Showing posts with label bintang. Show all posts
Showing posts with label bintang. Show all posts

Tuesday, December 15, 2015

Desember. Perjalanan. Bagasi


Banyak hal yang saya sukai. Saya suka memandang langit berawan. Saya suka rintik hujan. Saya suka menggambar. Saya suka menulis. Saya suka bercerita tentang hari-hari saya kepada orang-orang yang saya percaya. Saya suka dengan pendar bintang dan kerlipan kunang-kunang. Saya suka anak-anak. Saya suka mendengarkan keluh-kesah teman-teman saya. Saya suka bepergian ke tempat-tempat baru dan saya suka bulan Desember. Entah sudah berapa banyak yang tau kalau saya amat menyukai bulan ini.
Setiap bulan Desember tiba, hati saya dipenuhi kehangatan. Ada perasaan nyaman dan damai di dalamnya. Entah dari mana datangnya, saya tidak tau. Walau di 31 hari di bulan itu ada hal-hal buruk yang terjadi, tapi tidak menghilangkan rasa hangat di hati saya. Di bulan Desember, saya seperti diberikan kekuatan lebih untuk menjalani hari-hari saya.
Bulan Desember di tahun ini pun sudah lewat setengahnya. Ah, kenapa begitu cepat? Seriously, saya tidak ingin cepat-cepat berakhir. Karna menunggunya lagi butuh 11 bulan. Waktu yang tidak sebentar.
Hal baik dan buruk pun terjadi di bulan ini. Menyerahkan saya? Tidak. Menangiskah saya? Sedikit.
Sayang, catat ini: menangislah secukupnya dan berbahagialah sebanyak-banyaknya.
Di bulan ini pun saya banyak mengikuti kegiatan. Saya ingin terus menata diri saya, memperbaikinya di berbagai sisi, tidak untuk menjadikan diri saya sempurna tetapi menjadi ‘saya yang lebih baik dari sebelumnya’.  
Minggu lalu saya ikut acara gereja, saat itu temanya ‘Forgiving’. Dari sekian menit pembicara membawakan topik itu, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Everyday, everybody will hurt you. Everyday, you must forgive someone.
Before you forgave someone, try to forgave yourself first.  
Kira-kira begitulah yang pembicara itu ucapkan (dan maafkan kalau kalimat yang saya tulis salah, you know, kemampuan bahasa inggris saya minim. Correct me if I’m wrong ya. Hehe)
Kalimat itu membekas di hati saya dan tanpa sadar saya mengangguk-anggukan kepala saat mendengarnya. Memaafkan diri sendiri, kedengarannya begitu mudah. Tapi, faktanya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibanding memaafkan diri sendiri. Saya masih perlu belajar memaafkan diri saya, menyayanginya dan memberikan apresiasi ketika saya melakukan hal yang baik. Saya masih perlu belajar untuk menghargai diri saya. Dan tentunya belajar menghapus rasa-rasa tidak mengenakkan yang bersarang di dalam hati.
Dan di bulan ini pun saya menemukan 1 postingan yang mengena di hati. Saya gak berpikir sebelumnya kalau di blog ini akan kedatangan bintang tamu. Saya tidak pernah berpikir untuk merepost cerita orang lain di blog saya. Tapi, kali ini pengecualian. Saya menyukai tulisan ini.

Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Bergerak dari sebuah titik ke titik lain di masa depan. Pergi ke satu tempat untuk menetap atau hanya sekadar untuk singgah. Bertemu dengan seseorang atau akhirnya memutuskan berpisah.
Seperti halnya sebuah perjalanan, masing-masing dari kita membawa bagasi yang berbeda. Mungkin hanya sebuah kotak kecil yang ringan untuk dibawa, atau koper besar berwarna cokelat muda yang menguras tenaga untuk membawanya.
Setiap orang membawa bagasinya masing-masing. Untuk seseorang, bagasi itu mungkin cukup dibawa dengan sebelah tangan. Dan untuk sebagian yang lain, harus dipanggul dengan menggunakan kokohnya tulang belakang.
Bagasi itu bentuknya bermacam-macam, bisa berupa beban ekonomi yang berkepanjangan, rumitnya kondisi keluarga yang memberatkan, hingga luka atau trauma emosional yang tak kunjung hilang.
Dan layaknya manusia normal, mungkin kadang kita suka membandingkan. Berkata pada diri sendiri : “Seadainya saja saya berada di posisinya. Seandainya saja saya lah orang yang membawa bagasinya.”
Tapi sayang kondisinya tidak seperti itu kawan.
Bring your own luggage. It’s your life. Never compare it with others.
Jangan pernah meminta orang lain untuk membawa bagasimu. Karena ketika kau mulai membandingkan, saat itulah kau kehilangan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang sepertinya rela menerima kondisimu, rela membawa bagasimu, namun akhirnya dia sadar, dia tidak butuh beban tambahan.
Dan memutuskan untuk pergi, memilih bersama orang dengan bagasi yang lebih kecil. Agar bebannya terasa lebih ringan.
Jangan kau tangisi kawan. Dia bukan untukmu.
Tetap bersabarlah kawan, ketika kau tergopoh-gopoh berusaha untuk membawa sendiri bagasimu, berusaha menggenggam erat semua koper bawaanmu, atau memanggul semua beban di pundakmu.
Nanti akan ada seseorang yang rela menjulurkan tangannya untuk membantumu. Tersenyum berdiri di sebelah mu.
Membantu membawa barang bawaanmu. Mencengkeram pegangan koper itu bersamamu.
Mungkin karena dia pernah membawa bagasi yang sama. Sebuah koper besar berwarna cokelat muda. Atau memang dia yang rela, untuk membawa bagasimu bersama-sama.
Karena suatu saat, “bagasi mu” akan berubah menjadi “bagasi kita”.
Ditulis oleh Tirta – Pemilik blog romeogadungan.com

Apakah kamu merasakan seperti yang saya rasakan ketika membaca tulisan di atas? Ada kah rasa hangat menjalar di hatimu?
Tulisan Tirta memembuat saya terdiam sejenak dan memikirkan koper-koper yang selama ini saya bawa. Bagi banyak orang yang mengenal saya hanya di luarnya saja, mungkin saya terlihat ke mana-mana hanya membawa tas tenteng kecil. Nyatanya, tiap harinya saya membawa banyak koper yang seringkali membuat saya teramat lelah dan tertidur di hampir setiap perjalanan saya pulang ke rumah.
Saya tidak ingin orang lain repot dengan bagasi saya yang penuh dengan koper besar dan kecil. Jika berjalan bersama saya ikut membuatmu lelah, berhenti dan pergilah. Saya tidak ingin menahanmu. Itulah yang kemarin-kemarin saya lakukan. Tidak ingin membuat orang lain susah karena saya.

Dari kalimat-kalimat Tirta, saya tersadar bahwa saya boleh mempercayakan koper-koper saya kepada seseorang yang bersedia ikut menjinjingnya bersama. Saling menyemangati untuk terus berjalan seberapa pun melelahkannya perjalanan itu.

Saya pun percaya meski seseorang itu belum datang, saya tidaklah sendiri. Karna Tuhan saya sudah terlebih dahulu membawa sebagian besar isi bagasi saya. Dia mempercayakan saya koper-koper lain agar saya menjadi orang yang tidak lemah. Dan agar saya dapat belajar untuk mempercayakan koper-koper itu untuk dibawa bersama dengan seseorang.

Ps: Ditulis dalam keadaan langit mendung, mata mengantuk tetapi dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Love,
Ay

Monday, June 29, 2015

Seven Stars in the Sky~


 
Hai!^^
 
Sesuai janji, akhirnya cerbung saya publish juga. :D
 
Kalian bisa baca di sini ya: Seven Stars in the Sky
 
Sedikit cerita, sebenarnya cerita ini saya buat ketika masih kuliah. Iya emang udah lama banget ya. Waktu itu cuma bikin sampe 2 part aja terus biasa udah bosen dan males ngelanjutin. :p
 
Kemudian di awal tahun, ketika lagi kepoin laptop sendiri, malah nemuin cerita ini. Dibaca-baca lagi dan akhirnya diniatin buat dilanjutkan. Anggap aja sekalian saya nostalgia jaman kuliah kan? :D
 
Saat ini yang publish di Wattpad baru sampe part 8 dan mudah-mudahan ada waktu buat ngelanjutin. Sahabat saya (Ven), tiap hari ngechat saya dan nodong untuk terus ngelanjutin ceritanya. Terakhir dia chat saya kayak gini: Ehh, cerita lo mana? kok part 8 nya dikit amat??
 
Iya, dia protes lantaran saya amat pelit kata di part 8. Hahaha
 
Sebenarnya saya selalu malu kalau ada orang yang saya kenal baca tulisan saya (entah tulisan di blog Summer3angle, di sini dan sekarang di Wattpad). Jadi kalau ada yang line, whatsapp dan bbm ke saya mengenai tulisan saya, saya masih tetap kaget aja.
 
