Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts

Tuesday, August 14, 2018

Time Flies, People Change..

Percakapan saya dan Sun bulan lalu..

Saya: cepet banget ya tahun ini, tau-tau udah di pertengahan lagi, ya gak sih? tar tau-tau kita udah umur 50 lagi.
Sun  : Hahaha, lebay nih kamu. 50 masih lama kali
Saya: aku ngerasa cepet aja sih, ngeh gak pas kita udah masuk umur 20 ke sininya makin cepet? waktu jaman sekolah kan lama banget, sekolah cuma sampe jam 1 aja gak kelar-kelar.

Kemudian kami membahas masa depan mau seperti apa, kitanya mau gimana, apa yang perlu diusahakan lagi. Saya suka ngobrol sama Sun, walau sometimes kita selisih pendapat dan akhirnya berdebat trus saya dibilang keras kepala. :p

Pernah juga suatu kali Sun bilang ke saya: Kamu tuh satu-satunya cewe yang berani ngelarang-larang aku tau gak, trus aku nurut lagi.
Saya: *ngakak banget* ih, masa sih? emang para mantan gak ada yang ngelarang kamu?
Sun : Mana ada yang berani, baru kamu nih.
Saya: ya ampun, kok mereka gak mendidik banget ya. *masih ketawa tapi nada sarkas*
Sun : Ah, udah ah gak mau dibahas
Terus saya ngetawain Sun dan dia jadi ikutan ketawa juga. :p

Seriously, hanya menuruti dan mengiyakan pasangan itu gak baik. Kalau kita melihat yang gak benar tapi dibiarkan aja, itu bukan pasangan yang baik menurut saya. Kita perlu 'melarang' atau mengingatkan apa-apa yang memang tidak benar. Saya tau, Sun yang sekarang sudah jauh berubah dari yang dulu. Mungkin dulu gak ada yang berani larang karna Sun galak banget dan dominan. :p

Time flies, people change... Baik saya dan Sun banyak mengalami perubahan. Saya yang dulunya plin-plan dan manja, sekarang mandiri dan tegas. Sun yang dulunya gak bisa terbantahkan, sekarang (seringnya) nanya pendapat saya dulu, dia juga jadi jauh lebih sabar dan penyayang. Bahkan Dia yang selalu ngingetin saya untuk rajin berdoa dan baca firman, thats why I love him.

Gak ada orang yang gak berubah. Tetapi mau berubah seperti apa pun kita, tetap ingat untuk menjalani hidup dengan baik, dengan benar. :)


Love,
Ay 

Thursday, December 1, 2016

December :)




Uwaaaaa!! Desember!!!
Bulan Desember selalu bisa buat saya jatuh hati tanpa alasan lho. Bayangin pohon Natal aja udah seneng banget. :D
Kalo diingat-ingat, waktu kecil saya punya impian untuk bisa pergi ke London, merayakan Christmas Eve di gereja bergaya Eropa yang warm, menyanyikan lagu-lagu khas Natal seperti Silent Night dan Noel. Oh, tentunya karna sedang winter, saya mau mengenakan boat hitam, coat panjang berwarna coklat tua, scarf biru muda dan sarung tangan. :p
Setelahnya, saya ingin berjalan-jalan keliling kota dan menikmati jalanan yang dipenuhi dengan tumpukan salju, lampu-lampu dan ornament natal. Kemudian mampir ke kedai kopi terdekat untuk memesan segelas peppermint tea panas dan croissant. Sekalian numpang untuk menghangatkan diri. Hehehe…
Ngimpi banget ya? kayaknya sih efek dulu tiap libur sekolah itu selalu nonton Home Alone deh. Kalian pernah berangan-angan seperti itu gak sih? :D
Sebenarnya ketika saya menulis ini, saya sedang sakit. Gara-gara semingguan kemarin saya sering kehujanan ketika pulang dari kantor. Jadinya saya flu berat, sakit kepala dan ditambah radang tenggorokan. Lengkap deh.
Walau sakit, tetap gak mengurangi rasa suka saya sama bulan Desember. Kalo dipikir-pikir lagi, udah lama saya gak menghabiskan waktu untuk membaca. Bahkan ada 1 buku yang saya beli di bulan Agustus dan belum saya selesaikan sampai sekarang. T_T
Jadi saya berencana di bulan ini mau cari waktu 1 hari untuk me time di bookstore favorit saya. Biasanya di bulan Desember, di sana jual yang namanya blind books. Jadi ada paket-paket buku yang sudah dibungkus kertas kado cantik dan kita tidak tau isi di dalamnya. Udah lama juga gak kasih kado buat diri sendiri, sepertinya blind books bakalan jadi kado natal yang cocok. Habis itu saya ingin mampir ah ke kedai susu yang juga favorit saya. wah, gak sabar! :D
Di bulan Desember ini saya berharap bisa lebih bahagia dari bulan-bulan sebelumnya. Udah punya beberapa rencana untuk mengisi weekend. Pokoknya saya mau berbahagia sebanyak-banyaknya. :D
Ps: kamu yang baca ini juga harus bisa membahagiakan diri ya. ^^


