Sunday, August 21, 2016

Kisah Kedai Kopi

 “Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
Kalimat itu selalu terucap dari Mahesa, seorang barista sekaligus pemilik kedai kopi. Aku suka mengamati laki-laki itu ketika bekerja, senyumnya selalu meninggalkan kesan manis. Kak Hesa, aku memanggilnya demikian, adalah seorang sosok laki-laki yang menarik, cara dia melayani pelanggan – dengan senyum yang tak pernah lepas tercetak di wajahnya, cara dia bergurau dengan barista lainnya seakan tidak ada batasan antara pemilik dan pegawai serta cara dia meracik kopi yang seakan ada aura menyenangkan yang ikut masuk ke dalam kopi buatannya.
Ah, dan aku juga suka dengan nama kedai kopi ini. Asal Mula Kopi. Membuat setiap orang penasaran dan memiliki banyak persepsi atas nama tersebut. Uniknya, Kak Hesa tidak pernah benar-benar menceritakan kisah dibalik nama itu, dia ingin setiap orang menerka-nerka sendiri dan tidak ingin membatasi pandangan orang lain.
Sambil menyeruput teh melati yang masih panas, aku kembali mengamati setiap sudut kedai itu. Asal Mula Kopi bukanlah kedai kopi yang besar. Hanya ada 4 meja persegi dengan setiap mejanya diisi 4 bangku serta 2 meja bundar yang diisi oleh 2 bangku. Di atas tiap meja dihiasi oleh satu botol kaca berisi biji kopi dan setangkai bunga baby's breath, sentuhan feminin untuk tempat yang bisa dibilang lebih cocok menjadi tempat nongkrong para pria.
Interior dalam dari bata merah dengan bohlam-bohlam yang menggantung di langit-langit membuat kedai ini terasa hangat dan nyaman. Tidak seperti kedai kopi kebanyakan, Asal Mula Kopi menawarkan kopi-kopi asal Indonesia yang ditaruh pada kotak-kotak kaca besar yang diberikan keterangan: Luwak, Jawa, Bali, Sumatera, Toraja, Lanang, Aceh Gayo dan Wamena.  Setiap orang yang datang dapat memilih langsung ingin diseduhkan kopi apa dan mereka diperbolehkan mencium biji kopi yang ditawarkan. Penyeduhannya pun tidak memakai mesin kopi yang canggih, Kak Hesa masih menggunakan cara lama – pour over, dia pernah bilang kalau rasa kopi dan baunya akan semakin keluar.
Hampir setiap hari aku datang ke sini. Tetapi, aku bukanlah pecinta kopi. Aneh? Memang. Setiap datang ke sini aku hanya memesan minuman yang selalu sama, teh melati dengan ditemani sepotong roti bakar mentega.
“Vanda, aku tinggal dulu ya.” Kak Hesa pamit, dia harus membantu melayani pelanggan yang datang.
Aku pun tersenyum dan mengangguk, mengerti bahwa dia perlu melayani. Akan ada waktunya kami berbincang-bincang dan bercerita tentang satu hari yang dilalui.
Pandanganku beralih ke meja-meja lain. Sore ini hanya 3 meja yang terisi. 1 meja bundar yang diisi oleh sepasang kekasih – kalau aku amati dari cara mereka yang saling memandang, 1 meja persegi berisi 3 orang mahasiswa yang sibuk dengan laptop masing-masing dan aku yang duduk sendiri di meja bundar. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tidak memperdulikan para pengunjung yang silih berganti datang untuk memesan kopi kemudian keluar lagi dari kedai.
