jarang bolos saja sering remedial, sedangkan kamu hampir tidak pernah mengulang ulangan! Han, saya iri! Hahahah..
Saya dan Ven, agak menjaga jarak ketika kamu punya pacar. Kami gak mau buat pacarmu salah paham. Tapinya, malah kamu yang selalu mendekati kami. Lebih sering bersama kami dibanding pacarmu itu. Dan yah, akhirnya kamu putus. Apa sih yang kamu pikirkan saat itu? Pacarmu begitu baik dan tidak banyak menuntut.
Di kelas 3, giliran Ven yang sekelas denganmu, dan  saya terpisah. Dari saat itu, hubungan kita bertiga renggang. Kamu pasti tau apa penyebabnya. Kita bertiga tak lagi sedekat dulu, meskipun kamu masih selalu membantu saya ketika saya butuh pertolongan.
 Ingat tidak ketika saya panik (lagi-lagi) karna pelajaran bahasa inggris? Saya panik karna harus speech di depan kelas pakai bahasa inggris. Dan kamu dengan baik hatinya membantu saya. Saya memberikan catatan berbahasa Indonesia, dan kamu menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris. Entah apa jadinya kalau tidak ada kamu, mungkin saya akan failed di pelajaran itu. Makasi ya, Han!^^
Banyak sekali yang berubah ketika kelulusan. Kita jadi amat jarang bertemu, kita sibuk dengan kehidupan masing-masing. Saya tak tau kabar kamu, pun juga kamu. Setelah kelulusan sekolah, sampai saat ini, berapa kali kita bertemu? Saya rasa kurang dari 10 kali.
2011, ketika saya sedang disibukkan dengan Tugas Akhir (saat itu saya lagi stress mencari tema apa yang ingin diangkat), kamu tiba-tiba chat saya. Kamu bilang kangen dan ingin bertemu. Dasar aneh! Setelah menghilang sekian lama, tau-tau chat saya seperti itu.
 Dan kita bertemu. Lagi-lagi dengan baik hatinya kamu menemani saya ke suatu café tempat saya  observasi untuk pembuatan tugas akhir. Kamu menemani saya bertemu dengan pemilik café. Waktu itu kita berdua aja, tapi ramenya kayak berlima. Berisik banget dan banyak tawa tumpah selama di café. Oya, kebiasaan kamu dari jaman SMA pun kumat, iya apalagi kalau bukan pup! Hih. Dari café, kamu tiba-tiba belok ke pom bensin.
“ Ay, sebentar ya tunggu di mobil. Perut gue mules nih.”
“ Ih lo ya, kebiasaan banget deh. Yaudah sana.”
Tak lama kamu kembali ke mobil dengan cengir lebar. Lega banget yah abis keluarin isi perut? Ahahahah.
Desember 2012, kembali kita bertemu. Hanya sebentar memang. Karna kamu hanya mampir di booth saya ketika pergantian jam kuliah. Yep, saat itu saya buka stand di kampus kamu. Makasi sudah menyempatkan mampir selama 2 hari.
Terakhir, kita bertemu di pernikahan Ven. Kamu menjemput saya dan kita bersama-sama datang ke pernikahan sahabat kita. Gak nyangka ya Han, Ven menikah secepat itu!
Ps : semoga aplikasi S2 kamu diterima. Dan nantinya, ketika kita sudah berada di benua dengan 14 jam perbedaan waktu, mudah-mudahan kita masih tetap bisa saling menyapa. Sukses untukmu^^
Peluk erat dari Ay

Wednesday, August 27, 2014

Kisah 3 Sahabat

“ Ay, saya mau berterus terang padamu. Saya suka pada dia, entah sejak kapan saya tidak tau. Tapi yang jelas, rasa ini semakin lama semakin membesar. Apa yang harus saya lakukan? Kamu bisa bantu saya? “