Love,

Ay.                                                                                                                                                                          

Monday, June 13, 2016

Pantai

foto dari sini

Beberapa minggu yang lalu saya sempat cerita di grup kalau saya butuh piknik. Pokoknya mau menjauh sejenak dari rutinitas, dari gedung-gedung tinggi, dari berdesak-desakan sepanjang perjalanan pergi dan pulang di dalam kereta. Menjauh dari tumpukan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Kemudian salah satu teman menyarankan (dan mengajak) piknik ke pantai selama 2 malam. Ah, saya malas. Sering kali saya bilang kepada orang-orang terdekat saya bahwa saya paling ogah ke pantai. Sama seperti saya yang tidak mau tidur dengan lampu yang dipadamkan. Begitulah.
Bukannya saya tidak suka pantai, hanya saja mataharinya terlalu menyengat, bikin kulit terbakar dan mata berkunang-kunang. Anggaplah saya manja banget dalam hal ini.
Tetapi tawaran ke pantai begitu menggoda dan pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Bahkan saya yang jadi kelewat semangat mempersiapkan ini dan itu, sampai niat membeli baju dan atribut ala pantai. Pokoknya maksimal banget. Hahaha~
Saya dan satu orang teman malah sampai ambil cuti 2 hari! Kita berdua berangkat dengan penerbangan paling pagi. Setelah beli tiket, baru mikir: ini seharian mau ke mana aja…?
Dan kita melupakan bahwa kita piknik di saat bulan puasa, yang walaupun kita tidak ikut berpuasa tapi kita berusaha menghargai mereka. Kita hanya bingung aja untuk makan dan minumnya gimana. Ah, terlalu banyak yang dipikirkan deh. -__-
Walau tidak suka sengatan matahari dan masih tidak tau mau ke mana aja selama 1 hari tambahan itu, saya tetap semangat dan menanti hari itu.
Ah ya, saya juga gak suka packing. Selalu last minute baru tergerak untuk mengemasi barang-barang. Tetapi, setiap pergi ke suatu tempat, saya selalu membuat list dan menuliskan apa-apa saja yang ingin saya bawa. Pergi selama 4 hari aja list saya panjang banget.
Kalau diingat-ingat, saya sudah 3 tahun menghindari pantai. Dan saya selalu absen dari acara keluarga kalau acaranya berlibur ke pantai.
Tetapi kali ini saya harus berani menghadapinya, berani untuk tersengat matahari. Saya jadi begitu ingin menyentuh pasir, merasakan asinnya air laut kemudian bermain dengan ikan-ikan karang. Membayangkannya saja membuat saya tersenyum dan melupakan ketidaksukaan saya terhadap teriknya matahari.
3 hari lagi.. iya, 3 hari lagi! :D
Love,
Ay.

