Friday, September 23, 2016

Syal dan Sarung Tangan

Foto dari sini

Kamu membantuku merapatkan jaket yang aku kenakan.
"Masih dingin?" Tanyamu dengan raut cemas.
"Sedikit."
Kemudian kamu melepaskan sarung tangan dan memakaikannya kepadaku. Kamu pun melepas syal dan melingkarkannya untuk menutupi leherku.
"Yuk, sebelum salju benar-benar turun."
Kamu menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam saku jaket.

Love,
Ay.

Friday, September 16, 2016

Cangkir Yang Dalamnya Menguning




Foto dari sini

 
Kita pernah berbagi cerita di hari-hari yang lalu. Aku dengan secangkir teh bunga krisan, kamu dengan segelas kopi susu. Kita akan duduk di teras depan sambil memandang langit sore yang berwarna jingga.
“Kamu jadi pindah ke Bali?” Tanyaku dan tanpa sadar aku meremas gagang cangkir yang aku pegang.
Kamu mengangguk tanpa memandang kearahku, kemudian kamu mengambil gelas yang ada di meja dan meneguk isinya.
Aku pun ikut menyeruput teh bunga krisan, rasanya hambar, tidak seperti biasanya.
“Ini pertemuan terakhir kita,” katamu, lagi-lagi tanpa berani menatapku.
“Aku tau.”
“Jaga diri kamu.”
“Aku akan baik-baik saja,” ucapku setalah ada jeda panjang.
Dengan cepat kamu meneguk kopi susu itu dan menghabiskan isinya.
“Aku pamit,” ucapmu. Kali ini kamu memandangku dengan tatapan dalam yang sulit terbaca.
Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat tinggal. Kamu berlalu begitu saja dan aku hanya mampu memandang punggung kokohmu pergi menjauh.
Aku pun menghabiskan teh bunga krisan yang sudah mendingin. Sebelum beranjak dari teras, aku memandang bagian dalam cangkir itu. Warnanya sudah menguning, tanda bahwa cangkir ini sering kali dipakai dan diisi oleh teh.
Cangkir yang dalamnya menguning, telah banyak menyimpan kisah.
Aku pun beranjak dari teras dan memeluk cangkir itu.

Love,
Ay.

Kembali Seperti Semula

Saya tersadar bahwa dari tahun lalu, isi di blog ini kebanyakan curhatan saya. Hahaha.. Padahal ketika membuat blog ini, saya ingin banyak mengisinya dengan cerita fiksi / cerita 100 kata / flash fiction. Nyatanya, malah banyak berisikan keluh kesah saya.
Jadi, kisah-kisah di luar curhatan itu bukan kejadian nyata, Ay?
Ya dan tidak. Ada secuil bagiannya yang memang benar saya alami, kemudian berkembang begitu saja. Dan ada juga yang benar-benar fiksi. Tetapi saya menuliskannya dengan feels yang nyata.
Jadi, saya ingin mengembalikan seperti semula. Saya tetap akan curhat di sini juga sih, tapi gak sebanyak sebelumnya. Hehe.
Oh ya saya sedang menantang diri saya untuk menuliskan cerita dari 1 kata. Entah bagaimana, tiba-tiba terpikirkan, “gimana ya kalau kembangin cerita dari 1 kata?”. Dan saya membuat list kata yang terpikirkan oleh saya. Setiap 1 kata akan dibuat 1 cerita. So far, sudah 52 kata yang ada di dalam list dan beberapa sudah saya buat dalam bentuk flash fiction.
Rencananya akan saya publish setiap hari Jumat jam 8 malam (mulai dari malam ini). Gak ada alasan khusus sih kenapa saya posting setiap Jumat, hanya ingin saja. :p
Selamat hari Jumat.^^

 
Love,
Ay.
 

Monday, September 5, 2016

Sekedar Cerita

Saya lagi baper berat nih. Alesan bapernya sih lucu, gara-gara satu lagu yang awalnya saya gak tau artinya tetapi saya putar berpuluh-puluh kali. Iya, puluhan kali. Bahkan saya share di salah satu social media saya.
 