Aku kembali mengarahkan pandanganku kepada Kak Hesa yang baru saja menyerahkan 1 cup kopi kepada pengunjung yang datang. Aku menatapnya lekat-lekat. Orang yang aku tatap pun sadar dan dia tersenyum.
I love you.” Kak Hesa mengucapkannya tanpa suara serta memberikan satu kedipan, membuatku tersipu malu. Dia memang paling bisa membuat aku salah tingkah.
Aku melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 6 sore. Aku menghabiskan teh melati yang sudah dingin itu dan memasukkan potongan terakhir roti bakar mentega. Sambil mengunyah, aku rapikan buku-buku yang tersebar di meja, memasukkannya kembali dalam tas.
“Yuk.” Kak Hesa sudah berdiri di depanku, apron yang seharian dia pakai sudah dilepas.
 “Dim, gue cabut duluan. Jaga kedai ya!” Pesan Hesa kepada staffnya.
“Siap Pak Bos! Selamat berkencan,” ledek Dimas.
Aku tertawa kecil mendengarnya, “ makasih Dimas yang sampai saat ini masih jomblo.” Gantian aku meledeknya. Sebelum Dimas buka suara, aku buru-buru menarik tangan Kak Hesa dan mengajaknya keluar dari kedai.
“Aku laper banget,” rengekku setelah berhenti menertawakan Dimas dari luar kedai.
“Kamu mau makan apa?”
“Kwetiaw siram!” Ucapku dengan semangat.
“Di tempat biasa?”
Aku mengangguk.
“Kita ke sana dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Kali ini kamu harus habisnya satu porsi. Gak boleh sisain makanan, ngerti?” Ucap Kak Hesa, galak.
Aku mencibir, “ iyaaaa… yukk, laper nih.”
Kak Hesa menatapku gemas. Dan aku membalasnya dengan cengiran.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?” Ucap Dimas secara spontan tiap kali ada pelanggan yang datang.
“Biasa ya, bro,”pesan orang itu.
“Oke, Bro!” Dimas mengambil Aceh Gayo dan mulai menyeduh sedangkan si pemesan kembali keluar dari kedai.
Bayu, nama orang itu. Dia menyelipkan sebatang rokok diantara bibirnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri foto. Banyak tersimpan foto-foto dia bersama seorang perempuan cantik, saat makan malam, bermain di pantai bahkan foto-foto selfie dengan berbagai mimik muka. Bayu meremas handphonenya.
“Brengsek!” Makinya.
“Aceh Gayo,” sodor Dimas. Dia ikut menemani bayu duduk di depan kedai dan mulai menyalakan rokok.
“Lo masih belom bisa lupain dia?” Tanya Dimas.
Orang yang ditanya hanya diam sambil kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Gue emang apes ya dapet cewek yang cuma cantik luarnya aja,” kata Bayu dengan nada sinis.
“Bagus lo udah lepas dari dia.”
“3 tahun, Dim. Bukan waktu yang sebentar. Dan demi cowok bajingan tajir, dia ninggalin gue. Bangsat!”
Dimas -melihat gelagat Bayu yang emosinya mulai meninggi, merangkul cowok itu.
“Lo tunjukin sama dia, tunjukin karna dia udah ninggalin lo. Lo harus melebihi si sampah itu.”
Bayu meneguk kopinya, menghisap rokoknya kembali.
“Lo bener, gue gak akan kalah sama si bajingan!”
“Lo gak akan kalah!” Dimas menegaskan.
“Thanks.”
Keduanya kembali terdiam, menghisap rokok dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Gue cabut dulu,” pamit Bayu, mendadak. Meninggalkan kopi yang isinya masih setengah.
“Telpon gue kalo lo butuh bantuan.”
Bayu mengangguk.
