Monday, June 13, 2016

Pantai

foto dari sini

Beberapa minggu yang lalu saya sempat cerita di grup kalau saya butuh piknik. Pokoknya mau menjauh sejenak dari rutinitas, dari gedung-gedung tinggi, dari berdesak-desakan sepanjang perjalanan pergi dan pulang di dalam kereta. Menjauh dari tumpukan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Kemudian salah satu teman menyarankan (dan mengajak) piknik ke pantai selama 2 malam. Ah, saya malas. Sering kali saya bilang kepada orang-orang terdekat saya bahwa saya paling ogah ke pantai. Sama seperti saya yang tidak mau tidur dengan lampu yang dipadamkan. Begitulah.
Bukannya saya tidak suka pantai, hanya saja mataharinya terlalu menyengat, bikin kulit terbakar dan mata berkunang-kunang. Anggaplah saya manja banget dalam hal ini.
Tetapi tawaran ke pantai begitu menggoda dan pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Bahkan saya yang jadi kelewat semangat mempersiapkan ini dan itu, sampai niat membeli baju dan atribut ala pantai. Pokoknya maksimal banget. Hahaha~
Saya dan satu orang teman malah sampai ambil cuti 2 hari! Kita berdua berangkat dengan penerbangan paling pagi. Setelah beli tiket, baru mikir: ini seharian mau ke mana aja…?
Dan kita melupakan bahwa kita piknik di saat bulan puasa, yang walaupun kita tidak ikut berpuasa tapi kita berusaha menghargai mereka. Kita hanya bingung aja untuk makan dan minumnya gimana. Ah, terlalu banyak yang dipikirkan deh. -__-
Walau tidak suka sengatan matahari dan masih tidak tau mau ke mana aja selama 1 hari tambahan itu, saya tetap semangat dan menanti hari itu.
Ah ya, saya juga gak suka packing. Selalu last minute baru tergerak untuk mengemasi barang-barang. Tetapi, setiap pergi ke suatu tempat, saya selalu membuat list dan menuliskan apa-apa saja yang ingin saya bawa. Pergi selama 4 hari aja list saya panjang banget.
Kalau diingat-ingat, saya sudah 3 tahun menghindari pantai. Dan saya selalu absen dari acara keluarga kalau acaranya berlibur ke pantai.
Tetapi kali ini saya harus berani menghadapinya, berani untuk tersengat matahari. Saya jadi begitu ingin menyentuh pasir, merasakan asinnya air laut kemudian bermain dengan ikan-ikan karang. Membayangkannya saja membuat saya tersenyum dan melupakan ketidaksukaan saya terhadap teriknya matahari.
3 hari lagi.. iya, 3 hari lagi! :D
Love,
Ay.

Wednesday, May 25, 2016

Seseorang yang Baik


Jadilah seseorang yang baik. Saya selalu mengucapkannya pada diri saya. Entah mengapa, menjadi baik terasa lebih mudah saya lakukan ketimbang berbuat jahat. Berbuat tidak baik itu lebih melelahkan lho.
Dalah hidup saya, ada orang-orang baik yang datang dan pergi. Yang walau sesusah payah apapun saya berusaha, tetap tidak dapat membalas semua kebaikan mereka. Makasi Tuhan telah mengirimkan mereka. Terima kasih untuk pernah mampir di hari-hari saya. ^^
Tapi, tidak semua orang itu baik, Ay!
Iya, saya tau kok.
Banyak orang-orang palsu!
Iya, saya bisa membedakannya.
Kalau kamu dijahati, apa masih akan tetap baik?
Hmm.. ya. Saya tidak ingin berubah menjadi seperti mereka.
Bagaimana dengan orang-orang yang menyakitimu?
Ah, ya. Saya pernah terluka tak terhitung banyaknya. Tak banyak yang dapat saya lakukan, saya bukanlah orang yang dapat membalas ketidakbaikan itu. Saya lebih memilih melupakannya, menyingkirkan kesakitan itu sejauh mungkin. Karna hidup saya terlalu berharga hanya untuk meratapi luka-luka saya. Saya tidak ingin hidup seperti itu.
 Jadilah seseorang yang baik. Saya tak pernah bosan mengucapkannya. Seberapa pun tekanan disekitarmu, seberapa pun banyak orang-orang palsu, kamu tetaplah menjadi orang yang baik.
Oh ya, ada satu kalimat Fa (seorang penulis favorite saya) yang saya tulis dan tempelkan di meja kantor:

Karena pasti ada,
entah di persimpangan mana,
seseorang yang bersedia mengingatmu selamanya di hatinya. :)

Tidak ada ruginya menjadi orang yang baik, setidaknya kamu akan memiliki tempat di sudut hati orang lain. ^^

Love,
Ay.