Jadi, setiap hari saya menyempatkan membuka youtube dan menonton beberapa menit tingkat lucu si kembar 3 Daehan, Minguk, Manse. Saya ngefans banget sama mereka dan saya belum bosen mengulang tontonan yang sama berkali-kali setiap harinya. Saya menganggap ketiga anak itu hiburan untuk saya setelah seharian yang melelahkan.
 
Dan seminggu yang lalu, dibagian home youtube saya muncul cuplikan dari acara I Can See Your Voice, salah satu program variety show Korea. Acaranya sih ada para juri dan guest star dengan beberapa orang peserta. Nah para peserta ini harus bisa meyakinkan untuk dipilih. Dari sekian peserta itu ada yang suaranya bener-bener bagus, ada juga yang kacau sampai bikin ketawa-ketawa. Ada beberapa sesi tetapi peserta gak boleh nyanyi, pokoknya si guest star harus bisa kira-kira dan mengeliminasi peserta yang menurutnya memiliki suara yang jelek. Peserta yang tereliminasi itu dikasih kesempatan buat nyanyi, biar ketauan suaranya beneran jelek apa ternyata bagus.  
Intinya setiap sesi ada 2 orang yang terleminasi dan nanti yang tinggal 1 orang itu tentunya menang dong ya. kalau 1 orang yang dipilih itu suaranya bagus, dia akan dibuatkan album dan duet dengan guest star, tapi kalau ternyata suaranya jelek, dia akan dihadiahi sejumlah uang karna berhasil mengelabuhi para juri dan guest star. Konsep yang menarik.
Balik lagi ke video yang muncul di home saya, karna penasaran, saya buka lah. Durasinya kurang dari 4 menit tapi membuat saya terbius. Seorang peserta yang tereliminasi menyanyikan satu lagu yang saya belum pernah dengar sebelumnya. Peserta ini adalah mahasiswa kedokteran di salah satu kampus di Korea, para juri awalnya meremehkan dia, bilang kalau dia gak punya skill, suaranya pasti jelek. Tetapi mereka semua langsung kaget dan nyesel ketika mendengar suara peserta ini.
Entah saya yang lebay atau gimana, tapi menurut saya dia menyanyikannya dengan sepenuh hati, bikin saya dan para penonton di studio gak bisa berkata-kata. Saya amat suka dengan suaranya. Dan saya gak puas hanya mendengarnya sekali, saya sampai putar berkali-kali dan besoknya pun demikian. Sudah tak terhitung banyaknya pengulangan selama seminggu ini. Tetapi hari ini yang paling banyak saya putar, dari pagi sampai siang saya putar lagu ini.
Saya pun akhirnya mencari tau penyanyi asli dan liriknya. Park Hyo Shin adalah penyanyi dari lagu yang berjudul Think I Can’t Do For You. Dan lagunya mengenai perpisahan. Ah, pantas saja dari nadanya udah sedih banget.
Hal yang bisa kita lakukan bersama adalah berpisah..
Mungkin karna saya terlalu baper, satu kalimat di atas membuat saya galau. Tentang suatu kerelaan untuk melepaskan. Saya jadi ingat hari-hari yang lalu, banyak hal yang saya lepaskan dan harus rela saya tinggalkan. Tidak, saya tidak ingin menyesali apa-apa yang telah saya rela lepaskan. Saya hanya sekedar mengingat saja.
Ah, padahal saya tidak dalam keadaan yang patah hati lho, bahkan sebaliknya. Apa jadinya ya kalau saya mendengarkan lagu ini dalam keadaan hati yang kacau, mungkin akan mewek kali. Hahaha.. iya, saya emang cengeng.
Hm, saya juga gak tau apa inti dari tulisan ini. :p Cuma pengen cerita aja kalau saya lagi baper sama satu lagu itu.
Tapi, hidup saya sedang baik-baik saja kok, saya sedang menikmati kebaikan Tuhan dalam hidup saya. Terlebih ada matahari yang belakangan ini mengisi hari-hari saya. :D
Love,
Ay.

