Friday, December 2, 2016

Dia yang Telah Menggantikanmu


Foto dari sini

Satu-satunya hal yang aku sesali adalah aku tidak bisa lagi menjadi tempat untuk berbagi kelelahanmu. Maaf. 

“Kamu kenapa melamun?”

“Hm? Oh..”

“Nah,  kan. Lamunin apa sih?”

“Ng.. itu..”

“Gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita, tapi sekarang kita tidur yuk. Sudah lewat tengah malam.”

Dia membenarkan selimut yang aku pakai.
 
“Selamat tidur sayang,” ucapnya setelah mengecup dahiku. Dia kembali menarik selimutnya sampai di atas dada.

Aku meliriknya yang telah memejamkan mata.

I love you,” bisikku kecil.

Aku pun memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Masih ada waktu 6 jam sebelum kereta berhenti di kota tujuan kami.
 
Love,
Ay.

Thursday, December 1, 2016

December :)




Uwaaaaa!! Desember!!!
Bulan Desember selalu bisa buat saya jatuh hati tanpa alasan lho. Bayangin pohon Natal aja udah seneng banget. :D
Kalo diingat-ingat, waktu kecil saya punya impian untuk bisa pergi ke London, merayakan Christmas Eve di gereja bergaya Eropa yang warm, menyanyikan lagu-lagu khas Natal seperti Silent Night dan Noel. Oh, tentunya karna sedang winter, saya mau mengenakan boat hitam, coat panjang berwarna coklat tua, scarf biru muda dan sarung tangan. :p
Setelahnya, saya ingin berjalan-jalan keliling kota dan menikmati jalanan yang dipenuhi dengan tumpukan salju, lampu-lampu dan ornament natal. Kemudian mampir ke kedai kopi terdekat untuk memesan segelas peppermint tea panas dan croissant. Sekalian numpang untuk menghangatkan diri. Hehehe…
Ngimpi banget ya? kayaknya sih efek dulu tiap libur sekolah itu selalu nonton Home Alone deh. Kalian pernah berangan-angan seperti itu gak sih? :D
Sebenarnya ketika saya menulis ini, saya sedang sakit. Gara-gara semingguan kemarin saya sering kehujanan ketika pulang dari kantor. Jadinya saya flu berat, sakit kepala dan ditambah radang tenggorokan. Lengkap deh.
Walau sakit, tetap gak mengurangi rasa suka saya sama bulan Desember. Kalo dipikir-pikir lagi, udah lama saya gak menghabiskan waktu untuk membaca. Bahkan ada 1 buku yang saya beli di bulan Agustus dan belum saya selesaikan sampai sekarang. T_T
Jadi saya berencana di bulan ini mau cari waktu 1 hari untuk me time di bookstore favorit saya. Biasanya di bulan Desember, di sana jual yang namanya blind books. Jadi ada paket-paket buku yang sudah dibungkus kertas kado cantik dan kita tidak tau isi di dalamnya. Udah lama juga gak kasih kado buat diri sendiri, sepertinya blind books bakalan jadi kado natal yang cocok. Habis itu saya ingin mampir ah ke kedai susu yang juga favorit saya. wah, gak sabar! :D
Di bulan Desember ini saya berharap bisa lebih bahagia dari bulan-bulan sebelumnya. Udah punya beberapa rencana untuk mengisi weekend. Pokoknya saya mau berbahagia sebanyak-banyaknya. :D
Ps: kamu yang baca ini juga harus bisa membahagiakan diri ya. ^^


Love,

Ay.                                                                                                                                                                          

Friday, November 25, 2016

Kamu

Foto dari sini
 

Aku sering meminta banyak kepada Tuhan. Meminta ini dan itu. Kemudian, Dia merangkumkannya ke dalam seorang pria. Kamu.
Terima kasih telah membuatku percaya bahwa tidak apa-apa untuk meletakkan segala keresahan pada seseorang. Tidak apa-apa mempercayakan hati yang sudah banyak tambalannya ini pada seseorang. Dan tidak apa-apa membagi hari-hari yang tidak selalu berjalan dengan mulus, kepada seseorang.
Terima kasih telah datang dan (semoga) terus menetap. :)


Love,
Ay.



Friday, November 18, 2016

Gula Kapas


Foto dari sini
 
Hari ini aku kembali ke sini. Sendiri. Tempat ini tak banyak berubah. Anak-anak berseragam putih merah berhamburan keluar dari kelas ketika bel istirahat berbunyi. Aku tersenyum melihat wajah-wajah polos mereka. Dan tanpa sadar, aku mengamati apa-apa yang anak-anak itu lakukan. Semuanya berlarian ke pedagang yang menjajakan makanan khas anak sekolah. Anak laki-laki tambun asik mendorong temannya yang lebih kecil agar bisa duluan membeli. Adegan saling dorong pun terjadi. Keduanya tidak terlihat marah, malah tertawa-tawa.

