Showing posts with label curahan hati. Show all posts
Showing posts with label curahan hati. Show all posts

Tuesday, January 21, 2020

Genap 12 tahun


Buat saya, waktu 12 tahun bukan lah waktu yang sebentar, pun juga bukan waktu yang teramat lama. 12 tahun jatuh bangun, terperosok, tergores dan terluka. Meskipun kembali pulih,  torehannya tetap membekas dan tak bisa hilang...

Saya belajar, hidup tidak mudah untuk sebagian orang.

12 tahun yang lalu.. saat saya baru jadi anak kuliahan, saya akui, bahwa saya masih egois, minder dan menyalahkan keadaan. Kenapa begini, kenapa begitu, kenapa harus saya…

Sampai satu titik, saya melepaskan rasa minder dan belajar memeluk keadaan. Saya bilang pada diri saya kalau ini waktunya saya belajar menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab.  Setiap hari, saya selalu mengulang kata-kata ini: semangat, The! Semangat! Lo bisa! Tak perlu khawatir. Tuhan sayang sama lo.

Saya bukan orang yang mudah cerita tentang apa-apa yang saya alami dan rasakan. Sering kali saya takut. Jika saya cerita, nanti mereka tidak akan sama lagi memandang saya, nanti mereka mengasihani saya, nanti mereka melihat saya penuh dengan empati. Tidak. Saya tidak menginginkan itu.

Terkadang, saya hanya ingin bebas bercerita dan mengeluarkan segala uneg-uneg yang bersarang di pikiran dan hati saya. Saya hanya tidak siap menerima belas kasihan orang lain..

12 tahun bukan lah waktu yang sebentar. Di 12 tahun ini saya benar-benar ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat.

Walau sebenarnya saya cengeng. Banget..

Kalau diingat-ingat, jika saya ingin sekali menangis yang banyak, saya akan mencari film / drama yang sedih. Jadi, ketika orang-orang bertanya, saya punya alasan kenapa saya menangis sampai bikin mata bengkak. :p

12 tahun tidak setiap harinya buruk..

Ada hari-hari di mana saya sangat bersyukur dan berbahagia. Ini lah yang menguatkan saya. jika saya sedih, saya akan mengingat-ingat yang baik. Menangis sebentar, kemudian kembali tersenyum.

Saya selalu bilang pada diri saya untuk tidak terus-menerus menangis dalam kubangan. Saya gak boleh berlama-lama terperosok ke dalam masalah-masalah saya. Karna hal itu gak menyelesaikan masalah.

Saya mau bilang terima kasih untuk diri saya yang selama 12 tahun terakhir ini sudah kuat menjalani hari demi hari. Saya percaya, di hari-hari yang akan datang, saya bisa melaluinya. Karna saya gak sendiri, Tuhan saya gak pernah ninggalin saya. :)


Love,
Ay

Sunday, June 18, 2017

Menikah (?)

Tak terhitung banyaknya orang-orang yang mempertanyakan kapan saya menikah. Ada yang memang mengkhawatirkan umur saya, ada juga yang memang hanya kepo.

Dulu sekali saya punya impian untuk menikah di umur 28 tahun, usia yang menurut saya sudah matang dan mampu untuk menghadapi berbagai situasi baik mau pun buruk dengan lebih tenang. Nyatanya, beberapa bulan lagi saya akan menginjak 28 tahun dan belum menikah. :p Tapi, entah mengapa saya tidak lagi mengkhawatirkan umur saya itu, tidak lagi menginginkan menikah di umur 28.

