Showing posts with label 2016. Show all posts
Showing posts with label 2016. Show all posts

Friday, December 16, 2016

Tentang Keimanan

Hari ini sebenarnya jadwal saya publish fiksi mini, tapi skip dulu yaa~ Soalnya saya mau cerita tentang apa yang saya dapat kemarin.

Di bulan desember ini, setiap gereja Katolik di dunia menerima orang-orang yang ingin melakukan pengakuan dosa. Dan kemarin rabu, pulang dari kantor, saya mampir ke gereja. Ketika sampai di gereja, saya bertemu seorang cici yang dulu sama-sama pelayanan bareng saya, dia senior saya. Awalnya saya mau say hi aja ke dia, karna tujuan saya ke gereja kan mau pengakuan dosa. Tapi, kita malah asik sharing.

Kadang Tuhan itu ngasih jawaban dan pengingat di orang yang tak terduga ya. Dari obrolan saya dengan si cici, beberapa kali saya berusaha menahan air mata, gak tau kenapa bawaannya pengen mewek aja. Dia sharing tentang kesetiaan dan kepatuhan, hati hamba, Bunda Maria, sakramen-sakramen dan berkat-berkat dari setiap hal kecil dalam hidup kita.

The, kita harus menyerahkan hal sekecil apa pun ke Tuhan, dan kamu akan merasakan berkat-berkat-Nya dalam hidup kamu.

Salah satu hal yang gua bangga jadi Katolik, kita punya sosok Bunda Maria. Dia manusia biasa, The. Dia tau gimana sakit hati dan sedihnya kita karna Dia pernah menjadi manusia biasa. Gua sering cerita ke Dia, gua pernah sakit hati dan benci banget sama seseorang sampe gua gak bisa nyanyiin doa Bapa Kami ketika misa, mulut gua gak bisa berucap. Dan gua dipulihkan ketika gua doa di Goa Maria, Dia angkat segala kesakitan dan rasa benci gua. Gua bisa kembali nyanyiin Doa Bapa Kami. Gua bisa mengampuni orang itu.

Gua pernah bilang di awal pacaran sama si koko (suaminya), kalo gua cinta Tuhan gua lebih dulu dibanding gua cinta sama lu dan gua gak mungkin pindah agama. Dan gua gak mau meninggalkan Tuhan gua.

Setiap agama itu punya ajaran yang baik, tapi kita harus tetap setia dengan agama kita. ingat-ingat setiap berkat yang terjadi dalam hidup kita. Tapi, kalo hubungan kita gak dekat sama Tuhan, kita mudah goyah, kita mudah berpindah-pindah agama dan kita akan terus ‘mencari’.

Ada banyak obrolan dan sharing lainnya antara saya dan si cici. Setiap ucapannya itu seperti pengingat untuk saya tetap setia dan menyerahkan segala hal kepada Tuhan saya. Semalaman dan sampai keesokannya saya banyak memikirkan obrolan itu.

Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, jatuh – bangun yang berdarah-darah, keputus-asaan, ketidak-adilan, tersisihkan dan kalau saya tidak berserah pada-Nya, entah apa jadinya saya. Disetiap permasalahan, saya diberikan penguatan. Disetiap perkara, ada hal baik setelahnya. Dan di dalam banyak hal, saya didewasakan.

Setelah obrolan-obrolan dengan si cici, saya pun masuk ke dalam gereja untuk nunggu giliran pengakuan dosa. Saya kira Romo akan memberikan penitensi yang panjang, tetapi saya hanya disuru baca tentang “pembawa damai”.

Cara Tuhan emang ajaib ya, Dia mengingatkan saya untuk menjadi pembawa damai, Dia tau sekali kalau belakangan ini saya menjadi orang yang gak sabaran, gak ada damai dalam hati saya. Saya jadi ingat kata-kata seorang Romo: keKatolikan itu membawa damai, kalau kamu belum menjadi pembawa damai, kamu belum Katolik.