Kalau pikirannya tidak kacau, dia pasti akan berlama-lama di kedai itu. Entah mengapa, dia amat menyukai Asal Mula Kopi.
Dia mengenakan helm dan menarik sleting jaketnya. Kemudian mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
“Dim, gue pesen Luwak dengan susu,” pesan seorang cewek.
“Siap!”
Dia menempati meja bundar di sebelah pintu masuk lalu mengeluarkan laptopnya. Kayla menyukai kedai itu, dia dapat menghabiskan berjam-jam di sana. Menurutnya, kedai kopi ini memiliki daya tarik tersendiri dan membuat inspirasinya mengalir.
Dia menyalakan laptop dan membuka salah satu file. Dalam sekejap, dia sudah tenggelam dalam kesibukkan. Jari-jarinya bergerak dengan cepat mengetikkan kata demi kata. Dia harus sesegera mungkin menyelesaikan naskah itu.
“Kapan deadline naskah lo?”Tanya Mira, satu-satunya barista cewek di sana. Dia meletakkan pesanan Kayla disebelah laptop.
“Minggu depan! Astaga, rasanya gue bakalan ngerayu editor gue buat perpanjang waktu. Gak bakalan keburu nih.”
“Udah sampe mana emangnya? Masih banyak yang perlu diselesaikan?”
“Sekitar 7 bab lagi, rasanya gue akan ke sini setiap hari. Lebih lancar ketimbang gue nulis di tempat lain.”
“Selama seminggu ke depan, gue bakal kosongin meja ini khusus buat lo,” ucap Mira.
“Lo baik banget deh, Mir.”
“Demi lo nih. Semangat!”
“Semangat!”Ulang Kayla.
Mira meninggalkan cewek itu, dia tak ingin lama-lama mengganggu Kayla.
Kayla menyeruput kopinya, wangi kopi dan susu bercampur jadi satu. Perpaduan rasa yang pas di lidahnya.
Dia pun melihat sekeliling Asal Mula Kopi. mencari-cari inspirasi untuk bahan tulisannya. Kayla tersenyum, kemudian mulai melanjutkan tulisannya.
***
“Selamat datang di Asal Mula Kopi, mau pesan apa?”
“Kopi favorit di sini apa?”
“Aceh Gayo, Luwak dan Toraja Pak.”
“Baik, saya pesan Luwak.”
“Saya Aceh Gayo,”pesan  yang satunya"
“Ada tambahan lain?"
“Itu saja.”
“Baik, silahkan menunggu pesanannya, nanti akan kami antar.”
Kedua pria di atas 40 tahun itu memilih duduk di meja persegi yang lebih luas dan leluasa.
“Tempat yang menarik,” ucap salah satunya, matanya menjelajah kedai kopi itu.
"Seperti kembali ke jaman muda ya?”Sahut yang lainnya.
“Ya, benar. Saya pun tau dari beberapa staff saya yang suka datang ke sini. Gak ada salahnya kan kita mencoba, tempatnya tidak gaduh dan cocok untuk meeting. Saya bosan berbincang dengan klien di tempat dan suasana yang selalu formal.”
“Saya setuju. So, bagaimana kelanjutan bisnis kita?”
***
Sebuah kedai kopi memiliki banyak kisah. Ada orang yang datang hanya sekedar ingin menghilangkan rasa kantuknya, ada yang menghabiskan waktu seharian dan ‘melarikan diri’ sejenak dari rutinitas, ada yang sibuk berbisnis, ada yang tengah menyelesaikan pekerjaannya, ada pula yang memilihnya sebagai tempat kencan.
Asal Mula Kopi salah satunya, tempat di mana setiap harinya ada kisah-kisah baru dari orang yang berdatangan. Tempat di mana setiap orang membagi waktu mereka di dalam kedai, menikmati tiap detik dengan ditemani kopi favorit...
End.
***
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory yang diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Love,
Ay