Saturday, May 14, 2016

Jeda

Ada jeda disetiap tarikan napas yang panjang .
Dan di sana terdapat celah untuk beristirahat sejenak.

Beberapa waktu ini saya teramat disibukkan dengan banyak hal. Setiap hari selalu tidak merasa cukup, selalu perlu tambahan jam untuk mengerjakan berbagai hal.

“Thea, kita akan kerjasama dengan grupnya KL, besok meeting di kantor mereka.”

Direktur saya memberi tau disela-sela waktu kerja. Meetingnya sendiri pun hanya sebentar, lebih lama perjalanan dari kantor saya ke kantor mereka. Kamu tau, Jakarta selalu macet setiap saat. Hanya satu minggu untuk saya mengumpulkan bahan yang harus diserahkan kepada mereka. Saya kalang kabut.

“Thea, outing kantor kita jadinya kapan?”

Saya pun sedang disibukkan dengan mengurus acara kantor, mencari dan memesan tempat, membuat desain kaos yang akan dipakai seluruh staff, membuat spanduk, memilih dan menyusun games kelompok dan lain-lain. Cape sih tapi saya senang melakukannya. ^^

“Thea, ada waktu? Saya mau call untuk bahas perkembangan website.”

Kantor saya pun sedang menuju ke arah online. Kita mau membuat online store sebagai pelengkap perusahaan. Jadi customer memiliki pilihan untuk membeli secara offline dan online. Untuk pembuatan websitenya sendiri pun kita pakai web developer dari Singapura. Hampir setiap hari saya berkomunikasi dengannya, pe-er saya pun semakin banyak~

“Besok meeting produk TB jam 9 pagi.”

Saya mendapati email dari Sales Manager dan hampir melupakan meeting itu karna sedang terfokus untuk mengumpulkan bahan yang diminta oleh grup KL. Meeting itu berlangsung 2 jam, dengan meninggalkan tumpukan pe-er baru untuk saya. Tetapi, untungnya Sales Manager saya paham kalau saya sedang teramat sibuk, jadi dia gak akan ‘mengejar’ saya dalam waktu dekat ini. *menarik napas lega*

Tetapi kemudian, keesokan harinya..

"Halo, Thea. Kita ikut seminar di Balikpapan akhir bulan nanti. Tolong persiapkan semua keperluannya."

Sales Manager saya menelpon. Hanya 2 minggu untuk saya menyiapkannya. Ya, ampun. Saya ragu bisa menyiapkan semuanya dengan baik...

Dan lain-lain… dan lain-lain…

Belum lagi saya harus berpikir dan mencari cara untuk menaikkan penjualan usaha pribadi saya. Pekerjaan kantor dan usaha pribadi saat ini mengambil banyak waktu saya. Ditambah lagi dengan urusan….. hati.

“Thea, sorry nih ganggu malem-malem.”

“Malem Pak, gak ganggu kok. Ada apa?”

“Mau nanya, kamu masih single? Haha. Nanyanya aneh ya.”

“Bahahahahaa. Emang kenapa pak?”

“Saya mau ngenalin kamu sama temennya istri saya.”

Si bapak ini bekerja di kantor principal salah satu brand yang kantor saya jual. Karna jarak umur saya dan dia tidak begitu jauh, kita pun jadi akrab dan bisa saling ledek. Saya sempat tertawa membaca chat darinya. Kok bisa kepikiran ngenalin cowok ke saya sih. :p

“Thea, aku mau ngenalin cowok.”

“Hah?”

“Orangnya baik, udah mapan, family man.”

DANG! Ternyata saya tau orang yang ingin dia kenalin.

“Duh, minder ah.”

