Showing posts with label blogger. Show all posts
Showing posts with label blogger. Show all posts

Monday, February 1, 2016

Goodbye January

Tadi pagi waktu buka path ada temen yang posting ini: Dear January, I'm sorry, but I can't be with you anymore. I've met someone else. His name is February~

Waktu pertama baca tuh langsung ketawa aja, gak tau kenapa. Tapi, habis itu langsung mikir: 31 hari di tahun 2016 udah selesai..

Kalau dibilang takut, iya, saya takut menghadapi hari-hari yang semakin cepat. Intensitas bertukar pikiran dengan temanmu semakin sering. Pikiran-pikiran yang mengganjal harus dikeluarkan agar otak dan hati saya lega.

Bulan Januari bisa dibilang bulan yang sibuk. Dari awal masuk kerja, ada aja kejadian-kejadian tidak mengenakkan, belum lagi kerjaan yang semakin lama semakin buat saya stress dan akhirnya pelarian saya adalah mencari tempat hiburan! Baru awal tahun aja saya udah kangen banget mau liburan, mau pergi ke tempat yang banyak pohonnya, yang jauh dari keramaian dan gedung-gedung pencakar langit.

Di bulan Januari kemarin pun ada banyak sekali hal yang terjadi. Di kantor, saya dipromosikan untuk naik jabatan. Kalau orang lain melihatnya sepertinya hebat, tapi saya sendiri biasa aja. Gak terlalu antusias sebenarnya. Hahaha.. Mungkin balik lagi, seberapa lamanya pun saya di kantor yang sekarang, sejujurnya pekerjaan ini bukanlah passion saya. Tetapi jika saya menolak tantangan yang diberikan kok rasanya saya seperti 'menyerah sebelum perang dimulai' ya. Kok rasanya pengecut sekali. Jadi, akhirnya saya putuskan untuk menerimanya dan saya tau pasti banyak hal yang bisa saya pelajari.

Saya menerima tantangan itu juga karna saya terlanjur sayang dengan direktur saya (anyway, direktur saya ini cewek, entah kenapa saya menghormatinya dan saya anggap dia ibu kedua setelah mami saya). Dibilang dekat banget, saya gak begitu dekat dengan beliau, tapi saya amat respect dan entah lah.. sulit diungkapkan.. Seperti sebelum-sebelumnya, saya masih galau. Masih mikir, mau sampai kapan bertahan di sini?

Saya merubah gaya hidup! Tahun ini resolusi saya gak semuluk tahun-tahun sebelumnya. Saya mau sehat dan membahagiakan diri. Itu aja. Dimulai dari saya yang kembali ikut gym di salah satu fitness center, saya yang mulai merubah pola makan saya. Dan so far, saya sudah merasakan efeknya. Metabolisme tubuh saya juga semakin baik. satu hal baik yang saya dapatkan di bulan Januari kemarin. :)

Saya mencari kegiatan yang menarik! Karna sudah disibukkan dari senin-jumat di kantor, saya mau mengisi weekend dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Saya beberapa kali datang ke LOJF (Light of Jesus Feast), kalau ini udah dari desember kemarin, dan ikut acara itu begitu menyenangkan dan menenangkan. Selalu ada hal baik yang saya terima. Dan setiap kali selesai Feast, hati saya lebih damai. 

Kemarin, untuk menutup bulan Januari, saya menghabiskannya di arena tembak. Ternyata menembak seru dan menyenangkan. Saya baru tau kalau senapan itu berat, tarik kokangnya juga berat, banget. Sampai-sampai instructornya standby di sebelah saya, dia yang bantuin tarik kokang dan memasukkan pelurunya. Baik ya. ^^ Oh, sempat pesimis dan malu sih kalau saya tidak bisa menembak tepat sasaran. Tapi..... ternyata bisa kok! saya selalu menembak di lingkaran hitam. Rasanya bakalan mau nembak lagi nih kapan-kapan. :D

Dan akan merencanakan untuk melakukan kegiatan menyenangkan lainnya. Pokoknya di tahun ini mau berbahagia sebanyak-banyaknya! Karna masalah pun semakin banyak, jadi harus diimbangi dengan berbahagia, kalau gak bisa makin stress. ya gak? :p

