Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Thursday, September 1, 2016

September :)

 
Rasanya baru kemarin saya mentertawakan status teman di path ketika dia say goodbye di bulan Januari, sekarang malah sudah masuk September. Membuat saya kembali mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan selama 8 bulan ini. Lo udah berbahagia sebanyak-banyaknya belom? Hampir. Saya sih maunya bahagia terus ya, tapi lagi-lagi hidup gak mungkin berjalan begitu mulus, akan ada kerikil-kerikil yang membuat kakimu tergores. Tidak apa-apa, anggaplah itu sebagai pengingat untuk kita selalu bersyukur dalam kondisi apa pun.
 
Sekitar 3 bulan yang lalu, saya sempat galau dan panik. Malu kalau saya harus ceritakan di sini. Tapi, lagi-lagi rencana Tuhan memang ajaib ya, Dia hilangkan segala galau dan kepanikan saya tepat pada waktuNya. Dan saya bersyukur, semoga kali ini memang benar jawaban dari Tuhan. :)
 
September adalah bulan kedua yang saya suka setelah Desember. Kalau di luar, September itu bulan yang menggantikan Summer ke Autumn. Iya, saya suka musim gugur, melihat daun-daun yang berubah merah kecoklatan. Bahkan saya punya keinginan untuk pergi ke suatu negara di bulan September, menikmati dedaunan yang gugur sambil merapatkan jaket dan menyeruput peppermint tea yang masih mengebul. Mudah-mudah keinginan saya ini tercapai, entah taun depan atau beberapa tahun lagi.^^
 
Dan di akhir September nanti, usia saya pun bertambah. Sempat sih mikir, 'ya ampun, tua banget deh gueee!', Tapi, mau bagaimana pun, mau saya merengek-rengek pun, tidak akan membuat hari berjalan lebih lambat. Ya, kan? :p
 
Oya, di bulan lalu saya sempat ikutan lomba menulis cerpen lagi, saya gak berharap menang sih tapi seandainya menang berarti saya mendapatkan kado yang manis. Karna pengumumannya jatuh mendekati akhir bulan September. Semoga aja ya, semoga. :D
 
Hm, saya juga tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan, asli deh taun ini saya benar-benar sibuk. Saya pun sedang ada project bersama adik dan mami saya dan kami sedang sibuk mempersiapkan berbagai hal untuk di bazaar yang akan diadakan tanggal 10 September nanti. Tinggal 9 hari lagi! Rasanya takut persiapannya kurang maksimal deh. Mudah-mudahan acaranya berjalan lancar dan orang-orang yang mampir di booth kami menyukai produk kami. :)
 
Terakhir, di bulan ini saya mau belajar lebih bersyukur dan tentunya lebih berbahagia biar bisa menularkan kebahagiaan ke orang-orang yang saya sayang. :')
 
Love,
Ay. 
 