Anak-anak perempuan banyak mengerubuti pedangan yang berjualan kue cubit. "Abang, kuenya setengah mateng ya!" Pesan seorang anak perempuan berambut keriting dengan suara nyaring.

Ada juga yang asik dengan seplastik es teh manis. Minuman yang cocok dicuaca yang panas ini.

Aku berjalan, menghampiri seorang pedagang yang hanya dihampiri 3 pembeli, 4 dengan aku. Jualannya tidak seramai pedagang lainnya. Aku pun menunggu sampai ketiga anak itu selesai membeli.

"Saya mau satu ya."

Aku menyodorkan selembar uang lima ribu dan pedagang itu menyodorkan pesananku.

Rasa manis langsung memenuhi mulutku ketika gula-gula kapas itu masuk ke dalam mulut. Rasanya masih sama seperti dulu. Yang berbeda hanya kali ini aku menikmatinya sendirian dan tidak berbagi denganmu.

Aku tidak mengharapkan kamu kembali. Tidak. Dan kamu tau itu. Aku hanya sekedar mengingat masa-masa ketika dulu kita pernah tertawa-tawa melihat kelakuan lucu anak-anak sekolah dan menikmati manisnya gula kapas yang rasanya selalu sama tetapi kita tak pernah bosan membelinya setiap kita mampir ke sekolah ini. Selalu... Tak pernah bosan...



Love,
Ay.

Monday, November 14, 2016

Menjadi Manusia yang Pantas

Suatu kali ada yang pernah bertanya kepada saya, apa saya yakin bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak?

Pertanyaan itu benar-benar saya pikirkan dan membuat saya bercermin. Kembali saya mengulang pertanyaan itu dalam pikiran saya. Yakin kah? Bisa kah?

Banyak diantara teman-teman saya yang sudah menikah dan memiliki anak. Sebagian menyesal karna memutuskan menikah terlalu cepat dan tidak siap ketika harus menjadi seorang ibu, yang waktunya banyak terkuras untuk mengurus anak dan merasa tidak sebebas dan sesantai dulu. Ada yang sampai stress, ditambah dengan si suami yang tidak mau membantunya menggantikan popok atau memberikan susu ketika anak mereka terbangun dan menangis di malam hari.
 
Tetapi ada pula yang merasa jauh lebih bahagia ketika seorang anak hadir di dalam keluarga mereka. Si istri yang iklas memberikan tenaga, pikiran dan waktunya untuk anak yang disayangnya. Juga si suami yang selalu semangat ketika waktunya pulang, karna tandanya dia akan segera bertemu dengan istri dan anak yang dia kasihi. Dia pun tidak tinggal diam ketika anak mereka terbangun di tengah malam, dia siap menggendong dan menidurkan kembali anaknya.
 
Dan bagaimana dengan saya?
 
Saya tidak bisa bilang kalau saya yakin dapat mengurus anak dengan baik, karna saya belum menikah, apalagi punya anak. Saya belum tau rasanya bagaimana menjadi seorang ibu. Tetapi, ketika nantinya menikah dan Tuhan mengijinkan untuk saya menjadi seorang ibu, saya akan berusaha menjadi ibu yang pantas untuk mereka, mengajarkan kebaikan-kebaikan dan tentunya menjadikan mereka anak-anak yang takut akan Tuhan. Syukur-syukur ketika mereka menginjak dewasa, mereka aktif dalam pelayanan di gereja. ^^
 
Saya tau tidaklah mudah pun juga sesederhana itu. Ada harga yang mahal dan kelapangan dada yang besar. Seorang teman pernah bilang ke saya: kalau udah nikah, kita sebagai istri bertugas memberikan yang terbaik dari diri kita tanpa pamrih, itu tantangannya, the.
 
Balik ke anak, sering saya dengar perkataan ‘anak adalah cerminan orang tuanya’. Oleh karenanya, yang bisa saya lakukan dari sekarang adalah belajar untuk memantaskan diri saya.
 
Ps1: jangan mengharapkan dan mengharuskan orang lain untuk berubah, kitanya yang harus berubah. Kita punya kendali penuh atas diri kita, kita lah juga yang menentukan mau berubah menjadi orang yang seperti apa. Atau tetap terus-terusan mengharapkan orang lain berubah untuk kita (yang ada bakalan makan ati :p).   
 
Ps2: pantaskan lah diri kita, dan Tuhan akan melayakkan hidupmu ^^

*bonus*

Ketika menulis ini, saya sempat membuka instagram dan menemukan cuplikan wawancara Song Ilkook, seorang ayah yang memiliki 3 anak kembar). Baru kali ini saya mendengar ucapan itu keluar dari mulut seorang pria~

video

Ps: semoga setiap laki-laki yang baca postingan ini dapat menangkap apa yang dikatakan Song Ilkook :)
Love,
Ay.

Friday, November 11, 2016

If Only...