Love,
Ay

Tuesday, December 15, 2015

Desember. Perjalanan. Bagasi


Banyak hal yang saya sukai. Saya suka memandang langit berawan. Saya suka rintik hujan. Saya suka menggambar. Saya suka menulis. Saya suka bercerita tentang hari-hari saya kepada orang-orang yang saya percaya. Saya suka dengan pendar bintang dan kerlipan kunang-kunang. Saya suka anak-anak. Saya suka mendengarkan keluh-kesah teman-teman saya. Saya suka bepergian ke tempat-tempat baru dan saya suka bulan Desember. Entah sudah berapa banyak yang tau kalau saya amat menyukai bulan ini.
Setiap bulan Desember tiba, hati saya dipenuhi kehangatan. Ada perasaan nyaman dan damai di dalamnya. Entah dari mana datangnya, saya tidak tau. Walau di 31 hari di bulan itu ada hal-hal buruk yang terjadi, tapi tidak menghilangkan rasa hangat di hati saya. Di bulan Desember, saya seperti diberikan kekuatan lebih untuk menjalani hari-hari saya.
Bulan Desember di tahun ini pun sudah lewat setengahnya. Ah, kenapa begitu cepat? Seriously, saya tidak ingin cepat-cepat berakhir. Karna menunggunya lagi butuh 11 bulan. Waktu yang tidak sebentar.
Hal baik dan buruk pun terjadi di bulan ini. Menyerahkan saya? Tidak. Menangiskah saya? Sedikit.
Sayang, catat ini: menangislah secukupnya dan berbahagialah sebanyak-banyaknya.
Di bulan ini pun saya banyak mengikuti kegiatan. Saya ingin terus menata diri saya, memperbaikinya di berbagai sisi, tidak untuk menjadikan diri saya sempurna tetapi menjadi ‘saya yang lebih baik dari sebelumnya’.  
Minggu lalu saya ikut acara gereja, saat itu temanya ‘Forgiving’. Dari sekian menit pembicara membawakan topik itu, ada banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Everyday, everybody will hurt you. Everyday, you must forgive someone.
Before you forgave someone, try to forgave yourself first.  
Kira-kira begitulah yang pembicara itu ucapkan (dan maafkan kalau kalimat yang saya tulis salah, you know, kemampuan bahasa inggris saya minim. Correct me if I’m wrong ya. Hehe)
Kalimat itu membekas di hati saya dan tanpa sadar saya mengangguk-anggukan kepala saat mendengarnya. Memaafkan diri sendiri, kedengarannya begitu mudah. Tapi, faktanya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah dibanding memaafkan diri sendiri. Saya masih perlu belajar memaafkan diri saya, menyayanginya dan memberikan apresiasi ketika saya melakukan hal yang baik. Saya masih perlu belajar untuk menghargai diri saya. Dan tentunya belajar menghapus rasa-rasa tidak mengenakkan yang bersarang di dalam hati.
Dan di bulan ini pun saya menemukan 1 postingan yang mengena di hati. Saya gak berpikir sebelumnya kalau di blog ini akan kedatangan bintang tamu. Saya tidak pernah berpikir untuk merepost cerita orang lain di blog saya. Tapi, kali ini pengecualian. Saya menyukai tulisan ini.

Hidup itu seperti sebuah perjalanan. Bergerak dari sebuah titik ke titik lain di masa depan. Pergi ke satu tempat untuk menetap atau hanya sekadar untuk singgah. Bertemu dengan seseorang atau akhirnya memutuskan berpisah.
Seperti halnya sebuah perjalanan, masing-masing dari kita membawa bagasi yang berbeda. Mungkin hanya sebuah kotak kecil yang ringan untuk dibawa, atau koper besar berwarna cokelat muda yang menguras tenaga untuk membawanya.
Setiap orang membawa bagasinya masing-masing. Untuk seseorang, bagasi itu mungkin cukup dibawa dengan sebelah tangan. Dan untuk sebagian yang lain, harus dipanggul dengan menggunakan kokohnya tulang belakang.
Bagasi itu bentuknya bermacam-macam, bisa berupa beban ekonomi yang berkepanjangan, rumitnya kondisi keluarga yang memberatkan, hingga luka atau trauma emosional yang tak kunjung hilang.
Dan layaknya manusia normal, mungkin kadang kita suka membandingkan. Berkata pada diri sendiri : “Seadainya saja saya berada di posisinya. Seandainya saja saya lah orang yang membawa bagasinya.”
Tapi sayang kondisinya tidak seperti itu kawan.
Bring your own luggage. It’s your life. Never compare it with others.
Jangan pernah meminta orang lain untuk membawa bagasimu. Karena ketika kau mulai membandingkan, saat itulah kau kehilangan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah bertemu dengan orang yang sepertinya rela menerima kondisimu, rela membawa bagasimu, namun akhirnya dia sadar, dia tidak butuh beban tambahan.
Dan memutuskan untuk pergi, memilih bersama orang dengan bagasi yang lebih kecil. Agar bebannya terasa lebih ringan.
Jangan kau tangisi kawan. Dia bukan untukmu.
Tetap bersabarlah kawan, ketika kau tergopoh-gopoh berusaha untuk membawa sendiri bagasimu, berusaha menggenggam erat semua koper bawaanmu, atau memanggul semua beban di pundakmu.
Nanti akan ada seseorang yang rela menjulurkan tangannya untuk membantumu. Tersenyum berdiri di sebelah mu.
Membantu membawa barang bawaanmu. Mencengkeram pegangan koper itu bersamamu.
Mungkin karena dia pernah membawa bagasi yang sama. Sebuah koper besar berwarna cokelat muda. Atau memang dia yang rela, untuk membawa bagasimu bersama-sama.
Karena suatu saat, “bagasi mu” akan berubah menjadi “bagasi kita”.
Ditulis oleh Tirta – Pemilik blog romeogadungan.com