Sunday, August 21, 2016

Kisah Kedai Kopi

 “Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
Kalimat itu selalu terucap dari Mahesa, seorang barista sekaligus pemilik kedai kopi. Aku suka mengamati laki-laki itu ketika bekerja, senyumnya selalu meninggalkan kesan manis. Kak Hesa, aku memanggilnya demikian, adalah seorang sosok laki-laki yang menarik, cara dia melayani pelanggan – dengan senyum yang tak pernah lepas tercetak di wajahnya, cara dia bergurau dengan barista lainnya seakan tidak ada batasan antara pemilik dan pegawai serta cara dia meracik kopi yang seakan ada aura menyenangkan yang ikut masuk ke dalam kopi buatannya.
Ah, dan aku juga suka dengan nama kedai kopi ini. Asal Mula Kopi. Membuat setiap orang penasaran dan memiliki banyak persepsi atas nama tersebut. Uniknya, Kak Hesa tidak pernah benar-benar menceritakan kisah dibalik nama itu, dia ingin setiap orang menerka-nerka sendiri dan tidak ingin membatasi pandangan orang lain.
Sambil menyeruput teh melati yang masih panas, aku kembali mengamati setiap sudut kedai itu. Asal Mula Kopi bukanlah kedai kopi yang besar. Hanya ada 4 meja persegi dengan setiap mejanya diisi 4 bangku serta 2 meja bundar yang diisi oleh 2 bangku. Di atas tiap meja dihiasi oleh satu botol kaca berisi biji kopi dan setangkai bunga baby's breath, sentuhan feminin untuk tempat yang bisa dibilang lebih cocok menjadi tempat nongkrong para pria.
Interior dalam dari bata merah dengan bohlam-bohlam yang menggantung di langit-langit membuat kedai ini terasa hangat dan nyaman. Tidak seperti kedai kopi kebanyakan, Asal Mula Kopi menawarkan kopi-kopi asal Indonesia yang ditaruh pada kotak-kotak kaca besar yang diberikan keterangan: Luwak, Jawa, Bali, Sumatera, Toraja, Lanang, Aceh Gayo dan Wamena.  Setiap orang yang datang dapat memilih langsung ingin diseduhkan kopi apa dan mereka diperbolehkan mencium biji kopi yang ditawarkan. Penyeduhannya pun tidak memakai mesin kopi yang canggih, Kak Hesa masih menggunakan cara lama – pour over, dia pernah bilang kalau rasa kopi dan baunya akan semakin keluar.
Hampir setiap hari aku datang ke sini. Tetapi, aku bukanlah pecinta kopi. Aneh? Memang. Setiap datang ke sini aku hanya memesan minuman yang selalu sama, teh melati dengan ditemani sepotong roti bakar mentega.
“Vanda, aku tinggal dulu ya.” Kak Hesa pamit, dia harus membantu melayani pelanggan yang datang.
Aku pun tersenyum dan mengangguk, mengerti bahwa dia perlu melayani. Akan ada waktunya kami berbincang-bincang dan bercerita tentang satu hari yang dilalui.
Pandanganku beralih ke meja-meja lain. Sore ini hanya 3 meja yang terisi. 1 meja bundar yang diisi oleh sepasang kekasih – kalau aku amati dari cara mereka yang saling memandang, 1 meja persegi berisi 3 orang mahasiswa yang sibuk dengan laptop masing-masing dan aku yang duduk sendiri di meja bundar. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tidak memperdulikan para pengunjung yang silih berganti datang untuk memesan kopi kemudian keluar lagi dari kedai.
Aku kembali mengarahkan pandanganku kepada Kak Hesa yang baru saja menyerahkan 1 cup kopi kepada pengunjung yang datang. Aku menatapnya lekat-lekat. Orang yang aku tatap pun sadar dan dia tersenyum.
I love you.” Kak Hesa mengucapkannya tanpa suara serta memberikan satu kedipan, membuatku tersipu malu. Dia memang paling bisa membuat aku salah tingkah.
Aku melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 6 sore. Aku menghabiskan teh melati yang sudah dingin itu dan memasukkan potongan terakhir roti bakar mentega. Sambil mengunyah, aku rapikan buku-buku yang tersebar di meja, memasukkannya kembali dalam tas.
“Yuk.” Kak Hesa sudah berdiri di depanku, apron yang seharian dia pakai sudah dilepas.
 “Dim, gue cabut duluan. Jaga kedai ya!” Pesan Hesa kepada staffnya.
“Siap Pak Bos! Selamat berkencan,” ledek Dimas.
Aku tertawa kecil mendengarnya, “ makasih Dimas yang sampai saat ini masih jomblo.” Gantian aku meledeknya. Sebelum Dimas buka suara, aku buru-buru menarik tangan Kak Hesa dan mengajaknya keluar dari kedai.
“Aku laper banget,” rengekku setelah berhenti menertawakan Dimas dari luar kedai.
“Kamu mau makan apa?”
“Kwetiaw siram!” Ucapku dengan semangat.
“Di tempat biasa?”
Aku mengangguk.
“Kita ke sana dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Kali ini kamu harus habisnya satu porsi. Gak boleh sisain makanan, ngerti?” Ucap Kak Hesa, galak.
Aku mencibir, “ iyaaaa… yukk, laper nih.”
Kak Hesa menatapku gemas. Dan aku membalasnya dengan cengiran.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?” Ucap Dimas secara spontan tiap kali ada pelanggan yang datang.