Wednesday, May 25, 2016

Seseorang yang Baik


Jadilah seseorang yang baik. Saya selalu mengucapkannya pada diri saya. Entah mengapa, menjadi baik terasa lebih mudah saya lakukan ketimbang berbuat jahat. Berbuat tidak baik itu lebih melelahkan lho.
Dalah hidup saya, ada orang-orang baik yang datang dan pergi. Yang walau sesusah payah apapun saya berusaha, tetap tidak dapat membalas semua kebaikan mereka. Makasi Tuhan telah mengirimkan mereka. Terima kasih untuk pernah mampir di hari-hari saya. ^^
Tapi, tidak semua orang itu baik, Ay!
Iya, saya tau kok.
Banyak orang-orang palsu!
Iya, saya bisa membedakannya.
Kalau kamu dijahati, apa masih akan tetap baik?
Hmm.. ya. Saya tidak ingin berubah menjadi seperti mereka.
Bagaimana dengan orang-orang yang menyakitimu?
Ah, ya. Saya pernah terluka tak terhitung banyaknya. Tak banyak yang dapat saya lakukan, saya bukanlah orang yang dapat membalas ketidakbaikan itu. Saya lebih memilih melupakannya, menyingkirkan kesakitan itu sejauh mungkin. Karna hidup saya terlalu berharga hanya untuk meratapi luka-luka saya. Saya tidak ingin hidup seperti itu.
 Jadilah seseorang yang baik. Saya tak pernah bosan mengucapkannya. Seberapa pun tekanan disekitarmu, seberapa pun banyak orang-orang palsu, kamu tetaplah menjadi orang yang baik.
Oh ya, ada satu kalimat Fa (seorang penulis favorite saya) yang saya tulis dan tempelkan di meja kantor:

Karena pasti ada,
entah di persimpangan mana,
seseorang yang bersedia mengingatmu selamanya di hatinya. :)

Tidak ada ruginya menjadi orang yang baik, setidaknya kamu akan memiliki tempat di sudut hati orang lain. ^^

Love,
Ay.

Monday, April 4, 2016

Pindah

Tulisan ini kelanjutan dari postingan 'Pergi'. Entah kenapa saya ingin melanjutkannya kembali. Belakangan ini saya mendengar banyak kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk pindah kantor. Beberapa diantara mereka cukup dekat dengan saya. Kita banyak berbagi cerita. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Dari saling meledek sampai menggalau bareng.

Di bulan lalu, saya mendengar 4 orang teman saya yang memutuskan berpindah tempat. Oh, ditambah satu lagi teman dari pihak principal yang pindah. 5 orang. Bukanlah jumlah yang sedikit. Ketika nanti sudah tidak di dalam satu perusahaan lagi, meskipun ada ucapan: keep in touch ya! tetaplah tidak akan sama. 

Dan ketika saya mendengar kabar itu, hati saya seakan kosong. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang nantinya tidak sama lagi. Entah mengapa, saya jadi merasa takut ditinggalkan. Padahal saya sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, setiap kali ada orang yang pergi, rasanya masih selalu sulit untuk dimaklumi, untuk diikhlaskan. 

Iya, saya tau, selalu ada 'indah' disetiap 'pindah', keputusan mereka adalah sepenuhnya hak mereka dan saya tidak punya hak untuk mencampurinya. Saya hanya mampu untuk mendoakan agar hidup mereka akan semakin baik dan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. 

Walau sulit, tetapi saya bilang sekali lagi pada diri saya bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya. Terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi bagian dari hidup saya. :')

Ps: Jadi, kamu kapan pindah Ay?

