Monday, July 31, 2017

When He Pray For Me~ :)

Minggu lalu, saya kena cacar api. Sesuai sama namanya, rasanya itu kayak kebakar dan ketusuk-tusuk pisau. Virus cacar api ini sama dengan cacar air. Saya baru tau kalau ketika dulu kita kena cacar air, virus yang bernama varisella itu gak benar-benar mati. Si virus ngumpet di jaringan tulang belakang. Dan sewaktu-waktu bisa kembali akhitf dan menyerang kita ketika kondisi tubuh sedang tidak baik, ketika imun kita lemah.
 
Dari awal Juli, pekerjaan saya di kantor memang lagi banyak-banyaknya, sedang dikejar banyak target juga. dan dampaknya adalah saya selalu kelelahan. Tapi, saya gak pernah sangka kalau saya akan terkena cacar api sih.
 
Memang saat itu bagian punggung bawah saya, dekat tulang belakang itu gatal dan perih. Beberapa hari kemudian muncul bintik seperti jerawat. Saya kira alergi atau digigit tungau, jadi cuma saya kasih salep aja. Dan di saat bintik itu muncul, keesokannya bagian tulang belakang saya sakit banget kayak mau patah, ulu hati juga perih dan mual, serta sariawan gede di bibir (saya hampir gak pernah sariawan). Saya mikir, kok sakitnya keroyokan gini sih? :
 
Karna gatal itu berubah seperti terbakar dan semakin banyak ruam-ruam merah, saya memutuskan untuk ke dokter. Dan tau apa kata dokternya? Saya kena cacar api. Semua sakit yang saya rasakan itu karna si cacar api, dia menyerang saraf dan menginfeksi tulang belakang. Itu lah mengapa saya merasa sakit banget.
 
Oya, cacar api ini gak nular ke orang lain, kecuali orang itu belum pernah kena cacar, bisa tertular tetapi buka jadi cacar api melainkan cacar air. Jadi stepnya seperti ini: cacar air -> virus varisella bersarang di tulang belakang -> imun melemah, virus kembali aktif -> jadi cacar api.
 
Jadi, cacar api itu serangan dari dalam dan setiap dari kita yang dulunya pernah kena cacar air, di dalam di kita ada virus itu. So, harus benar-benar jaga kesehatan ya. Kena cacar api itu gak enak. Benar deh, saya gak mau kena lagi.
 
Kemarin juga saya sempat cuti 3 hari, saya harus bed rest dan tidak boleh banyak beraktifitas. Ruam-ruam yang berisi air itu pun gak boleh sampai kena gesekan, karna kalau pecah, akan menyebar. Bedanya, cacar api itu penyebarannya hanya di satu area, gak ke mana-mana. Beda sama cacar air yang menyebar ke seluruh tubuh.
 
Selama di rumah pun saya gak benar-benar istirahat, abis serba salah juga, tidur gak enak karna bagian belakang saya sakit. Dan lagi, kalo gak ngapa-ngapain yang ada saya bisa stress. Jadilah saya tetap kerja dan mengontrol pekerjaan staff saya dari rumah, tetap berkomunikasi dengan online partner kantor, saya pun masih mengurusi event dengan principal. Saya juga sempat beresin lemari baju, memisah-misahkan baju yang udah gak mau dipakai lagi. Sampai Sun menegur saya: kamu kerja mulu, kapan sembuhnya?
 
Saya pingin cepet sembuh kok. Walau saya tetap sibuk, saya masih menyempatkan diri istirahat. Menyempatkan tidur siang 1 jam (biasanya kalau abis minum obat jadi ngantuk banget).
 