“Biasa ya, bro,”pesan orang itu.
“Oke, Bro!” Dimas mengambil Aceh Gayo dan mulai menyeduh sedangkan si pemesan kembali keluar dari kedai.
Bayu, nama orang itu. Dia menyelipkan sebatang rokok diantara bibirnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri foto. Banyak tersimpan foto-foto dia bersama seorang perempuan cantik, saat makan malam, bermain di pantai bahkan foto-foto selfie dengan berbagai mimik muka. Bayu meremas handphonenya.
“Brengsek!” Makinya.
“Aceh Gayo,” sodor Dimas. Dia ikut menemani bayu duduk di depan kedai dan mulai menyalakan rokok.
“Lo masih belom bisa lupain dia?” Tanya Dimas.
Orang yang ditanya hanya diam sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Gue emang apes ya dapet cewek yang cuma cantik luarnya aja,” kata Bayu dengan nada sinis.
“Bagus lo udah lepas dari dia.”
“3 tahun, Dim. Bukan waktu yang sebentar. Dan demi cowok bajingan tajir, dia ninggalin gue. Bangsat!”
Dimas -melihat gelagat Bayu yang emosinya mulai meninggi, merangkul cowok itu.
“Lo tunjukin sama dia, tunjukin karna dia udah ninggalin lo. Lo harus melebihi si sampah itu.”
Bayu meneguk kopinya, menghisap rokoknya kembali.
“Lo bener, gue gak akan kalah sama si bajingan!”
“Lo gak akan kalah!” Dimas menegaskan.
“Thanks.”
Keduanya kembali terdiam, menghisap rokok dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Gue cabut dulu,” pamit Bayu, mendadak. Meninggalkan kopi yang isinya masih setengah.
“Telpon gue kalo lo butuh bantuan.”
Bayu mengangguk.
Kalau pikirannya tidak kacau, dia pasti akan berlama-lama di kedai itu. Entah mengapa, dia amat menyukai Asal Mula Kopi.
Dia mengenakan helm dan menarik sleting jaketnya. Kemudian mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
“Dim, gue pesen Luwak dengan susu,” pesan seorang cewek.
“Siap!”
Dia menempati meja bundar di sebelah pintu masuk lalu mengeluarkan laptopnya. Kayla menyukai kedai itu, dia dapat menghabiskan berjam-jam di sana. Menurutnya, kedai kopi ini memiliki daya tarik tersendiri dan membuat inspirasinya mengalir.
Dia menyalakan laptop dan membuka salah satu file. Dalam sekejap, dia sudah tenggelam dalam kesibukkan. Jari-jarinya bergerak dengan cepat mengetikkan kata demi kata. Dia harus sesegera mungkin menyelesaikan naskah itu.
“Kapan deadline naskah lo?”Tanya Mira, satu-satunya barista cewek di sana. Dia meletakkan pesanan Kayla disebelah laptop.
“Minggu depan! Astaga, rasanya gue bakalan ngerayu editor gue buat perpanjang waktu. Gak bakalan keburu nih.”
“Udah sampe mana emangnya? Masih banyak yang perlu diselesaikan?”
“Sekitar 7 bab lagi, rasanya gue akan ke sini setiap hari. Lebih lancar ketimbang gue nulis di tempat lain.”
“Selama seminggu ke depan, gue bakal kosongin meja ini khusus buat lo,” ucap Mira.
“Lo baik banget deh, Mir.”
“Demi lo nih. Semangat!”
“Semangat!”Ulang Kayla.
Mira meninggalkan cewek itu, dia tak ingin lama-lama mengganggu Kayla.
Kayla menyeruput kopinya, wangi kopi dan susu bercampur jadi satu. Perpaduan rasa yang pas di lidahnya.
Dia pun melihat sekeliling Asal Mula Kopi. mencari-cari inspirasi untuk bahan tulisannya. Kayla tersenyum, kemudian mulai melanjutkan tulisannya.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
“Kopi favorit di sini apa?”
“Aceh Gayo, Luwak dan Toraja Pak.”
“Baik, saya pesan Luwak.”
“Saya Aceh Gayo,”pesan  yang satunya"
“Ada tambahan lain?"
“Itu saja.”
“Baik, silahkan menunggu pesanannya, nanti akan kami antar.”
Kedua pria di atas 40 tahun itu memilih duduk di meja persegi yang lebih luas dan leluasa.
“Tempat yang menarik,” ucap salah satunya, matanya menjelajah kedai kopi itu.
"Seperti kembali ke jaman muda ya?”Sahut yang lainnya.
“Ya, benar. Saya pun tau dari beberapa staff saya yang suka datang ke sini. Gak ada salahnya kan kita mencoba, tempatnya tidak gaduh dan cocok untuk meeting. Saya bosan berbincang dengan klien di tempat dan suasana yang selalu formal.”
“Saya setuju. So, bagaimana kelanjutan bisnis kita?”
***
Sebuah kedai kopi memiliki banyak kisah. Ada orang yang datang hanya sekedar ingin menghilangkan rasa kantuknya, ada yang menghabiskan waktu seharian dan ‘melarikan diri’ sejenak dari rutinitas, ada yang sibuk berbisnis, ada yang tengah menyelesaikan pekerjaannya, ada pula yang memilihnya sebagai tempat kencan.
Asal Mula Kopi salah satunya, tempat di mana setiap harinya ada kisah-kisah baru dari orang yang berdatangan. Tempat di mana setiap orang membagi waktu mereka di dalam kedai, menikmati tiap detik dengan ditemani kopi favorit...
End.
***
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory yang diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Love,
Ay

