Monday, November 11, 2019

Sanggup kah?


“Si Becca enak ya,” ucap aku, iri.

“Karna ortunya kaya?” Tanya Kania.

“Salah satunya,” aku menghembuskan napas berat kemudian melanjutnya, “ gue pengen hidup normal, Ka. Kayak kebanyakan orang. Kayak Becca. Kayak lo.”

Kania menatap aku dan aku menghindarinya dengan buru-buru menyambar teh yang ada di samping bangku panjang tempat aku dan Kania duduk. Aku menyesapnya sedikit. Dan seketika aroma bunga yang kusuka memenuhi hidungku. Rasa bunga krisan..

“Ri…”

“Gue cape, Ka.. cape banget. Gue suka nanya sama Tuhan, kenapa gue dikasih begitu banyak kado yang bertahun-tahun gak selesai gue buka satu per satu. Dan tiap tahunnya kado-kado itu bertambah.”

Kado. Istilah yang kami pakai untuk mengganti kata ‘masalah’. Awalnya ini candaan kami, dua sahabat yang sudah saling mengenal sejak masih pipis di celana. Dulu sekali, saat aku masih sangat optimis, aku selalu bilang pada Kania bahwa orang-orang yang punya banyak masalah adalah orang yang spesial.

Gak banyak orang yang mampu menerima masalah yang begitu banyaknya. Dan bertahun-tahun aku menguatkan diri dan selalu bilang pada diri sendiri, “Ori, lo orang yang spesial. Lo bisa, lo mampu, lo punya Tuhan yang lebih besar dari masalah lo.”

Gak salah. Tuhan tetap besar, hanya saja aku yang tak cukup kuat.

“Ortu lo kenapa lagi, Ri?” Tanya Kania. Dia tau sekali kalau kado aku gak jauh-jauh dari keluarga.

“Mau buka bisnis baru dan rencana ajuin pinjaman ke bank. Dan pengajuan pinjaman itu atas nama gue. God!” Aku mengacak-acak rambut frustasi.

“Kalo cicilan rumah masih berapa tahun lagi, Ri?” Tanya Kania.

“4 tahun.”

Aku kembali menyesap teh krisan yang sudah dingin.

“Lo tau kan Ka, gue udah gak bisa percaya lagi dengan janji-janji mereka. ‘Kalo papa sukses kamu gak usah bayar cicilan rumah, Listrik, air, biaya sekolah adik-adik kamu. Nanti papa yang bayar semua.’. Gue udah denger itu berkali-kali dan berkali-kali pula hasilnya nihil dan malah menambah tanggungan gue setiap bulannya.”

Kania diam dan menunggu aku melanjutkan bicara. Dia tau aku mau memuntahkan semua uneg-uneg yang mengganjal.

“Gue gak setuju sama pinjaman itu. Dan nyokap gue memperkeruh suasana dengan bilang gue tega sebagai anak, papanya mau usaha tapi dijegal sama anak, gue gak mikirin mereka. Apa iya gue sejahat itu?”

“Lo baik, Ri. Dan selamanya akan tetap baik.”

“Gue cape selalu jadi atm berjalan mereka seakan gue gak boleh menata hidup dan masa depan gue. Ka, kalo gue jahat, gue udah ninggalin mereka dengan semua hutang-hutang itu. Gue bisa hidup lebih dari cukup dari penghasilan gue. Tapi, gue memilih untuk mengambil tanggung jawab. Gue gak banyak ngeluh, gue gak cerita ke orang-orang tentang tanggungan gue dan gue bersyukur bisa bayar semuanya.”

Kania memeluk aku, menepuk pundak aku.

“Gue gak bisa kalo ditambah dengan bayar cicilan kredit pinjaman itu. Usaha bokap sendiri gak jelas sistemnya seperti apa, gue tanya konsep dan anggarannya gak tau. Gue bisa bayangin pinjaman itu akan habis begitu aja tanpa kejelasan. Dan yang akan bayar cicilan ke bank untuk 10 tahun ke depan siapa? Gue.”

“Gue cape hidup penuh hutang..”

“Kalo gue bilang, gue mau bantuin lo secara keuangan, gue tau lo bakal nolak mentah-mentah. Tapi, sekali ini please gue mau banget bantu lo. Jangan berfikir tentang hutang budi ya Ri. Kita udah sama-sama dari kecil, lo sering ngajarin gue waktu sekolah. Kalo gak ada lo, gue mungkin gak lulus.”

“Gak, Ka. Lagipula gue udah bilang ke mereka gue gak mau tandatangan pengajuan itu. Mereka marah, gue pun marah. Gue males pulang ke rumah.”

“Lo tau kan, pintu rumah gue selalu terbuka buat lo. Malem ini nginep di rumah gue aja gimana?” Kania menawarkan.

Aku mengangguk setuju.

Di saat-saat penuh tekanan seperti ini, aku masih bisa bersyukur karna punya sahabat yang selalu ada buat aku.

“Lo udah cerita ke Nando?”

“Belum. Gue kasian Ka sama dia, pacaran sama cewek yang punya kado segunung. Kalo suatu hari dia ketemu cewek yang baik…”

“Lo jangan ngaco!” Potong Kania. “Dia nerima lo dengan semua kado lo sejak 5 tahun lalu.”

“Justru itu Ka, rasanya egois kalo gue masih pertahanin hubungan ini dengan kondisi keluarga gue yang semakin parah. Gue sampe takut buat nikah. Gue takut gak bisa membantu karna sebagian besar gaji gue untuk keluarga..”

“Ri, lo lagi kacau, jangan mikirin yang macem-macem lagi. Udah mau gelap nih, balik ke rumah gue, yuk.”

Kami menghabiskan teh, merapatkan sweater dan keluar dari kedai langganan kami. Aku berjalan mengikuti Kania dari belakang dengan pikiran yang masih gamang.

Sekali lagi aku mengucapkannya dalam hati, Tuhan, sanggupkah aku?

***

Hai, 
ini Ay.

Makasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung dan membaca kisah-kisah di blog ini. Blog Vealde memang visitornya tidak sebanyak Blog Summer3angle, tetapi setiap saya cek dan melihat ada visitor yang datang ke sini, sudah membuat hati saya hangat.

Iya, saya masih hutang cerita nikahan kemarin.Menuliskannya pun belum sempat.. Di saat ada waktu, malah melintas cerita lain yang buru-buru saya ketik dan bagikan di sini. 

Entah satu atau dua bulan lagi, saya akan susun cerita nikahan yang penuh haru dan syukur (plus ada aja kejadian dodolnya, gak ngerti lagi deh :p).

PS: tinggal satu stengah bulan lagi sebelum pergantian tahun, sudah kah kamu bahagia? :)

Love,
Ay 





2 comments:

  1. Untung aja gue liat label yang segede upil itu kalo ini tuh tulisan flash fiction. Kalo nggak gue udah bingung mau gimana lagi. Hhhh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. LOL
      untung lo baca ya labelnya :)))
      kalo lebih teliti lo pasti bisa ngeh tiap flash fiction itu penokohannya menyebut dirinya 'aku' sedangkan kalo ocehan gue pakenya 'saya'. hahaha

      Delete