Thursday, September 1, 2016

September :)

 
Rasanya baru kemarin saya mentertawakan status teman di path ketika dia say goodbye di bulan Januari, sekarang malah sudah masuk September. Membuat saya kembali mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan selama 8 bulan ini. Lo udah berbahagia sebanyak-banyaknya belom? Hampir. Saya sih maunya bahagia terus ya, tapi lagi-lagi hidup gak mungkin berjalan begitu mulus, akan ada kerikil-kerikil yang membuat kakimu tergores. Tidak apa-apa, anggaplah itu sebagai pengingat untuk kita selalu bersyukur dalam kondisi apa pun.
 
Sekitar 3 bulan yang lalu, saya sempat galau dan panik. Malu kalau saya harus ceritakan di sini. Tapi, lagi-lagi rencana Tuhan memang ajaib ya, Dia hilangkan segala galau dan kepanikan saya tepat pada waktuNya. Dan saya bersyukur, semoga kali ini memang benar jawaban dari Tuhan. :)
 
September adalah bulan kedua yang saya suka setelah Desember. Kalau di luar, September itu bulan yang menggantikan Summer ke Autumn. Iya, saya suka musim gugur, melihat daun-daun yang berubah merah kecoklatan. Bahkan saya punya keinginan untuk pergi ke suatu negara di bulan September, menikmati dedaunan yang gugur sambil merapatkan jaket dan menyeruput peppermint tea yang masih mengebul. Mudah-mudah keinginan saya ini tercapai, entah taun depan atau beberapa tahun lagi.^^
 
Dan di akhir September nanti, usia saya pun bertambah. Sempat sih mikir, 'ya ampun, tua banget deh gueee!', Tapi, mau bagaimana pun, mau saya merengek-rengek pun, tidak akan membuat hari berjalan lebih lambat. Ya, kan? :p
 
Oya, di bulan lalu saya sempat ikutan lomba menulis cerpen lagi, saya gak berharap menang sih tapi seandainya menang berarti saya mendapatkan kado yang manis. Karna pengumumannya jatuh mendekati akhir bulan September. Semoga aja ya, semoga. :D
 
Hm, saya juga tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan, asli deh taun ini saya benar-benar sibuk. Saya pun sedang ada project bersama adik dan mami saya dan kami sedang sibuk mempersiapkan berbagai hal untuk di bazaar yang akan diadakan tanggal 10 September nanti. Tinggal 9 hari lagi! Rasanya takut persiapannya kurang maksimal deh. Mudah-mudahan acaranya berjalan lancar dan orang-orang yang mampir di booth kami menyukai produk kami. :)
 
Terakhir, di bulan ini saya mau belajar lebih bersyukur dan tentunya lebih berbahagia biar bisa menularkan kebahagiaan ke orang-orang yang saya sayang. :')
 
Love,
Ay. 
 