Wednesday, May 25, 2016

Seseorang yang Baik


Jadilah seseorang yang baik. Saya selalu mengucapkannya pada diri saya. Entah mengapa, menjadi baik terasa lebih mudah saya lakukan ketimbang berbuat jahat. Berbuat tidak baik itu lebih melelahkan lho.
Dalah hidup saya, ada orang-orang baik yang datang dan pergi. Yang walau sesusah payah apapun saya berusaha, tetap tidak dapat membalas semua kebaikan mereka. Makasi Tuhan telah mengirimkan mereka. Terima kasih untuk pernah mampir di hari-hari saya. ^^
Tapi, tidak semua orang itu baik, Ay!
Iya, saya tau kok.
Banyak orang-orang palsu!
Iya, saya bisa membedakannya.
Kalau kamu dijahati, apa masih akan tetap baik?
Hmm.. ya. Saya tidak ingin berubah menjadi seperti mereka.
Bagaimana dengan orang-orang yang menyakitimu?
Ah, ya. Saya pernah terluka tak terhitung banyaknya. Tak banyak yang dapat saya lakukan, saya bukanlah orang yang dapat membalas ketidakbaikan itu. Saya lebih memilih melupakannya, menyingkirkan kesakitan itu sejauh mungkin. Karna hidup saya terlalu berharga hanya untuk meratapi luka-luka saya. Saya tidak ingin hidup seperti itu.
 Jadilah seseorang yang baik. Saya tak pernah bosan mengucapkannya. Seberapa pun tekanan disekitarmu, seberapa pun banyak orang-orang palsu, kamu tetaplah menjadi orang yang baik.
Oh ya, ada satu kalimat Fa (seorang penulis favorite saya) yang saya tulis dan tempelkan di meja kantor:

Karena pasti ada,
entah di persimpangan mana,
seseorang yang bersedia mengingatmu selamanya di hatinya. :)

Tidak ada ruginya menjadi orang yang baik, setidaknya kamu akan memiliki tempat di sudut hati orang lain. ^^

Love,
Ay.

Monday, April 4, 2016

Pindah

Tulisan ini kelanjutan dari postingan 'Pergi'. Entah kenapa saya ingin melanjutkannya kembali. Belakangan ini saya mendengar banyak kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk pindah kantor. Beberapa diantara mereka cukup dekat dengan saya. Kita banyak berbagi cerita. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Dari saling meledek sampai menggalau bareng.

Di bulan lalu, saya mendengar 4 orang teman saya yang memutuskan berpindah tempat. Oh, ditambah satu lagi teman dari pihak principal yang pindah. 5 orang. Bukanlah jumlah yang sedikit. Ketika nanti sudah tidak di dalam satu perusahaan lagi, meskipun ada ucapan: keep in touch ya! tetaplah tidak akan sama. 

Dan ketika saya mendengar kabar itu, hati saya seakan kosong. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang nantinya tidak sama lagi. Entah mengapa, saya jadi merasa takut ditinggalkan. Padahal saya sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, setiap kali ada orang yang pergi, rasanya masih selalu sulit untuk dimaklumi, untuk diikhlaskan. 

Iya, saya tau, selalu ada 'indah' disetiap 'pindah', keputusan mereka adalah sepenuhnya hak mereka dan saya tidak punya hak untuk mencampurinya. Saya hanya mampu untuk mendoakan agar hidup mereka akan semakin baik dan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. 

Walau sulit, tetapi saya bilang sekali lagi pada diri saya bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya. Terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi bagian dari hidup saya. :')

Ps: Jadi, kamu kapan pindah Ay?

Monday, February 1, 2016

Goodbye January

Tadi pagi waktu buka path ada temen yang posting ini: Dear January, I'm sorry, but I can't be with you anymore. I've met someone else. His name is February~

Waktu pertama baca tuh langsung ketawa aja, gak tau kenapa. Tapi, habis itu langsung mikir: 31 hari di tahun 2016 udah selesai..

Kalau dibilang takut, iya, saya takut menghadapi hari-hari yang semakin cepat. Intensitas bertukar pikiran dengan temanmu semakin sering. Pikiran-pikiran yang mengganjal harus dikeluarkan agar otak dan hati saya lega.

Bulan Januari bisa dibilang bulan yang sibuk. Dari awal masuk kerja, ada aja kejadian-kejadian tidak mengenakkan, belum lagi kerjaan yang semakin lama semakin buat saya stress dan akhirnya pelarian saya adalah mencari tempat hiburan! Baru awal tahun aja saya udah kangen banget mau liburan, mau pergi ke tempat yang banyak pohonnya, yang jauh dari keramaian dan gedung-gedung pencakar langit.