Sekarang sih ruam-ruamnya udah kering, entah kapan bekasnya bisa ilang. Tapi, efek sakit di tulang belakangnya bisa sampai berminggu-minggu ke depan. T___T
Waktu saya sakit, saya bilang sama Sun untuk gak usah dateng, ketemunya kalo saya udah sembuh aja. Bukannya gak mau dijenguk, tapi dia pun lagi cape-capenya kerja, nanti kalo kondisi badannya drop trus ikutan kena cacar api gimana?
Tapi Sun tetap dateng dan ngebawain bubur kesukaannya kita. (seketika hepi, pengen peluk tapi gak bisa. :p)
Kita  ini terbilang pasangan yang unik (unik apa aneh ya? gak tau deh.. hehehe). Gak kayak pasangan lain yang tiap hari bisa telpon-telponan sampai berjam-jam, kita gak demikian. Bahkan belum tentu dalam seminggu itu kita saling telpon. Kita lebih suka ketemu langsung atau chatting. Surprisingly, waktu saya sakit itu dia telpon saya. Singkat banget, tapi bikin saya terharu. Dia nelpon hanya untuk ngajak doa bareng, lebih tepatnya dia berdoa dan saya mendengarkan. Isinya tentang ucapan syukur dan permintaan agar saya segera sembuh. Gimana saya gak makin sayang coba? (cie pacar pasti ge-er banget nih kalo kamu baca tulisan ini. :p)
Sun ini rajin berdoa, dia berdoa sebelum mulai bekerja, sebelum makan dan sebelum tidur. Dia juga selalu ngingetin saya untuk berdoa, yang mana saya kadang skip, tau-tau udah tidur aja tanpa berdoa. Hehehe~
 
Ps: Tuhan baik ya sama saya, waktu saya minta ke Dia untuk punya pasangan yang rajin berdoa, Dia beneran kasih lho.
Ps lagi: saya mau minta hal-hal lain juga ah ke Tuhan. (ngelunjak.. hahahaah)
 
Love,
Ay.

Sunday, June 18, 2017

Menikah (?)

Tak terhitung banyaknya orang-orang yang mempertanyakan kapan saya menikah. Ada yang memang mengkhawatirkan umur saya, ada juga yang memang hanya kepo.

Dulu sekali saya punya impian untuk menikah di umur 28 tahun, usia yang menurut saya sudah matang dan mampu untuk menghadapi berbagai situasi baik mau pun buruk dengan lebih tenang. Nyatanya, beberapa bulan lagi saya akan menginjak 28 tahun dan belum menikah. :p Tapi, entah mengapa saya tidak lagi mengkhawatirkan umur saya itu, tidak lagi menginginkan menikah di umur 28.

Life happens. Banyak hal yang terjadi dan membuat saya lebih banyak berpikir, mempertimbangkan banyak hal dan menyakinkan diri saya.
Karna seumur hidup itu terlalu lama… kalimat yang pernah saya baca beberapa minggu yang lalu. Dan pasangan saya pun pernah membahas itu. Seumur hidup itu terlalu lama jika dihabiskan dengan orang yang salah.
Oleh karenanya saya tidak ingin terburu-buru pun juga pasangan saya. Kita perlu mengenal benar-benar pasangan kita, bisa tidak menerima tidak hanya sisi baiknya, tetapi juga sisi terburuknya sekali pun. Dan saya belajar itu. Latihannya (menerima semua sifat pasangan) itu gak bisa bolong-bolong, harus dilatih tiap hari lho.  Dan pasti ada aja yang susah sekali untuk diterima.
Saya pun tidak ingin dan tidak punya hak untuk merubah pasangan saya.
“Sama kamu, aku udah berubah banyak,” Sun.
“Tapi, aku gak pernah nyuruh kamu berubah lho.”
“Iya sih, tapi sifat kamu yang bikin aku berubah.”
Saya ketawa mendengar perkataannya, ditambah lagi dia bilang begini, “dari semua cewek yang pernah aku pacarin, cuma kamu yang paling pembangkang.” HAHAHAH.. asli, saya langsung ngakak waktu dia bilang begitu.
Pembangkangnya saya seperti apa? Di lain waktu akan saya ceritakan. :p
Kalau mendengar cerita-ceritanya, saya tau dia sudah banyak berubah, tentunya ke arah yang lebih baik. Dan saya amat mensyukuri itu. Kita pernah berdiskusi dan saya pernah bilang (di awal pacaran) kalau saya ingin pacaran yang baik, yang sehat, yang bisa lebih mendekatkan diri sama Tuhan dan tentunya bisa saling support bukannya menjatuhnya.
Karna seumur hidup itu terlalu lama…
Saya ini punya banyak impian, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jauh sebelum saya bertemu dengannya, saya menuliskan apa-apa saja yang ingin saya lakukan ketika menikah nanti.
Jangka waktu pacaran itu gak sebanding dengan menikah yang seumur hidup. Dan sebenarnya impian-impian kecil saya itu bisa aja dilakukan ketika masih pacaran, tapi sebesar apa pun saya menginginkannya, tapi saya menahan diri saya. karna kalau semuanya udah dilakukan ketika pacaran, apa lagi yang tersisa ketika menikah nanti?
Saya tidak ingin seumur hidup saya dilalui dengan kejenuhan dan kewajiban yang tak ada habisnya. Karna ada banyak hal-hal kecil yang ingin saya lakukan nantinya bersama suami dan juga anak. Hal-hal yang tentunya membuat hari-hari yang menjenuhkan itu tergantikan.
Makasi Sunjaya untuk ketersediaannya tetap disamping saya, seberapa pun membosankannya saya. karna saya pun akan melakukan hal yang sama :)
Ps: makasi ya udah sabar sama sifat pembangkang saya :p
Love,
Ay.