Sunday, August 21, 2016

Kisah Kedai Kopi

 “Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
Kalimat itu selalu terucap dari Mahesa, seorang barista sekaligus pemilik kedai kopi. Aku suka mengamati laki-laki itu ketika bekerja, senyumnya selalu meninggalkan kesan manis. Kak Hesa, aku memanggilnya demikian, adalah seorang sosok laki-laki yang menarik, cara dia melayani pelanggan – dengan senyum yang tak pernah lepas tercetak di wajahnya, cara dia bergurau dengan barista lainnya seakan tidak ada batasan antara pemilik dan pegawai serta cara dia meracik kopi yang seakan ada aura menyenangkan yang ikut masuk ke dalam kopi buatannya.
Ah, dan aku juga suka dengan nama kedai kopi ini. Asal Mula Kopi. Membuat setiap orang penasaran dan memiliki banyak persepsi atas nama tersebut. Uniknya, Kak Hesa tidak pernah benar-benar menceritakan kisah dibalik nama itu, dia ingin setiap orang menerka-nerka sendiri dan tidak ingin membatasi pandangan orang lain.
Sambil menyeruput teh melati yang masih panas, aku kembali mengamati setiap sudut kedai itu. Asal Mula Kopi bukanlah kedai kopi yang besar. Hanya ada 4 meja persegi dengan setiap mejanya diisi 4 bangku serta 2 meja bundar yang diisi oleh 2 bangku. Di atas tiap meja dihiasi oleh satu botol kaca berisi biji kopi dan setangkai bunga baby's breath, sentuhan feminin untuk tempat yang bisa dibilang lebih cocok menjadi tempat nongkrong para pria.
Interior dalam dari bata merah dengan bohlam-bohlam yang menggantung di langit-langit membuat kedai ini terasa hangat dan nyaman. Tidak seperti kedai kopi kebanyakan, Asal Mula Kopi menawarkan kopi-kopi asal Indonesia yang ditaruh pada kotak-kotak kaca besar yang diberikan keterangan: Luwak, Jawa, Bali, Sumatera, Toraja, Lanang, Aceh Gayo dan Wamena.  Setiap orang yang datang dapat memilih langsung ingin diseduhkan kopi apa dan mereka diperbolehkan mencium biji kopi yang ditawarkan. Penyeduhannya pun tidak memakai mesin kopi yang canggih, Kak Hesa masih menggunakan cara lama – pour over, dia pernah bilang kalau rasa kopi dan baunya akan semakin keluar.
Hampir setiap hari aku datang ke sini. Tetapi, aku bukanlah pecinta kopi. Aneh? Memang. Setiap datang ke sini aku hanya memesan minuman yang selalu sama, teh melati dengan ditemani sepotong roti bakar mentega.
“Vanda, aku tinggal dulu ya.” Kak Hesa pamit, dia harus membantu melayani pelanggan yang datang.
Aku pun tersenyum dan mengangguk, mengerti bahwa dia perlu melayani. Akan ada waktunya kami berbincang-bincang dan bercerita tentang satu hari yang dilalui.
Pandanganku beralih ke meja-meja lain. Sore ini hanya 3 meja yang terisi. 1 meja bundar yang diisi oleh sepasang kekasih – kalau aku amati dari cara mereka yang saling memandang, 1 meja persegi berisi 3 orang mahasiswa yang sibuk dengan laptop masing-masing dan aku yang duduk sendiri di meja bundar. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tidak memperdulikan para pengunjung yang silih berganti datang untuk memesan kopi kemudian keluar lagi dari kedai.
Aku kembali mengarahkan pandanganku kepada Kak Hesa yang baru saja menyerahkan 1 cup kopi kepada pengunjung yang datang. Aku menatapnya lekat-lekat. Orang yang aku tatap pun sadar dan dia tersenyum.
I love you.” Kak Hesa mengucapkannya tanpa suara serta memberikan satu kedipan, membuatku tersipu malu. Dia memang paling bisa membuat aku salah tingkah.
Aku melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 6 sore. Aku menghabiskan teh melati yang sudah dingin itu dan memasukkan potongan terakhir roti bakar mentega. Sambil mengunyah, aku rapikan buku-buku yang tersebar di meja, memasukkannya kembali dalam tas.
“Yuk.” Kak Hesa sudah berdiri di depanku, apron yang seharian dia pakai sudah dilepas.
 “Dim, gue cabut duluan. Jaga kedai ya!” Pesan Hesa kepada staffnya.
“Siap Pak Bos! Selamat berkencan,” ledek Dimas.
Aku tertawa kecil mendengarnya, “ makasih Dimas yang sampai saat ini masih jomblo.” Gantian aku meledeknya. Sebelum Dimas buka suara, aku buru-buru menarik tangan Kak Hesa dan mengajaknya keluar dari kedai.
“Aku laper banget,” rengekku setelah berhenti menertawakan Dimas dari luar kedai.
“Kamu mau makan apa?”
“Kwetiaw siram!” Ucapku dengan semangat.
“Di tempat biasa?”
Aku mengangguk.
“Kita ke sana dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Kali ini kamu harus habisnya satu porsi. Gak boleh sisain makanan, ngerti?” Ucap Kak Hesa, galak.
Aku mencibir, “ iyaaaa… yukk, laper nih.”
Kak Hesa menatapku gemas. Dan aku membalasnya dengan cengiran.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?” Ucap Dimas secara spontan tiap kali ada pelanggan yang datang.