“kenapa harus minder? Pokoknya aku mau kenalin ke kamu. Susah nih kamunya kalo diajak pergi selalu sibuk, dia juga sibuk sih.”

“Hahahaha.. iya kak aku lagi sibuk banget. Lagian ya Kak, jangan deh. Si M tuh lagi naksir berat sama Ko Y, gak deh.”

“Nanti sih bisa kita atur aja. Jodoh gak ke mana. Hahahaha.”

Salah satu senior di Gereja begitu semangat mau nyomblangin saya.

Dan beberapa teman lainnya yang ingin ngenalin cowok ke saya.

Pada baik banget sih sama saya..? sampe repot-repot ngenalin dan nyomblangin. Tapi, saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang sama saya. Makasi ya semuanya. ^^

Yang lucu adalah bapak-bapak di kantor saya. Mereka sering interogasi saya, sedang dekat sama siapa, sedang jalan dengan siapa, sampe minta ditunjukin foto. Mereka banyak memberi nasehat yang membuat saya tertawa.

“Si ono masih contact lu gak?”

“Masih Pak, tapi gak saya respon.”

“Udah, jangan. Katro dia mah. Sekarang lu sama siapa? Saya kasih tau, ati-ati sama cowok.”

“Bahahahahaha”

“Malah ketawa kalo dibilangin. Serius ini.  Kamu harus tau dan pelajarin dulu, liat anaknya beneran baik apa gak. Kalo dia udah mulai macem-macem, ngajak ke hotel jangan mau. Brengsek itu. Diliat dulu Thea keluarganya seperti apa, hubungan sama keluarganya gimana.”

“Bahahahaah.. apaan sih Pak. Ini kayak ngajarin anak SMP pacaran deh. Saya tau kok yang mana yang baik buat saya.”

“Sekarang lagi deket sama siapa? Coba saya liat fotonya.”

Hahahahahaah. Aduh, saya berasa anak sekolah yang lagi dinasehatin untuk urusan cinta pertama. Saya tau, mereka seperti itu karna mereka perduli. Mungkin juga mereka menganggap saya seperti anak mereka yang tidak ingin sampai saya kenapa-napa atau jalan dengan laki-laki yang tidak baik.

Tetapi… saya butuh jeda untuk semua itu. Saya butuh jeda untuk melupakan sejenak pekerjaan dan urusan hati. Saya masih yakin kok, Tuhan saya akan memberikan yang terbaik buat saya.

Rasanya saya butuh piknik!

(Menulis ini dengan membayangkan putihnya pasir dan birunya laut tetapi tetap tidak suka dengan sengatan matahari)

Love,
Ay.

Monday, April 4, 2016

Pindah

Tulisan ini kelanjutan dari postingan 'Pergi'. Entah kenapa saya ingin melanjutkannya kembali. Belakangan ini saya mendengar banyak kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk pindah kantor. Beberapa diantara mereka cukup dekat dengan saya. Kita banyak berbagi cerita. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Dari saling meledek sampai menggalau bareng.

Di bulan lalu, saya mendengar 4 orang teman saya yang memutuskan berpindah tempat. Oh, ditambah satu lagi teman dari pihak principal yang pindah. 5 orang. Bukanlah jumlah yang sedikit. Ketika nanti sudah tidak di dalam satu perusahaan lagi, meskipun ada ucapan: keep in touch ya! tetaplah tidak akan sama. 

Dan ketika saya mendengar kabar itu, hati saya seakan kosong. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang nantinya tidak sama lagi. Entah mengapa, saya jadi merasa takut ditinggalkan. Padahal saya sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, setiap kali ada orang yang pergi, rasanya masih selalu sulit untuk dimaklumi, untuk diikhlaskan. 

Iya, saya tau, selalu ada 'indah' disetiap 'pindah', keputusan mereka adalah sepenuhnya hak mereka dan saya tidak punya hak untuk mencampurinya. Saya hanya mampu untuk mendoakan agar hidup mereka akan semakin baik dan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. 

Walau sulit, tetapi saya bilang sekali lagi pada diri saya bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya. Terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi bagian dari hidup saya. :')

Ps: Jadi, kamu kapan pindah Ay?