Tuesday, June 6, 2017

Karna Kamu Berharga…

Suatu kali saya pernah dekat dengar seorang pria. Kita di jurusan yang sama tapi beda kampus. Dia satu sekolah dengan teman kampus saya.
Kita benar-benar berbeda dalam cara pandang, terutama tentang keimanan. Dia seseorang yang meragukan adanya Tuhan, seseorang yang berpikir baik buruknya keadaan itu karna pilihannya kita bukan karna Tuhan.
Sedangkan saya adalah orang yang percaya kalau Tuhan itu ada dan saya mempercayakan hidup saya pada-Nya.
Hal kedua yang membedakan saya dengan dia adalah sebagai perempuan saya harus menjaga apa yang saya miliki hanya untuk suami saya kelak. Dan itu gak bisa diubah. Karna dari dulu saya gak pernah melihat kerennya free sex, drugs, dkk. 
Sedangkan dia adalah tipikal yang selalu melakukan hubungan intim dengan para mantannya.
Sebenarnya hal yang udah umum banget sih sekarang. Free sex udah dianggap hal yang biasa, gak tabu lagi.
Balik lagi ke saya dan dia. 2 prinsip di atas jelas berbeda banget dan gak mungkin disatuin. Tapi, entah kenapa kita bisa dekat dan nyambung berbicara dalam banyak hal. Dia benar-benar terbuka tentang pola pikirnya dan saya pun juga bisa terbuka tentang hal-hal yang prinsipal padanya. Aneh ya?
Kita banyak berbicara tentang hidup, pekerjaan, hati dan keseharian kita. kita merasa nyambung walau dengan prinsip yang berbeda.
Kita pun pernah membahas mengenai perfilman Indonesia dan teater yang ada di Jakarta. Sampai pada akhirnya dia ngajak saya nonton drama musikal.
Dia          : The, ada drama musical yang pengen banget gue tonton.
Saya       : tentang apa?
Dia          : Judulnya Les Miserables, nonton dulu deh filmnya biar kamu ngerti *kasi link film*
Saya       : kamu udah nonton filmnya kenapa masih mau nonton lagi?
Dia          : ini beda, lebih teatrikal, dibawain sama Teater Katak. Kamu mau ikut gak?
Saya       : belom pernah sih nonton teater gitu, keliatannya menarik. Kapan?
Akhirnya kita pun sepakat untuk nonton Les Miserables. Tau berapa lama? Hampir 4 jam! Dan saya gak merasa bosan lho. Karna ceritanya menarik, para pemainnya piawak sekali dalam menghayati perannya masing-masing. Bagus. Banget. Kalau tau nonton teater menarik, saya pasti udah nonton dari dulu deh.
4 jam pun berlalu dan tau-tau sudah hampir tengah malam! Saat itu rabu, dan besokkannya saya harus bangun pagi untuk kembali kerja.
Dari Taman Ismail Marzuki kita langsung pulang. Dan sepanjang perjalanan ada banyak yang kita bahas. Dia pun sempat membahas tentang laki-laki.
Dia          : cowok itu punya banyak cara untuk mendapatkan yang dimau. Kamu harus hati-hati. Cewek sering banget goyah kalau diperlakukan dengan sangat gentle. Kamu bilang gak mau kan berhubungan sebelum nikah?
Saya       : *mengangguk*
Dia          : Jangan berpikir ‘takut ah, gak berani / nanti hamil, dll’. Kalau alesan kamu gitu, kayak yang gue bilang, cowok punya banyak cara buat bikin goyah. Tapi, yang harus kamu tanamkan, kamu gak mau melakukan itu bukan karna kamu takut, tapi karna kamu berharga. 
Karna kamu berharga…
Saya trenyuh mendengarnya.
Saya       : terus kenapa kamu suka begituan?
Dia          : karna nikmat, The. Tapi, kamu jangan ya, pertahanin apa yang kamu punya.
Kalau menurut saya sebagai pihak perempuan, bukanlah masalah selaput darah yang robek, terlalu dangkal (dan lagi sekarang kan udah canggih, yang robek bisa dirapetin lagi :p). Tapi tentang kita sebagai perempuan yang bisa mengendalikan diri dan tau batasan.
Setiap kali saya memikirkan mengenai itu, saya selalu membayangkan…
… jika saya melakukan itu, saya pasti akan nyesel banget, bisa jadi saya gak akan menghargai diri saya lagi, bisa jadi saya akan berubah menjadi sosok yang insecure dan menyebalkan. Dan seandainya saya melakukan itu, kemudian putus dan saya menyesali kemudian berjanji tidak akan melakukannya lagi, belum tentu pacar saya yang selanjutnya bisa menerima (yang ada nagih jatah juga – mungkin). Ada memang laki-laki yang tidak mempermasalahkan itu, tapi seberapa banyak?
… jika saya sebagai orang tua, dan mendapati anak saya masuk ke pergaulan bebas dan tidak baik, saya pasti akan sedih dan kecewa. Tapi, lebih dari rasa kecewa saya terhadap anak saya, saya jauh lebih kecewa kepada diri saya sendiri. Kenapa? Karna saya tidak dapat mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada anak saya, anak saya seperti itu karna saya juga.
2 pikiran itu lah yang membuat saya bertahan sampai sekarang, bertahan untuk tidak memberikan hadiah di awal dan hanya akan diberikan ketika nanti menikah. Anggaplah pikiran saya super kolot, tapi memang itu lah yang selalu saya tanamkan. Saya tidak ingin punya perasaan seperti 2 hal di atas.
Dan buat kalian para perempuan yang telah memberikan hadiah itu sebelum menikah  (dan melakukannya berulang kali), kalian bisa menghentikannya sekarang dan menunggu sampai menikah nanti. Kalian pun tetap berharga. :)
***
September 2016...
 