“Biasa ya, bro,”pesan orang itu.
“Oke, Bro!” Dimas mengambil Aceh Gayo dan mulai menyeduh sedangkan si pemesan kembali keluar dari kedai.
Bayu, nama orang itu. Dia menyelipkan sebatang rokok diantara bibirnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri foto. Banyak tersimpan foto-foto dia bersama seorang perempuan cantik, saat makan malam, bermain di pantai bahkan foto-foto selfie dengan berbagai mimik muka. Bayu meremas handphonenya.
“Brengsek!” Makinya.
“Aceh Gayo,” sodor Dimas. Dia ikut menemani bayu duduk di depan kedai dan mulai menyalakan rokok.
“Lo masih belom bisa lupain dia?” Tanya Dimas.
Orang yang ditanya hanya diam sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Gue emang apes ya dapet cewek yang cuma cantik luarnya aja,” kata Bayu dengan nada sinis.
“Bagus lo udah lepas dari dia.”
“3 tahun, Dim. Bukan waktu yang sebentar. Dan demi cowok bajingan tajir, dia ninggalin gue. Bangsat!”
Dimas -melihat gelagat Bayu yang emosinya mulai meninggi, merangkul cowok itu.
“Lo tunjukin sama dia, tunjukin karna dia udah ninggalin lo. Lo harus melebihi si sampah itu.”
Bayu meneguk kopinya, menghisap rokoknya kembali.
“Lo bener, gue gak akan kalah sama si bajingan!”
“Lo gak akan kalah!” Dimas menegaskan.
“Thanks.”
Keduanya kembali terdiam, menghisap rokok dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Gue cabut dulu,” pamit Bayu, mendadak. Meninggalkan kopi yang isinya masih setengah.
“Telpon gue kalo lo butuh bantuan.”
Bayu mengangguk.
Kalau pikirannya tidak kacau, dia pasti akan berlama-lama di kedai itu. Entah mengapa, dia amat menyukai Asal Mula Kopi.
Dia mengenakan helm dan menarik sleting jaketnya. Kemudian mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
“Dim, gue pesen Luwak dengan susu,” pesan seorang cewek.
“Siap!”
Dia menempati meja bundar di sebelah pintu masuk lalu mengeluarkan laptopnya. Kayla menyukai kedai itu, dia dapat menghabiskan berjam-jam di sana. Menurutnya, kedai kopi ini memiliki daya tarik tersendiri dan membuat inspirasinya mengalir.
Dia menyalakan laptop dan membuka salah satu file. Dalam sekejap, dia sudah tenggelam dalam kesibukkan. Jari-jarinya bergerak dengan cepat mengetikkan kata demi kata. Dia harus sesegera mungkin menyelesaikan naskah itu.
“Kapan deadline naskah lo?”Tanya Mira, satu-satunya barista cewek di sana. Dia meletakkan pesanan Kayla disebelah laptop.
“Minggu depan! Astaga, rasanya gue bakalan ngerayu editor gue buat perpanjang waktu. Gak bakalan keburu nih.”
“Udah sampe mana emangnya? Masih banyak yang perlu diselesaikan?”
“Sekitar 7 bab lagi, rasanya gue akan ke sini setiap hari. Lebih lancar ketimbang gue nulis di tempat lain.”
“Selama seminggu ke depan, gue bakal kosongin meja ini khusus buat lo,” ucap Mira.
“Lo baik banget deh, Mir.”
“Demi lo nih. Semangat!”
“Semangat!”Ulang Kayla.
Mira meninggalkan cewek itu, dia tak ingin lama-lama mengganggu Kayla.
Kayla menyeruput kopinya, wangi kopi dan susu bercampur jadi satu. Perpaduan rasa yang pas di lidahnya.
Dia pun melihat sekeliling Asal Mula Kopi. mencari-cari inspirasi untuk bahan tulisannya. Kayla tersenyum, kemudian mulai melanjutkan tulisannya.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
“Kopi favorit di sini apa?”
“Aceh Gayo, Luwak dan Toraja Pak.”
“Baik, saya pesan Luwak.”
“Saya Aceh Gayo,”pesan  yang satunya"
“Ada tambahan lain?"
“Itu saja.”
“Baik, silahkan menunggu pesanannya, nanti akan kami antar.”
Kedua pria di atas 40 tahun itu memilih duduk di meja persegi yang lebih luas dan leluasa.
“Tempat yang menarik,” ucap salah satunya, matanya menjelajah kedai kopi itu.
"Seperti kembali ke jaman muda ya?”Sahut yang lainnya.
“Ya, benar. Saya pun tau dari beberapa staff saya yang suka datang ke sini. Gak ada salahnya kan kita mencoba, tempatnya tidak gaduh dan cocok untuk meeting. Saya bosan berbincang dengan klien di tempat dan suasana yang selalu formal.”
“Saya setuju. So, bagaimana kelanjutan bisnis kita?”
***
Sebuah kedai kopi memiliki banyak kisah. Ada orang yang datang hanya sekedar ingin menghilangkan rasa kantuknya, ada yang menghabiskan waktu seharian dan ‘melarikan diri’ sejenak dari rutinitas, ada yang sibuk berbisnis, ada yang tengah menyelesaikan pekerjaannya, ada pula yang memilihnya sebagai tempat kencan.
Asal Mula Kopi salah satunya, tempat di mana setiap harinya ada kisah-kisah baru dari orang yang berdatangan. Tempat di mana setiap orang membagi waktu mereka di dalam kedai, menikmati tiap detik dengan ditemani kopi favorit...
End.
***
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory yang diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Love,
Ay