Seakan belum cukup, Tuhan kembali mengingatkan saya dari komsel yang semalam saya datangi. Ada salah satu teman gereja yang dulu juga pelayanan bareng, dia beberapa kali ngajak saya komsel di satu komunitas di daerah Jakarta barat, saya selalu gak bisa. Dan ketika akhir bulan lalu teman saya ajakin lagi, saya mikir-mikir, hmm.. ya bole deh ikutan, toh udah lama gak komsel.

Tau apa tema yang diangkat? Tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita.

Setiap orang (termasuk saya) menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan yang kita alami. Di setiap kebaikan yang diceritakan, saya mendapatkan penguatan.

Ditambah lagi pembicara dalam komsel itu menceritakan tentang tahun kerahiman ilahi yang walau pun sudah selesai di bulan November kemarin, tetapi masih digemakan di gereja-gereja. Dia juga menceritakan tentang warna yang dipakai dalam minggu ke-4 masa Adven (menjelang Natal), yang mana digereja Katolik menggunakan warna rose yang melambangkan Immortal Love, cinta yang tak berkesudahan, cinta-Nya Tuhan kepada kita yang tak terbatas. Saya benar-benar trenyuh mendengarnya, pengen mewek lagi tapi karna gengsi, jadi nahan-nahan air mata.. Haha.. (Iya, saya cengeng ya~)

Dia juga menceritakan tentang Bunda Maria dan cara Tuhan yang unik kenapa memilih Maria untuk mengandung Yesus, padahal Maria itu miskin, buat lahiran aja gak punya uang, dan berakhir harus melahirkan di sebuah kandang, meletakkan Yesus di palungan. Tuhan bisa aja menunjuk perempuan yang lebih wah, melahirkan di tempat yang layak agar setiap orang mengakui Yesus. Tetapi, Tuhan ingin mengajarkan kita tentang kerendahan hati dan berserah pada-Nya. Disetiap penolakan-penolakan dan keputusasaan, berserah pada-Nya, percayakan segala permasalahan pada-Nya, karna akan ada hal luar biasa setelahnya.

Palungan itu sebuah tempat untuk menampung makanan, dan ketika Yesus dilahirkan di palungan, menandakan bahkan berkat yang melimpah untuk orang-orang yang percaya pada-Nya. Kita punya pilihan untuk menerima Tuhan dan masuk dalam kerahimannya di mana kita akan merasakan damai sejahtera serta suka cita, atau menolak Tuhan dan hidup dalam kesengsaraan.

Akhirnya saya tau kenapa belakangan ini saya sering resah dan khawatir, karna saya jauh dari-Nya, saya menjaga jarak pada-Nya. Dan dari kejadian kemarin-kemarin, Tuhan menyentil saya, mengingatkan saya untuk menyerahkan segala kekhawatiran saya pada-Nya. Saya juga mau bilang makasih untuk orang-orang yang menjadi ‘jembatan’ untuk saya kembali mendekat pada Tuhan. :)

Bulan Desember udah berjalan 16 hari, dan di sisanya saya ingin belajar untuk semakin dekat pada-Nya. :’)

Love,
Ay.

Monday, November 14, 2016

Menjadi Manusia yang Pantas

Suatu kali ada yang pernah bertanya kepada saya, apa saya yakin bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak?

Pertanyaan itu benar-benar saya pikirkan dan membuat saya bercermin. Kembali saya mengulang pertanyaan itu dalam pikiran saya. Yakin kah? Bisa kah?

Banyak diantara teman-teman saya yang sudah menikah dan memiliki anak. Sebagian menyesal karna memutuskan menikah terlalu cepat dan tidak siap ketika harus menjadi seorang ibu, yang waktunya banyak terkuras untuk mengurus anak dan merasa tidak sebebas dan sesantai dulu. Ada yang sampai stress, ditambah dengan si suami yang tidak mau membantunya menggantikan popok atau memberikan susu ketika anak mereka terbangun dan menangis di malam hari.
 
