Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Tuesday, November 24, 2015

Bersama Ayah


Hari ini hari jumat, saya bangun pukul 05:40. Amat kesiangan sebenarnya. Dengan mata yang masih berat untuk dibuka, saya berjalan menuju kamar mandi. Kegiatan pagi pun berlangsung seperti biasanya. Mandi dan siap-siap ke stasiun kereta. Hari ini saya naik kereta 06:45 dan mendapatkan duduk. Seperti biasa saya akan tertidur sampai perhentian terakhir. Selalu seperti itu. Tidak ada yang spesial. Ah, dan hari ini pun saya lupa membuka hari dengan berdoa. Hm..

Hari ini saya salah tidur, ketika bangun dipemberhentian terakhir, leher saya sakit. Dan perlu pijatan kecil sebelum saya berdiri dan keluar dari kereta. saya pun mengantri untuk keluar dari stasiun, kegiatan yang setiap hari saya lakukan.

Dari stasiun, saya masih harus naik angkutan umum untuk menuju kantor. Pagi ini pun angkutan umum yang saya naikin penuh sesak, tidak ada jarak sedikit pun antar penumpang, semuanya berdempetan. Dan ketika di tengah perjalanan, angkutan umum yang saya naikin berhenti dan menyuruh saya dan beberapa penumpang lainnya untuk pindah ganti mobil lain.

Hari ini saya bertemu dengan bapak-bapak yang bekerja di kantor yang sama dengan saya. Kita panggil dia Pak I saja ya. Pak I ini salah satu bapak-bapak favorit saya. Entah kenapa setiap kali melihatnya, wajahnya selalu penuh ke-bapak-an, baik dan berkharisma. Pak I ini punya 4 orang anak yang semuanya perempuan. Di sepanjang perjalanan saya dengan beliau menuju kantor, dia menceritakan tentang istri dan anak-anaknya.

Keempat anaknya Pak I itu lebih dekat dengan dia, ayahnya. Apa-apa selalu diceritakan kepada ayahnya. Bahkan anaknya yang paling kecil hanya mau ditemani belajar oleh Pak I.

Pak I: hari ini saya lebih siang datang ke kantor, harusnya lebih pagi.
Saya: emang kenapa Pak?
Pak I: itu anak saya yang paling bontot lagi manja, dia gak mau sekolah kalau gak diantar sama saya.
Saya: wahh.. oya? Yang kecil kelas berapa Pak?
Pak I: udah kelas 4 SD, tapi gak tau tuh manja bener sama ayahnya. Dia juga tiap malam nungguin saya, gak mau belajar kalo gak ditemenin sama ayahnya. Manja bener.

Begitulah kata-kata Pak I, terdengar seperti mengeluh tetapi ketika kamu melihat wajahnya, dia berbicara sambil tersenyum dan matanya menyorotkan dia begitu sayang pada anaknya.

Saya: sekolahnya dekat dari rumah Pak?
Pak I: dekat, jalan kaki hanya 10 menit, jadi saya tadi nemenin dia sampe ke sekolahnya.

Berjalan kaki ke sekolah dan bersama pria yang paling mencintainya. Entah mengapa hal itu begitu manis untuk saya. Selama 10 menit perjalanan dari rumah ke sekolah, saya yakin ada begitu banyak obrolan antara si anak dengan ayahnya. Bagaimana si ayah menatap anaknya yang setiap hari semakin bertumbuh dan bagaimana si ayah menggandeng  anaknya. Saya membayangkan itu. Dan menjadi tersenyum sendiri. Hati saya menghangat.

Dan ada perasaan lain yang menyelinap di sela-sela kehangatan itu. Saya iri. Ya. Iri. Hubungan saya dengan papi saya tidak semanis itu. Mungkin karna saya sudah besar dan malu kalau harus bermanja-manja pun juga papi saya.

Dari segala hal yang terjadi dan itu bukanlah hal baik, saya tau, papi saya sebenarnya tidak menginginkan hal itu. Orang tua mana yang mau mengecewakan istri dan anak-anaknya? Tidak ada.

Papi saya bukanlah orang yang sempurna, saya tau itu. Oleh karenanya saya berusaha untuk menerima baik dan buruknya. Dia tetap papi saya, orang yang dulunya berjuang untuk membesarkan saya. Terima kasih, pi. Berkat papi, saya jadi perempuan yang (bisa dibilang) tangguh.

Ps: bagaimana pun keadaan keluargamu, tetaplah bersyukur. Percaya saja, Tuhan punya rencana yang baik, walau untuk mencapainya tidaklah mudah pun juga sederhana.