Thursday, July 7, 2016

Rumah Sakit

Salah satu tempat yang saya tidak suka adalah rumah sakit. Saya pernah berpikir, saya tidak mau sampai jatuh sakit dan harus diopname. Saya hanya ingin dirawat di rumah sakit ketika nanti saya melahirkan. Pengecualian yang membuat saya nantinya berani dihadapkan dengan ranjang rumah sakit, darah dan jarum suntik.

Dan tentunya saya pun tidak mengharapkan keluarga saya sakit sampai harus dirawat di rumah sakit.
Nyatanya, harapan saya mustahil.

Bisa dibilang, libur lebaran kali ini adalah libur yang gak akan bisa saya lupakan dalam hidup saya. Papi saya harus dilarikan ke rumah sakit ketika saya sedang jauh dari rumah. Saya sedang mengikuti seminar gereja di puncak selama 3 hari. Keadaan papi saya memang tidak terlalu baik saat saya pamit untuk pergi. Tetapi saya gak menyangka kalau papi saya memiliki sakit yang parah. Ada indikasi gagal jantung karna jantungnya mengalami pembekakan.

Saya amat khawatir dan gak bisa berpikir. Begitu gelisah dan hanya bisa minta Tuhan untuk sembuhkan papi saya, untuk menyadarkan papi saya kalau Tuhan kita selalu ada dalam situasi apa pun.

Papi saya ternyata mengidap penyakit menahun yang tidak terasa dan tau-tau menjadi parah, membuat papi saya masuk dalam masa kritis. Tidak sadarkan diri selama seharian. Yang bisa saya lakukan adalah terus berdoa dan meminta orang-orang disekitar saya untuk bantu doa. Saya sampai gak tau lagi mau meminta apa sama Tuhan, akhirnya saya cuma bisa bilang: Tuhan... Tolong...

Tau kah kalau kuasa doa itu menyembuhkan? Saya mengalaminya. Papi saya hanya dirawat semalam saja di ICU, masa kritisnya sudah lewat. Tau apa yang terjadi kalau papi saya masih kritis? Dia harus ditanamkan alat pacu jantung. Dan kita gak punya uang sekian ratus juta untuk biaya itu.

Lagi-lagi Tuhan saya baik, Dia menjawab segala permohonan saya untuk kesembuhan papi saya. Kian hari kondisi papi saya semakin baik. Ah ya, baru kali ini saya menginap di rumah sakit sampai 5 malam. Hari-hari yang teramat melelahkan. Tetapi, banyak orang yang menguatkan, banyak doa-doa baik untuk kesembuhan papi saya. Saat itu saya sadar, masih banyak orang yang peduli.

Untuk tiap orang yang menyempatkan datang, terima kasih.

Untuk tiap doa yang diselipkan untuk kesembuhan papi saya, terima kasih.

Saya gak mungkin sekuat ini tanpa banyaknya dukungan.

Dan saya lega, akhirnya kemarin saya bisa urus kepulangan papi saya. Dia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Dan saya tidak ingin kembali lagi ke rumah sakit dalam waktu dekat.

Saya gak bisa berkata banyak, saya hanya bisa bersyukur karna Tuhan saya baik. 

Ay.