Life happens. Banyak hal yang terjadi dan membuat saya lebih banyak berpikir, mempertimbangkan banyak hal dan menyakinkan diri saya.
Karna seumur hidup itu terlalu lama… kalimat yang pernah saya baca beberapa minggu yang lalu. Dan pasangan saya pun pernah membahas itu. Seumur hidup itu terlalu lama jika dihabiskan dengan orang yang salah.
Oleh karenanya saya tidak ingin terburu-buru pun juga pasangan saya. Kita perlu mengenal benar-benar pasangan kita, bisa tidak menerima tidak hanya sisi baiknya, tetapi juga sisi terburuknya sekali pun. Dan saya belajar itu. Latihannya (menerima semua sifat pasangan) itu gak bisa bolong-bolong, harus dilatih tiap hari lho.  Dan pasti ada aja yang susah sekali untuk diterima.
Saya pun tidak ingin dan tidak punya hak untuk merubah pasangan saya.
“Sama kamu, aku udah berubah banyak,” Sun.
“Tapi, aku gak pernah nyuruh kamu berubah lho.”
“Iya sih, tapi sifat kamu yang bikin aku berubah.”
Saya ketawa mendengar perkataannya, ditambah lagi dia bilang begini, “dari semua cewek yang pernah aku pacarin, cuma kamu yang paling pembangkang.” HAHAHAH.. asli, saya langsung ngakak waktu dia bilang begitu.
Pembangkangnya saya seperti apa? Di lain waktu akan saya ceritakan. :p
Kalau mendengar cerita-ceritanya, saya tau dia sudah banyak berubah, tentunya ke arah yang lebih baik. Dan saya amat mensyukuri itu. Kita pernah berdiskusi dan saya pernah bilang (di awal pacaran) kalau saya ingin pacaran yang baik, yang sehat, yang bisa lebih mendekatkan diri sama Tuhan dan tentunya bisa saling support bukannya menjatuhnya.
Karna seumur hidup itu terlalu lama…
Saya ini punya banyak impian, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jauh sebelum saya bertemu dengannya, saya menuliskan apa-apa saja yang ingin saya lakukan ketika menikah nanti.
Jangka waktu pacaran itu gak sebanding dengan menikah yang seumur hidup. Dan sebenarnya impian-impian kecil saya itu bisa aja dilakukan ketika masih pacaran, tapi sebesar apa pun saya menginginkannya, tapi saya menahan diri saya. karna kalau semuanya udah dilakukan ketika pacaran, apa lagi yang tersisa ketika menikah nanti?
Saya tidak ingin seumur hidup saya dilalui dengan kejenuhan dan kewajiban yang tak ada habisnya. Karna ada banyak hal-hal kecil yang ingin saya lakukan nantinya bersama suami dan juga anak. Hal-hal yang tentunya membuat hari-hari yang menjenuhkan itu tergantikan.
Makasi Sunjaya untuk ketersediaannya tetap disamping saya, seberapa pun membosankannya saya. karna saya pun akan melakukan hal yang sama :)
Ps: makasi ya udah sabar sama sifat pembangkang saya :p
Love,
Ay.

Friday, December 16, 2016

Tentang Keimanan

Hari ini sebenarnya jadwal saya publish fiksi mini, tapi skip dulu yaa~ Soalnya saya mau cerita tentang apa yang saya dapat kemarin.

Di bulan desember ini, setiap gereja Katolik di dunia menerima orang-orang yang ingin melakukan pengakuan dosa. Dan kemarin rabu, pulang dari kantor, saya mampir ke gereja. Ketika sampai di gereja, saya bertemu seorang cici yang dulu sama-sama pelayanan bareng saya, dia senior saya. Awalnya saya mau say hi aja ke dia, karna tujuan saya ke gereja kan mau pengakuan dosa. Tapi, kita malah asik sharing.

Kadang Tuhan itu ngasih jawaban dan pengingat di orang yang tak terduga ya. Dari obrolan saya dengan si cici, beberapa kali saya berusaha menahan air mata, gak tau kenapa bawaannya pengen mewek aja. Dia sharing tentang kesetiaan dan kepatuhan, hati hamba, Bunda Maria, sakramen-sakramen dan berkat-berkat dari setiap hal kecil dalam hidup kita.

The, kita harus menyerahkan hal sekecil apa pun ke Tuhan, dan kamu akan merasakan berkat-berkat-Nya dalam hidup kamu.