Kata-kata itu terucap dari mulut Ven, sahabat saya. Dia menyukai Han, sahabat saya yang laki-laki. Dan yang dia tak tau, saya pun menyukai laki-laki yang sama…
2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Ketiga orang sahabat yang diam-diam saling menyukai. Banyak orang bilang kalau tidak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Kami bertiga pernah menertawakan pernyataan itu, dulu. Ya, kami membuktikan kalau kami dapat bersahabat, murni, tanpa perasaan yang lebih, hanya rasa sayang dan peduli saja.  
Ke mana-mana kami selalu bertiga, kami berbagi hidup, berbagi tangis dan tawa, dan tanpa kami sadari, kami pun berbagi hati…
Kami adalah pribadi yang berbeda-beda. Saya tipikal anak yang lincah, ceria, manja namun tertutup dalam banyak hal. Ven tipe cewek yang sensitive, serius (namun sesekali dia pun dapat mencairkan suasana), dan amat terbuka, pun juga mengenai urusan hati. Sedangkan Han adalah  tipe  cowok yang humoris dan suka membuat lelucon, pendengar yang baik, dan pintar menenangkan orang lain.
Jauh sebelum Ven mengungkapkan perasaannya, dia pernah bilang seperti ini, “ Ay, kamu sadar gak kalau Han itu lebih perhatian kepada kamu? Saya rasa dia suka sama kamu.. hahahah..” dia meledek saya.
Saya sendiri saat itu tak menyadarinya. Saya merasa kalau sahabat berbuat baik dan perhatian kepada sahabatnya itu hal yang wajar. Namun, saya tak sadar kalau perhatian dari Han kepada saya melebihi perhatian seorang sahabat.
Saya pun mengacuhkannya, saya tidak mau ada perasaan lebih yang merusakan persahabatan kami bertiga. Tetapi, yang namanya hati memang susah ditebak. Saya bisa saja acuh dan tidak menanggapi segala perhatian dan kebaikannya, namun hati saya merespon itu. Perlahan-lahan saya menyukai dia, sahabat saya sendiri.
Suatu kali, kami bertiga pergi ke taman bermain. Saat itu, Han sering kali menggandeng tangan dan menepuk kepala saya. Saya merasa nyaman. Kami menghabiskan berjam-jam yang menyenangkan. Kami bertiga bahagia. Dan saat itu saya berjanji dalam hati untuk menetralkan perasaan saya, pun juga Han.
Ketika kami berdua sudah mulai bisa menetralkan perasaan, masalah lain terjadi. Ven mengungkapkan kalau dia suka dengan Han. Saya terkejut dan tak tau harus berkata apa. Dia meminta saya untuk membantunya pendekatan ke Han. Saya ingin menangis.
Ven  benar-benar menunjukkan ketertarikannya pada Han. Dia mulai melakukan pendekatan-pendekatan dan perhatian-perhatian yang membuat saya merasa risih dan tak nyaman berada diantara mereka berdua.
Dan pada puncaknya, dia mengungkapkan isi hatinya kepada Han. Di saat itu saya takut, kalau mereka menjadi pasangan, bagaimana dengan saya?
Han menolak dengan halus. Ven sakit hati, dia tak bisa menerima penolakan itu. Han pun menjadi dingin dan acuh pada Ven.
Bagaimana dengan saya?
Saya marah. Saya kesal kepada mereka. Tiap kali saya mendekati Han, Ven akan melirik dengan kecemburuan yang tak tertutupi. Berbulan-bulan lamanya, hubungan kami bertiga menjadi kaku. Kami yang biasa tertawa bersama, kini hanya terdiam. Tak banyak yang kami bicarakan. Dan sampai kelulusan sekolah, persahabatan kami tak lagi lekat seperti dulu. Keadaan berubah, kami berubah, semuanya tak sama lagi…
 
Ps :
Buat Ven dan Han, kalau suatu saat menemukan tulisan ini dan berpikir “ kok beda dengan yang kita alami ya, Ay? “ Hihihihi. Memang iya, untuk membuatnya saya menambahkan sedikit bumbu di beberapa bagian.^^
Buat Ven, saya masih belum puas untuk mengucapkan selamat untuk pernikahanmu! Satu dari sekian kabar menggembirakan untuk saya.^^
Buat Han, makasi ya udah menemani saya di pernikahan Ven. Semangat untuk tugas akhirnya. Kamu pasti bisa melaluinya.^^
***
Ps lagi : ketika tadi iseng buka-buka draft, ternyata menemukan tulisan ini. waktu itu niatnya di post beberapa hari setelah pernikahan Ven. Ah, kenapa saya bisa lupa ya waktu itu~
 
Tersenyum lebar,
AY

Tuesday, March 11, 2014

Pergi~


Ketika ada orang yang “pergi” dari kehidupan kita, baik itu sengaja maupun tidak sengaja, itu karena satu alasan: waktu mereka bersama kita telah selesai.
– Theoresia Rumthe
 