Apakah kamu merasakan seperti yang saya rasakan ketika membaca tulisan di atas? Ada kah rasa hangat menjalar di hatimu?
Tulisan Tirta memembuat saya terdiam sejenak dan memikirkan koper-koper yang selama ini saya bawa. Bagi banyak orang yang mengenal saya hanya di luarnya saja, mungkin saya terlihat ke mana-mana hanya membawa tas tenteng kecil. Nyatanya, tiap harinya saya membawa banyak koper yang seringkali membuat saya teramat lelah dan tertidur di hampir setiap perjalanan saya pulang ke rumah.
Saya tidak ingin orang lain repot dengan bagasi saya yang penuh dengan koper besar dan kecil. Jika berjalan bersama saya ikut membuatmu lelah, berhenti dan pergilah. Saya tidak ingin menahanmu. Itulah yang kemarin-kemarin saya lakukan. Tidak ingin membuat orang lain susah karena saya.

Dari kalimat-kalimat Tirta, saya tersadar bahwa saya boleh mempercayakan koper-koper saya kepada seseorang yang bersedia ikut menjinjingnya bersama. Saling menyemangati untuk terus berjalan seberapa pun melelahkannya perjalanan itu.

Saya pun percaya meski seseorang itu belum datang, saya tidaklah sendiri. Karna Tuhan saya sudah terlebih dahulu membawa sebagian besar isi bagasi saya. Dia mempercayakan saya koper-koper lain agar saya menjadi orang yang tidak lemah. Dan agar saya dapat belajar untuk mempercayakan koper-koper itu untuk dibawa bersama dengan seseorang.

Ps: Ditulis dalam keadaan langit mendung, mata mengantuk tetapi dengan perasaan yang jauh lebih baik.

Love,
Ay

Monday, June 29, 2015

Seven Stars in the Sky~


 
Hai!^^
 
Sesuai janji, akhirnya cerbung saya publish juga. :D
 
Kalian bisa baca di sini ya: Seven Stars in the Sky
 
Sedikit cerita, sebenarnya cerita ini saya buat ketika masih kuliah. Iya emang udah lama banget ya. Waktu itu cuma bikin sampe 2 part aja terus biasa udah bosen dan males ngelanjutin. :p
 
Kemudian di awal tahun, ketika lagi kepoin laptop sendiri, malah nemuin cerita ini. Dibaca-baca lagi dan akhirnya diniatin buat dilanjutkan. Anggap aja sekalian saya nostalgia jaman kuliah kan? :D
 
Saat ini yang publish di Wattpad baru sampe part 8 dan mudah-mudahan ada waktu buat ngelanjutin. Sahabat saya (Ven), tiap hari ngechat saya dan nodong untuk terus ngelanjutin ceritanya. Terakhir dia chat saya kayak gini: Ehh, cerita lo mana? kok part 8 nya dikit amat??
 
Iya, dia protes lantaran saya amat pelit kata di part 8. Hahaha
 
Sebenarnya saya selalu malu kalau ada orang yang saya kenal baca tulisan saya (entah tulisan di blog Summer3angle, di sini dan sekarang di Wattpad). Jadi kalau ada yang line, whatsapp dan bbm ke saya mengenai tulisan saya, saya masih tetap kaget aja.
 
Pernah suatu kali ketika saya lagi menunggu kereta di stasiun Bandan, ada orang dari belakang yang tiba-tiba ngomong ke saya.
 
Dia: The, lo lagi males update blog ya?
 
Saya: *kaget banget tiba-tiba disapa seperti itu* Hah?? Eh, elo! apa kabar...? Kok lo bisa di sini sih?
 
Yap, dia adalah adik kelas saya semasa sekolah. Dulu kita akrab karna tergabung dalam satu organisasi.
 
Dia: Iya, mobil gue lagi masuk bengkel. Eh, lo lagi males update blog? *dia ngulang pertanyaan*
 
Saya: Lo kok tau gue punya blog?
 