Thursday, August 4, 2016

Random Post in August



 
Beberapa hari yang lalu, ketika saya terbangun di pagi hari, saya tersadar bahwa saya telah memasuki bulan Agustus. Iya, lagi-lagi waktu cepat berlalu. Banyak hal yang ingin saya lakukan tapi waktu tak banyak.
Beberapa waktu yang lalu saya dikhawatirkan dengan satu hal yang membuat saya menjadi takut. Dan baru semalam saya cerita ketakutan dan kekhawatiran saya pada salah satu teman dekat. Seperti yang sudah saya duga, dia benar-benar mewanti-mewanti saya. Saya tau bakalan bahaya banget.
Lucu ya. 1,5 tahun yang lalu, teman saya ini pernah cerita ke saya tentang suatu hal dan saya sempat negur, ngoceh-ngoceh dan mewanti-wanti dia. Eh, sekarang malah kejadian ke saya. Tetapi, saya masih di awal saja belum terjebak dalam seperti teman saya. Dan saya tau saya harus melangkah mundur dan berbalik badan. Saya tak ingin mengalami seperti yang teman saya alami. Akan ada banyak hati yang hancur nantinya. Dan saya tak menginginkan hal itu terjadi.
Ohya, papi saya sudah membaik lho. Pemulihannya bisa dibilang cepat, saya bersyukur banget dan tentunya karna Tuhan sayang sama papi saya. :)
Ngomong-ngomong tentang Tuhan, dari awal tahun ada satu lagu gereja yang selalu saya nyanyikan setiap hari dan sampai detik ini saya tak pernah bosan menyanyikannya. Setiap kata menjadi penguatan buat saya. Ada saat-saat saya bisa seharian mendengarkan lagu-lagu gereja, membuat perasaan dan hati saya menjadi damai. Karna ketika tidak ada seorang pun yang mengerti, masih ada Tuhan yang mengerti keadaan kita. Saya percaya, Tuhan saya selalu bersama saya~ :)
Hmm.. mau cerita apa lagi ya..
Oh! Tau kan kalo saya tuh suka menulis. Salah satu kebiasaan saya adalah membuat note dan ditempel di dinding meja kerja saya. Setiap pagi, saya selalu membacanya. Buat saya, memulai hari dengan membaca kalimat-kalimat yang positif tentunya akan merubah mindset saya dan memampukan saya melewati setiap kejadian yang seharian terjadi.
Hmm.. tau gak kenapa saya suka menulis di sini? Jujur aja, karna Vealde gak populer. Hahaha~ Gak banyak yang mampir dan membaca tulisan ini. Karna itu, saya jadi lebih bebas menuliskan apa-apa yang ingin saya tulis. Saya tidak bisa menulis seperti ini di blog Summer3angle. Dan memang blog Summer3angle dibuat hanya untuk membagi hal-hal yang seru, lucu, kedodolan-kedodolan saya serpa selipan kisah galau-galau akud saya. Yang tentunya diharapkan dapat menghibur setiap pembaca.
Baik Summer3angle maupun Vealde memiliki tempat khusus di hati saya. Saya bisa menulis dengan jujur. Dari kedua blog ini, saya membagi secuil hidup saya kepada banyak orang. Iya, secuil. Karna ada banyak hal yang tidak ingin saya ceritakan. Cukup saya bagi kepada sahabat dan teman terdekat saja.
Masih tentang menulis, belakangan ini saya tidak sempat melanjutkan kisah Davi dan Rei di wattpad. Daripada pembaca menunggu lama, saya putuskan untuk menutup cerita itu untuk waktu yang belum dapat ditentukan. Saya masih galau mau jadi tim pembela Rei atau Rico atau tokoh cowok lainnya. Karna ceritanya sudah keluar dari kerangka awal yang saya buat.
Saya malah asik menulis kisah baru. Hahaha~ Kebiasaan jelek saya nih, menunda menyelesaikan tulisan lama, malah asik menulis kisah baru yang entah akan selesai apa gak. Ah, biar lah. Liat nanti aja akan gimana.
Saya belum cerita ya kalau saya ikutan lomba menulis cerpen. Salah satu publisher dari Surabaya mengadakan lomba menulis cerpen yang nantinya bagi para pemenang, cerpen mereka akan dibukukan. Dan cerpen saya salah satu yang terpilih! Saya sampe speechless, gak nyangka bakalan menang, akhirnya  salah satu cita-cita kecil saya tercapai. :’)
Post ini bener-bener random ya. :p
Terakhir, mau bilang makasi buat semua orang yang udah baik dan sayang sama saya. :)


Ay.