Salah satu hal yang gua bangga jadi Katolik, kita punya sosok Bunda Maria. Dia manusia biasa, The. Dia tau gimana sakit hati dan sedihnya kita karna Dia pernah menjadi manusia biasa. Gua sering cerita ke Dia, gua pernah sakit hati dan benci banget sama seseorang sampe gua gak bisa nyanyiin doa Bapa Kami ketika misa, mulut gua gak bisa berucap. Dan gua dipulihkan ketika gua doa di Goa Maria, Dia angkat segala kesakitan dan rasa benci gua. Gua bisa kembali nyanyiin Doa Bapa Kami. Gua bisa mengampuni orang itu.

Gua pernah bilang di awal pacaran sama si koko (suaminya), kalo gua cinta Tuhan gua lebih dulu dibanding gua cinta sama lu dan gua gak mungkin pindah agama. Dan gua gak mau meninggalkan Tuhan gua.

Setiap agama itu punya ajaran yang baik, tapi kita harus tetap setia dengan agama kita. ingat-ingat setiap berkat yang terjadi dalam hidup kita. Tapi, kalo hubungan kita gak dekat sama Tuhan, kita mudah goyah, kita mudah berpindah-pindah agama dan kita akan terus ‘mencari’.

Ada banyak obrolan dan sharing lainnya antara saya dan si cici. Setiap ucapannya itu seperti pengingat untuk saya tetap setia dan menyerahkan segala hal kepada Tuhan saya. Semalaman dan sampai keesokannya saya banyak memikirkan obrolan itu.

Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, jatuh – bangun yang berdarah-darah, keputus-asaan, ketidak-adilan, tersisihkan dan kalau saya tidak berserah pada-Nya, entah apa jadinya saya. Disetiap permasalahan, saya diberikan penguatan. Disetiap perkara, ada hal baik setelahnya. Dan di dalam banyak hal, saya didewasakan.

Setelah obrolan-obrolan dengan si cici, saya pun masuk ke dalam gereja untuk nunggu giliran pengakuan dosa. Saya kira Romo akan memberikan penitensi yang panjang, tetapi saya hanya disuru baca tentang “pembawa damai”.

Cara Tuhan emang ajaib ya, Dia mengingatkan saya untuk menjadi pembawa damai, Dia tau sekali kalau belakangan ini saya menjadi orang yang gak sabaran, gak ada damai dalam hati saya. Saya jadi ingat kata-kata seorang Romo: keKatolikan itu membawa damai, kalau kamu belum menjadi pembawa damai, kamu belum Katolik.

Seakan belum cukup, Tuhan kembali mengingatkan saya dari komsel yang semalam saya datangi. Ada salah satu teman gereja yang dulu juga pelayanan bareng, dia beberapa kali ngajak saya komsel di satu komunitas di daerah Jakarta barat, saya selalu gak bisa. Dan ketika akhir bulan lalu teman saya ajakin lagi, saya mikir-mikir, hmm.. ya bole deh ikutan, toh udah lama gak komsel.

Tau apa tema yang diangkat? Tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

Setiap orang (termasuk saya) menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan yang kita alami. Di setiap kebaikan yang diceritakan, saya mendapatkan penguatan.

Ditambah lagi pembicara dalam komsel itu menceritakan tentang tahun kerahiman ilahi yang walau pun sudah selesai di bulan November kemarin, tetapi masih digemakan di gereja-gereja. Dia juga menceritakan tentang warna yang dipakai dalam minggu ke-4 masa Adven (menjelang Natal), yang mana digereja Katolik menggunakan warna rose yang melambangkan Immortal Love, cinta yang tak berkesudahan, cinta-Nya Tuhan kepada kita yang tak terbatas. Saya benar-benar trenyuh mendengarnya, pengen mewek lagi tapi karna gengsi, jadi nahan-nahan air mata.. Haha.. (Iya, saya cengeng ya~)

