Showing posts with label keluh-kesah. Show all posts
Showing posts with label keluh-kesah. Show all posts

Saturday, May 14, 2016

Jeda

Ada jeda disetiap tarikan napas yang panjang .
Dan di sana terdapat celah untuk beristirahat sejenak.

Beberapa waktu ini saya teramat disibukkan dengan banyak hal. Setiap hari selalu tidak merasa cukup, selalu perlu tambahan jam untuk mengerjakan berbagai hal.

“Thea, kita akan kerjasama dengan grupnya KL, besok meeting di kantor mereka.”

Direktur saya memberi tau disela-sela waktu kerja. Meetingnya sendiri pun hanya sebentar, lebih lama perjalanan dari kantor saya ke kantor mereka. Kamu tau, Jakarta selalu macet setiap saat. Hanya satu minggu untuk saya mengumpulkan bahan yang harus diserahkan kepada mereka. Saya kalang kabut.

“Thea, outing kantor kita jadinya kapan?”

Saya pun sedang disibukkan dengan mengurus acara kantor, mencari dan memesan tempat, membuat desain kaos yang akan dipakai seluruh staff, membuat spanduk, memilih dan menyusun games kelompok dan lain-lain. Cape sih tapi saya senang melakukannya. ^^

“Thea, ada waktu? Saya mau call untuk bahas perkembangan website.”

Kantor saya pun sedang menuju ke arah online. Kita mau membuat online store sebagai pelengkap perusahaan. Jadi customer memiliki pilihan untuk membeli secara offline dan online. Untuk pembuatan websitenya sendiri pun kita pakai web developer dari Singapura. Hampir setiap hari saya berkomunikasi dengannya, pe-er saya pun semakin banyak~

“Besok meeting produk TB jam 9 pagi.”

Saya mendapati email dari Sales Manager dan hampir melupakan meeting itu karna sedang terfokus untuk mengumpulkan bahan yang diminta oleh grup KL. Meeting itu berlangsung 2 jam, dengan meninggalkan tumpukan pe-er baru untuk saya. Tetapi, untungnya Sales Manager saya paham kalau saya sedang teramat sibuk, jadi dia gak akan ‘mengejar’ saya dalam waktu dekat ini. *menarik napas lega*

Tetapi kemudian, keesokan harinya..

"Halo, Thea. Kita ikut seminar di Balikpapan akhir bulan nanti. Tolong persiapkan semua keperluannya."

Sales Manager saya menelpon. Hanya 2 minggu untuk saya menyiapkannya. Ya, ampun. Saya ragu bisa menyiapkan semuanya dengan baik...

Dan lain-lain… dan lain-lain…

Belum lagi saya harus berpikir dan mencari cara untuk menaikkan penjualan usaha pribadi saya. Pekerjaan kantor dan usaha pribadi saat ini mengambil banyak waktu saya. Ditambah lagi dengan urusan….. hati.

“Thea, sorry nih ganggu malem-malem.”

“Malem Pak, gak ganggu kok. Ada apa?”

“Mau nanya, kamu masih single? Haha. Nanyanya aneh ya.”

“Bahahahahaa. Emang kenapa pak?”

“Saya mau ngenalin kamu sama temennya istri saya.”

Si bapak ini bekerja di kantor principal salah satu brand yang kantor saya jual. Karna jarak umur saya dan dia tidak begitu jauh, kita pun jadi akrab dan bisa saling ledek. Saya sempat tertawa membaca chat darinya. Kok bisa kepikiran ngenalin cowok ke saya sih. :p

“Thea, aku mau ngenalin cowok.”

“Hah?”

“Orangnya baik, udah mapan, family man.”

DANG! Ternyata saya tau orang yang ingin dia kenalin.

“Duh, minder ah.”

“kenapa harus minder? Pokoknya aku mau kenalin ke kamu. Susah nih kamunya kalo diajak pergi selalu sibuk, dia juga sibuk sih.”

“Hahahaha.. iya kak aku lagi sibuk banget. Lagian ya Kak, jangan deh. Si M tuh lagi naksir berat sama Ko Y, gak deh.”

“Nanti sih bisa kita atur aja. Jodoh gak ke mana. Hahahaha.”

Salah satu senior di Gereja begitu semangat mau nyomblangin saya.

Dan beberapa teman lainnya yang ingin ngenalin cowok ke saya.

Pada baik banget sih sama saya..? sampe repot-repot ngenalin dan nyomblangin. Tapi, saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang sama saya. Makasi ya semuanya. ^^

Yang lucu adalah bapak-bapak di kantor saya. Mereka sering interogasi saya, sedang dekat sama siapa, sedang jalan dengan siapa, sampe minta ditunjukin foto. Mereka banyak memberi nasehat yang membuat saya tertawa.