Thursday, July 7, 2016

Rumah Sakit

Salah satu tempat yang saya tidak suka adalah rumah sakit. Saya pernah berpikir, saya tidak mau sampai jatuh sakit dan harus diopname. Saya hanya ingin dirawat di rumah sakit ketika nanti saya melahirkan. Pengecualian yang membuat saya nantinya berani dihadapkan dengan ranjang rumah sakit, darah dan jarum suntik.

Dan tentunya saya pun tidak mengharapkan keluarga saya sakit sampai harus dirawat di rumah sakit.
Nyatanya, harapan saya mustahil.

Bisa dibilang, libur lebaran kali ini adalah libur yang gak akan bisa saya lupakan dalam hidup saya. Papi saya harus dilarikan ke rumah sakit ketika saya sedang jauh dari rumah. Saya sedang mengikuti seminar gereja di puncak selama 3 hari. Keadaan papi saya memang tidak terlalu baik saat saya pamit untuk pergi. Tetapi saya gak menyangka kalau papi saya memiliki sakit yang parah. Ada indikasi gagal jantung karna jantungnya mengalami pembekakan.

Saya amat khawatir dan gak bisa berpikir. Begitu gelisah dan hanya bisa minta Tuhan untuk sembuhkan papi saya, untuk menyadarkan papi saya kalau Tuhan kita selalu ada dalam situasi apa pun.

Papi saya ternyata mengidap penyakit menahun yang tidak terasa dan tau-tau menjadi parah, membuat papi saya masuk dalam masa kritis. Tidak sadarkan diri selama seharian. Yang bisa saya lakukan adalah terus berdoa dan meminta orang-orang disekitar saya untuk bantu doa. Saya sampai gak tau lagi mau meminta apa sama Tuhan, akhirnya saya cuma bisa bilang: Tuhan... Tolong...

Tau kah kalau kuasa doa itu menyembuhkan? Saya mengalaminya. Papi saya hanya dirawat semalam saja di ICU, masa kritisnya sudah lewat. Tau apa yang terjadi kalau papi saya masih kritis? Dia harus ditanamkan alat pacu jantung. Dan kita gak punya uang sekian ratus juta untuk biaya itu.

Lagi-lagi Tuhan saya baik, Dia menjawab segala permohonan saya untuk kesembuhan papi saya. Kian hari kondisi papi saya semakin baik. Ah ya, baru kali ini saya menginap di rumah sakit sampai 5 malam. Hari-hari yang teramat melelahkan. Tetapi, banyak orang yang menguatkan, banyak doa-doa baik untuk kesembuhan papi saya. Saat itu saya sadar, masih banyak orang yang peduli.

Untuk tiap orang yang menyempatkan datang, terima kasih.

Untuk tiap doa yang diselipkan untuk kesembuhan papi saya, terima kasih.

Saya gak mungkin sekuat ini tanpa banyaknya dukungan.

Dan saya lega, akhirnya kemarin saya bisa urus kepulangan papi saya. Dia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Dan saya tidak ingin kembali lagi ke rumah sakit dalam waktu dekat.

Saya gak bisa berkata banyak, saya hanya bisa bersyukur karna Tuhan saya baik. 

Ay.