Dia juga menceritakan tentang Bunda Maria dan cara Tuhan yang unik kenapa memilih Maria untuk mengandung Yesus, padahal Maria itu miskin, buat lahiran aja gak punya uang, dan berakhir harus melahirkan di sebuah kandang, meletakkan Yesus di palungan. Tuhan bisa aja menunjuk perempuan yang lebih wah, melahirkan di tempat yang layak agar setiap orang mengakui Yesus. Tetapi, Tuhan ingin mengajarkan kita tentang kerendahan hati dan berserah pada-Nya. Disetiap penolakan-penolakan dan keputusasaan, berserah pada-Nya, percayakan segala permasalahan pada-Nya, karna akan ada hal luar biasa setelahnya.

Palungan itu sebuah tempat untuk menampung makanan, dan ketika Yesus dilahirkan di palungan, menandakan bahkan berkat yang melimpah untuk orang-orang yang percaya pada-Nya. Kita punya pilihan untuk menerima Tuhan dan masuk dalam kerahimannya di mana kita akan merasakan damai sejahtera serta suka cita, atau menolak Tuhan dan hidup dalam kesengsaraan.

Akhirnya saya tau kenapa belakangan ini saya sering resah dan khawatir, karna saya jauh dari-Nya, saya menjaga jarak pada-Nya. Dan dari kejadian kemarin-kemarin, Tuhan menyentil saya, mengingatkan saya untuk menyerahkan segala kekhawatiran saya pada-Nya. Saya juga mau bilang makasih untuk orang-orang yang menjadi ‘jembatan’ untuk saya kembali mendekat pada Tuhan. :)

Bulan Desember udah berjalan 16 hari, dan di sisanya saya ingin belajar untuk semakin dekat pada-Nya. :’)

Love,
Ay.

Monday, September 30, 2013

Garis Finish^^



 
Pada akhirnya, kita akan bertemu di garis finish. Saling mengaitkan kelingking dan berjanji akan terus bersama (30 Maret 2012)

Saya  tunggu kamu di garis finish itu, atau kamu yang duluan berada di sana?
Tidak apa-apa, karna toh pada akhirnya kita akan bertemu^^

Monday, September 16, 2013

Pasanganmu

 

“Suatu saat, semua orang akan menemukan pasangannya. Begitupun denganmu. “

Sebenarnya ketika saya menuliskan ini, saya berada di dalam kesibukkan pekerjaan kantor. Kemudian saya jenuh dan iseng-iseng menuliskan ini. Jadi, kalau isinya agak-agak melantur mohon dimaklumi. Menulis adalah salah satu cara saya untuk melepaskan kepenatan juga membunuh waktu.
Hmm, Kamu punya sahabat?
Saya punya dan hanya satu orang. Dari dulu tak pernah bertambah dan mungkin hanya satu untuk seterusnya. Saya memang punya banyak teman dan beberapa teman baik tetapi hanya memiliki 1 sahabat. Kurang kah? Tidak, saya bersyukur memilikinya. Karna hanya perlu 1 orang sahabat yang benar-benar mengerti kamu luar dalam, tidak perlu lebih dari itu.
 
Saya mau mengumumkan kalau sahabat saya ini tahun depan akan menikah. Sebuah kejutan yang menyenangkan bukan? Saya kaget ketika dia memberitahukan kabar itu. Saya senang akhirnya dia menemukan tempat untuk berlabuh.
Gimana sih rasanya akan menikah? Kamu gak deg-degan? ” Aku bertanya padanya.
 
Deg-degan lah, Ay. Banyak yang harus dipersiapkan. “ dia menjawab dengan suara lelah namun dengan mata berbinar.
" lalu, kapan kamu akan kursus pernikahan?
Minggu depan, selama 3 hari. Aku sudah membuat janji dengan salah satu Romo di gereja, “ jawabnya malu-malu.
Wow! Ya ampun, cepet banget udah mau kursus. “ saya sampai tak sanggup berkata-kata lagi.
Lalu, bagaimana denganmu, Ay?
 