Pernah suatu kali ketika saya lagi menunggu kereta di stasiun Bandan, ada orang dari belakang yang tiba-tiba ngomong ke saya.
 
Dia: The, lo lagi males update blog ya?
 
Saya: *kaget banget tiba-tiba disapa seperti itu* Hah?? Eh, elo! apa kabar...? Kok lo bisa di sini sih?
 
Yap, dia adalah adik kelas saya semasa sekolah. Dulu kita akrab karna tergabung dalam satu organisasi.
 
Dia: Iya, mobil gue lagi masuk bengkel. Eh, lo lagi males update blog? *dia ngulang pertanyaan*
 
Saya: Lo kok tau gue punya blog?
 
Dia: Gue udah tau lama kali, hiburan banget the pas gue lagi suntuk. Blog lo bikin gue ngakak.
 
Saya: Duh, serius lo baca? anjritt gue maluu.. lo baca blog gue yang di Summer3angle ya?
 
Dia: Iya, gue lebih suka yang di blog Summer, lebih lo banget. kalo blog satunya lagi terlalu galau ah the.
 
Saya: Biar balance makanya gue bikin satu yang lucu, satu yang galau. hahaha.. lo udah baca yang mana aja? ahh gue beneran malu T__T
 
Dia: Banyak banget, kayaknya udah hampir semua gue baca deh. orang gue subcribe juga, jadi kalo ada update dari lo masuk ke email gue.
 
Saya: Hah? anjrit.
 
Dia: pokoknya gue tunggu update lo ya the. gak pake lama.
 
Kadang ada orang-orang yang saya gak sangka nemuin blog saya, teman-teman yang sudah lama gak ketemu~ Walau sebenarnya saya malu, tetapi saya harus siap terima konsekuensinya (dibaca, dinyinyirin, dikomentarin) ketika saya memutuskan menceritakan ini dan itu di blog.
 
Dan untuk kalian yang saya tidak kenal, untuk para blogger yang gak sengaja mampir, untuk para silent readers, makasih banyak ya. Saya selalu senang ketika kalian datang. :)
 
Jangan lupa baca cerita perdana saya ya, di vote juga. hehehe..
 
 
-Ay-


Monday, June 30, 2014

I'll Be There For You..


“When I see your sad tears, what I must do is unclear. I assure you my shoulder will be always there for you..” – Orion

“ Lin,” panggil Orion.
“ Hai, Ri.” balas Lin dengan senyum yang dipaksakan.
“ Hari ini kan hari selasa, kenapa kamu datang ke sini? “
“ Kamu juga kenapa ada di sini?”
“ Entahlah. Rasanya ada sesuatu yang menarikku ke sini. Radarku kuat ya, ternyata kamu ada di sini juga. “ Orion mencoba mencairkan suasana.
Sepasang ayunan di taman kecil. Tempat pertama Lin dan Orion bertemu. Kini menjadi tempat yang setiap sabtunya selalu mereka kunjungi demi mencari ketenangan dan pendar Polaris di langit malam.

“ Aku lelah… “ jawab Lin, kemudian mengayuhkan ayunannya. Pelan.
Ada jeda panjang. Orion tau, Lin tidak mau diganggu saat ini. Dia hanya memerlukan seseorang duduk diam di sampingnya.
Lin yang menatap langit dengan pandangan kosong dan Orion yang tidak dapat melepas matanya dari wajah muram disampingnya.
Lin semakin mendongakkan kepalanya, memaksa air mata yang sudah menggenang agar tidak terjatuh. Namun gaya gravitasi tak bisa dikalahkan.
“Lin…”
“Jangan dekati aku, Ri. Aku malu.” Lin tidak ingin Orion melihatnya menangis.
“ Aku tidak akan melihatmu menangis, Lin. Menangislah sampai kamu merasa lega.” Orion berdiri memunggungi Lin.

Tanpa dapat ditahan lagi, Lin menjatuhkan banyak air mata. Lin memeluk Orion dan melepaskan rasa sakitnya kepada punggung yang kokoh itu.