Monday, June 13, 2016

Pantai

foto dari sini

Beberapa minggu yang lalu saya sempat cerita di grup kalau saya butuh piknik. Pokoknya mau menjauh sejenak dari rutinitas, dari gedung-gedung tinggi, dari berdesak-desakan sepanjang perjalanan pergi dan pulang di dalam kereta. Menjauh dari tumpukan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Kemudian salah satu teman menyarankan (dan mengajak) piknik ke pantai selama 2 malam. Ah, saya malas. Sering kali saya bilang kepada orang-orang terdekat saya bahwa saya paling ogah ke pantai. Sama seperti saya yang tidak mau tidur dengan lampu yang dipadamkan. Begitulah.
Bukannya saya tidak suka pantai, hanya saja mataharinya terlalu menyengat, bikin kulit terbakar dan mata berkunang-kunang. Anggaplah saya manja banget dalam hal ini.
Tetapi tawaran ke pantai begitu menggoda dan pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Bahkan saya yang jadi kelewat semangat mempersiapkan ini dan itu, sampai niat membeli baju dan atribut ala pantai. Pokoknya maksimal banget. Hahaha~
Saya dan satu orang teman malah sampai ambil cuti 2 hari! Kita berdua berangkat dengan penerbangan paling pagi. Setelah beli tiket, baru mikir: ini seharian mau ke mana aja…?
Dan kita melupakan bahwa kita piknik di saat bulan puasa, yang walaupun kita tidak ikut berpuasa tapi kita berusaha menghargai mereka. Kita hanya bingung aja untuk makan dan minumnya gimana. Ah, terlalu banyak yang dipikirkan deh. -__-
Walau tidak suka sengatan matahari dan masih tidak tau mau ke mana aja selama 1 hari tambahan itu, saya tetap semangat dan menanti hari itu.
Ah ya, saya juga gak suka packing. Selalu last minute baru tergerak untuk mengemasi barang-barang. Tetapi, setiap pergi ke suatu tempat, saya selalu membuat list dan menuliskan apa-apa saja yang ingin saya bawa. Pergi selama 4 hari aja list saya panjang banget.
Kalau diingat-ingat, saya sudah 3 tahun menghindari pantai. Dan saya selalu absen dari acara keluarga kalau acaranya berlibur ke pantai.
Tetapi kali ini saya harus berani menghadapinya, berani untuk tersengat matahari. Saya jadi begitu ingin menyentuh pasir, merasakan asinnya air laut kemudian bermain dengan ikan-ikan karang. Membayangkannya saja membuat saya tersenyum dan melupakan ketidaksukaan saya terhadap teriknya matahari.
3 hari lagi.. iya, 3 hari lagi! :D
Ay.



Wednesday, May 25, 2016

Seseorang yang Baik


Jadilah seseorang yang baik. Saya selalu mengucapkannya pada diri saya. Entah mengapa, menjadi baik terasa lebih mudah saya lakukan ketimbang berbuat jahat. Berbuat tidak baik itu lebih melelahkan lho.
Dalah hidup saya, ada orang-orang baik yang datang dan pergi. Yang walau sesusah payah apapun saya berusaha, tetap tidak dapat membalas semua kebaikan mereka. Makasi Tuhan telah mengirimkan mereka. Terima kasih untuk pernah mampir di hari-hari saya. ^^
Tapi, tidak semua orang itu baik, Ay!
Iya, saya tau kok.
Banyak orang-orang palsu!
Iya, saya bisa membedakannya.
Kalau kamu dijahati, apa masih akan tetap baik?
Hmm.. ya. Saya tidak ingin berubah menjadi seperti mereka.
Bagaimana dengan orang-orang yang menyakitimu?
Ah, ya. Saya pernah terluka tak terhitung banyaknya. Tak banyak yang dapat saya lakukan, saya bukanlah orang yang dapat membalas ketidakbaikan itu. Saya lebih memilih melupakannya, menyingkirkan kesakitan itu sejauh mungkin. Karna hidup saya terlalu berharga hanya untuk meratapi luka-luka saya. Saya tidak ingin hidup seperti itu.
 Jadilah seseorang yang baik. Saya tak pernah bosan mengucapkannya. Seberapa pun tekanan disekitarmu, seberapa pun banyak orang-orang palsu, kamu tetaplah menjadi orang yang baik.
Oh ya, ada satu kalimat Fa (seorang penulis favorite saya) yang saya tulis dan tempelkan di meja kantor:

Karena pasti ada,
entah di persimpangan mana,
seseorang yang bersedia mengingatmu selamanya di hatinya. :)

Tidak ada ruginya menjadi orang yang baik, setidaknya kamu akan memiliki tempat di sudut hati orang lain. ^^


Ay.