Sejujurnya sampai saat ini, saya belum memikirkan itu. Menikah, tinggal di rumah mungil dengan suami dan anak yang manis tentunya membahagiakan. Tetapi, saya masih belum tau kapan saya dapat membina hubungan yang nantinya akan menjadi tempat akhir saya melabuhkan hati. Mungkin karna saat ini saya belum menemukan seseorang yang tepat, seseorang yang dapat membuat saya memikirkan tentang sebuah pernikahan.
 
Sering kali saya mendengar omongan seperti ini, ‘ jangan cari pasangan karna kamu kesepian, tetapi cari pasangan ketika hatimu sudah siap’.  Mungkin karna hati saya yang terlalu keras dan belum siap makanya tidak ada seorang pun yang mampu membuat hati saya luluh.
 
Sekeras itu kah hatimu, Ay?
 
Entahlah. Saya sendiri bingung.
 
Kalau di tanya apa saya tidak khawatir dengan umur yang sudah di bilang dewasa ini tetapi masih suka sendiri. Saya khawatir, jelas. Tetapi, saya punya cara tersendiri untuk melupakan kesendirian saya. Untuk apa terus menerus meratapi hidup yang sudah berat ini? Saya selalu ingin menjalankannya dengan cara saya, dengan hal-hal menyenangkan, dan mencoba untuk selalu melakukan hal yang saya sukai.
 
Mungkin saat ini, saya masih egois dan belum mau membagi hidup saya dengan orang lain, belum ingin menitipkan hati saya ke satu orang. Tetapi, saya mau kok untuk membagi hati saya. Saya masih mencari orang yang dapat saya percaya untuk menjaga hati saya ini.
 
Apakah kamu juga mengalami apa yang saya rasakan? Kekhawatiran untuk menjalin hubungan serius dan akhirnya menikah? Atau takut tidak dapat menemukan tempat berlabuh?
 
Tidak perlu khawatir. Karna suatu saat, semua orang akan menemukan pasangannya. Begitupun denganmu. :)

Wednesday, July 31, 2013

Jejak yang Menghilang

 
 
Kamu tahu, nanti, ketika kamu sadar bahwa saya telah menghilang, kamu tidak akan pernah dapat menemukan saya lagi. Sampai jejak-jejaknya sekalipun.

“ Ay, temani saya ke sini. “ Ucapan yang selalu keluar dari mulutmu. Selalu dalam bentuk pernyataan dan saya tidak boleh menolak permintaanmu.

Kamu adalah orang paling egois yang pernah saya kenal. Dan bodohnya saya selalu luluh dengan semua permintaanmu, selalu menuruti semua yang kamu inginkan.

Ada saat-saat menyenangkan yang kita lalui. Ada saat-saat saya marah dengan kamu pun juga sebaliknya. Ada saat-saat kamu menjadi sangat menyebalkan, tentunya dengan egomu yang tinggi. Namun, ada saat-saat kamu begitu manis sampai saya menjadi salah tingkah.

Jika kamu bisa menurunkan sedikit ego dan gengsimu, tentunya kita bisa tetap seperti ini. Tetap bertemu dan melakukan banyak hal yang menyenangkan.

Selama kita saling mengenal, ada saat-saat tidak menyenangkan yang kamu lakukan kepada saya. Dan ketika di suatu titik, perbuatanmu sudah tak termaafkan. Saya tidak dapat mentolerirnya lagi.

Kamu cari saja orang lain yang mampu mengikuti semua keinginanmu karna saya sudah tidak bisa lagi. Saya ingin melupakan kamu dan menghapus kamu dalam kehidupan saya di hari-hari selanjutnya.

Mungkin saat ini kamu merasa saya masih ada di sampingmu. Kamu salah, karna saya telah memutuskan untuk pergi meninggalkan kamu. Dan ketika kamu sadar bahwa saya telah menghilang, kamu tidak akan dapat menemukan saya lagi. Sampai jejak-jejaknya sekalipun.