Tuesday, December 15, 2015

Desember. Perjalanan. Bagasi


Banyak hal yang saya sukai. Saya suka memandang langit berawan. Saya suka rintik hujan. Saya suka menggambar. Saya suka menulis. Saya suka bercerita tentang hari-hari saya kepada orang-orang yang saya percaya. Saya suka dengan pendar bintang dan kerlipan kunang-kunang. Saya suka anak-anak. Saya suka mendengarkan keluh-kesah teman-teman saya. Saya suka bepergian ke tempat-tempat baru dan saya suka bulan Desember. Entah sudah berapa banyak yang tau kalau saya amat menyukai bulan ini.
Setiap bulan Desember tiba, hati saya dipenuhi kehangatan. Ada perasaan nyaman dan damai di dalamnya. Entah dari mana datangnya, saya tidak tau. Walau di 31 hari di bulan itu ada hal-hal buruk yang terjadi, tapi tidak menghilangkan rasa hangat di hati saya. Di bulan Desember, saya seperti diberikan kekuatan lebih untuk menjalani hari-hari saya.
Bulan Desember di tahun ini pun sudah lewat setengahnya. Ah, kenapa begitu cepat? Seriously, saya tidak ingin cepat-cepat berakhir. Karna menunggunya lagi butuh 11 bulan. Waktu yang tidak sebentar.
Hal baik dan buruk pun terjadi di bulan ini. Menyerahkan saya? Tidak. Menangiskah saya? Sedikit.
Sayang, catat ini: menangislah secukupnya dan berbahagialah sebanyak-banyaknya.
Di bulan ini pun saya banyak mengikuti kegiatan. Saya ingin terus menata diri saya, memperbaikinya di berbagai sisi, tidak untuk menjadikan diri saya sempurna tetapi menjadi ‘saya yang lebih baik dari sebelumnya’.  
Minggu lalu saya ikut acara gereja, saat itu temanya ‘Forgiving’. Dari sekian menit pembicara membawakan topik itu, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Everyday, everybody will hurt you. Everyday, you must forgive someone.
Before you forgave someone, try to forgave yourself first.  
Kira-kira begitulah yang pembicara itu ucapkan (dan maafkan kalau kalimat yang saya tulis salah, you know, kemampuan bahasa inggris saya minim. Correct me if I’m wrong ya. Hehe)
Kalimat itu membekas di hati saya dan tanpa sadar saya mengangguk-anggukan kepala saat mendengarnya. Memaafkan diri sendiri, kedengarannya begitu mudah. Tapi, faktanya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibanding memaafkan diri sendiri. Saya masih perlu belajar memaafkan diri saya, menyayanginya dan memberikan apresiasi ketika saya melakukan hal yang baik. Saya masih perlu belajar untuk menghargai diri saya. Dan tentunya belajar menghapus rasa-rasa tidak mengenakkan yang bersarang di dalam hati.
Dan di bulan ini pun saya menemukan 1 postingan yang mengena di hati. Saya gak berpikir sebelumnya kalau di blog ini akan kedatangan bintang tamu. Saya tidak pernah berpikir untuk merepost cerita orang lain di blog saya. Tapi, kali ini pengecualian. Saya menyukai tulisan ini.

Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Bergerak dari sebuah titik ke titik lain di masa depan. Pergi ke satu tempat untuk menetap atau hanya sekadar untuk singgah. Bertemu dengan seseorang atau akhirnya memutuskan berpisah.
Seperti halnya sebuah perjalanan, masing-masing dari kita membawa bagasi yang berbeda. Mungkin hanya sebuah kotak kecil yang ringan untuk dibawa, atau koper besar berwarna cokelat muda yang menguras tenaga untuk membawanya.
Setiap orang membawa bagasinya masing-masing. Untuk seseorang, bagasi itu mungkin cukup dibawa dengan sebelah tangan. Dan untuk sebagian yang lain, harus dipanggul dengan menggunakan kokohnya tulang belakang.
Bagasi itu bentuknya bermacam-macam, bisa berupa beban ekonomi yang berkepanjangan, rumitnya kondisi keluarga yang memberatkan, hingga luka atau trauma emosional yang tak kunjung hilang.
Dan layaknya manusia normal, mungkin kadang kita suka membandingkan. Berkata pada diri sendiri : “Seadainya saja saya berada di posisinya. Seandainya saja saya lah orang yang membawa bagasinya.”
Tapi sayang kondisinya tidak seperti itu kawan.
Bring your own luggage. It’s your life. Never compare it with others.
Jangan pernah meminta orang lain untuk membawa bagasimu. Karena ketika kau mulai membandingkan, saat itulah kau kehilangan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang sepertinya rela menerima kondisimu, rela membawa bagasimu, namun akhirnya dia sadar, dia tidak butuh beban tambahan.
Dan memutuskan untuk pergi, memilih bersama orang dengan bagasi yang lebih kecil. Agar bebannya terasa lebih ringan.
Jangan kau tangisi kawan. Dia bukan untukmu.
Tetap bersabarlah kawan, ketika kau tergopoh-gopoh berusaha untuk membawa sendiri bagasimu, berusaha menggenggam erat semua koper bawaanmu, atau memanggul semua beban di pundakmu.
Nanti akan ada seseorang yang rela menjulurkan tangannya untuk membantumu. Tersenyum berdiri di sebelah mu.
Membantu membawa barang bawaanmu. Mencengkeram pegangan koper itu bersamamu.
Mungkin karena dia pernah membawa bagasi yang sama. Sebuah koper besar berwarna cokelat muda. Atau memang dia yang rela, untuk membawa bagasimu bersama-sama.
Karena suatu saat, “bagasi mu” akan berubah menjadi “bagasi kita”.
Ditulis oleh Tirta – Pemilik blog romeogadungan.com

Apakah kamu merasakan seperti yang saya rasakan ketika membaca tulisan di atas? Ada kah rasa hangat menjalar di hatimu?
Tulisan Tirta memembuat saya terdiam sejenak dan memikirkan koper-koper yang selama ini saya bawa. Bagi banyak orang yang mengenal saya hanya di luarnya saja, mungkin saya terlihat ke mana-mana hanya membawa tas tenteng kecil. Nyatanya, tiap harinya saya membawa banyak koper yang seringkali membuat saya teramat lelah dan tertidur di hampir setiap perjalanan saya pulang ke rumah.
Saya tidak ingin orang lain repot dengan bagasi saya yang penuh dengan koper besar dan kecil. Jika berjalan bersama saya ikut membuatmu lelah, berhenti dan pergilah. Saya tidak ingin menahanmu. Itulah yang kemarin-kemarin saya lakukan. Tidak ingin membuat orang lain susah karena saya.

Dari kalimat-kalimat Tirta, saya tersadar bahwa saya boleh mempercayakan koper-koper saya kepada seseorang yang bersedia ikut menjinjingnya bersama. Saling menyemangati untuk terus berjalan seberapa pun melelahkannya perjalanan itu.

Saya pun percaya meski seseorang itu belum datang, saya tidaklah sendiri. Karna Tuhan saya sudah terlebih dahulu membawa sebagian besar isi bagasi saya. Dia mempercayakan saya koper-koper lain agar saya menjadi orang yang tidak lemah. Dan agar saya dapat belajar untuk mempercayakan koper-koper itu untuk dibawa bersama dengan seseorang.

Ps: Ditulis dalam keadaan langit mendung, mata mengantuk tetapi dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Love,
Ay

Tuesday, November 24, 2015

Bersama Ayah


Hari ini hari jumat, saya bangun pukul 05:40. Amat kesiangan sebenarnya. Dengan mata yang masih berat untuk dibuka, saya berjalan menuju kamar mandi. Kegiatan pagi pun berlangsung seperti biasanya. Mandi dan siap-siap ke stasiun kereta. Hari ini saya naik kereta 06:45 dan mendapatkan duduk. Seperti biasa saya akan tertidur sampai perhentian terakhir. Selalu seperti itu. Tidak ada yang spesial. Ah, dan hari ini pun saya lupa membuka hari dengan berdoa. Hm..