Dia: Thea…
Saya: Hai! Apa kabar?
Dia: Baikk.. baik, jalan-jalan terus nih lu.. hahaha
Saya: bahahhaa.. justru lagi butuh piknik nih. Lo gimana? Udah melepas kejombloan lom?
Dia: Sudah, wahahaah
Saya: wow! Congrats yaaa. Sama dongs *toss* anak mana?
Dia: Anak kantor ko, pdktnya sebentar, abis itu jadian. Percaya ga percaya wkwkwk
Saya: canggih amat lo, dihipnotis nih pasti
Dia: hipnotis gak berbulan2 juga tahannya kali. Yah itu sih gak make waktu lama kok. Sekalinya tau she’s the one. Heheh
She’s the one! Saya ikutan happy mendengarnya. Dia pun chat saya sebenarnya untuk menawarkan pekerjaan di kantornya. Owner kantornya lagi cari personal assistant dan dia teringat pada saya.
Terus kamu terima tawaran itu?
Enggak. Hehehe.. saya belum bisa melepaskan kantor yang sekarang. :p
Ps: semoga langgeng sama pacar yang sekarang ya!
 
Ay.

Friday, April 14, 2017

Ubah yang Bisa Diubah, Terima yang Gak Bisa Diubah~

Saya pernah menjadi orang yang begitu egois. Saya selalu menginginkan setiap hal berjalan sesuai dengan rencana saya, sesuai dengan yang saya inginkan. Kemudian saya akan kecewa ketika kenyataannya jauh dari yang saya harapkan. Saya marah kenapa Tuhan tidak membiarkan apa-apa yang saya inginkan terjadi. Egois ya? Banget.