Friday, April 1, 2016

Jatuh Cinta

Beberapa hari yang lalu saya membeli komik Hi, Miiko edisi terbaru. Saya salah satu fansnya Miiko dan Tappei, dua tokoh utama, anak SD yang diam-diam saling menyukai. Di dalamnya ada satu cerita tentang Valentine, ketika Miiko (si tokoh anak perempuan) sedang galau ingin memberikan apa kepada Tappei. Miiko ini menganggap Tappei teman yang spesial, dia gak sadar kalau sebenarnya  dia suka dengan Tappei. Begitu pun sebaliknya, Tappei yang cuek dan suka iseng ke Miiko sebenarnya orang yang paling memperhatikan Miiko.

Balik ke cerita, sehari sebelum Valentine Miiko sibuk membuat coklat untuk dibagikan kepada teman-teman sekelasnya. Tetapi Miiko ingin memberikan tambahan hadiah kepada Tappei. Singkat cerita, dia pergi ke toko pernak-pernik dan melihat beberapa gadis SMP yang sibuk memilih sapu tangan cantik untuk diberikan ke laki-laki yang mereka sukai. Miiko pun ikut-ikutan membeli sapu tangan.

Besoknya dia kasih coklat dan sapu tangan kepada Tappei. Oh ya, gak hanya Miiko yang menyukai tappei, tapi ada satu teman sekelasnya juga yang suka dengan Tappei, anak itu pun memberikan sapu tangan! Dan ternyata keesokan harinya lagi, Tappei malah pakai sapu tangan yang anak itu berikan. Miiko jadi bete, dia sedih melihat Tappei gak memakai pemberian.

Ono Eriko, pengarang Hai, Miiko memang sering memberikan akhir cerita yang tidak disangka. Kenapa Tappei gak memakai sapu tangan pemberian Miiko? Saya berpikir awalnya Tappei sayang untuk menggunakannya dan dia simpan sapu tangan pemberian Miiko agar tidak kotor dan rusak. Ternyata tebakan saya salah total.

Miiko ini emang ceroboh, jadi yang dia beli itu bukan sapu tangan melainkan……. Celana dalam! Hahahahahahahaha.. aduh, dodol banget. Ternyata rak celana dalam dan sapu tangan ditempatkan bersebelahan dan dilipat dengan bentuk yang sama. Jadilah bukannya beli sapu tangan, Miiko malah beli celana dalam. Diakhir cerita, Tappei berbicara dalam hatinya: dasar Miiko, ini aku pakai kok tapi gimana bisa nunjukkinnya.

Cerita yang manis dan selalu bisa bikin saya senyum-senyum sendiri. Gara-gara cerita itu, saya jadi berpikir: kapan terakhir lo ngerasa jatuh cinta?

Saya tidak ingat. Iya, saya tidak mengingat dengan baik kapan saya jatuh cinta. Saya tidak ingat kapan saya menjadi gugup, salah tingkah dan banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perut. Kapan ya? Saya lupa lho.

Ada begitu banyak hal yang terjadi, ada hal-hal lain yang membuat saya lupa rasanya jatuh cinta. Bahkan di tahun lalu, ketika ada seseorang yang ingin mengajak saya serius, komit dan merencanakan masa depan bersama pun tidak dapat menggerakkan hati saya. Saya tidak dapat jatuh cinta padanya. Seberapa pun dia berusaha meyakinkan saya dan seberapa pun saya berusaha untuk menerima semua kebaikannya, tetap tidak dapat membuat saya jatuh hati padanya. Maaf.

Saya tidak mudah meletakkan dan mempercayakan hati saya kepada orang lain. Dan mungkin juga, ketika diumur yang sekarang, jatuh cinta versinya bukan lagi tentang salah tingkah, gugup dan deg-degan. Kalau dulu saya pernah bilang begini: gue butuh cowok yang bisa kasih tegangan tinggi biar bisa menggetarkan hati gue. Tetapi sekarang saya tidak membutuhkannya lagi. Ada hal-hal yang lebih principal ketimbang rasa yang hanya sementara itu.

“Karena jatuh cinta itu temporary, gak bertahan lama. Nanti itu akan berganti menjadi komitmen. Lo gak bisa berharap jatuh cinta selamanya. Cinta itu punya tanggal kadaluarsanya.” – Tirta

Ehm, tapi saya mau lho merasakan lagi rasa yang punya masa expirednya itu. :p


Ay. 