(ditulis pada hari Jumat, 20 November 2015)

Love,
Ay

Wednesday, February 5, 2014

At the end of the day, u need someone that u can come home to, right? (Wendy Kosasih, 28 Mei 2012)
Kalimat yang pernah dikicaukan oleh teman saya di sosial medianya hampir 2 tahun yang lalu. Saya menyimpannya menjadi salah satu favorit tweet dari sekian banyak yang saya favoritkan.
 Akan menyenangkan kalau kita mempunyai seseorang yang selalu ada apapun kondisi kita. Atau sekedar seseorang yang mampu menemani di setiap sore yang melelahkan. Saling berbagi hal menyenangkan, maupun hal yang tidak mengenakkan.
Suatu kali saya pernah bertemu seseorang seperti itu. Kita berbagi banyak hal, saya cukup nyaman dengan orang itu. Nyaman. Bukankah hal pertama dalam memulai hubungan adalah dengan kenyamanan? Nyatanya tidak sesederhana itu. Kenyamanan itu perlahan-lahan pudar. Kita sudah tak nyaman untuk berbagi hal kecil sekalipun. Saya ingin melupakannya, pun juga orang itu. Saya dan dia saling menghilangkan diri  dalam hidup masing-masing.
Saya hanya berharap menemukan (atau ditemukan) orang baru di hari-hari ke depan saya. Bertemu dengan seseorang yang dapat berbagi apa pun. Kamu kah orang itu?

Monday, September 16, 2013

Pasanganmu

 

“Suatu saat, semua orang akan menemukan pasangannya. Begitupun denganmu. “

Sebenarnya ketika saya menuliskan ini, saya berada di dalam kesibukkan pekerjaan kantor. Kemudian saya jenuh dan iseng-iseng menuliskan ini. Jadi, kalau isinya agak-agak melantur mohon dimaklumi. Menulis adalah salah satu cara saya untuk melepaskan kepenatan juga membunuh waktu.
Hmm, Kamu punya sahabat?
Saya punya dan hanya satu orang. Dari dulu tak pernah bertambah dan mungkin hanya satu untuk seterusnya. Saya memang punya banyak teman dan beberapa teman baik tetapi hanya memiliki 1 sahabat. Kurang kah? Tidak, saya bersyukur memilikinya. Karna hanya perlu 1 orang sahabat yang benar-benar mengerti kamu luar dalam, tidak perlu lebih dari itu.
 
Saya mau mengumumkan kalau sahabat saya ini tahun depan akan menikah. Sebuah kejutan yang menyenangkan bukan? Saya kaget ketika dia memberitahukan kabar itu. Saya senang akhirnya dia menemukan tempat untuk berlabuh.
Gimana sih rasanya akan menikah? Kamu gak deg-degan? ” Aku bertanya padanya.
 
Deg-degan lah, Ay. Banyak yang harus dipersiapkan. “ dia menjawab dengan suara lelah namun dengan mata berbinar.
" lalu, kapan kamu akan kursus pernikahan?
Minggu depan, selama 3 hari. Aku sudah membuat janji dengan salah satu Romo di gereja, “ jawabnya malu-malu.
Wow! Ya ampun, cepet banget udah mau kursus. “ saya sampai tak sanggup berkata-kata lagi.
Lalu, bagaimana denganmu, Ay?
 
Sejujurnya sampai saat ini, saya belum memikirkan itu. Menikah, tinggal di rumah mungil dengan suami dan anak yang manis tentunya membahagiakan. Tetapi, saya masih belum tau kapan saya dapat membina hubungan yang nantinya akan menjadi tempat akhir saya melabuhkan hati. Mungkin karna saat ini saya belum menemukan seseorang yang tepat, seseorang yang dapat membuat saya memikirkan tentang sebuah pernikahan.
 
Sering kali saya mendengar omongan seperti ini, ‘ jangan cari pasangan karna kamu kesepian, tetapi cari pasangan ketika hatimu sudah siap’.  Mungkin karna hati saya yang terlalu keras dan belum siap makanya tidak ada seorang pun yang mampu membuat hati saya luluh.
 
Sekeras itu kah hatimu, Ay?
 
Entahlah. Saya sendiri bingung.
 
Kalau di tanya apa saya tidak khawatir dengan umur yang sudah di bilang dewasa ini tetapi masih suka sendiri. Saya khawatir, jelas. Tetapi, saya punya cara tersendiri untuk melupakan kesendirian saya. Untuk apa terus menerus meratapi hidup yang sudah berat ini? Saya selalu ingin menjalankannya dengan cara saya, dengan hal-hal menyenangkan, dan mencoba untuk selalu melakukan hal yang saya sukai.
 
Mungkin saat ini, saya masih egois dan belum mau membagi hidup saya dengan orang lain, belum ingin menitipkan hati saya ke satu orang. Tetapi, saya mau kok untuk membagi hati saya. Saya masih mencari orang yang dapat saya percaya untuk menjaga hati saya ini.
 
Apakah kamu juga mengalami apa yang saya rasakan? Kekhawatiran untuk menjalin hubungan serius dan akhirnya menikah? Atau takut tidak dapat menemukan tempat berlabuh?
 
Tidak perlu khawatir. Karna suatu saat, semua orang akan menemukan pasangannya. Begitupun denganmu. :)