Saturday, May 14, 2016

Jeda

Ada jeda disetiap tarikan napas yang panjang .
Dan di sana terdapat celah untuk beristirahat sejenak.

Beberapa waktu ini saya teramat disibukkan dengan banyak hal. Setiap hari selalu tidak merasa cukup, selalu perlu tambahan jam untuk mengerjakan berbagai hal.

“Thea, kita akan kerjasama dengan grupnya KL, besok meeting di kantor mereka.”

Direktur saya memberi tau disela-sela waktu kerja. Meetingnya sendiri pun hanya sebentar, lebih lama perjalanan dari kantor saya ke kantor mereka. Kamu tau, Jakarta selalu macet setiap saat. Hanya satu minggu untuk saya mengumpulkan bahan yang harus diserahkan kepada mereka. Saya kalang kabut.

“Thea, outing kantor kita jadinya kapan?”

Saya pun sedang disibukkan dengan mengurus acara kantor, mencari dan memesan tempat, membuat desain kaos yang akan dipakai seluruh staff, membuat spanduk, memilih dan menyusun games kelompok dan lain-lain. Cape sih tapi saya senang melakukannya. ^^

“Thea, ada waktu? Saya mau call untuk bahas perkembangan website.”

Kantor saya pun sedang menuju ke arah online. Kita mau membuat online store sebagai pelengkap perusahaan. Jadi customer memiliki pilihan untuk membeli secara offline dan online. Untuk pembuatan websitenya sendiri pun kita pakai web developer dari Singapura. Hampir setiap hari saya berkomunikasi dengannya, pe-er saya pun semakin banyak~

“Besok meeting produk TB jam 9 pagi.”

Saya mendapati email dari Sales Manager dan hampir melupakan meeting itu karna sedang terfokus untuk mengumpulkan bahan yang diminta oleh grup KL. Meeting itu berlangsung 2 jam, dengan meninggalkan tumpukan pe-er baru untuk saya. Tetapi, untungnya Sales Manager saya paham kalau saya sedang teramat sibuk, jadi dia gak akan ‘mengejar’ saya dalam waktu dekat ini. *menarik napas lega*

Tetapi kemudian, keesokan harinya..

"Halo, Thea. Kita ikut seminar di Balikpapan akhir bulan nanti. Tolong persiapkan semua keperluannya."

Sales Manager saya menelpon. Hanya 2 minggu untuk saya menyiapkannya. Ya, ampun. Saya ragu bisa menyiapkan semuanya dengan baik...

Dan lain-lain… dan lain-lain…

Belum lagi saya harus berpikir dan mencari cara untuk menaikkan penjualan usaha pribadi saya. Pekerjaan kantor dan usaha pribadi saat ini mengambil banyak waktu saya. Ditambah lagi dengan urusan….. hati.

“Thea, sorry nih ganggu malem-malem.”

“Malem Pak, gak ganggu kok. Ada apa?”

“Mau nanya, kamu masih single? Haha. Nanyanya aneh ya.”

“Bahahahahaa. Emang kenapa pak?”

“Saya mau ngenalin kamu sama temennya istri saya.”

Si bapak ini bekerja di kantor principal salah satu brand yang kantor saya jual. Karna jarak umur saya dan dia tidak begitu jauh, kita pun jadi akrab dan bisa saling ledek. Saya sempat tertawa membaca chat darinya. Kok bisa kepikiran ngenalin cowok ke saya sih. :p

“Thea, aku mau ngenalin cowok.”

“Hah?”

“Orangnya baik, udah mapan, family man.”

DANG! Ternyata saya tau orang yang ingin dia kenalin.

“Duh, minder ah.”

“kenapa harus minder? Pokoknya aku mau kenalin ke kamu. Susah nih kamunya kalo diajak pergi selalu sibuk, dia juga sibuk sih.”

“Hahahaha.. iya kak aku lagi sibuk banget. Lagian ya Kak, jangan deh. Si M tuh lagi naksir berat sama Ko Y, gak deh.”