Wednesday, March 2, 2016

Hati yang Dingin (?)

Tadi pagi seorang teman curhat ke saya masalah percintaan. Saya menghargai orang-orang yang mempercayakan kisah mereka pada saya. Tetapi, saya sendiri punya batasan untuk mendengarkan dan menanggapi curhatan-curhatan itu.
Teman saya ini bisa dibilang udah tingkat depresi karna putus cinta, setiap di chat dan ketemu pasti selalu menceritakan kesedihan dan sakit hatinya. Awalnya saya mendengarkan dengan baik, menguatkannya. Seberapa pun saya mendengarkan, seberapa pun saya mengeluarkan pernyataan-pernyataan menguatkan, kalau masih ‘menikmati’ sakit hati itu, saya ya gak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ada satu titik di mana saya sudah tidak bisa mentolerir sikapnya. Tadi pagi lah saya sudah mencapai titik itu, di mana saya sudah tidak mau memberikan tanggapan mengenai kisah cintanya.
Dia         : mungkin lo gak ngerti karna lo gak berada di posisi gue, jadi lo gampang ngomong begitu.
Saya       :iya, gue gak tau dan gak akan pernah tau, karna gue gak ngalaminnya. Terus gunanya cerita ke gue apa?
Yak! Saya udah mulai galak dan ‘jahat’.
Dia         : gue pengen didengerin lah, bukannya lu temen gue
Saya       : gini ya, lo udah gede. Lo bukan bocah ababil lagi, lo tau gimana harus bertindak pake logika. Masalahnya lo ngomongin dia gak hanya 1-2x. berkali-kali dan gue jadi mikir, ‘kok lo gini amat ya?’
Dia         : gue gak perlu lo ngejudge gue, gue cuma pengen lo dengerin aja gue.
Saya       : karna lo cuma minta didengerin, jadi lo mau cerita panjang lebar gpp, gue baca tapi gue gak mau kasih tanggepan apa-apa lagi.
Sepertinya saya cocok ya menjadi peran antagonis? Orang yang baca potongan chat di atas pasti akan berpikir saya begitu tega sama teman sendiri, saya jahat, temannya lagi galau malah balik diomelin bukannya ditenangin.
Ada perkataan teman saya yang membuat saya…….
hati lo sepertinya dingin…
Hidup saya keras, permasalahan saya tidaklah sedikit. Di tujuh tahun terakhir ini saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak manja, tidak merengek-rengek, tidak banyak mengeluh. Karna tidak ada gunanya juga saya meratapi permasalah-permasalah saya. Hidup saya sudah berat dan saya tidak ingin lebih memberatinya dengan menjadi orang yang lemah.
hati lo sepertinya dingin…
saya tidak bisa mengungkapkan perjalanan hidup saya kepadanya. Karna bobotnya tidak sebanding dengan permasalahan cintanya.
Bagaimana saya bisa menceritakan perjalanan saya yang rumit kepada orang yang stress hanya dengan 1 permasalahan cinta?
Saya sama sekali tidak meremehkan permasalahannya, saya mengerti kapasitasnya dan oleh karna itu saya tidak dapat bercerita padanya.
Hati saya sudah penuh dengan tambalan. Bentuknya sudah tidak sempurna lagi, jadi saya tidak ingin menambahi beban pada hati saya. Saya mencoba menyatukan hati saya dengan logika, biar lebih ‘waras’. Pikiran saya yang akhirnya melindungi hati saya. Karna saya belajar, dengan apa-apanya menggunakan hati tanpa logika, saya akan hancur. Setelah itu? Tidak ada lagi yang tersisa dari diri saya.
Jelas, saya tidak menginginkan hal itu. Hati saya tidak dingin, dia masih sehangat sebelumnya bahkan jauh lebih hangat. Tetapi dia pintar, dia dapat bekerja sama dengan otak sehingga dapat memilah mana yang perlu pakai hati, mana yang perlu pakai logika, mana yang keduanya berjalan beriringan.

sayang, dalam hidup kita punya dua pilihan ketika dihadapi masalah:
stress, depresi, terpuruk dan jadi gila
atau
stress, nangis, kemudian bangkit, berjuang dan tetap menjalani hidup dengan baik.