Di bulan Januari kemarin pun ada banyak sekali hal yang terjadi. Di kantor, saya dipromosikan untuk naik jabatan. Kalau orang lain melihatnya sepertinya hebat, tapi saya sendiri biasa aja. Gak terlalu antusias sebenarnya. Hahaha.. Mungkin balik lagi, seberapa lamanya pun saya di kantor yang sekarang, sejujurnya pekerjaan ini bukanlah passion saya. Tetapi jika saya menolak tantangan yang diberikan kok rasanya saya seperti 'menyerah sebelum perang dimulai' ya. Kok rasanya pengecut sekali. Jadi, akhirnya saya putuskan untuk menerimanya dan saya tau pasti banyak hal yang bisa saya pelajari.

Saya menerima tantangan itu juga karna saya terlanjur sayang dengan direktur saya (anyway, direktur saya ini cewek, entah kenapa saya menghormatinya dan saya anggap dia ibu kedua setelah mami saya). Dibilang dekat banget, saya gak begitu dekat dengan beliau, tapi saya amat respect dan entah lah.. sulit diungkapkan.. Seperti sebelum-sebelumnya, saya masih galau. Masih mikir, mau sampai kapan bertahan di sini?

Saya merubah gaya hidup! Tahun ini resolusi saya gak semuluk tahun-tahun sebelumnya. Saya mau sehat dan membahagiakan diri. Itu aja. Dimulai dari saya yang kembali ikut gym di salah satu fitness center, saya yang mulai merubah pola makan saya. Dan so far, saya sudah merasakan efeknya. Metabolisme tubuh saya juga semakin baik. satu hal baik yang saya dapatkan di bulan Januari kemarin. :)

Saya mencari kegiatan yang menarik! Karna sudah disibukkan dari senin-jumat di kantor, saya mau mengisi weekend dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Saya beberapa kali datang ke LOJF (Light of Jesus Feast), kalau ini udah dari desember kemarin, dan ikut acara itu begitu menyenangkan dan menenangkan. Selalu ada hal baik yang saya terima. Dan setiap kali selesai Feast, hati saya lebih damai. 

Kemarin, untuk menutup bulan Januari, saya menghabiskannya di arena tembak. Ternyata menembak seru dan menyenangkan. Saya baru tau kalau senapan itu berat, tarik kokangnya juga berat, banget. Sampai-sampai instructornya standby di sebelah saya, dia yang bantuin tarik kokang dan memasukkan pelurunya. Baik ya. ^^ Oh, sempat pesimis dan malu sih kalau saya tidak bisa menembak tepat sasaran. Tapi..... ternyata bisa kok! saya selalu menembak di lingkaran hitam. Rasanya bakalan mau nembak lagi nih kapan-kapan. :D

Dan akan merencanakan untuk melakukan kegiatan menyenangkan lainnya. Pokoknya di tahun ini mau berbahagia sebanyak-banyaknya! Karna masalah pun semakin banyak, jadi harus diimbangi dengan berbahagia, kalau gak bisa makin stress. ya gak? :p

Love,
Ay

Friday, January 1, 2016

2016

Hai, apa kabar? Bagaimana hari pertama di tahun 2016? Bangun siang kah? Atau belum tidur sama sekali? 

mau bagaimana pun kamu, kamu dan saya memulai hari baru ini, saya harap ini awal yang baik. Awal untuk kembali menyelesaikan apa-apa yang belum terselesaikan, untuk memulai sesuatu yang baru dan untuk menjadi pribadi yang lebih menyayangi diri.

satu hari sebelum pergantian tahun saya menghabiskannya sendiri. Tidak benar-benar sendiri sebenarnya. Saya ditemani sebuah novel dan segelas teh kietna dingin serta orang-orang yang berlalu lalang. 

Bisa dibilang tanggal 31 kemarin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun-tahun yang lalu saya biasa menghabiskannya dengan teman-teman, entah untuk bbqan, masak-masak yang diakhiri dengan curhat-curhatan di ranjang atau pun kumpul-kumpul dengan keluarga. 

Tapi, tahun ini saya tidak melakukan itu. Beberapa orang menanyakan rencana saya di pergantian tahun dan saya jawab tidak ada. iya, saya tidak punya rencana apa pun.

Sampai sore harinya saya memutuskan untuk pergi ke mall sendirian. Sepertinya saya butuh 'me time'. Saya ingin memberikan apresiasi lebih kepada diri saya, untuk tahun yang bisa dibilang teramat membuat saya lelah. 

sehari sebelum pergantian tahun saya membeli 2 buah buku, hadiah kecil untuk diri saya. Saya pun langsung mencari tempat yang nyaman untuk membaca salah satunya. 