Hari ini saya salah tidur, ketika bangun dipemberhentian terakhir, leher saya sakit. Dan perlu pijatan kecil sebelum saya berdiri dan keluar dari kereta. saya pun mengantri untuk keluar dari stasiun, kegiatan yang setiap hari saya lakukan.

Dari stasiun, saya masih harus naik angkutan umum untuk menuju kantor. Pagi ini pun angkutan umum yang saya naikin penuh sesak, tidak ada jarak sedikit pun antar penumpang, semuanya berdempetan. Dan ketika di tengah perjalanan, angkutan umum yang saya naikin berhenti dan menyuruh saya dan beberapa penumpang lainnya untuk pindah ganti mobil lain.

Hari ini saya bertemu dengan bapak-bapak yang bekerja di kantor yang sama dengan saya. Kita panggil dia Pak I saja ya. Pak I ini salah satu bapak-bapak favorit saya. Entah kenapa setiap kali melihatnya, wajahnya selalu penuh ke-bapak-an, baik dan berkharisma. Pak I ini punya 4 orang anak yang semuanya perempuan. Di sepanjang perjalanan saya dengan beliau menuju kantor, dia menceritakan tentang istri dan anak-anaknya.

Keempat anaknya Pak I itu lebih dekat dengan dia, ayahnya. Apa-apa selalu diceritakan kepada ayahnya. Bahkan anaknya yang paling kecil hanya mau ditemani belajar oleh Pak I.

Pak I: hari ini saya lebih siang datang ke kantor, harusnya lebih pagi.
Saya: emang kenapa Pak?
Pak I: itu anak saya yang paling bontot lagi manja, dia gak mau sekolah kalau gak diantar sama saya.
Saya: wahh.. oya? Yang kecil kelas berapa Pak?
Pak I: udah kelas 4 SD, tapi gak tau tuh manja bener sama ayahnya. Dia juga tiap malam nungguin saya, gak mau belajar kalo gak ditemenin sama ayahnya. Manja bener.

Begitulah kata-kata Pak I, terdengar seperti mengeluh tetapi ketika kamu melihat wajahnya, dia berbicara sambil tersenyum dan matanya menyorotkan dia begitu sayang pada anaknya.

Saya: sekolahnya dekat dari rumah Pak?
Pak I: dekat, jalan kaki hanya 10 menit, jadi saya tadi nemenin dia sampe ke sekolahnya.

Berjalan kaki ke sekolah dan bersama pria yang paling mencintainya. Entah mengapa hal itu begitu manis untuk saya. Selama 10 menit perjalanan dari rumah ke sekolah, saya yakin ada begitu banyak obrolan antara si anak dengan ayahnya. Bagaimana si ayah menatap anaknya yang setiap hari semakin bertumbuh dan bagaimana si ayah menggandeng  anaknya. Saya membayangkan itu. Dan menjadi tersenyum sendiri. Hati saya menghangat.

Dan ada perasaan lain yang menyelinap di sela-sela kehangatan itu. Saya iri. Ya. Iri. Hubungan saya dengan papi saya tidak semanis itu. Mungkin karna saya sudah besar dan malu kalau harus bermanja-manja pun juga papi saya.

Dari segala hal yang terjadi dan itu bukanlah hal baik, saya tau, papi saya sebenarnya tidak menginginkan hal itu. Orang tua mana yang mau mengecewakan istri dan anak-anaknya? Tidak ada.

Papi saya bukanlah orang yang sempurna, saya tau itu. Oleh karenanya saya berusaha untuk menerima baik dan buruknya. Dia tetap papi saya, orang yang dulunya berjuang untuk membesarkan saya. Terima kasih, pi. Berkat papi, saya jadi perempuan yang (bisa dibilang) tangguh.

Ps: bagaimana pun keadaan keluargamu, tetaplah bersyukur. Percaya saja, Tuhan punya rencana yang baik, walau untuk mencapainya tidaklah mudah pun juga sederhana.

(ditulis pada hari Jumat, 20 November 2015)

Love,
Ay