Love,
Ay


Monday, February 1, 2016

Goodbye January

Tadi pagi waktu buka path ada temen yang posting ini: Dear January, I'm sorry, but I can't be with you anymore. I've met someone else. His name is February~

Waktu pertama baca tuh langsung ketawa aja, gak tau kenapa. Tapi, habis itu langsung mikir: 31 hari di tahun 2016 udah selesai..

Kalau dibilang takut, iya, saya takut menghadapi hari-hari yang semakin cepat. Intensitas bertukar pikiran dengan temanmu semakin sering. Pikiran-pikiran yang mengganjal harus dikeluarkan agar otak dan hati saya lega.

Bulan Januari bisa dibilang bulan yang sibuk. Dari awal masuk kerja, ada aja kejadian-kejadian tidak mengenakkan, belum lagi kerjaan yang semakin lama semakin buat saya stress dan akhirnya pelarian saya adalah mencari tempat hiburan! Baru awal tahun aja saya udah kangen banget mau liburan, mau pergi ke tempat yang banyak pohonnya, yang jauh dari keramaian dan gedung-gedung pencakar langit.

Di bulan Januari kemarin pun ada banyak sekali hal yang terjadi. Di kantor, saya dipromosikan untuk naik jabatan. Kalau orang lain melihatnya sepertinya hebat, tapi saya sendiri biasa aja. Gak terlalu antusias sebenarnya. Hahaha.. Mungkin balik lagi, seberapa lamanya pun saya di kantor yang sekarang, sejujurnya pekerjaan ini bukanlah passion saya. Tetapi jika saya menolak tantangan yang diberikan kok rasanya saya seperti 'menyerah sebelum perang dimulai' ya. Kok rasanya pengecut sekali. Jadi, akhirnya saya putuskan untuk menerimanya dan saya tau pasti banyak hal yang bisa saya pelajari.

Saya menerima tantangan itu juga karna saya terlanjur sayang dengan direktur saya (anyway, direktur saya ini cewek, entah kenapa saya menghormatinya dan saya anggap dia ibu kedua setelah mami saya). Dibilang dekat banget, saya gak begitu dekat dengan beliau, tapi saya amat respect dan entah lah.. sulit diungkapkan.. Seperti sebelum-sebelumnya, saya masih galau. Masih mikir, mau sampai kapan bertahan di sini?

Saya merubah gaya hidup! Tahun ini resolusi saya gak semuluk tahun-tahun sebelumnya. Saya mau sehat dan membahagiakan diri. Itu aja. Dimulai dari saya yang kembali ikut gym di salah satu fitness center, saya yang mulai merubah pola makan saya. Dan so far, saya sudah merasakan efeknya. Metabolisme tubuh saya juga semakin baik. satu hal baik yang saya dapatkan di bulan Januari kemarin. :)

Saya mencari kegiatan yang menarik! Karna sudah disibukkan dari senin-jumat di kantor, saya mau mengisi weekend dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Saya beberapa kali datang ke LOJF (Light of Jesus Feast), kalau ini udah dari desember kemarin, dan ikut acara itu begitu menyenangkan dan menenangkan. Selalu ada hal baik yang saya terima. Dan setiap kali selesai Feast, hati saya lebih damai. 

Kemarin, untuk menutup bulan Januari, saya menghabiskannya di arena tembak. Ternyata menembak seru dan menyenangkan. Saya baru tau kalau senapan itu berat, tarik kokangnya juga berat, banget. Sampai-sampai instructornya standby di sebelah saya, dia yang bantuin tarik kokang dan memasukkan pelurunya. Baik ya. ^^ Oh, sempat pesimis dan malu sih kalau saya tidak bisa menembak tepat sasaran. Tapi..... ternyata bisa kok! saya selalu menembak di lingkaran hitam. Rasanya bakalan mau nembak lagi nih kapan-kapan. :D

Dan akan merencanakan untuk melakukan kegiatan menyenangkan lainnya. Pokoknya di tahun ini mau berbahagia sebanyak-banyaknya! Karna masalah pun semakin banyak, jadi harus diimbangi dengan berbahagia, kalau gak bisa makin stress. ya gak? :p

Love,
Ay