Sebuah buku dan teh kietna dingin. Hanya dengan dua itu saya sudah merasa senang. Hei, bahagia itu sederhana ya. :) 

Saya pun menyempatkan untuk merenung, mengingat-ingat hal-hal yang terjadi sepanjang tahun 2015. Dan saya bersyukur. Memang ada hal-hal yang membuat hari saya berantakan, tetapi saya mampu melaluinya karna Tuhan saya selalu bersama saya. 

Saya bersyukur untuk setiap hal-hal kecil yang terjadi. Dan ya, saya bertumbuh. 

Terima kasih untuk setiap kejadian yang lalu-lalu, untuk setiap pembelajaran yang saya terima, untuk setiap air mata yang menetes, untuk setiap penguatan. 

Di tahun 2016 saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan tentunya yang mampu untuk menyanyangi diri saya kemudian menyayangi orang-orang yang memang layak untuk saya sayangi.

Selamat memulai tahun ini. God bless^^

Love,
Ay.


Monday, December 21, 2015

Kabar Tentang Teman Lama

Kemarin malam, tiba-tiba ada seseorang yang ngechat saya via whatsapp. Orang itu hanya menulis 2 kata: woi jelek.

Saya mengerutkan kening ketika membacanya dan mikir, “ih, siapa sih nih? Salah chat kali ya.” Dan dengan malas saya membalas chatnya, “ini siapa?”

Dia        : Rico. Siapa lagi. Wkwkwkwk… Gak inget sama gw :(
Saya      : Rico siapa? Fotonya gak muncul.
Dia        : Rico temennya Sipit
Saya      : oh.. hahahahah
Dia        : Sombong nih, masa sama temen nongki gak inget.
Saya      : Ye, lagian tau2 chat manggil jelek, gak ada fotonya dan nomornya gue gak tau.
Dia        : hahahahah.. maklum gak ganteng.
Saya      : gue udah lupa kapan terakhir nongki bareng. Semacem puluhan taun yang lalu.
Dia        : tua amat kayaknya gw. Da hampir setaun.
Saya      : lebih. Gue aja gak ketemu Sipit 2.5 tahun.
Dia        : Iya.. wkwkwkwk.. kan lo ke korea.. gimana kabar?

Begitulah chat saya dan Rico di awal. Entah dapat info dari mana kalau saya ke Korea, padahal saya belum pernah ke Korea. Soon! Mudah-mudahan.

Rico ini teman saya dari jaman putih abu-abu. Dia segeng dengan Pemao aka Alay (kisah mereka banyak saya ceritakan di blog Summer3angle).  Saya sama sekali tidak akrab dengan Rico ketika SMA, tidak pernah bertegur sapa. Dia tipe-tipe cowok yang saya hindarin. Tukang rusuh, anak genk. Tapi seperti Alay, saya pun menjadi akrab dengan Rico. Ya walaupun kedekatan saya dengan Rico tidak sedekat saya dengan Alay. Tapi, kami menjadi teman main.

Seperti Alay yang saya anggap troublemaker, tapi ternyata dia baik banget dan kita jadi teman baik sejak kelas 3 SMA. Rico pun demikian.

Saya, Rico, Sipit dan Podeng menjadi akrab sejak pertengahan kuliah. Rico dan Sipit sering diajak Alay untuk nongkrong bareng dan akhirnya kita semua akrab. Sedangkan Podeng, saya akrab dengannya sejak sama-sama jadi panitia Reuni SD pada tahun 2009.

Karna satu dan banyak hal pertemanan kami renggang, terutama saya dan Sipit. Dan kita akhirnya disibukkan dengan urusan masing-masing. Tanpa terasa tahun berganti begitu cepat. Terakhir saya bertemu Alay sepertinya akhir tahun lalu, dengan Podeng awal tahun ini, dengan Rico? Sepertinya pertengahan tahun lalu, itu pun gak sengaja bertemu karna kita sama-sama berada di kedai susu favorit saya. Rico dengan teman-temannya, saya dengan teman-teman saya.

Saling bertanya kabar dan mengetahui keadaan masing-masing membuat saya banyak berpikir. Betapa banyak kejadian terlewatkan. Kita janjian untuk ngumpul lagi di bulan januari, di café milik si Alay. Iya, sekarang Alay udah punya café. Hebat ya. ^^

Chat kita terus berlanjut dan sampailah pada suatu kalimat yang saya gak pernah pikirkan, “udah jarang nongki. Kan adik gw lagi di kemoterapi. Jadi sekarang lagi fokus sama adik gw dulu.”