Tangis Lin kemudian berubah menjadi isakan kecil dan akhirnya berhenti, namun Lin masih memeluk punggung Orion, masih ingin bersembunyi di sana.
“ Makasih…Ri” ucap Lin, lirih.
“ Untuk apa? Aku tak melakukan apapun untukmu”
“ Banyak Ri, makasi untuk diammu menemaniku dan untuk punggung ini..”
Orion berbalik, menatap mata sembab Lin, “ Percayakah kamu padaku? Beban yang kamu tanggung terlalu berat, Lin. Berbagilah, aku disini untukmu.”
“Bisakah aku percaya padamu?” Lin balik bertanya dan dibalas dengan anggukan mantap oleh Orion.
Catlin yang selalu menyembunyikan isi hatinya, menyembunyikan permasalahan-permasalahan hidupnya, sedikit demi sedikit mulai mengungkapkannya. Benar kata Orion, dia sudah terlalu lama berjuang sendiri, terlalu banyak beban yang dia tanggung sendirian. Dia memerlukan orang lain untuk berbagi dan Orion adalah orang yang tepat.
“Maaf ya Orion, aku cengeng banget. Gak seharusnya nangis,” ucap Lin setelah berbagi banyak hal dengan Orion.
“Gak ada yang salah dengan menangis, Lin. Makasi kamu percaya padaku.  Jangan ada lagi yang ditutup-tutupin ya, Lin. Sekarang, tidak hanya di hari sabtu saja, tapi kita bisa bertemu kapanpun. Dan mudah-mudahan aku bisa selalu menepati setiap janji bertemu kita di hari-hari yang akan datang.”
Lin mengangguk. Hatinya lega.
“Hei, bintang polarisnya muncul!” seru Orion sambil menunjuk langit.

Polaris. Si Bintang Harapan. Kini aku punya 2 Polaris, yang dilangit dan di hadapanku. – Catlin
I’ll spend every second of my life, to try and make you happy all the time. Just know that I’ll be there for you – Orion

*Terinspirasi dari lagu I’ll be there for you – Han Byul.

Kisah Catlin dan Orion lainnya : Bintang PalingTerang

Thursday, October 10, 2013

Bintang Paling Terang

 
Bila malam tiba, pandanglah langit utara. Cari bintang yang paling terang. Ada rindu yang kutitipkan di sana. - Orion
 
 
Di suatu malam kita bertemu. Pertemuan pertama yang tak pernah kita duga sebelumnya. Dua orang yang sama-sama sedang mengalami patah hati. Aku yang baru saja putus dan kamu yang cintanya ditolak.
 
Dua orang yang sama-sama terluka. Dua orang yang tidak saling kenal namun dipertemukan di sepasang ayunan di taman bermain.
 
" Lin," ucapku memperkenalkan diri.
 
" Rion." Katamu sambil menjabat tanganku.
 
Kemudian kita sama-sama terdiam. sibuk dengan pikiran masing-masing.
 
" Lin, pernah dengar tentang bintang Vega? " Kamu memulai pembicaraan.
 
" Hmm.. bintang yang nantinya akan menggantikan posisi Polaris bukan? " Aku menjawab, ragu.
 
" Iya! Vega itu protobintang. 12 ribu tahun dari sekarang dia yang akan menggantikan posisi Polaris. Vega akan menjadi bintang paling terang di langit utara. " Kamu melengkapinya.
 
Bintang paling terang. Sepasang ayunan. dan separuh bulan di langit. Membuat obrolan dua orang yang tidak saling mengenal menjadi cukup menyenangkan.
 
" Ah, sayang sekali langit mendung. Kita jadi gak bisa lihat Polaris. "
 
Kamu menatap langit dan entah mengapa aku pun ikut menatap langit, mencari-cari bintang paling terang di antara gumpalan awan kelabu.
 
Malam semakin larut dan obrolan panjang dengan sedikit tawa mampu memecah keheningan. Hei, apa ini yang dinamakan takdir?
 
*****
 
Dua orang yang awalnya asing, kini mulai mengenai satu sama lain. Sepasang ayunan selalu menjadi tempat kita bertemu di setiap minggunya. Aku seperti menemukan seorang teman lama dalam dirimu. Seorang teman yang mampu mengisi hari-hariku dengan perasaan yang nyaman.
 
Malam itu aku yang sampai terlebih dahulu di taman bermain. Cukup lama aku menunggumu. Hm, tidak biasanya kamu setelat ini.
 
Ri, kamu di mana? Aku mengirimkan pesan singkat dan terus menatap layar ponsel, menunggu pesan balasan darimu.
 
Lin.. Maaf aku gak bisa menemuimu malam ini. Ada suatu hal yang harus segera kuselesaikan. Nanti aku akan cerita padamu.
 
Aku menghela nafas dan mulai membalas pesanmu. Namun, pesan kedua datang.
 
Langit sedang cerah.Pandanglah langit utara. Cari bintang yang paling terang itu. Ada rindu yang kutitipkan di sana.
 
Aku tersenyum membaca pesanmu, kemudian aku pun menatap langit. Aku tersenyum semakin lebar.
 
Sudahkan kau menemukan bintang terang itu? - Orion