Tetapi ada pula yang merasa jauh lebih bahagia ketika seorang anak hadir di dalam keluarga mereka. Si istri yang iklas memberikan tenaga, pikiran dan waktunya untuk anak yang disayangnya. Juga si suami yang selalu semangat ketika waktunya pulang, karna tandanya dia akan segera bertemu dengan istri dan anak yang dia kasihi. Dia pun tidak tinggal diam ketika anak mereka terbangun di tengah malam, dia siap menggendong dan menidurkan kembali anaknya.
 
Dan bagaimana dengan saya?
 
Saya tidak bisa bilang kalau saya yakin dapat mengurus anak dengan baik, karna saya belum menikah, apalagi punya anak. Saya belum tau rasanya bagaimana menjadi seorang ibu. Tetapi, ketika nantinya menikah dan Tuhan mengijinkan untuk saya menjadi seorang ibu, saya akan berusaha menjadi ibu yang pantas untuk mereka, mengajarkan kebaikan-kebaikan dan tentunya menjadikan mereka anak-anak yang takut akan Tuhan. Syukur-syukur ketika mereka menginjak dewasa, mereka aktif dalam pelayanan di gereja. ^^
 
Saya tau tidaklah mudah pun juga sesederhana itu. Ada harga yang mahal dan kelapangan dada yang besar. Seorang teman pernah bilang ke saya: kalau udah nikah, kita sebagai istri bertugas memberikan yang terbaik dari diri kita tanpa pamrih, itu tantangannya, the.
 
Balik ke anak, sering saya dengar perkataan ‘anak adalah cerminan orang tuanya’. Oleh karenanya, yang bisa saya lakukan dari sekarang adalah belajar untuk memantaskan diri saya.
 
Ps1: jangan mengharapkan dan mengharuskan orang lain untuk berubah, kitanya yang harus berubah. Kita punya kendali penuh atas diri kita, kita lah juga yang menentukan mau berubah menjadi orang yang seperti apa. Atau tetap terus-terusan mengharapkan orang lain berubah untuk kita (yang ada bakalan makan ati :p).   
 
Ps2: pantaskan lah diri kita, dan Tuhan akan melayakkan hidupmu ^^

*bonus*

Ketika menulis ini, saya sempat membuka instagram dan menemukan cuplikan wawancara Song Ilkook, seorang ayah yang memiliki 3 anak kembar). Baru kali ini saya mendengar ucapan itu keluar dari mulut seorang pria~


Ps: semoga setiap laki-laki yang baca postingan ini dapat menangkap apa yang dikatakan Song Ilkook :)
Love,
Ay.

Monday, April 4, 2016

Pindah

Tulisan ini kelanjutan dari postingan 'Pergi'. Entah kenapa saya ingin melanjutkannya kembali. Belakangan ini saya mendengar banyak kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk pindah kantor. Beberapa diantara mereka cukup dekat dengan saya. Kita banyak berbagi cerita. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Dari saling meledek sampai menggalau bareng.

Di bulan lalu, saya mendengar 4 orang teman saya yang memutuskan berpindah tempat. Oh, ditambah satu lagi teman dari pihak principal yang pindah. 5 orang. Bukanlah jumlah yang sedikit. Ketika nanti sudah tidak di dalam satu perusahaan lagi, meskipun ada ucapan: keep in touch ya! tetaplah tidak akan sama. 

Dan ketika saya mendengar kabar itu, hati saya seakan kosong. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang nantinya tidak sama lagi. Entah mengapa, saya jadi merasa takut ditinggalkan. Padahal saya sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, setiap kali ada orang yang pergi, rasanya masih selalu sulit untuk dimaklumi, untuk diikhlaskan. 