Monday, July 22, 2013

Bangku Taman



Sebuah bangku taman memiliki banyak kisah. Salah satunya kisah antara kamu, saya dan sekotak putri salju.

Saat itu, sepasang headset terpasang di telinga, mengalunkan sebuah lagu yang begitu manis. Kemudian kamu datang menghampiri saya, ikut duduk di samping saya. Kamu mengambil sebelah headset saya dan memasang ditelingamu. Lalu kamu pun berkata,

“Ay, masih ingat tidak apa yang kamu pinta minggu lalu? “

Saya dengan tampang bingung, menggeleng. “ Memang saya minta apa sama kamu?”

“ Dasar pelupa. Nih yang kamu mau. Saya gak tau saljunya udah meleleh atau belum soalnya tadi saya taruh di motor, “ dia menyodorkan sebuah kotak yang didalamnya berisi kue berbentuk bulan sabit bertabur gula putih.

Kue putri salju.

Saya tak bisa menahan senyum saya, “ kamu beneran ngasih ini ke saya? “ Dia mengangguk. Saya menerimanya dengan senyum yang semakin lebar.

“ Kayaknya sih agak keras ya, manggangnya kelamaan, “ lanjutnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia salah tingkah.

“Tak apa, saya suka, “ saya suka apapun yang kamu berikan kepada saya. Kalimat terakhir tak saya ungkapkan, bisa-bisa dia besar kepala.

Kemudian kami kembali terdiam. Saya memeluk kotak kue pemberiannya, dan kami menikmati lagu yang terputar di playlist sampai habis.

(menulis ini sambil memutar I’ll be There for You – Hanbyul)

Sunday, July 7, 2013

Tentang Belajar Menerima Hati yang Lain


“ Ay, Saya ada pertanyaan untuk kamu. Kamu lebih memilih mencintai atau dicintai? “

“Mencintai.”

“Itulah alasan kenapa kamu sering patah hati. Dalam hidup, hanya ada 2 pilihan : dijatuhkan atau menjatuhkan. Mencintai = dijatuhkan. Tidak ada satu pasangan pun saat pertama bertemu, keduanya langsung jatuh cinta, pasti ada salah satu yang jatuh cinta terlebih dahulu. Jadi, sekarang kamu bisa memilih, tetap mencintai atau mau belajar mencintai orang yang mencintaimu.”

Percakapan di atas antara saya dan seorang wanita paruh baya yang sehari-hari bekerja dalam menilai kepribadian orang lain. Beliau bukan seorang psikolog, tetapi pengetahuannya dapat disetarakan.

Saya cukup kaget mendengar pernyataan beliau yang begitu terbuka. Salahkah kalau saya mencintai seseorang? Tidak. Tetapi yang membuat saya tertampar adalah saran dia agar saya belajar menerima orang lain. Belajar untuk membuka hati saya untuk hati lain yang mau menerima saya. Hal yang begitu sulit untuk saya lakukan.

Saya tidak terbiasa menerima perlakuan yang terlalu baik, bukan berarti saya menginginkan perlakuan jahat. Tidak sama sekali. Tapi, saya selalu merasa punya ‘hutang’ apabila orang lain baik kepada saya. Saya risih kalau ada seorang laki-laki yang begitu baik sedangkan saya sendiri acuh padanya. Dan lagi-lagi, hati saya menolak itu. Menolak kemurahan hati dia. Bodohnya saya.

Sahabat saya sangat gemas dengan kelakuan saya ini, sampai-sampai dia berkata “ apa sih yang kamu cari? Ada seseorang yang menunggumu, seseorang yang mau menerima kamu, tapi kenapa kamu menolaknya?”

Saya ini kalau tidak respect dengan orang, tidak mau bersusah-susah untuk menerimanya. Sebaik apapun, semenarik apapun dia di mata orang lain, kalau saya tidak suka ya tidak suka. Sungguh keras kepala. Alasan saya yang selanjutnya, saya tidak ingin memberikan harapan palsu. Oleh karenanya saya tidak mau menerima kebaikan dari laki-laki yang tidak saya sukai. Angkuh ya saya.