“Nanti sih bisa kita atur aja. Jodoh gak ke mana. Hahahaha.”

Salah satu senior di Gereja begitu semangat mau nyomblangin saya.

Dan beberapa teman lainnya yang ingin ngenalin cowok ke saya.

Pada baik banget sih sama saya..? sampe repot-repot ngenalin dan nyomblangin. Tapi, saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang sama saya. Makasi ya semuanya. ^^

Yang lucu adalah bapak-bapak di kantor saya. Mereka sering interogasi saya, sedang dekat sama siapa, sedang jalan dengan siapa, sampe minta ditunjukin foto. Mereka banyak memberi nasehat yang membuat saya tertawa.

“Si ono masih contact lu gak?”

“Masih Pak, tapi gak saya respon.”

“Udah, jangan. Katro dia mah. Sekarang lu sama siapa? Saya kasih tau, ati-ati sama cowok.”

“Bahahahahaha”

“Malah ketawa kalo dibilangin. Serius ini.  Kamu harus tau dan pelajarin dulu, liat anaknya beneran baik apa gak. Kalo dia udah mulai macem-macem, ngajak ke hotel jangan mau. Brengsek itu. Diliat dulu Thea keluarganya seperti apa, hubungan sama keluarganya gimana.”

“Bahahahaah.. apaan sih Pak. Ini kayak ngajarin anak SMP pacaran deh. Saya tau kok yang mana yang baik buat saya.”

“Sekarang lagi deket sama siapa? Coba saya liat fotonya.”

Hahahahahaah. Aduh, saya berasa anak sekolah yang lagi dinasehatin untuk urusan cinta pertama. Saya tau, mereka seperti itu karna mereka perduli. Mungkin juga mereka menganggap saya seperti anak mereka yang tidak ingin sampai saya kenapa-napa atau jalan dengan laki-laki yang tidak baik.

Tetapi… saya butuh jeda untuk semua itu. Saya butuh jeda untuk melupakan sejenak pekerjaan dan urusan hati. Saya masih yakin kok, Tuhan saya akan memberikan yang terbaik buat saya.

Rasanya saya butuh piknik!

(Menulis ini dengan membayangkan putihnya pasir dan birunya laut tetapi tetap tidak suka dengan sengatan matahari)

Ay.

Monday, April 4, 2016

Pindah

Tulisan ini kelanjutan dari postingan 'Pergi'. Entah kenapa saya ingin melanjutkannya kembali. Belakangan ini saya mendengar banyak kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk pindah kantor. Beberapa diantara mereka cukup dekat dengan saya. Kita banyak berbagi cerita. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Dari saling meledek sampai menggalau bareng.

Di bulan lalu, saya mendengar 4 orang teman saya yang memutuskan berpindah tempat. Oh, ditambah satu lagi teman dari pihak principal yang pindah. 5 orang. Bukanlah jumlah yang sedikit. Ketika nanti sudah tidak di dalam satu perusahaan lagi, meskipun ada ucapan: keep in touch ya! tetaplah tidak akan sama. 

Dan ketika saya mendengar kabar itu, hati saya seakan kosong. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang nantinya tidak sama lagi. Entah mengapa, saya jadi merasa takut ditinggalkan. Padahal saya sudah terbiasa ditinggalkan. Tetapi, setiap kali ada orang yang pergi, rasanya masih selalu sulit untuk dimaklumi, untuk diikhlaskan. 

Iya, saya tau, selalu ada 'indah' disetiap 'pindah', keputusan mereka adalah sepenuhnya hak mereka dan saya tidak punya hak untuk mencampurinya. Saya hanya mampu untuk mendoakan agar hidup mereka akan semakin baik dan menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. 

Walau sulit, tetapi saya bilang sekali lagi pada diri saya bahwa mereka yang pergi adalah mereka yang waktunya sudah selesai bersama saya. Terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi bagian dari hidup saya. :')

Ps: Jadi, kamu kapan pindah Ay?