Adiknya Rico baru masuk SMA, cewek, kena kanker getah bening dan udah dikemo selama setahun. Saya sampai gak tau harus membalasnya seperti apa. Saya tau dia gak ingin dikasiani. Dan saya kebanyakan membalasnya dengan kata ‘Oh..’

Saya sedih. Dan saya gak tau harus berbuat apa. Mungkin dia butuh teman untuk mendengarkan keluh-kesahnya. Mungkin dia butuh teman yang bisa membuatnya terhibur. Rico anak pertama, tanggung jawabnya terhadap keluarga begitu besar. Saya paham itu, karna saya pun demikian.

Dan sejujurnya dalam 2 hari ini saya mendapatkan curhat dari orang yang kena kanker lebih dari satu orang. Pertama, seseorang yang divonis kena kanker tulang belakang (saya gak bisa sebutin namanya di sini) saya kalut mendengarnya, saya hanya bisa menguatkan dan menyemangatinya melalui kata-kata dan doa. Kedua, adiknya Rico yang kena kanker getah bening.

Bulan desember, bulan yang saya sukai, tetapi ada hal-hal tidak baik yang saya dengar.
Jangan pernah berpikir masalahmu paling berat, hidupmu sengsara dan nelangsa karna ada begitu banyak orang di luar sana yang punya masalah yang lebih berat. Tetap lah berjuang, tetap lah percaya akan rancangan Tuhan.

Masalah saya pun banyak. Berat? Iya. Tetapi saya diberi penguatan dan menjadi tempat mendengarkan permasalahan orang lain adalah salah satunya.

Ps: saya dan kalian punya permasalahan masing-masing. Mengeluhlah secukupnya, bersyukurlah sebanyak-banyaknya.

Love,
Ay.

Tuesday, December 15, 2015

Desember. Perjalanan. Bagasi


Banyak hal yang saya sukai. Saya suka memandang langit berawan. Saya suka rintik hujan. Saya suka menggambar. Saya suka menulis. Saya suka bercerita tentang hari-hari saya kepada orang-orang yang saya percaya. Saya suka dengan pendar bintang dan kerlipan kunang-kunang. Saya suka anak-anak. Saya suka mendengarkan keluh-kesah teman-teman saya. Saya suka bepergian ke tempat-tempat baru dan saya suka bulan Desember. Entah sudah berapa banyak yang tau kalau saya amat menyukai bulan ini.
Setiap bulan Desember tiba, hati saya dipenuhi kehangatan. Ada perasaan nyaman dan damai di dalamnya. Entah dari mana datangnya, saya tidak tau. Walau di 31 hari di bulan itu ada hal-hal buruk yang terjadi, tapi tidak menghilangkan rasa hangat di hati saya. Di bulan Desember, saya seperti diberikan kekuatan lebih untuk menjalani hari-hari saya.
Bulan Desember di tahun ini pun sudah lewat setengahnya. Ah, kenapa begitu cepat? Seriously, saya tidak ingin cepat-cepat berakhir. Karna menunggunya lagi butuh 11 bulan. Waktu yang tidak sebentar.
Hal baik dan buruk pun terjadi di bulan ini. Menyerahkan saya? Tidak. Menangiskah saya? Sedikit.
Sayang, catat ini: menangislah secukupnya dan berbahagialah sebanyak-banyaknya.
Di bulan ini pun saya banyak mengikuti kegiatan. Saya ingin terus menata diri saya, memperbaikinya di berbagai sisi, tidak untuk menjadikan diri saya sempurna tetapi menjadi ‘saya yang lebih baik dari sebelumnya’.  
Minggu lalu saya ikut acara gereja, saat itu temanya ‘Forgiving’. Dari sekian menit pembicara membawakan topik itu, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Everyday, everybody will hurt you. Everyday, you must forgive someone.
Before you forgave someone, try to forgave yourself first.  
Kira-kira begitulah yang pembicara itu ucapkan (dan maafkan kalau kalimat yang saya tulis salah, you know, kemampuan bahasa inggris saya minim. Correct me if I’m wrong ya. Hehe)
Kalimat itu membekas di hati saya dan tanpa sadar saya mengangguk-anggukan kepala saat mendengarnya. Memaafkan diri sendiri, kedengarannya begitu mudah. Tapi, faktanya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibanding memaafkan diri sendiri. Saya masih perlu belajar memaafkan diri saya, menyayanginya dan memberikan apresiasi ketika saya melakukan hal yang baik. Saya masih perlu belajar untuk menghargai diri saya. Dan tentunya belajar menghapus rasa-rasa tidak mengenakkan yang bersarang di dalam hati.
Dan di bulan ini pun saya menemukan 1 postingan yang mengena di hati. Saya gak berpikir sebelumnya kalau di blog ini akan kedatangan bintang tamu. Saya tidak pernah berpikir untuk merepost cerita orang lain di blog saya. Tapi, kali ini pengecualian. Saya menyukai tulisan ini.

Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Bergerak dari sebuah titik ke titik lain di masa depan. Pergi ke satu tempat untuk menetap atau hanya sekadar untuk singgah. Bertemu dengan seseorang atau akhirnya memutuskan berpisah.
Seperti halnya sebuah perjalanan, masing-masing dari kita membawa bagasi yang berbeda. Mungkin hanya sebuah kotak kecil yang ringan untuk dibawa, atau koper besar berwarna cokelat muda yang menguras tenaga untuk membawanya.
Setiap orang membawa bagasinya masing-masing. Untuk seseorang, bagasi itu mungkin cukup dibawa dengan sebelah tangan. Dan untuk sebagian yang lain, harus dipanggul dengan menggunakan kokohnya tulang belakang.
Bagasi itu bentuknya bermacam-macam, bisa berupa beban ekonomi yang berkepanjangan, rumitnya kondisi keluarga yang memberatkan, hingga luka atau trauma emosional yang tak kunjung hilang.
Dan layaknya manusia normal, mungkin kadang kita suka membandingkan. Berkata pada diri sendiri : “Seadainya saja saya berada di posisinya. Seandainya saja saya lah orang yang membawa bagasinya.”
Tapi sayang kondisinya tidak seperti itu kawan.
Bring your own luggage. It’s your life. Never compare it with others.
Jangan pernah meminta orang lain untuk membawa bagasimu. Karena ketika kau mulai membandingkan, saat itulah kau kehilangan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang sepertinya rela menerima kondisimu, rela membawa bagasimu, namun akhirnya dia sadar, dia tidak butuh beban tambahan.
Dan memutuskan untuk pergi, memilih bersama orang dengan bagasi yang lebih kecil. Agar bebannya terasa lebih ringan.
Jangan kau tangisi kawan. Dia bukan untukmu.
Tetap bersabarlah kawan, ketika kau tergopoh-gopoh berusaha untuk membawa sendiri bagasimu, berusaha menggenggam erat semua koper bawaanmu, atau memanggul semua beban di pundakmu.
Nanti akan ada seseorang yang rela menjulurkan tangannya untuk membantumu. Tersenyum berdiri di sebelah mu.
Membantu membawa barang bawaanmu. Mencengkeram pegangan koper itu bersamamu.
Mungkin karena dia pernah membawa bagasi yang sama. Sebuah koper besar berwarna cokelat muda. Atau memang dia yang rela, untuk membawa bagasimu bersama-sama.
Karena suatu saat, “bagasi mu” akan berubah menjadi “bagasi kita”.
Ditulis oleh Tirta – Pemilik blog romeogadungan.com

Apakah kamu merasakan seperti yang saya rasakan ketika membaca tulisan di atas? Ada kah rasa hangat menjalar di hatimu?
Tulisan Tirta memembuat saya terdiam sejenak dan memikirkan koper-koper yang selama ini saya bawa. Bagi banyak orang yang mengenal saya hanya di luarnya saja, mungkin saya terlihat ke mana-mana hanya membawa tas tenteng kecil. Nyatanya, tiap harinya saya membawa banyak koper yang seringkali membuat saya teramat lelah dan tertidur di hampir setiap perjalanan saya pulang ke rumah.
Saya tidak ingin orang lain repot dengan bagasi saya yang penuh dengan koper besar dan kecil. Jika berjalan bersama saya ikut membuatmu lelah, berhenti dan pergilah. Saya tidak ingin menahanmu. Itulah yang kemarin-kemarin saya lakukan. Tidak ingin membuat orang lain susah karena saya.

Dari kalimat-kalimat Tirta, saya tersadar bahwa saya boleh mempercayakan koper-koper saya kepada seseorang yang bersedia ikut menjinjingnya bersama. Saling menyemangati untuk terus berjalan seberapa pun melelahkannya perjalanan itu.

Saya pun percaya meski seseorang itu belum datang, saya tidaklah sendiri. Karna Tuhan saya sudah terlebih dahulu membawa sebagian besar isi bagasi saya. Dia mempercayakan saya koper-koper lain agar saya menjadi orang yang tidak lemah. Dan agar saya dapat belajar untuk mempercayakan koper-koper itu untuk dibawa bersama dengan seseorang.

Ps: Ditulis dalam keadaan langit mendung, mata mengantuk tetapi dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Love,
Ay