Tetapi sekarang saya dalam tahap belajar menerima hati lain. Saya mau belajar untuk menerima hati yang mencintai saya. Saya sudah capek menunggu seseorang yang tidak pasti, seseorang yang tidak menghargai saya. Saya tidak mau patah hati, lagi.

Buat kamu yang di sana, sabar ya. Saya sedang belajar menerima kebaikanmu. Dan terima kasih, kamu mau mempercayakan hatimu pada saya..


Tuesday, July 2, 2013

Kesempatan Terakhirmu

 
 
Kamu patah hati. Kamu dekat dengan banyak perempuan. Kamu memilih salah satu diantaranya. Dan saya, hanya menonton kamu dari kejauhan.

“ Ay.. Ay-ku. Apa kabar?”

Panggilan pertama setelah kamu menghilang selama 2 tahun. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, kamu mulai menggerecoki hidup saya lagi, kamu kembali membuka kenangan yang ingin saya lupakan.

“ Oh, kamu masih ingat dengan saya? “  Saya membalas dengan sinis.

“ Ay, saya sudah putus. Saya nyesel banget pernah pacaran dengan dia. Saya sayang sama dia, tapi dia ternyata hanya memanfaatkan saya. Saya sudah tidak punya apa-apa, “ katamu putus asa.

“ Lalu apa urusannya dengan saya? Dulu itu pilihan kamu dan kamu gak pantes menyesalinya.”

Malam itu, tanpa bisa saya cegah, kamu menceritakan semua hal yang terjadi dalam 2 tahun ini. Berkali-kali kamu bilang kalau diri kamu bodoh, karna hanya demi wanita itu kamu meninggalkan semuanya. Meninggalkan teman-teman mainmu dan meninggalkan saya.

Kamu. Seseorang yang sebenarnya ingin saya hindari. Karna sekali saja saya menanggapimu, sekali saja saya mendengarkan keluh-kesahmu,  saya akan kembali luluh dan memaafkanmu.

Selepas malam itu, kamu selalu menghubungi saya setiap hari. Bodohnya, saya pun mulai menanggapimu dan sedikit demi sedikit mulai menitipkan hati saya kepada kamu.  

Tawa-tawa selalu menghiasi hari-hari kita. Saya luluh. Salah kan saya kembali mempercayakan hati saya padamu?

Dan memang salah. Setelah setengah tahun lebih kita kembali dekat, tiba-tiba suatu hari kamu bercerita tentang hal yang membuat hati saya sakit…

“ Ay! Saya lagi naksir wanita ini. Orangnya baik. Cantik kan? “ kamu mengirimkan foto wanita itu kepada saya.

Dia cantik, anggun.

Mengapa kamu melakukan ini kepada saya? Kamu anggap saya apa selama ini?
Saya berteriak dalam hati.

Tak lama setelah kamu mengirimkan foto wanita itu, kamu kembali mengabarkan saya bahwa kamu sudah jadian dengan dia dan betapa senangnya kamu. Saya sakit hati.

“ Ay, semalam saya menyatakan perasaan kepadanya dan ternyata diterima! Saya seneng banget, dari sekian wanita yang saya dekati, dia yang paling mengerti saya. Ay, makasih yah selama ini kamu sudah menjadi teman berbagi saya. Saya gak akan melupakan kebaikan kamu. Mudah-mdah kali ini saya tidak salah pilih pasangan. “

Ya, mudah-mudahan kamu tidak salah pilih pasangan karna selama setengah tahun itu adalah kesempatan terakhir kamu untuk berbagi dengan saya. Saya tidak ingin bertemu kamu lagi, saya tidak ingin mendengar kabar dari kamu lagi. Sudah cukup.

Kamu patah hati. Kamu dekat dengan banyak perempuan. Kamu memilih salah satu diantaranya. Dan saya, telah melupakan semuanya tentang kamu...