Dan bertahun-tahun yang lalu banyak hal yang membuat saya berubah, sampai saya lupa apa-apa yang saya inginkan, yang saya harapkan. Kejatuhan-kejatuhan yang membuat saya tak boleh lagi menjadi manusia yang egois. Sering kali manusia perlu disentil dulu baru bisa sadar. Ya gak? :p

Tapi, karna kejatuhan itu, ego saya menurun drastis, bisa dibilang sampai ke tahap minus, yang bahkan membuat saya tak lagi menginginkan hal-hal yang sebelumnya saya inginkan. Yang bahkan membuat saya jadi tidak lagi banyak berharap. Saat itu saya hanya berharap untuk tetap bisa terlihat baik-baik saja, agar tidak ada yang perlu khawatir terhadap saya. 

Saya ini orangnya cengeng banget, gak bisa disodorin hal-hal yang menyedihkan, karna saya dapat dengan mudahnya menangis. Tetapi, saya anti untuk menangisi masalah saya di depan orang (dan jika saya sampai menangis karna masalah saya, itu berarti saya sudah tidak dapat menahannya, masih bisa dihitung pakai jari sih berapa kali saya nangis di depan orang lain).

Sering kali kamar mandi yang jadi saksi kecengengan saya. Dan setelahnya saya selalu bilang ke diri saya: jangan cengeng. Harus kuat. Dan kata-kata itu (sampai saat ini pun) selalu berulang-ulang saya ucapkan sampai saya merasa lebih baik. 

Kemudian tahun-tahun berlalu, tidak mudah memang melaluinya, sering kali saya ingin menyerah. Nyatanya, Tuhan tidak membiarkan saya begitu mudahnya menyerah. Dia selalu mengingatkan saya untuk bersyukur. Bersyukur masih dapat kuliah dengan layak. Bersyukur masih memiliki keluarga. Bersyukur memiliki ke-5 indra yang lengkap. Bersyukur masih memiliki teman-teman yang membuat hari saya berwarna. Bersyukur saya masih boleh menghirup oksigen secara cuma-cuma. Hei, ternyata ada banyak hal yang bisa kita syukuri. ^^

Lulus kuliah, saya melanjutkan bekerja di tempat saya magang. Disaat banyak orang kesulitan mencari pekerjaan, saya tidak pernah sulit mendapatkan pekerjaan (plus dikasih bonus rekan-rekan kerja yang seru). Tuhan baik ya, padahal saya sering ngomel-ngomel sama Dia. :D

Dari banyak hal yang terjadi (baik dan buruk) membuat saya belajar untuk dapat menerima hal-hal yang memang tidak sesuai dengan keinginan saya. Dan itu tidak mudah, sejujurnya teramat sulit untuk saya. Tapi, lagi-lagi saya tidak boleh egois kan? Dan saya mulai berkompromi pada diri saya.

Ubah yang bisa diubah. Untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dapat saya terima, saya belajar merubah pola pikir dan sikap saya. Dan ini lagi-lagi gak mudah. Saya perlu pake acara berantem dulu sama ego saya. Haha~~ 

Sampai saat ini pun, saya masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi, belajar untuk berpikir yang positif, belajar untuk menjalankan hari dengan baik, belajar untuk berkompromi sama ego saya, belajar untuk menerima yang tidak sesuai dengan keinginan saya dan mengubah apa-apa yang bisa diubah ke arah yang lebih baik. Susah ya... Tapi saya lebih memilih kesusahan seperti ini daripada tetap mempertahankan ego saya yang dulu. 

Tuhan saya udah baik banget sama saya, jadi saya pun mau terus berusaha menjadi pribadi yang pantas. Karna Tuhan saya mau menerima tidak hanya sisi baik dari diri saya, tetapi menerima buruknya saya juga. Saya pun demikian, belajar menerima baik dan buruknya setiap orang yang hadir dalam hidup saya. :')

Love,
Ay.