Iya, saya tau, selalu ada 'indah' disetiap 'pindah', keputusan mereka adalah sepenuhnya hak mereka dan saya tidak punya hak untuk mencampurinya. Saya hanya mampu untuk mendoakan agar hidup mereka akan semakin baik dan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. 

Walau sulit, tetapi saya bilang sekali lagi pada diri saya bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya. Terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi bagian dari hidup saya. :')

Ps: Jadi, kamu kapan pindah Ay?

Friday, April 1, 2016

Jatuh Cinta

Beberapa hari yang lalu saya membeli komik Hi, Miiko edisi terbaru. Saya salah satu fansnya Miiko dan Tappei, dua tokoh utama, anak SD yang diam-diam saling menyukai. Di dalamnya ada satu cerita tentang Valentine, ketika Miiko (si tokoh anak perempuan) sedang galau ingin memberikan apa kepada Tappei. Miiko ini menganggap Tappei teman yang spesial, dia gak sadar kalau sebenarnya  dia suka dengan Tappei. Begitu pun sebaliknya, Tappei yang cuek dan suka iseng ke Miiko sebenarnya orang yang paling memperhatikan Miiko.

Balik ke cerita, sehari sebelum Valentine Miiko sibuk membuat coklat untuk dibagikan kepada teman-teman sekelasnya. Tetapi Miiko ingin memberikan tambahan hadiah kepada Tappei. Singkat cerita, dia pergi ke toko pernak-pernik dan melihat beberapa gadis SMP yang sibuk memilih sapu tangan cantik untuk diberikan ke laki-laki yang mereka sukai. Miiko pun ikut-ikutan membeli sapu tangan.

Besoknya dia kasih coklat dan sapu tangan kepada Tappei. Oh ya, gak hanya Miiko yang menyukai tappei, tapi ada satu teman sekelasnya juga yang suka dengan Tappei, anak itu pun memberikan sapu tangan! Dan ternyata keesokan harinya lagi, Tappei malah pakai sapu tangan yang anak itu berikan. Miiko jadi bete, dia sedih melihat Tappei gak memakai pemberian.

Ono Eriko, pengarang Hai, Miiko memang sering memberikan akhir cerita yang tidak disangka. Kenapa Tappei gak memakai sapu tangan pemberian Miiko? Saya berpikir awalnya Tappei sayang untuk menggunakannya dan dia simpan sapu tangan pemberian Miiko agar tidak kotor dan rusak. Ternyata tebakan saya salah total.

Miiko ini emang ceroboh, jadi yang dia beli itu bukan sapu tangan melainkan……. Celana dalam! Hahahahahahahaha.. aduh, dodol banget. Ternyata rak celana dalam dan sapu tangan ditempatkan bersebelahan dan dilipat dengan bentuk yang sama. Jadilah bukannya beli sapu tangan, Miiko malah beli celana dalam. Diakhir cerita, Tappei berbicara dalam hatinya: dasar Miiko, ini aku pakai kok tapi gimana bisa nunjukkinnya.

Cerita yang manis dan selalu bisa bikin saya senyum-senyum sendiri. Gara-gara cerita itu, saya jadi berpikir: kapan terakhir lo ngerasa jatuh cinta?

Saya tidak ingat. Iya, saya tidak mengingat dengan baik kapan saya jatuh cinta. Saya tidak ingat kapan saya menjadi gugup, salah tingkah dan banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perut. Kapan ya? Saya lupa lho.

Ada begitu banyak hal yang terjadi, ada hal-hal lain yang membuat saya lupa rasanya jatuh cinta. Bahkan di tahun lalu, ketika ada seseorang yang ingin mengajak saya serius, komit dan merencanakan masa depan bersama pun tidak dapat menggerakkan hati saya. Saya tidak dapat jatuh cinta padanya. Seberapa pun dia berusaha meyakinkan saya dan seberapa pun saya berusaha untuk menerima semua kebaikannya, tetap tidak dapat membuat saya jatuh hati padanya. Maaf.