Selama 24 tahun hidup, banyak orang yang silih berganti datang di hidup saya. Beberapa hanya mampir sebentar kemudian pergi tanpa pamit, beberapa bertahan cukup lama kemudian pergi menyisakan kenangan dan beberapa lainnya mampu menetap di samping saya hingga saat ini.
Apakah saya membenci orang-orang yang pergi meninggalkan saya? Tidak sama sekali. Saya hanya kecewa dan bertanya-tanya di dalam hati; kenapa meninggalkan saya?. Ada beberapa bagian dari diri saya yang tidak dapat menerima kepergian orang-orang itu. Dan bagian lainnya yang mengatakan bahwa orang itu pergi karna saya bukan orang yang layak untuk dipertahankan. Entahlah..
Pada dasarkan, saya orang yang paling takut ditinggalkan, apalagi dilupakan. Saya tidak bisa sendirian, harus ada seseorang yang menemani. Saya begitu bergantung pada orang lain. Tapi itu dulu…
Dengan berlalunya waktu, saya belajar untuk tidak selalu bergantung pada orang lain, saya harus mampu melakukan berbagai hal sendirian. Banyak hal yang membuat saya berubah, orang yang pergi dari hidup saya contohnya.
Saya tidak begitu peduli dengan orang-orang yang pergi dalam hidup saya – hanya untuk orang-orang yang menempati bagian kecil di hati saya. Tapi saya begitu kalut ketika orang yang berarti dan saya perdulikan pergi begitu saja, tanpa kata dan menganggap hari-hari yang lalu tak ada artinya. Saya memang tidak punya hak untuk menahan kepergiannya, karna itu pilihannya. Pilihannya untuk pergi dari hidup saya.
Mungkin waktu mereka bersama saya sudah selesai, dan saya tak patut untuk terus mengharapkan kedatangan mereka kembali.  Ada hal-hal baik lainnya yang harus saya perjuangkan ketimbang harus duduk termenung, menanti orang-orang itu kembali di hidup saya. Saya berusaha untuk mengikhlaskannya.
Kamu, bukan waktunya untuk terus menengok ke belakang demi mencari-cari orang yang telah pergi. Yang harus kamu tau, masih banyak orang yang sampai saat ini setia disisimu, pedulilah pada mereka. - saya menggumamkannya dalam hati.
Untuk orang-orang yang pergi, saya akan berusaha menerimanya dan saya percaya sengaja maupun tidak sengaja, mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya…


Sunday, November 10, 2013

Seorang Perempuan...

" Berkali-kali saya terjatuh, berkali-kali itu pula saya bangkit berdiri. Saya paksakan diri saya untuk mengatasi semuanya. Saya tak tahu sampai kapan saya dapat kembali bangkit ketika nantinya saya terjatuh lagi. Saya teramat lelah. Sungguh... " - Seorang perempuan.


Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang memiliki banyak beban dan tekanan di dalam hidupnya. Seorang anak pertama dengan beberapa adik yang masih sekolah. Dengan ayah yang tak punya pekerjaan dan ibu yang mengambil peranan dalam mencari nafkah untuk keluarga.

Si perempuan adalah sosok yang begitu tertutup. Dia tak mengijinkan seorang pun untuk melihat isi hatinya, dia tak mau ada orang lain yang tahu bahwa selama ini dia seringkali menderita. Si perempuan selalu memasang wajah 'saya baik-baik saja' di depan semua orang. Dan dia berhasil membuat semua orang percaya bahwa dia baik-baik saja, dia bahagia. Si perempuan berhasil dengan tipuannya.

Seringkali dia terbahak-bahak, bercanda dengan teman-temannya, tetapi hatinya gelisah. Hatinya menangis. Tapi dia tak ingin orang lain tahu. Si perempuan tak ingin orang lain mengkhawatirkannya.

Dia sadar bahwa sebagai anak pertama tentunya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Dia harus mampu membantu keuangan keluarga, membiayai sekolah adik-adiknya, menahan diri mati-matian untuk tidak marah kepada ibunya yang selalu menuntut ini-itu, terutama menahan amarah kepada ayahnya yang merendahkannya seolah dia tak berguna banyak dalam keluarga.

Si perempuan teramat ingin untuk dapat membiayai semuanya. Namun dirinya hanya pegawai kantoran biasa dengan gaji yang menurut si ibu tak cukup. Ditambah dengan tumpukan hutang yang entah kapan dapat terbayar lunas. Si perempuan berusaha untuk tegar.

Si perempuan punya harapan kecil. Dia ingin melepaskan segala kelelahan dan kepenatan kerja dengan obrolan sederhana bersama keluarganya. Namun seringkali, ketika pulang dari kantor, dia mendapati kedua orangtuanya sedang bertengkar. Dia hanya mampu menangis dalam diam, menyembunyikan hatinya yang hancur.

Dengan begitu banyaknya tekanan, dia hanya dapat menyalahkan dirinya yang begitu lemah, dia memaksakan dirinya untuk berusaha lebih dan lebih lagi. Seluruh hidupnya saat ini hanya untuk keluarganya. Membantu keluarga semaksimal yang dia bisa.

Perempuan itu lupa bahwa dia pun harus mencari kebahagiaan untuk dirinya, dia pun harus menata diri untuk hidupnya di hari-hari mendatang. Tapi dia menepiskannya. Dia terlalu khawatir akan orang tua dan adik-adiknya. Dia rela mengorbankan kebahagiannya asalkan orang-orang yang begitu dikasihinya hidup berkecukupan dan bahagia.

Saat ini yang bisa dilakukan si perempuan adalah meneruskan memasang wajah palsunya yang 'baik-baik saja' di depan semua orang, menahan air mata kuat-kuat agar tak jatuh menetes, menguatkan diri bahwa dia mampu mengatasinya dan menanti setitik harapan untuk segala permasalahan itu...