Tuesday, March 28, 2017

She Was Pretty

“Thanks for being my umbrella all this time. Next time we meet, I’ll be your umbrella.” – Ji Sung Joon
Drama Korea memang gak pernah kehabisan kata-kata romantis ya. Saya hanya satu dari sekian banyak orang yang menyukai drama Korea. Saya pribadi bukanlah tipikal orang yang romantis, tetapi entah mengapa saya selalu jatuh hati dengan kata-kata mau pun adegan di drama Korea yang saya tonton. Ditambah akting para pemainnya yang tidak dibuat-buat, sukses bikin perasaan campur aduk. Bisa ketawa-ketawa sendiri dan tiba-tiba mewek karna perubahan suasana di drama.
Salah satu drama yang saya tonton di akhir 2015 adalah She Was Pretty. Salah satu drama unik menurut saya. Bercerita tentang sepasang anak kecil, yang perempuan cantik sedangkan yang laki-lakinya gendut, berkacamata, cupu. Waktu SD, si laki-laki ini sering dibully oleh teman sekelas. Hanya ada 1 anak yang selalu membela dan mau menjadi teman si anak laki-laki ini. Iya, si perempuan cantik yang baik hati. :’)


Sampai suatu kali, si anak laki-laki ini harus pindah ke Negara lain dan berjanji ketika besar nanti akan kembali ke Korea dan menemui perempuan itu.
Belasan tahun kemudian semuanya berubah. Si anak perempuan yang dulunya cantik berubah menjadi jelek dengan rambut keriting, mekar seperti rambut singa, dengan muka penuh bintik-bintik merah, perubahan hormon yang terjadi mulai dari si anak mengalami puber (saya sampai cari-cari di internet, ternyata memang ada lho!). Sedangkan si laki-laki berubah menjadi pria tampan, badan atletis, tinggi dan menawan.
Keduanya tidak saling tau perubahan fisik masing-masing. Si wanita masih berpikir kalau si pria tetap tambun, sedangkan si pria pun berpikir si wanita tetap cantik seperti dulu.
Si pria akhirnya menghubungi wanita itu, mengabarkan kalau dia akan kembali ke Korea dan mengajak untuk bertemu. Keduanya tak sabar ingin segera bertemu~

Singkat cerita mereka janjian bertemu di suatu taman. Dan kaget lah si wanita ketika melihat pria yang jauh dari bayangannya. Sedangkan pria itu gak sadar dengan kehadiran wanita itu. Buru-buru si wanita kabur, dia minder dengan penampilannya yang sekarang. Dia malah menyuruh sahabatnya yang cantik untuk pura-pura menjadi dirinya.
Awalnya pria itu begitu senang karna mendapati si wanita yang semakin cantik dari sebelumnya. Tapi, yang namanya kenangan semasa kecil, ada hal-hal yang tidak diketahui oleh orang yang pura-pura menjadi wanita itu. Hal-hal sederhana yang seharusnya diketahui. Dan berbagai karakter lainnya pun malah didapati oleh si wanita jelek itu. Ditambah si wanita satu kantor dengan si pria, membuat keduanya mau tidak mau harus bertemu setiap hari.
"I think I like you. I think about you for no reason and I was wondering why I was like that. Now, I know, that's because I like you, a lot." 
“Before I met you, I did not know that it was possible to live so happily in this world. I want to make you feel the happiness that you made me feel for the rest of our lives”
-Ji Sung Joon
Karna pada akhirnya hati lah yang menentukan akan berlabuh ke mana. Seberapa pun menolak dan bersikap acuh, tetap akan tertarik ke hati yang tulus.
Love,
Ay.