Foto dari sini
 

Beberapa waktu yang lalu, aku melewati gang rumahmu ketika aku ingin pergi ke suatu tempat. Sekilas aku melihat rumahmu, dengan pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi, yang dibuat agar tidak ada satu orang pun dapat mengintip ke dalam rumah.
Sudah berapa lama ya kita tak bertemu dan bertegur sapa? 2 tahun? 3 tahun? Mungkin lebih. Aku tak pernah tau seperti apa kamu yang sekarang. Apakah sudah mendapatkan pekerjaan yang baik. Apakah sudah menemukan orang yang dapat mengisi hari-harimu. Apakah sudah merencanakan masa depan dengan pantas. Atau kamu masih seperti dulu yang aku kenal? Entah. Aku tidak tau.
Di hari-hari yang lalu, kita pernah menghabiskan banyak waktu bersama. Selalu menyempatkan untuk bertemu setiap akhir pekan. Tau apa yang aku suka darimu? Kamu selalu menepati janji dan tidak pernah terlambat untuk menjemputku. Dan aku berterimakasih untuk itu. Oh, dan aku suka parfum yang kamu pakai. Selalu membuatku nyaman ketika wangi itu terhirup dan masuk ke dalam hidung bersama dengan oksigen lainnya.
Ada kalanya, ketika kamu sedang kacau, kamu akan banyak merokok. Seakan lupa bahwa aku amat tidak suka dengan bau rokok – dan biasanya kamu tidak merokok di depanku. Tetapi, aku memakluminya. Aku bisa mentolerir itu. Kenapa? Karna aku tidak ingin bertengkar hanya karna asap rokok yang membuatku terbatuk. Aku hanya terlalu menyayangimu.
Aku tak dapat menghitung berapa banyak pertemuan kita, sudah terlalu banyak. Aku pun tak dapat menghitung seberapa banyak kita tertawa dengan lelucon-lelucon garing yang sebenarnya tidak lucu. Dan aku juga tak dapat menghitung berapa banyak wanita yang chat kamu sampai kamu perlu bantuanku untuk membalas semua chat itu.
Dan kita pernah bilang, that’s what friend are for. Saling membantu, bahkan sampai keurusan laki-laki maupun wanita yang mendekati kita.
Sampai suatu kejadian yang membuat kita saling menghilang dari kehidupan masing-masing. Dan kita lupa dengan hari-hari yang lalu. Ego kita mengalahkan rasa sayang. Kita tak mampu untuk hanya sekedar bertegur sapa.
Seandainya waktu bisa diulang...
Apakah kita bisa kembali seperti dulu?
 
Love,
Ay.

Friday, November 4, 2016

Boleh?

foto dari sini
 
"Kamu kenapa?"

"Lagi gak mood. Hehe..” ucapku sedatar mungkin.
 
"Karna apa?"
 
"Hm… Gak deh, gak usah dibahas."
 
"Yakin?"
 
"Iya."          
 
"Baiklah kalo begitu," katamu sambil tersenyum, kemudian kembali fokus menyetir.
 
Aku terdiam, pikiranku sibuk dengan apa-apa yang sudah kami obrolkan sebelumnya.
 
"Sayang, aku tau kamu lagi gak baik-baik aja. Kasih tau ke aku kenapa kamu bete. Bukan karna aku kan?" Tanyamu yang tak tahan dengan keheningan yang tercipta.
 
"Kalo aku bete karna kamu gimana?"
 
"Aku ada salah ngomong? Bagian yang mana?"
 
Aku menimbang-nimbang sebelum menjawab, "boleh aku minta satu hal sama kamu?"
 
"Apa?"
 
"Boleh gak untuk gak bahas mantan kamu di depan aku?"
 
"Hahahahahaha," kamu tertawa lebar sambil mengacak-acak rambutku, "yang, kamu cemburu ya?"
 
Aku menggeleng dan tidak ikut tertawa.
 
"Aku gak pernah cemburu sama mantan-mantan kamu, karna itu udah lewat. Kamu pernah ngitung gak seberapa sering kamu bahas Yuna di depan aku? Aku gak pernah ngitungin, tapi hampir disetiap kita bertemu, kamu pasti menyelipkan kisah kamu sama dia - sebanyak itu. Dan kamu selalu terlihat excited setiap kali bercerita tentang dia. Aku gak cemburu. Aku hanya berpikir, mungkin kamu lebih cocok bersama perempuan seperti dia, yang menggebu-gebu dan menuruti apa-apa yang kamu inginkan. Aku jauh dari kriteria itu. Tapi, kamu tau aku serius dengan hubungan kita, boleh gak aku minta tolong untuk gak bahas mantan kamu lagi?"

Dan seandainya kamu terus seperti ini, mungkin aku perlu mempertimbangkan kembali hubungan ini. Aku gak bisa menjadi seperti Yuna, maaf. Lanjutku dalam hati.

 
Love,
Ay.