Dia: Gue udah tau lama kali, hiburan banget the pas gue lagi suntuk. Blog lo bikin gue ngakak.
 
Saya: Duh, serius lo baca? anjritt gue maluu.. lo baca blog gue yang di Summer3angle ya?
 
Dia: Iya, gue lebih suka yang di blog Summer, lebih lo banget. kalo blog satunya lagi terlalu galau ah the.
 
Saya: Biar balance makanya gue bikin satu yang lucu, satu yang galau. hahaha.. lo udah baca yang mana aja? ahh gue beneran malu T__T
 
Dia: Banyak banget, kayaknya udah hampir semua gue baca deh. orang gue subcribe juga, jadi kalo ada update dari lo masuk ke email gue.
 
Saya: Hah? anjrit.
 
Dia: pokoknya gue tunggu update lo ya the. gak pake lama.
 
Kadang ada orang-orang yang saya gak sangka nemuin blog saya, teman-teman yang sudah lama gak ketemu~ Walau sebenarnya saya malu, tetapi saya harus siap terima konsekuensinya (dibaca, dinyinyirin, dikomentarin) ketika saya memutuskan menceritakan ini dan itu di blog.
 
Dan untuk kalian yang saya tidak kenal, untuk para blogger yang gak sengaja mampir, untuk para silent readers, makasih banyak ya. Saya selalu senang ketika kalian datang. :)
 
Jangan lupa baca cerita perdana saya ya, di vote juga. hehehe..
 
 
-Ay-


Saturday, April 5, 2014

Hari Sabtu




Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang begitu aku tunggu-tunggu.
Ay, ayo kita jalan-jalan, ” ajak kamu.

“ kita mau ke mana? “
“ ikut saja denganku. “
Aku pun menggangguk.         

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang membuat aku berseri-seri.
“ kamu cantik.“ kamu mengomentari pakaian yang aku kenakan. Kaus polos kebesaran berwarna putih dengan rok kuning di atas lutut.
“ Kamu sedang menggodaku? “
“ Menurutmu? “  kamu tersenyum kemudian menggandeng tanganku.

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang membuat aku banyak berjalan.
“Kamu sudah capek? “ tanyamu ketika kita sudah banyak melangkah.
“ Kamu capek? “ Aku balik bertanya.
Kamu menepuk kepalaku dengan gemas. Kamu tau kalau aku sering kali bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan darimu terlebih dahulu.

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang tepat untuk aku bermanja-manja dengan kamu.
“ Aku lapar. Aku mau makan ice cream. “ pintaku.
“ Lapar tuh makannya nasi, bukannya ice cream. “ Kamu protes.
“ tapi aku maunya ice cream. Rasa vanilla. Ya? Ya? “ Aku memeluk lenganmu dengan tatapan manja yang selalu bisa membuatmu luluh.
“ Baiklah. “ Kamu mengalah.

Hari ini adalah hari sabtu. Satu hari yang tidak ingin aku habiskan cepat-cepat.
“ Ay, kalau suatu saat aku tidak bisa mengajakmu pergi ke tempat bagus dan hanya bisa mengajakmu jalan kaki seperti ini, kamu akan meninggalkanku? “ pertanyaan mengejutkan yang keluar dari mulutmu.
“ Kenapa bertanya seperti itu? Kamu tau, jalan kaki seperti ini, melewati jalan dengan dikelilingi pohon rindang, dan tentunya dengan kamu yang selalu menggandeng tangan aku, itu sudah lebih dari cukup.“ Aku berkata jujur.
“ Dan aku tak ingin hari ini berputar cepat. Aku ingin menikmati setiap langkah kaki kita,“ lanjutku.

Kamu menggenggam tanganku lebih erat dan kita melanjutkan perjalanan kita.
Hari ini adalah hari sabtu.
Tau kah kalau hari ini aku begitu bahagia?
Aku harap setiap hari adalah hari sabtu.
Agar aku dapat terus bertemu kamu.
Agar kamu tetap menggenggam tanganku dan tak pernah bosan menggenggamnya.
Agar kita bisa melangkah sama-sama. Berdampingan.
Bisa kah? :)


(Menulis ini ketika duduk-duduk santai di Imperial Cakery – Book and Beyond  UPH, ditemani dengan segelas ice tea dan bread toast)

Monday, September 30, 2013

Garis Finish^^



 
Pada akhirnya, kita akan bertemu di garis finish. Saling mengaitkan kelingking dan berjanji akan terus bersama (30 Maret 2012)

Saya  tunggu kamu di garis finish itu, atau kamu yang duluan berada di sana?
Tidak apa-apa, karna toh pada akhirnya kita akan bertemu^^