Wednesday, February 22, 2017

Karena Segalanya Dimulai Dari Diri Sendiri

Saya termasuk orang yang sering refleksi diri, mengingat-ingat apa yang telah saya lakukan, apa kah sudah lebih baik dari sebelumnya? Apa kah saya sudah menjadi orang yang pantas? Saya masih terus berusaha dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Do your best and let God do the rest…
Untuk apa pun yang saya kerjakan, saya berusaha memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan, kemudian saya berserah padaNya. Saya selalu percaya, tidak ada usaha yang sia-sia. Kalau hari ini buruk, besok pasti lebih baik. Kalau besok dan besoknya pun masih buruk, akan ada hal baik setelahnya. Saya selalu menanamkan itu, tidak mudah memang, karna ada kejatuhan-kejatuhan tak terelakkan yang membuat saya begitu terpuruk, merasa rendah diri dan tidak pantas. Saat itu, terlihat baik-baik saja adalah keberanian yang masih saya punya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk saya meyakinkan dan membangun diri saya.
Karna Tuhan saya baik, dia mengijinkan saya untuk berada dalam keterpurukan itu dan setelahnya saya berterima kasih untuk setiap kejatuhan yang pernah saya alami. Saya tidak akan menjadi ‘saya yang sekarang’ kalau tidak pernah terjatuh.
Kemarin-kemarin saya pernah menulis tentang Menjadi Manusia yang Pantas, apa pun itu, mulailah dari diri sendiri, merubah diri sendiri memang sulit, tapi jauh lebih sulit meminta orang lain berubah untuk kita. Ya gak? :p
Hari ini pun saya baca status seseorang, dia menuliskan sindiran tentang kesetiaan yang ditujukan untuk pasangannya (juga dengan mencantumkan foto dan mention ke pasangannya), hal yang menurut saya tidak perlu dishare di sosial media. Bukan hal yang baru memang, karna banyak orang, entah mengapa, suka sekali mengumbar permasalahan hidup mereka di sosial media.  Memang hak setiap orang sih untuk menentukan apa yang mau dishare, pun juga dengan saya.
Siapa yang harus setia?
Saya sempat ngobrol dengan teman saya mengenai ini, kita pun menyimpulkan bahwa kitanya lah yang harus memberikan yang terbaik dari diri kita untuk pasangan kita, kitanya lah yang terlebih dahulu belajar untuk tetap setia dan menghargai pasangan. Karena segalanya dimulai dari diri sendiri.
Dan jika kita sudah memberikan yang terbaik tetapi mereka tetap tidak setia, itu masalah mereka, itu urusan mereka.
Dan jika kita sudah memberikan yang terbaik tetapi mereka tetap tidak menghargai, kita layak mendapatkan seseorang yang dapat menghargai kita dengan pantas.
Beberapa kali saya pernah bilang, orang baik akan mendapatkan yang baik pula. Kalau belum dapat, bisa karna 2 hal: kita belum memberikan yang terbaik atau memang dia bukan orang yang tepat untuk kita.
Ps1:  Setialah terlebih lebih dahulu kepada Tuhan. Kalau sama Tuhan aja gak mau setia, gimana bisa setia sama pasangan? :p
 
Ps2: Mulailah dari diri sendiri, seriously, gak ada orang yang bisa merubah kamu sebaik kamu yang mau merubah diri menjadi orang yang lebih baik. ^^
 
Love,
Ay.

Tuesday, January 31, 2017

February :)

Foto dari sini
 
Hai, Hallo, apa kabar?
 
Blog ini sempat saya anggurin dan bahkan tidak ada fiksi mini yang seharusnya diposting setiap hari Jumat. Fiksi mini yang terakhir itu sudah saya buat dari jauh-jauh hari dan sudah terjadwal. Setelah itu, saya belum sempat lagi menulis.
 
Bulan Januari kemarin benar-benar bulan yang sibuk, dari awal tahun, pekerjaan sudah banyak menanti saya. Di tambah saya sempat sakit pada akhir tahun dan berlanjut sampai awal tahun. Yah.. begitu lah..
 
Dan tau-tau sudah masuk bulan Februari. Pekerjaan saya tetap banyak. Di kantor pun terasa dingin banget sampai saya harus pakai sweater, efek karna hampir tiap hari hujan juga sih ya.
 
Hm.. Sejujurnya saya gak tau sih mau menulis apa di sini, otak saya lagi macet. Jadi, saya hanya mau menyapa kamu dan kamu yang tidak sengaja membaca tulisan ini.
 
Oiya, ini udah bulan Februari lho, bulan yang katanya penuh cinta, sudah menemukan cinta yang baik kah? :p
 
Ps: Semoga di bulan ini dan dibulan-bulan selanjutnya tetap bisa selalu bersyukur ya.^^
 
Love,
Ay.