Saya tidak mudah meletakkan dan mempercayakan hati saya kepada orang lain. Dan mungkin juga, ketika diumur yang sekarang, jatuh cinta versinya bukan lagi tentang salah tingkah, gugup dan deg-degan. Kalau dulu saya pernah bilang begini: gue butuh cowok yang bisa kasih tegangan tinggi biar bisa menggetarkan hati gue. Tetapi sekarang saya tidak membutuhkannya lagi. Ada hal-hal yang lebih principal ketimbang rasa yang hanya sementara itu.

“Karena jatuh cinta itu temporary, gak bertahan lama. Nanti itu akan berganti menjadi komitmen. Lo gak bisa berharap jatuh cinta selamanya. Cinta itu punya tanggal kadaluarsanya.” – Tirta

Ehm, tapi saya mau lho merasakan lagi rasa yang punya masa expirednya itu. :p


Ay. 

Monday, February 1, 2016

Goodbye January

Tadi pagi waktu buka path ada temen yang posting ini: Dear January, I'm sorry, but I can't be with you anymore. I've met someone else. His name is February~

Waktu pertama baca tuh langsung ketawa aja, gak tau kenapa. Tapi, habis itu langsung mikir: 31 hari di tahun 2016 udah selesai..

Kalau dibilang takut, iya, saya takut menghadapi hari-hari yang semakin cepat. Intensitas bertukar pikiran dengan temanmu semakin sering. Pikiran-pikiran yang mengganjal harus dikeluarkan agar otak dan hati saya lega.

Bulan Januari bisa dibilang bulan yang sibuk. Dari awal masuk kerja, ada aja kejadian-kejadian tidak mengenakkan, belum lagi kerjaan yang semakin lama semakin buat saya stress dan akhirnya pelarian saya adalah mencari tempat hiburan! Baru awal tahun aja saya udah kangen banget mau liburan, mau pergi ke tempat yang banyak pohonnya, yang jauh dari keramaian dan gedung-gedung pencakar langit.

Di bulan Januari kemarin pun ada banyak sekali hal yang terjadi. Di kantor, saya dipromosikan untuk naik jabatan. Kalau orang lain melihatnya sepertinya hebat, tapi saya sendiri biasa aja. Gak terlalu antusias sebenarnya. Hahaha.. Mungkin balik lagi, seberapa lamanya pun saya di kantor yang sekarang, sejujurnya pekerjaan ini bukanlah passion saya. Tetapi jika saya menolak tantangan yang diberikan kok rasanya saya seperti 'menyerah sebelum perang dimulai' ya. Kok rasanya pengecut sekali. Jadi, akhirnya saya putuskan untuk menerimanya dan saya tau pasti banyak hal yang bisa saya pelajari.

Saya menerima tantangan itu juga karna saya terlanjur sayang dengan direktur saya (anyway, direktur saya ini cewek, entah kenapa saya menghormatinya dan saya anggap dia ibu kedua setelah mami saya). Dibilang dekat banget, saya gak begitu dekat dengan beliau, tapi saya amat respect dan entah lah.. sulit diungkapkan.. Seperti sebelum-sebelumnya, saya masih galau. Masih mikir, mau sampai kapan bertahan di sini?

Saya merubah gaya hidup! Tahun ini resolusi saya gak semuluk tahun-tahun sebelumnya. Saya mau sehat dan membahagiakan diri. Itu aja. Dimulai dari saya yang kembali ikut gym di salah satu fitness center, saya yang mulai merubah pola makan saya. Dan so far, saya sudah merasakan efeknya. Metabolisme tubuh saya juga semakin baik. satu hal baik yang saya dapatkan di bulan Januari kemarin. :)

Saya mencari kegiatan yang menarik! Karna sudah disibukkan dari senin-jumat di kantor, saya mau mengisi weekend dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Saya beberapa kali datang ke LOJF (Light of Jesus Feast), kalau ini udah dari desember kemarin, dan ikut acara itu begitu menyenangkan dan menenangkan. Selalu ada hal baik yang saya terima. Dan setiap kali selesai Feast, hati saya lebih damai. 