“Si ono masih contact lu gak?”

“Masih Pak, tapi gak saya respon.”

“Udah, jangan. Katro dia mah. Sekarang lu sama siapa? Saya kasih tau, ati-ati sama cowok.”

“Bahahahahaha”

“Malah ketawa kalo dibilangin. Serius ini.  Kamu harus tau dan pelajarin dulu, liat anaknya beneran baik apa gak. Kalo dia udah mulai macem-macem, ngajak ke hotel jangan mau. Brengsek itu. Diliat dulu Thea keluarganya seperti apa, hubungan sama keluarganya gimana.”

“Bahahahaah.. apaan sih Pak. Ini kayak ngajarin anak SMP pacaran deh. Saya tau kok yang mana yang baik buat saya.”

“Sekarang lagi deket sama siapa? Coba saya liat fotonya.”

Hahahahahaah. Aduh, saya berasa anak sekolah yang lagi dinasehatin untuk urusan cinta pertama. Saya tau, mereka seperti itu karna mereka perduli. Mungkin juga mereka menganggap saya seperti anak mereka yang tidak ingin sampai saya kenapa-napa atau jalan dengan laki-laki yang tidak baik.

Tetapi… saya butuh jeda untuk semua itu. Saya butuh jeda untuk melupakan sejenak pekerjaan dan urusan hati. Saya masih yakin kok, Tuhan saya akan memberikan yang terbaik buat saya.

Rasanya saya butuh piknik!

(Menulis ini dengan membayangkan putihnya pasir dan birunya laut tetapi tetap tidak suka dengan sengatan matahari)

Love,
Ay.

Tuesday, December 15, 2015

Desember. Perjalanan. Bagasi


Banyak hal yang saya sukai. Saya suka memandang langit berawan. Saya suka rintik hujan. Saya suka menggambar. Saya suka menulis. Saya suka bercerita tentang hari-hari saya kepada orang-orang yang saya percaya. Saya suka dengan pendar bintang dan kerlipan kunang-kunang. Saya suka anak-anak. Saya suka mendengarkan keluh-kesah teman-teman saya. Saya suka bepergian ke tempat-tempat baru dan saya suka bulan Desember. Entah sudah berapa banyak yang tau kalau saya amat menyukai bulan ini.
Setiap bulan Desember tiba, hati saya dipenuhi kehangatan. Ada perasaan nyaman dan damai di dalamnya. Entah dari mana datangnya, saya tidak tau. Walau di 31 hari di bulan itu ada hal-hal buruk yang terjadi, tapi tidak menghilangkan rasa hangat di hati saya. Di bulan Desember, saya seperti diberikan kekuatan lebih untuk menjalani hari-hari saya.
Bulan Desember di tahun ini pun sudah lewat setengahnya. Ah, kenapa begitu cepat? Seriously, saya tidak ingin cepat-cepat berakhir. Karna menunggunya lagi butuh 11 bulan. Waktu yang tidak sebentar.
Hal baik dan buruk pun terjadi di bulan ini. Menyerahkan saya? Tidak. Menangiskah saya? Sedikit.
Sayang, catat ini: menangislah secukupnya dan berbahagialah sebanyak-banyaknya.
Di bulan ini pun saya banyak mengikuti kegiatan. Saya ingin terus menata diri saya, memperbaikinya di berbagai sisi, tidak untuk menjadikan diri saya sempurna tetapi menjadi ‘saya yang lebih baik dari sebelumnya’.  
Minggu lalu saya ikut acara gereja, saat itu temanya ‘Forgiving’. Dari sekian menit pembicara membawakan topik itu, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Everyday, everybody will hurt you. Everyday, you must forgive someone.
Before you forgave someone, try to forgave yourself first.  
Kira-kira begitulah yang pembicara itu ucapkan (dan maafkan kalau kalimat yang saya tulis salah, you know, kemampuan bahasa inggris saya minim. Correct me if I’m wrong ya. Hehe)
Kalimat itu membekas di hati saya dan tanpa sadar saya mengangguk-anggukan kepala saat mendengarnya. Memaafkan diri sendiri, kedengarannya begitu mudah. Tapi, faktanya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibanding memaafkan diri sendiri. Saya masih perlu belajar memaafkan diri saya, menyayanginya dan memberikan apresiasi ketika saya melakukan hal yang baik. Saya masih perlu belajar untuk menghargai diri saya. Dan tentunya belajar menghapus rasa-rasa tidak mengenakkan yang bersarang di dalam hati.
Dan di bulan ini pun saya menemukan 1 postingan yang mengena di hati. Saya gak berpikir sebelumnya kalau di blog ini akan kedatangan bintang tamu. Saya tidak pernah berpikir untuk merepost cerita orang lain di blog saya. Tapi, kali ini pengecualian. Saya menyukai tulisan ini.

Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Bergerak dari sebuah titik ke titik lain di masa depan. Pergi ke satu tempat untuk menetap atau hanya sekadar untuk singgah. Bertemu dengan seseorang atau akhirnya memutuskan berpisah.
Seperti halnya sebuah perjalanan, masing-masing dari kita membawa bagasi yang berbeda. Mungkin hanya sebuah kotak kecil yang ringan untuk dibawa, atau koper besar berwarna cokelat muda yang menguras tenaga untuk membawanya.
Setiap orang membawa bagasinya masing-masing. Untuk seseorang, bagasi itu mungkin cukup dibawa dengan sebelah tangan. Dan untuk sebagian yang lain, harus dipanggul dengan menggunakan kokohnya tulang belakang.
Bagasi itu bentuknya bermacam-macam, bisa berupa beban ekonomi yang berkepanjangan, rumitnya kondisi keluarga yang memberatkan, hingga luka atau trauma emosional yang tak kunjung hilang.
Dan layaknya manusia normal, mungkin kadang kita suka membandingkan. Berkata pada diri sendiri : “Seadainya saja saya berada di posisinya. Seandainya saja saya lah orang yang membawa bagasinya.”
Tapi sayang kondisinya tidak seperti itu kawan.
Bring your own luggage. It’s your life. Never compare it with others.
Jangan pernah meminta orang lain untuk membawa bagasimu. Karena ketika kau mulai membandingkan, saat itulah kau kehilangan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang sepertinya rela menerima kondisimu, rela membawa bagasimu, namun akhirnya dia sadar, dia tidak butuh beban tambahan.
Dan memutuskan untuk pergi, memilih bersama orang dengan bagasi yang lebih kecil. Agar bebannya terasa lebih ringan.
Jangan kau tangisi kawan. Dia bukan untukmu.
Tetap bersabarlah kawan, ketika kau tergopoh-gopoh berusaha untuk membawa sendiri bagasimu, berusaha menggenggam erat semua koper bawaanmu, atau memanggul semua beban di pundakmu.
Nanti akan ada seseorang yang rela menjulurkan tangannya untuk membantumu. Tersenyum berdiri di sebelah mu.
Membantu membawa barang bawaanmu. Mencengkeram pegangan koper itu bersamamu.
Mungkin karena dia pernah membawa bagasi yang sama. Sebuah koper besar berwarna cokelat muda. Atau memang dia yang rela, untuk membawa bagasimu bersama-sama.
Karena suatu saat, “bagasi mu” akan berubah menjadi “bagasi kita”.
Ditulis oleh Tirta – Pemilik blog romeogadungan.com

Apakah kamu merasakan seperti yang saya rasakan ketika membaca tulisan di atas? Ada kah rasa hangat menjalar di hatimu?
Tulisan Tirta memembuat saya terdiam sejenak dan memikirkan koper-koper yang selama ini saya bawa. Bagi banyak orang yang mengenal saya hanya di luarnya saja, mungkin saya terlihat ke mana-mana hanya membawa tas tenteng kecil. Nyatanya, tiap harinya saya membawa banyak koper yang seringkali membuat saya teramat lelah dan tertidur di hampir setiap perjalanan saya pulang ke rumah.
Saya tidak ingin orang lain repot dengan bagasi saya yang penuh dengan koper besar dan kecil. Jika berjalan bersama saya ikut membuatmu lelah, berhenti dan pergilah. Saya tidak ingin menahanmu. Itulah yang kemarin-kemarin saya lakukan. Tidak ingin membuat orang lain susah karena saya.

Dari kalimat-kalimat Tirta, saya tersadar bahwa saya boleh mempercayakan koper-koper saya kepada seseorang yang bersedia ikut menjinjingnya bersama. Saling menyemangati untuk terus berjalan seberapa pun melelahkannya perjalanan itu.

Saya pun percaya meski seseorang itu belum datang, saya tidaklah sendiri. Karna Tuhan saya sudah terlebih dahulu membawa sebagian besar isi bagasi saya. Dia mempercayakan saya koper-koper lain agar saya menjadi orang yang tidak lemah. Dan agar saya dapat belajar untuk mempercayakan koper-koper itu untuk dibawa bersama dengan seseorang.

Ps: Ditulis dalam keadaan langit mendung, mata mengantuk tetapi dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Love,
Ay