Kemarin, untuk menutup bulan Januari, saya menghabiskannya di arena tembak. Ternyata menembak seru dan menyenangkan. Saya baru tau kalau senapan itu berat, tarik kokangnya juga berat, banget. Sampai-sampai instructornya standby di sebelah saya, dia yang bantuin tarik kokang dan memasukkan pelurunya. Baik ya. ^^ Oh, sempat pesimis dan malu sih kalau saya tidak bisa menembak tepat sasaran. Tapi..... ternyata bisa kok! saya selalu menembak di lingkaran hitam. Rasanya bakalan mau nembak lagi nih kapan-kapan. :D

Dan akan merencanakan untuk melakukan kegiatan menyenangkan lainnya. Pokoknya di tahun ini mau berbahagia sebanyak-banyaknya! Karna masalah pun semakin banyak, jadi harus diimbangi dengan berbahagia, kalau gak bisa makin stress. ya gak? :p

Love,
Ay

Friday, January 1, 2016

2016

Hai, apa kabar? Bagaimana hari pertama di tahun 2016? Bangun siang kah? Atau belum tidur sama sekali? 

mau bagaimana pun kamu, kamu dan saya memulai hari baru ini, saya harap ini awal yang baik. Awal untuk kembali menyelesaikan apa-apa yang belum terselesaikan, untuk memulai sesuatu yang baru dan untuk menjadi pribadi yang lebih menyayangi diri.

satu hari sebelum pergantian tahun saya menghabiskannya sendiri. Tidak benar-benar sendiri sebenarnya. Saya ditemani sebuah novel dan segelas teh kietna dingin serta orang-orang yang berlalu lalang. 

Bisa dibilang tanggal 31 kemarin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun-tahun yang lalu saya biasa menghabiskannya dengan teman-teman, entah untuk bbqan, masak-masak yang diakhiri dengan curhat-curhatan di ranjang atau pun kumpul-kumpul dengan keluarga. 

Tapi, tahun ini saya tidak melakukan itu. Beberapa orang menanyakan rencana saya di pergantian tahun dan saya jawab tidak ada. iya, saya tidak punya rencana apa pun.

Sampai sore harinya saya memutuskan untuk pergi ke mall sendirian. Sepertinya saya butuh 'me time'. Saya ingin memberikan apresiasi lebih kepada diri saya, untuk tahun yang bisa dibilang teramat membuat saya lelah. 

sehari sebelum pergantian tahun saya membeli 2 buah buku, hadiah kecil untuk diri saya. Saya pun langsung mencari tempat yang nyaman untuk membaca salah satunya. 

Sebuah buku dan teh kietna dingin. Hanya dengan dua itu saya sudah merasa senang. Hei, bahagia itu sederhana ya. :) 

Saya pun menyempatkan untuk merenung, mengingat-ingat hal-hal yang terjadi sepanjang tahun 2015. Dan saya bersyukur. Memang ada hal-hal yang membuat hari saya berantakan, tetapi saya mampu melaluinya karna Tuhan saya selalu bersama saya. 

Saya bersyukur untuk setiap hal-hal kecil yang terjadi. Dan ya, saya bertumbuh. 

Terima kasih untuk setiap kejadian yang lalu-lalu, untuk setiap pembelajaran yang saya terima, untuk setiap air mata yang menetes, untuk setiap penguatan. 

Di tahun 2016 saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan tentunya yang mampu untuk menyanyangi diri saya kemudian menyayangi orang-orang yang memang layak untuk saya sayangi.

Selamat memulai tahun ini. God bless^^

Love,
Ay.